Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 16 : Wedding Dress


__ADS_3

Pak Dikta memang termasuk seseorang yang selalu menepati omongannya. Sore ini, tepatnya pukul empat sore, mobil SUV berwarna hitam miliknya sudah terlihat memasuki halaman rumah Aurora.


Kedatangan Pak Dikta ini langsung mendapatkan sambutan hangat nan ramah dari semua keluarga tak terkecuali oleh Aurora. Iya, meskipun belum terlalu suka dengan sosok Pak Dikta namun, Aurora akan berusaha untuk bersikap baik dengan calon suaminya itu.


"Pak Dikta datang." Kata Aurora sembari mengembangkan sebuah senyuman tipis di bibirnya.


"Seperti yang saya katakan." Balasnya singkat.


"Masuk saja, nak Dikta." Tutur ibunda Aurora mempersilahkan masuk.


Bersama dengan seluruh keluarga, Pak Dikta pun masuk ke rumah itu lalu menuju ruang tamu. Mereka akan berkumpul di sana untuk membahas soal pernikahan antar Pak Dikta dengan Aurora.


Selain menjadi seseorang yang selalu menepati omongannya, Pak Dikta juga termasuk seseorang yang selalu bicara to the poin dan tak suka berbasa-basi. Maka dari itu, tidak heran kalau setelah semuanya berkumpul dan duduk, ia langsung menyampaikan maksud dan tujuan datang ke rumah ini.


"Mungkin om dan tante sudah diberitahu oleh Aurora tujuan saya datang kemari," ucap Pak Dikta yang belum usai.


"Jika diizinkan, saya ingin melamar putri semata wayang dari om dan tante. Iya, saya mau mengambil Aurora sebagai istri saya." Tambah Pak Dikta yang terdengar cukup tegas.


Mendengar itu membuat wajah kedua orang tua Aurora menjadi berseri-seri. Tentu saja, mereka bahagia karena putrinya itu mendapat sebuah lamaran dari seseorang pria baik seperti Pak Dikta.


Sebenarnya bagi kedua orang tua Aurora, tak perlu ada lamaran seperti ini pun, kalau mereka berdua langsung ingin menikah pasti akan diizinkan. Sebegitu yakinnya mereka pada Pak Dikta.


"Aurora..." Pak Dikta memanggil namanya lagi namun, kali ini sambil menyodorkan sebuah cincin yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Maukah kamu menjadi istri saya dan menghabiskan waktu untuk hidup dengan saya ?" Pinangan itu terdengar sangat tulus, seperti ungkapan hati.


Sekali lagi ditegaskan, jika bukan karena mantan pacarnya, Aurora pasti akan menggeleng bukan mengangguk.


"Iya..." Jawabannya memang singkat namun, berhasil membuat senyuman lebar dari kedua orangtuanya mengembang.


Lamaran kedua yang dilakukan oleh Pak Dikta sudah diterima oleh Aurora, maka dari itu tanpa ragu melingkarkan cincin yang sudah dibelinya itu pada jari manis Aurora.


"Terima kasih karena sudah mau menerimanya." Tutur Pak Dikta mengungkapkan rasa syukurnya.


Aurora membalasnya dengan senyuman singkat lalu pandangannya beralih pada cincin yang sudah melingkar pada jari manisnya. Ia terus menatapnya sembari berpikir, apakah semua yang dilakukannya ini sudah benar dan seharusnya ?


"Ayah hari ini senang sekali..." Ayahanda Aurora mulai berkata kembali.


"Mungkin, ini akan menjadi salah satu hari terbaik yang ada di hidup ayah,"


"Melihat sendiri putri tercantik ayah dilamar oleh pemuda baik seperti Nak Dikta, rasanya..." Karena terlalu senang ayah Andre sampai tak bisa berkata-kata lebih lagi.


"Bunda juga sangat senang karena kamu bisa mendapatkan pendamping hidup baik seperti Nak Dikta." Kata ibunda Aurora.


Aurora sebenarnya enggan untuk menggubris karena semua ucapan dari kedua orang tuanya hanya berisi pujian untuk Pak Dikta. Tapi, bukankah tidak sopan jika mengabaikan kedua orang tuanya ?


Sambil tersenyum tipis, Aurora berbicara yang entah itu bohong atau sesuai dengan faktanya.


"Aurora lakukan ini untuk ayah. Kalau ayah dan bunda senang, Aurora juga akan merasa seperti itu."


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...

__ADS_1


Sambil berbaring di atas tempat tidurnya, Aurora terus menatap ke arah cincin yang melingkar di jari manisnya.


Tiga hari setelah Aurora menerima lamaran dari Pak Dikta, rasanya seperti ada sedikit penyesalan. Iya, Aurora mulai menyesal karena terlalu cepat memutuskan untuk menerima. Seharusnya, banyak cara move on yang bisa dilakukan tapi, kenapa dia memilih jalan yang mungkin tak akan membuat dirinya bahagia ?


Aurora ingin mundur dan membatalkan semuanya namun, melihat wajah bahagia dari kedua orang tuanya membuat Aurora menjadi ragu untuk melakukan hal itu.


Apalagi sekarang ditambah dengan tanggal pernikahan yang sudah ditentukan. Kalau tidak halangan, akan berjalan sesuai apa yang sudah direncanakan bersama. Iya, pernikahan akan terjadi sekitar dua minggu lagi kalau dihitung dari hari ini. Terkesan terburu-buru tapi, ya sudahlah.


