Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 39 : Mabuk


__ADS_3

| Mode Chat |


...----------------------...


...Pak Dikta...


...----------------------...


^^^Keysha :^^^


^^^Selamat malam, Pak.^^^


^^^Maaf kalau saya menganggu malam-malam begini.^^^


Pak Dikta :


Iya ?


Ini dengan siapa yang mengirim pesan ?


^^^Keysha :^^^


^^^Saya Keysha, teman Aurora.^^^


Pak Dikta :


Ada apa, Keysha ?


^^^Keysha :^^^


^^^Saya hanya ingin memberitahu kalau Aurora pergi ke klub. Bukan bermaksud untuk mengadu tapi, saya merasa khawatir.^^^


Pak Dikta :


Pergi ke klub ?


Apa dia sendirian ?


^^^Keysha :^^^


^^^Iya...^^^


Pak Dikta :


Apa kamu tahu klub mana yang dikunjungi Aurora ?


^^^Keysha :^^^


^^^Maaf pak ! Tapi, Rara sama sekali tidak mau memberitahu.^^^


^^^Mungkin bapak bisa menghubunginya dan bertanya langsung. Saya yakin kalau bapak yang melakukannya pasti akan dijawab.^^^


...---ooOoo---...


Sebuah pesan singkat seperti itulah yang didapatkannya sesaat sebelum berhasil menghubungi Aurora.


Bayangkan, disaat masih sibuk dengan urusan rumah sakit, dirinya harus dibuat khawatir dan panik dengan kabar seperti ini.


Sekarang ia sudah turun di jalanan, mengendarai mobilnya melewati malam untuk menuju ke klub tempat dimana sang istri berada.


Klub Heaven, setelah memarkirkan mobilnya, Pak Dikta bergegas dengan panik memasuki klub itu. Berada di dalam klub, Pak Dikta melihat banyak sekali wanita yang berpakaian minim tengah berdansa ria dengan para lelaki. Tapi, tujuannya kemari bukan untuk mempedulikan hal semacam itu.


Kedua mata Pak Dikta mulai berkeliling, ia berusaha untuk mencari keberadaan Aurora namun, sayang sekali tak terlihat batang hidung istrinya berada disini.


Pak Dikta mulai memastikan sekali lagi kalau dia memang mendatangi klub yang benar.


"Dimana dia ?" Tanyanya dalam hati yang sudah sangat panik.

__ADS_1


Tidak bisa menemukan sang istri membuat Pak Dikta langsung mengambil ponsel bermaksud untuk menghubungi sang istri namun, baru terdengar lima detik nada sambung, Aurora menolak panggilan ini.


Pak Dikta merasa aneh bercampur cemas karena panggilan yang ditolak ini. Dirinya hanya merasa kalau Aurora yang keberadaannya masih belum diketahui sedang berada dalam bahaya.


"Permisi, apakah kau melihat gadis muda berambut sebahu datang kemari ?" Tanya Pak Dikta kepada seseorang pengunjung dari klub ini.


"Gadis ? Disini banyak gadis kenapa kau mencari yang seperti itu ?" Balas pengunjung klub itu yang dirasa tengah mabuk karena dari gaya bicaranya sudah asal.


Pak Dikta tak menghiraukannya lagi. Ia lebih memilih untuk datang ke meja bar.


"Maaf tapi, bolehkah saya bertanya ?" Ucap Pak Dikta meminta izin.


"Tanyakan saja, tuan." Kata Bartender itu.


"Apa kau melihat seorang gadis muda dengan rambut sebahu datang kemari ?" Tanya Pak Dikta dengan penuh harap.


"Tadi memang ada gadis seperti itu. Ia terlihat begitu mabuk—" belum selesai dengan ucapannya, Pak Dikta memotong.


"Kemana perginya gadis itu ?" Tanya Pak Dikta langsung tanpa basa-basi.


"Dibawa oleh seseorang laki-laki. Mungkin di hotel yang ada di dekat sini." Jawab Bartender itu memberitahu.


Mendengar itu rasa panik dan takut Pak Dikta semakin meningkat. Pikirannya sudah kalut akan keselamatan dari Aurora. Dengan cepat, Pak Dikta berlari keluar menuju kembali ke mobilnya. Sekarang tujuannya adalah mencari Aurora di hotel. Ia sangat berharap bisa menemukan istrinya di sana.


"Tunggu aku, Rara !" Katanya sembari menekan gas mobilnya.


...---ooOoo---...


Pak Dikta memang belum terlambat. Iya, dia datang di waktu yang tepat disaat Aurora memang membutuhkan bantuannya.


Di parkiran dari hotel ini, Pak Dikta berhasil menemukan sang istri yang masih dalam keadaan setengah tersadar. Pak Dikta melihat dengan jelas kalau lelaki itu tengah berusaha untuk melecehkan istrinya. Untung saja, Aurora tetap berusaha melawan meski keadaannya masih dalam pengaruh alkohol.


