
..."Akankah ada suatu masa dimana aku bisa kembali diizinkan untuk menggenggam tanganmu lagi ?"...
...- Aurora....
.......
.......
.......
| Flashback On |
Dikta POV
Tidak tahu harus aku ceritakan darimana tapi, aku bisa memberitahu tentang suatu hari dimana aku terpaksa menghubungi Tasia yang saat itu sedang ada di Berlin, secara tiba-tiba.
Aku menghubungi Tasia disaat diri ini sudah menikah dengan Aurora — perempuan unik yang selalu menjadi pemeran utama dalam hati ini.
Bukan tanpa sebab aku menghubunginya, ada hal penting yang harus kulakukan dan ini sangat membutuhkan bantuannya. Tasia adalah seorang dokter yang hebat dan aku bisa yakin kalau penyakit yang sedang ku derita ini bisa dengan mudah disembuhkan olehnya.
...---ooOoo---...
Dari : Keanu Rajendra Pradikta
Untuk : Anastasia Celine Nathalia
Hai Tasia... Maaf kalau mengganggu waktu kamu yang sangat berharga di Berlin. Tapi, bisakah kamu menghubungiku ? Aku sedang begitu membutuhkan bantuan mu. Ini tentang kondisi kesehatanku. Sepertinya, penyakit jantung kembali kambuh lagi dan aku rasa kondisinya akan bisa lebih parah dari sebelumnya.
...---ooOoo---...
Aku mengirimkan pesan lewat email itu kepadanya dan tentu saja dia membalas email yang ku kirimkan itu setelah tiga hari.
Tasia menghubungiku kembali dan mengatakan kalau dia akan datang ke Indonesia. Aku tahu kalau dia juga memiliki kesibukan di Berlin tapi, mau bagaimana lagi. Maaf, karena sudah merepotkan nya sampai seperti ini.
Dia bilang akan datang dan itu terjadi tapi, disaat aku berencana untuk menjemputnya di bandara tiba-tiba Aurora sakit. Aku tidak mungkin meninggalkan istri sendirian. Sampai akhirnya, aku dan Tasia baru bisa bertemu sekitar seminggu setelah kedatangannya ke Indonesia.
Kami bertemu di salah satu cafe dekat dengan kampus. Sengaja bertemu di sana karena waktu itu aku masih memiliki banyak pekerjaan jadi, tak bisa ditinggal untuk pergi ke tempat yang jauh.
Aku menemui Tasia bukan hanya untuk membahas tentang penyakit yang sedang ku derita tapi juga, sedikit melakukan temu kangen.
Di masa lalu kita pernah memiliki hubungan yang spesial melebihi pertemanan. Aku juga pernah berniat untuk menikahinya tapi, semua gagal karena sebuah pertengkaran yang tak memiliki jalan tengah. Kami putus, hubungan kami berakhir.
Meskipun hubungan sebagai sepasang kekasih sudah berakhir, aku dan dia tetap saling support dan pastinya tetap menjadi teman. Kami berteman baik dan aku juga mengenal pacar baru Tasia. Aku dengar mereka akan merayakan acara pertunangan di Australia.
Pertemuan pertama yang kami lakukan di salah satu cafe yang ada di dekat kampus rupanya berhasil membuat istriku, Aurora salah paham.
Iya, aku tahu kalau Aurora juga datang ke cafe itu dan melihat kami sedang bersama. Aku ingin memanggilnya dan mengajaknya bergabung tapi sayangnya terlambat. Aurora memilih pergi begitu saja dan aku tahu pasti dalam pikirannya sekarang sedang banyak prasangka.
Sebenarnya tidak terlalu banyak yang aku dan Tasia bicarakan waktu itu. Iya, setelah menyuruhku untuk datang ke rumah sakit dan melakukan pengecekan lebih lagi, kami berpisah lagi dan baru bertemu kembali saat hasil tes nya sudah keluar.
Aku ingat betul kejadian waktu itu. Bagaimana bisa melupakan hal pertama yang membuat Aurora merasa kecewa ?
__ADS_1
Di hari itu, aku berjanji padanya untuk datang menjemput setelah seusai kampus. Aku sudah mau berangkat ke kampusnya tapi, mendadak Tasia menemui ku lagi dengan hasil tes kesehatan.
Karena tidak memiliki banyak waktu untuk membahas soal hasil tes itu, aku pun meminta Tasia untuk menunggu. Aku juga bilang harus pergi karena ada seseorang menunggu namun, yang terjadi...
Jantung yang lemah ini menyusahkan ku. Rasa nyeri dan sesak tiba-tiba kurasakan. Aku bahkan sampai kesulitan untuk berjalan lebih jauh meninggalkan ruangan kerjaku.
Tasia yang masih ada di ruangan ku dan melihat hal ini pun dengan sigap membantu. Ia memanggil semua petugas medis. Aku harus dilarikan ke UGD dan mendapatkan perawatan.
Aku tahu pasti saat ini Aurora masih terus menunggu kedatanganku. Aku ingin pergi tapi, tubuh lemah ini tak mampu melakukannya.
Aku mendapatkan perawatan dan Tasia sebagai dokter yang menangani pun meminta dengan sangat supaya aku mau istirahat terlebih dahulu tanpa memikirkan hal lainnya, namun...