"Aurora sayang ?" Suara panggilan serta ketukan pintu yang berasal dari sang ibunda terdengar dan berhasil membuat Aurora langsung beranjak dari kasurnya.


"Iya bunda..." Jawab Aurora yang sedang melangkah menuju ke arah pintu kamarnya.


Pintu kamar sudah dibukakan. Aurora yang saat ini tengah mengenakan pakaian yang cukup rapi pun tersenyum kepada sang ibunda.


"Kamu sudah siap ?" Tanya sang ibunda hanya ingin memastikan.


"Sudah." Jawab Aurora singkat.


"Cepatlah turun ! Nak Dikta sudah menunggumu di bawah sejak tadi." Tutur sang ibunda memberitahu.


"Okay. Pinta Pak Dikta menunggu sebentar lagi, Aurora mau mengambil tas dulu." Kata Aurora meminta waktu tambahan lagi untuk bersiap.


"Jangan membuatnya menunggu lebih lama lagi ya, Rara !" Larang keras sang ibunda.


"Iya, hanya mengambil tas sebentar." Ucap Aurora lalu dengan buru-buru menutup kembali pintu kamarnya.


Sekarang memang hari libur namun, tak sepenuhnya bisa dianggap begitu. Di hari yang seharusnya bisa digunakan oleh Aurora untuk beristirahat, ia harus ikhlas meluangkan sebagian waktunya untuk pergi ke butik. Bersama dengan Pak Dikta, dirinya hari ini memiliki rencana untuk mencari wedding dress.


"Sudah sayang ? Tak ada yang tertinggal ?" Tanya sang ibunda.


"Ehm, walaupun ada kan Rara perginya sama Pak Dikta. Pasti semua akan aman." Jawab Aurora dengan santai.


Karena tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Aurora bersama Pak Dikta pun pamit undur diri.


"Kalau begitu, Om Tante, saya izin bawa Aurora sebentar ya..." Kata Pak Dikta dengan sopan.


"Iya Nak Dikta. Hati-hati dijalan ya !" Jawab ayah Andre dengan cepat.


Tunggu dulu, ini kenapa ayah Andre bisa langsung mengizinkan Aurora ? Biasanya kalau dulu Aurora diajak Devin keluar selalu saja dilarang bahkan sangat sulit untuk mendapatkan izin. Jadinya, Aurora harus memohon-mohon sampai nangis dulu baru bisa mendapatkan izin.


"Rara berangkat dulu." Pamit Aurora sambil mencium telapak tangan dari kedua orang tuanya.


Tak lama setelah melakukan itu, Aurora pun melangkah keluar dari rumah ini kemudian masuk ke mobil SUV milik Pak Dikta yang terparkir dengan rapi di garasi.


...---ooOoo---...


Suasana di dalam mobil saat ini memang terkesan cukup hening. Diantara dua insan itu tak ada yang mau memulai sebuah pembicaraan. Pak Dikta yang sibuk berfokus pada jalanan dan menyetir sedangkan Aurora yang sibuk menatap kosong ke arah jalanan — terlihat seperti melamun.


Jika dibiarkan seperti ini, mereka berdua akan terus menjadi seperti orang asing yang akan berbicara jika ada butuhnya saja. Oleh sebab itu, meskipun masih sibuk mengemudi, Pak Dikta mengambil inisiatif untuk mengajak Aurora berbicara.


"Sedang memikirkan apa ?" Tanya Pak Dikta yang langsung membuat Aurora menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Tidak ada." Jawab Aurora singkat sambil tersenyum hambar.


Benarkah hanya seperti ini ? Apa Pak Dikta akan mengakhiri obrolan ini hanya sampai disini ? Tentu saja tidak !


"Kita sedang dalam perjalanan menuju ke butik, kira-kira apa kamu sudah memiliki gambaran mengenai wedding dress yang akan kamu pilih ?" Biasanya sih kalau seorang wanita ditanyai seperti ini akan menjawab panjang lebar.


"Bukankah wedding dress selalu seperti itu ?" Sepertinya Aurora memang tak memiliki gambaran soal gaun pernikahan yang akan ia pilih nanti.


"Tidak Rara... Wedding dress itu memiliki banyak sekali model." Kata Pak Dikta yang sepertinya lebih tahu menahu soal masalah ini.


"Ehm, sepertinya saya akan meminta bantuan orang butik untuk memilih wedding dress yang cocok." Jawab Aurora yang memang tak mau mengambil pusing soal urusan wedding dress. Toh, mau memakai apapun dirinya akan tetap terlihat cantik.


"Jadi, tidak ada spesifik wedding dress yang ingin kamu kenakan nanti saat menikah ?"


Aurora menggeleng. "Tidak. Saya rasa gaun apapun pasti akan terlihat cantik dan bagus jika saya yang pakai." Kata Aurora terdengar percaya diri.


Perkataan Aurora kali ini memang harus dibenarkan karena gadis itu berbicara sesuai fakta.


"Saya percaya itu." Tutur Pak Dikta sembari masih mengemudi.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Bagi kalian yang penasaran sama lanjutan ceritanya, bisa dikepoin akunnya karena author bakal kasih spoiler tipis-tipis.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa, jangan lupa untuk memberikan support nya lewat like, komentar dan vote supaya author bisa semangat updatenya.


Supaya tidak ketinggalan, kalian bisa jadikan cerita ini sebagai favorit...


Yuk, bantu author untuk meramaikan lapak cerita yang sering sepi ini :)


.


.


.


Kalau ditanya bagaimana model wedding dress favorit ? Kalian bakal jawab apa ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2