Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 23 : Mie Instan


__ADS_3

Aurora terlihat tengah asyik menyantap pizza dengan topping tuna dan jagung kesukaannya. Pak Dikta yang ada di kursi kebesarannya hanya bisa menatap senang melihat lahapnya sang istri memakan pizza itu.


"Apa kamu mau tambah lagi ?" Tanya Pak Dikta memberikan penawaran baik.


Aurora yang masih terus mencoba memasukan pizza itu ke dalam mulut, mulai berbicara tapi, tak cukup jelas.


"Bapak mau lihat saya gemuk ?"


"Tak masalah yang penting sehat." Kata Pak Dikta yang benar-benar tak mempedulikan soal fisik.


"Tapi saya gak mau gemuk. Kalau saya gemuk nanti gak ada cowok yang suka ke saya. Kalau gak ada cowok yang suka, saya gak bisa cerai dari Pak Dikta." Ucap Aurora dengan santai dan mudah.


Perkataan itu hanya bisa membuat seorang Pak Dikta tersenyum hambar. Ia bahkan tak sanggup berucap apapun untuk membalas itu.


"Pak Dikta gak makan siang ?" Tanya Aurora yang menyadari kalau suaminya itu terus saja sibuk dengan laptopnya.


"Saya masih sibuk, banyak kerjaan yang harus diselesaikan." Jawab Pak Dikta.


"Makan kok ditunda-tunda ! Awas kena maag." Ujar Aurora memperingati sang suami.


"Setelah selesai ini, saya akan makan."


"Makan sama apa ?" Tanya Aurora yang penasaran.


Belum sempat menjawab, Aurora kembali berkata. "Pasti makanan yang tadi di kasih sama fans cewek-cewek Pak Dikta kan ?" Terdengar seperti sebuah tuduhan.


"Tidak." Jawab Pak Dikta singkat.


"Berarti makanan yang dikasih itu gak bapak makan ?" Tanya Aurora lagi.


"Tidak."


"Terus kalau gak dimakan ? Gak mungkin Pak Dikta buang kan ?"


"Saya buka orang yang suka membuang-buang makanan."


"Lalu ? Kemana perginya makanan itu ?"


"Saya berikan kepada orang yang memang membutuhkan makanan." Jawab Pak Dikta memberitahu.


"Coklatnya ?" Aurora langsung mengingat kalau tadi pagi Pak Dikta sempat mendapatkan coklat batang.


"Juga saya berikan ke orang. Memangnya kenapa ? Kamu mau ?"


Aurora mengangguk. "Kalau coklat berikan saja ke saya. Lumayan, tadi coklat yang dikasih ke bapak itu mahal."


Perkataan itu berhasil membuat seorang Pak Dikta terkekeh kecil.


"Maaf karena tak memberikan coklatnya ke kamu."


"Lain kali, kalau coklat tolong berikan ke saya." Pinta Aurora sembari menikmati pizza-nya yang hanya tersisa potongan terakhir.


"Suka banget sama coklat ?" Tanya Pak Dikta yang membuat Aurora langsung menatapnya.


"Ya, of course... Buat saya, coklat itu sebagai mood booster." Jawab Aurora meyakinkan.


Pak Dikta hanya mengangguk tanda mengerti lalu kembali berfokus pada layar laptopnya dan membiarkan Aurora menghabiskan pizza-nya yang memang tinggal sedikit itu.

__ADS_1


...---ooOoo---...


Tak terlalu butuh banyak waktu, akhirnya enam potong pizza sudah berpindah ke dalam perut Aurora dan kini ia sangat merasa kenyang.


"Saya sangat menikmati makanannya." Ucap Aurora yang merasa puas dengan pizza topping tuna dan jagung.


Karena tujuannya sudah terpenuhi, Aurora pun mulai terlihat beranjak dari tempat duduknya.


"Pak Dikta..." Panggil Aurora yang berhasil membuat Pak Dikta menoleh.


"Ya ?"


"Makasih pizza-nya. Saya sudah kenyang." Kata Aurora sembari tersenyum.


"Sama-sama, Rara." Balasnya.


Setelah mengatakan itu, Aurora melangkah menuju ke arah pintu keluar meninggalkan kotak pizza kosong yang masih ada di atas meja. Entah lupa atau memang sengaja tak mau memberesi bekas makanannya.


Baru saja keluar dari ruangan Pak Dikta, Aurora langsung dikejutkan dengan kedatangan Lily — gadis yang tadi pagi memberikan sebuah coklat ke suaminya itu.


Keberadaan Lily yang tepat dihadapannya membuat Aurora melemparkan tatapan sinis dan ketusnya.


"Mau ketemu Pak Dikta ?" Tanya Aurora sembari melipat tangannya.