"Kamu mau pergi kemana ?" Tanya Tasia yang terkejut ketika melihatku sudah meminta perawat untuk melepaskan infus.
"Aku harus pergi. Tidak ada waktu untuk melakukan hal ini." Kataku yang memaksa untuk pergi.
Aslinya sebagai seorang pasien yang memiliki penyakit jantung tak pernah boleh melakukan hal ini tapi, mau bagaimana lagi aku harus pergi karena ada seseorang yang sedang menungguku.
Di pikiranku saat ini hanya ada gambaran Aurora yang tengah menunggu sendirian di halte. Tapi, apakah dia masih menungguku ?
Dengan kecepatan tinggi, aku mengendarai mobil ini langsung menuju ke arah halte yang ada di dekat kampus dan ya, aku melihat Aurora tengah bersama dengan Gilang.
Entah mengapa, ketika melihat itu aku justru menghela napas lega. Kenapa ? Ya, karena tahu kalau Aurora tak menungguku sendirian di halte. Aku pikir dia menunggu sendirian di malam hari seperti ini. Keselamatan dan keamanan Aurora yang selalu aku khawatirkan.
Dari dalam mobil aku memperhatikan dengan jelas kalau istriku itu sudah naik di atas motor bersama dengan Gilang. Aku sama sekali tidak marah atau merasa cemburu, aku bahkan merasa bersyukur karena ada Gilang yang melakukan hal itu.
Jadi, kalau semisal aku pergi... Aurora masih memiliki seseorang yang bisa diandalkan. Gilang terlihat seperti itu.
Aku melihat banyak panggilan dan pesan masuk yang dikirim oleh Gilang. Nama pengirimnya memang Gilang tapi, dari kalimat pada pesan aku yakin yang menulis adalah Aurora.
Ketika membaca itu, aku merasa dia benar-benar sudah kecewa karena dibuat menunggu yang begitu lama. Maaf, tapi aku juga tak ingin melakukannya.
Sudah membaca semuanya, aku pun bergegas untuk melajukan mobil. Tuju ku adalah kembali ke rumah tapi, tiba-tiba aku terpikir untuk membelikan sesuatu terlebih dahulu sebagai ucapan permintaan maaf tulus dari aku.
Begitulah kira-kira cara yang bisa kulakukan. Meminta maaf tanpa sanggup menjelaskan alasannya. Biarkan aku dinilai sebagai seseorang yang tak mau terbuka.
Hubungan kami selalu baik-baik saja ya, walaupun aku sangat mengerti kalau Aurora sedikit mencurigai dan kurang percaya kepadaku karena Tasia.
Aurora menduga kalau aku sedang ada hubungan dengan Tasia namun, ku usahakan untuk menjelaskannya pelan-pelan.
Semua baik-baik saja sampai pada masuk masa dimana aku tak bisa lagi menempuh pengobatan di Indonesia.
Tasia bilang dia memiliki kenalan dokter jantung terkenal bernama Nico yang saat ini sedang bertugas di salah satu rumah sakit yang ada di Australia.
Aku tidak langsung mengiyakan untuk pergi karena lagi dan lagi aku memikirkan Aurora. Tak mungkin untuk meninggalkan gadis itu. Aku juga tak ingin berpisah terlalu lama dengannya.
Tasia tahu kalau aku tak mungkin mau pergi tapi, dia terus mendesak dan memaksa. Tasia bilang kalau Nico bisa menyembuhkan ku karena dia adalah dokter spesialis jantung yang berpengalaman.
Aku kembali memikirkan dan akhirnya ku putuskan untuk pergi sekitar dua minggu ke Australia menemui dokter Nico.
Aku tidak bermaksud untuk diam-diam, aku akan memberitahu Aurora tapi sebelum sempat melakukannya gadis itu tahu terlebih dahulu dan mulai salah paham lagi.
Dia mengira aku pergi ke Australia hanya untuk jalan-jalan dengan Tasia tapi, bukan itu yang akan kulakukan. Kalaupun harus jalan-jalan, pastinya bukan dengan Tasia tapi dengan dia, Aurora. Kenapa Aurora tak bisa berpikiran seperti ini ?
__ADS_1
Lagi dan lagi, aku mencoba menjelaskan kepadanya. Aku bilang ini hanya untuk pekerjaan tidak ada yang lebih dari itu. Aku tahu kalau dia sudah meragu dan hanya memaksakan diri saja untuk percaya.
Aurora tersenyum tipis, aku dengan jelas melihat kalau tatapannya itu seakan meminta aku untuk tak pergi kemana-mana.
"Tapi jangan lama-lama, hanya dua minggu."
Aurora terlihat tak mengizinkan tapi ucapannya mengatakan hal sebaliknya.
"Aku pergi untuk urusan penting supaya nanti, kita bisa bersama lebih lama." Ucapku berusaha memberitahunya kalau semua yang kulakukan hanya untuk kita.
Aku mendapatkan izin darinya dan akhirnya aku berangkat ke Australia tepat setelah mengantarkan Aurora ke kampus.
Lagi dan lagi aku hanya bisa mengantarkan gadis itu tanpa pernah bisa menjemputnya.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Kalau ada kesempatan lagi, aku ingin lebih lama bersama dengan dia. Seseorang yang selalu berhasil membuat duniaku menjadi lebih bewarna.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
Catatan kecil :
- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada kilas balik pada dua bab ke depan.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1