"Apa yang mau kamu lakukan ?" Tanya Pak Dikta dengan nada tegas.


"Kamu siapa ? Kenapa berani menganggu kesenangan orang lain ?" Tanya lelaki tukang mesum itu.


"Aku bisa melaporkanmu ke polisi !" Ucap Aurora dalam keadaannya sekarang.


"Babe, ayolah... Jangan terlalu kejam terhadapku ! Bukankah kita sudah sepakat untuk menghabiskan malam bersama ?"


Mendengar itu membuat Pak Dikta melemparkan sebuah tatapan tajam yang terlihat sangat mengintimidasi kepada lelaki mesum itu.


"Siapa yang kau panggil babe ?" Tanya Pak Dikta.


"Tentu saja gadis itu. Dia adalah kekasihku." Sebuah pengakuan yang terdengar konyol dari pria mesum itu.


"Siapa namanya ? Jika benar dia kekasihmu, kau pasti akan tahu namanya." Pak Dikta memberikan sebuah pertanyaan menohok yang berhasil membuat pria mesum itu terdiam mematung — sama sekali tak bisa memberikan jawaban.


Tak mau lebih lama lagi, Pak Dikta pun membawa Aurora menuju mobilnya namun, lagi dan lagi lelaki mesum itu menghentikannya.


"Apa hubunganmu dengan gadis itu ? Bagaimana aku bisa memastikan kalau kau juga buka orang jahat ?"


Pak Dikta menunjukan cincin pernikahan yang melingkar pada jari manis Aurora dan dirinya.


"Apakah ini cukup membuktikan kalau aku adalah suaminya ?" Tukasnya membungkam pria mesum itu.



Aurora yang masih berada dalam pengaruh alkohol secara tiba-tiba jatuh pingsan lagi dalam pelukan sang suami.


"Pak Dikta, jangan tinggalin Rara !" Pintanya mengigau.


Dengan kekuatannya, Pak Dikta pun menggendong tubuh Aurora dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Dia akan memulangkan gadis itu ke rumahnya. Mungkin malam ini, mereka akan menginap di rumah pribadi Pak Dikta. Tidak mungkin juga kan membawa Aurora pulang ke rumahnya dalam keadaan seperti ini. Apa kata sang ibunda nanti ?


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Di mobil, saat perjalanan pulang, dalam keadaannya yang belum sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol, Aurora membuka matanya secara perlahan-lahan.


Dengan pandangan yang masih kabur, Aurora tetap berhasil melihat sosok Pak Dikta yang saat ini tengah berfokus pada jalanan.


Melihat Pak Dikta ada disampingnya membuat Aurora tersenyum lebar. Aurora hanya merasa senang karena ada Pak Dikta.


"Sudah bangun, Rara ?" Kata Pak Dikta yang menyadari bahwa istrinya telah siuman.


Tidak menjawab apapun, Aurora memilih untuk terus tersenyum sambil menatap dengan hangat ke arah sang suami.


"Ada apa, Rara ?" Tanya Pak Dikta yang mulai merasa kurang nyaman karena terus ditatap seperti itu.


"Devin dulu mengkhianati ku dengan selingkuh..." Ungkap Aurora tiba-tiba.


"...Pak Dikta jangan melakukan hal yang sama !" Pinta Aurora yang masih dalam pengaruh alkohol.


"Tujuan saya adalah membahagiakan mu. Tidak mungkin kalau saya menyakitimu dengan berselingkuh." Ujar Pak Dikta terdengar meyakinkan.


"Bagus..." Aurora merasa puas akan hal itu.


"Pak Dikta sama sekali gak boleh selingkuh ! Yang boleh selingkuh cuma saya. Kalau sampai ketahuan selingkuh, Rara pukul dada Pak Dikta sampai bunyi deg !" Katanya lagi.


Pak Dikta tersenyum lalu mengusap kepala Aurora dengan lembut sembari satu tangannya tetap berada di kemudi.


"Jangan melakukan hal seperti itu lagi ya, Rara ! Saya benar-benar cemas." Ujar Pak Dikta memberitahu.


"Maaf." Balas Aurora lalu kembali tertidur.


Pergi ke klub tanpa meminta izin, meminum alkohol, pergi dengan lelaki asing, semua itu hal membahayakan. Seandainya, Pak Dikta tak bisa datang tepat waktu bagaimana ?


Pak Dikta sebenarnya merasa sedikit kesal dan ingin marah dengan semua hal yang dilakukan oleh Aurora tapi, ia juga tidak tega kalau melakukan itu. Lagipula marah bukan hal tepat untuk dilakukan. Marah bisa lebih memperburuk suasana yang ada. Akan lebih baik kalau memberitahunya baik-baik, setidaknya Aurora akan mendengarkan.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Ya Tuhan mau punya suami seperti Pak Dikta... Kira-kira cari dimana ya ?


Mau ngomong apa sama mereka ? Aurora ? Pak Dikta ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2