Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 33 : Kesedihan


__ADS_3

Aurora akhirnya tersadar. Kedua matanya dengan perlahan-lahan membuka. Hal pertama yang dilihat setelah siuman adalah langit-langit kamar rumahnya. Mengetahui kalau berada di kamar, ia langsung menghela napas lega. Rupanya, Aurora masih menganggap kalau kepergian sang ayah hanya sebuah mimpi buruk yang sekarang memang sudah berakhir setelah ia bangun.


"Untung cuma mimpi buruk." Katanya sembari mengelus dadanya merasa lega.


Aurora memang masih denial. Saat ini, ia menganggap kalau sang ayah memang masih ada.


Ketika Aurora mencoba untuk berpindah posisi yang tadinya tidur menjadi duduk, Pak Dikta masuk ke kamarnya dengan membawa sebuah nampan makanan.


"Rara, makan yuk ! Dari kemarin kamu kan belum makan." Ajak Pak Dikta lalu duduk di atas ranjang tepat berdekatan dengan Aurora.


Aurora yang melihat Pak Dikta mengenakan pakaian serba hitam merasa begitu aneh.


"Pak Dikta ngapain pakai kemeja hitam ? Seperti mau menghadiri acara pemakaman." Singgung Aurora yang membuat Pak Dikta bingung harus bersikap seperti apa.


"Saya memang habis menghadiri acara pemakaman." Kata Pak Dikta dengan suara parau.


"Pemakamannya siapa ? Ada teman Pak Dikta yang meninggal ?" Tanya Aurora yang memang belum mau menerima kenyataan.


"Saya akan beritahu setelah kamu makan." Jawab Pak Dikta sambil menyodorkan semangkok bubur kepada Aurora.


"Kamu mau makan sendiri atau saya suapin ?" Tanya Pak Dikta menawarkan bantuan.


Aurora memang mandiri. Dirinya tidak akan terlalu sering merepotkan orang lain terutama Pak Dikta. Dengan cepat ia mengambil mangkok berisi bubur itu.


"Saya bisa makan sendiri." Kata Aurora.


Pak Dikta tersenyum kecil lalu mengusap singkat pucuk kepala Aurora.


"Makan yang banyak." Pinta Pak Dikta.


Aurora terlihat melahap bubur itu dengan cepat. Pak Dikta yang melihatnya merasa puas, senang dan lega. Akhirnya perut gadis itu bisa terisi makanan lagi. Mendapatkan asupan untuk energinya.


Tak butuh waktu lama, Aurora berhasil menghabiskan sampai kosong makanannya.


"Siapa yang buat ?" Tanya Aurora sembari memberikan mangkok kosongnya pada Pak Dikta.


"Bunda." Jawab singkat Pak Dikta.


"Jelas kalau rasanya enak."


"Sudah kenyang ? Atau mau nambah ?" Tanya Pak Dikta.


"Cukup."


Mendengar itu membuat Pak Dikta langsung beranjak dari tempatnya duduk. Iya, dirinya berniat kembali ke dapur untuk menaruh mangkok kosong ini. Tapi, belum sempat melakukannya Aurora mencegah.


"Pak Dikta, mau kemana ?" Tanya Aurora sambil menggenggam erat tangan Pak Dikta.


"Mau mengembalikan piring." Jawabnya.


"Pak Dikta belum beritahu saya," Aurora memberi jeda singkat pada ucapannya.


"Pak Dikta habis pergi ke pemakaman siapa ? Siapa yang meninggal ?" Sambungnya dengan pertanyaan.


Apakah ini adalah saatnya untuk menyadarkan Aurora kembali ? Gadis itu harus disadarkan oleh kenyataan. Memang pahit namun, waktu pasti bisa membuatnya menerima.


"Ayah kamu." Ucap Pak Dikta yang langsung membuat air mata Aurora kembali jatuh.


"Ayah saya meninggal ? Tapi, itu mimpi bukan kenyataan." Kata Aurora mencoba kembali menyangkal kenyataan.

__ADS_1


"Saya juga berharap itu adalah sebuah mimpi buruk tapi, inilah kenyataannya." Ujar Pak Dikta.


"Pak Dikta pasti bohong !" Teriak Aurora tiba-tiba yang membuat Pak Dikta tersentak kaget.


"Gak mungkin ayah saya meninggal. Jangan berbohong soal hal seperti ini !" Larang Aurora dengan keras.


Karena tidak mempercayai semuanya, Aurora bergegas untuk turun dari ranjangnya lalu mencari keberadaan sang ibu.


Pak Dikta akan membiarkan gadis itu melakukan apapun sesukanya yang penting, ia akan ada selalu disini untuk menjaga dan memastikan semua baik-baik saja.


Dengan langkah yang terkesan sembrono dan terburu-buru, Aurora menuruni anak tangga. Ia bahkan hampir terjatuh tapi, untung ada Pak Dikta yang dengan sigap membantu.