"Iya... Gue mau kasih ini buat Pak Dikta." Jawab Lily sembari menunjukan bungkusan yang berisi makanan.


Perlu diketahui, Lily adalah teman satu angkatan dengan Aurora tapi, hubungan mereka berdua tak terlalu dekat — bukan berarti musuh.


"Pak Dikta gak ada." Ujar Aurora tanpa berpikir panjang.


"Masa ? Perasaan lo baru aja keluar dari ruangannya ? Lo jangan bohongin gue deh !" Kata Lily yang tahu kalau dirinya sedang dibohongin.


Seperti tak tahu waktu yang tepat, Pak Dikta yang kehadirannya sangat tidak diminta pun mendadak keluar dari ruangannya. Jika seperti ini, sudah terlihat jelas siapa yang berbohong.


"Katanya Pak Dikta gak ada di ruangannya ?" Ucap Lily sembari memicingkan senyuman.


"Saya sedari tadi ada di ruangan." Ucapan Pak Dikta ini semakin memperlihatkan kalau Aurora memang berbohong.


"Tadi saya diberitahu sama Rara kalau Pak Dikta gak ada di dalam." Lily mengadukan soal kebohongan Aurora.


Aurora yang saat ini tengah berdiri bersandar pada tembok hanya bisa menatap ke arah mereka berdua dengan datar. Ia tahu kalau sudah berbohong tapi, sama sekali tak ada rasa bersalah.


Pak Dikta melirik ke arah istrinya itu singkat lalu kembali berfokus pada Lily yang ada di hadapannya.


"Kamu mencari saya ? Ada apa ya ?" Tanya Pak Dikta.


"Ah gini, Pak... Saya mencari Pak Dikta cuma ingin memberikan mie goreng seafood." Ujar Lily sambil menyodorkan bungkusan makanan itu.


Pak Dikta hanya terdiam. Dosen itu nampak ragu ingin mengambil atau tidak.


"Saya tahu kalau Pak Dikta belum makan siang jadi, sebagai murid yang baik saya berikan dan bawakan ini untuk bapak." Desak Lily yang berusaha meminta Pak Dikta menerima bungkusan makanan.


"Sudah ambil saja, Pak ! Namanya rezeki gak boleh ditolak." Ucapan ini seperti pertanda kalau Aurora memang mengizinkan dirinya untuk menerima bungkusan makanan dari Lily.


"Terima saja, Pak. Saya memberikannya ikhlas buat bapak." Kata Lily.


Meski masih ada sedikit keraguan dalam benaknya, Pak Dikta pun mau untuk menerima bungkusan makanan itu.

__ADS_1


Tahu kalau makanannya diterima oleh Pak Dikta, membuat Lily tersipu dan tersenyum bahagia. Dalam satu hari dua dari pemberiannya diterima oleh Pak Dikta. Dengan penuh kepercayaan diri, Lily merasa kalau caranya untuk mendapatkan Pak Dikta mulai berhasil. Iya, Lily kan juga mau jadi pacarnya Pak Dikta.


"Terima kasih ya..."


"Sama-sama, Pak. Kalau bapak mau tambah bilang saja ke saya." Ucap Lily.


Setelah memberikan itu, Lily pun pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sekarang masih terus menatap.


"Ada apa ?" Tanya Pak Dikta ketika ditatap tajam oleh Aurora.


"Cuma mau kasih tahu kalau mie instan kuah buatan saya lebih enak daripada itu." Ucap Aurora terdengar sinis.


Tak menunggu jawaban, Aurora juga ikut berlalu dari hadapan Pak Dikta. Aurora akan membiarkan sang suami menikmati mie goreng seafood untuk makan siang.


...---ooOoo---...


Pak Dikta masih berdiri ditempatnya sembari menatap kepergian sang istrinya. Setelah Aurora benar-benar tak bisa dilihat oleh pandangannya ia mulai berpikir tentang makanan pemberian dari Lily.


"Mau diberikan kepada siapa lagi ?" Tanyanya bingung.


Rupanya Pak Dikta juga tak bisa memakan ini. Bukan karena tak suka atau untuk menghargai Aurora tapi, ada alasan lain yang membuat dirinya tak bisa menyentuh coklat, makanan junk food dan seafood.


Untuk makanan, Pak Dikta memang termasuk seseorang yang tak bisa sembarangan. Jika, dia melakukannya akan bisa berakibat fatal.


Pak Dikta masih harus sehat karena ada seseorang wanita yang mau ia lindungi. Belum saatnya baginya pergi.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Kalau dosennya kek Pak Dikta, author juga bakal rela kok buat ikut kejar-kejar dan bersaing. Ya, meskipun tahu kalau bapak udah punya istri.


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2