"Pelan-pelan, Rara..." Kata Pak Dikta memperingati.


Tak menghiraukan himbauan itu, Aurora terus melanjutkan langkahnyaย ย  tanpa ada sedikit kehati-hatian.


Sampai di ruang tamu, Aurora berhasil menemukan sang ibunda yang terduduk di sofa dengan mata yang terlihat sembab seperti habis menangis. Dengan pelan-pelan, ia menghampiri bundanya.


"Bunda..." Panggil Aurora langsung memeluk ibunya dengan begitu erat seakan tak ingin melepaskannya.


Dengan sigap, ibunya juga ikut membalas pelukan itu. Didekapnya sang putri erat-erat.


"It's okay, sayang... Ayah sekarang sudah bahagia di sana jadi, kamu harus berusaha untuk ikhlasin..." Ucap sang ibunda di tengah-tengah pelukan.


Aurora akhirnya tersadar kalau semua yang terjadi adalah kenyataan bukan sebuah mimpi buruk. Tolong, berikan ruang bagi Aurora untuk menangis.


Kehilangan ayah bukan hal mudah baginya. Aurora bahkan tak bisa mengikhlaskan dengan mudah. Butuh waktu dan proses untuk melakukan semua itu.


"Ayah bahagia tapi, Rara tidak..." Ungkapnya.


"Hanya sementara ya, sayang. Waktu yang akan membuat semuanya kembali ke semula." Ujar sang ibunda.


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Aurora terduduk diam, meringkuk di atas ranjangnya dengan tatapan kosong ke arah jendela. Gadis itu memang sudah berhenti menangis tapi, jauh di dalam hatinya tangisan itu masih belum berhenti.


Pak Dikta yang baru saja masuk ke kamar ini dan melihat istrinya terduduk merenung seperti itu pun tanpa ragu mengambil tempat tepat di sebelahnya.


"Apa yang bisa saya lakukan untuk menghibur kamu ?" Tanya Pak Dikta.


Aurora menengok ke arah Pak Dikta lalu mata sembab nya menatap Pak Dikta dalam-dalam.


"Rara, kangen ayah..." Ujar Aurora dengan suara lesu.


Mendengar itu membuat Pak Dikta langsung memberikan sebuah pelukan. Kalau bukan seperti ini kondisinya, Aurora sama sekali enggan untuk dipeluk atau memeluk Pak Dikta.


Pelukan yang selalu diberikan oleh Pak Dikta rasanya terus sama, tidak ada yang berubah. Dipeluk Pak Dikta, rasanya begitu menenangkan.


"Besok, kita jenguk ayah..." Ujar Pak Dikta.


"Pak Dikta mau anterin saya kan ?" Tanya Aurora.


"Tentu saja."


Di dalam pelukannya, Pak Dikta juga sesekali mengecup singkat kening sang istri.


"Pak Dikta..." Panggil Aurora yang langsung mendapat sebuah deheman dari Pak Dikta.


"Jangan tinggalin saya ! Saya gak mau kehilangan lagi." Ucapan yang terlontar dari mulut Aurora itu terdengar cukup serius. Benarkah ?

__ADS_1


Pak Dikta menatap sang istri dengan hangat lalu membelai singkat rambut Aurora.


"Saya akan terus temani kamu sampai nanti." Ujar Pak Dikta seperti sebuah janji.


"Selamanya ?"


"Tidak bisa selamanya. Dunia ini isinya hanya sementara." Kata Pak Dikta.


"Tapi, saya mau Pak Dikta temenin saya selamanya." Tutur Aurora sedikit memaksa.


"Iya..." Balas singkat Pak Dikta.


"Di dunia ini, saya hanya punya bunda, Pak Dikta, Gilang, Keysha dan Arjuna. Saya gak mau kehilangan salah satu dari kalian." Ujar Aurora sambil memejamkan matanya.


Pelukan hangat yang diberikan oleh Pak Dikta benar-benar membuat Aurora mengantuk. Ia ingin tertidur dan bangun di esok hari dengan kondisi yang jauh lebih baik dari sekarang.



"Tidurlah sekarang. Have a nice dream." Pungkas Pak Dikta.


Malam ini, Pak Dikta akan terus menemani sang istri. Tak ada niat sekalipun darinya untuk meninggalkan Aurora meskipun, harus melanggar janji.


Sebenarnya hari ini, dia punya janji kepada Tasia untuk menjemput di bandara. Namun, karena kondisinya masih seperti ini Pak Dikta memilih tetap tinggal. Baginya Aurora adalah prioritas yang harus diutamakan. Sebegitu sayangnya Pak Dikta dengan Aurora.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Punya seseorang yang selalu ada untuk kita itu adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan.


Disaat dunia bersikap kurang adil, orang seperti itulah yang selalu kita cari.


Mau bilang apa sama Aurora atau Pak Dikta ?


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2