
..."Andai saja waktu bisa dihentikan, aku sangat ingin berhenti disaat seperti ini. Iya, saat aku terbangun dari tidur dan yang pertama kulihat adalah wajahnya."...
...- Aurora....
.......
.......
.......
Pagi ini, di saat waktu menunjukan tepat pukul tujuh, terlihat Aurora yang mulai perlahan-lahan membuka kedua matanya. Rupanya, gadis itu tengah berusaha untuk bangun setelah merasa cukup beristirahat.
Aurora terbangun di waktu seperti biasa hanya saja sedikit lebih awal dari sang suami. Iya, saat Aurora membuka kedua mata, ia melihat Pak Dikta yang masih tertidur dengan pulas tepat disampingnya.
Sebenarnya Aurora ingin bergerak cepat untuk bersiap pergi ke kampus karena memang jam sembilan nanti dirinya ada kelas pagi. Tapi, entah mengapa untuk beranjak dari ranjang rasanya begitu malas. Aurora merasa ingin lebih lama berada disini sambil menatap sang suami.
Jika biasanya yang selalu melakukan itu adalah Pak Dikta, pagi ini berbeda karena Aurora yang melakukannya.
Aurora menatap wajah tampan suaminya meskipun masih tidur sambil sesekali tersenyum. Iya, dirinya merasa begitu bahagia karena pagi ini masih diberi kesempatan untuk melihat suaminya.
Sudah ada tiga puluh menit dan Aurora masih begitu betah berada di atas ranjang. Seakan enggan untuk bergerak sebelum Pak Dikta bangun.
Sampai akhirnya...
"Betah banget ngelihatin saya." Ucap Pak Dikta dan langsung diikuti dengan kedua mata yang perlahan-lahan terbuka.
Iya, Pak Dikta sudah terbangun dari tidurnya dan mendapati kalau istrinya tengah asyik menatapnya sambil tersenyum.
"Selamat pagi..." Sapa Aurora langsung.
"Pagi..." Balasnya yang tak lupa tersenyum.
Lalu apa yang akan dilakukan oleh Aurora setelah Pak Dikta bangun ? Apa masih mau terus ada di atas ranjang dan mengabaikan kelas paginya ? Tidak mungkin baginya untuk melakukan itu.
"Tadi malam pulang jam berapa ?" Tanya Aurora sebelum mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus.
"Jam tiga pagi." Jujur Pak Dikta.
"Subuh ?"
Pak Dikta menganggukkan kepala tanpa ragu.
"Pasti banyak kerjaan di rumah sakit ya ?" Tanya Aurora lagi.
"Iya."
"Saya nungguin Pak Dikta loh sampai gak sengaja ketiduran di balkon." Ujar Aurora memberitahu.
"Iya saya tahu. Makannya langsung saya pindahkan kesini. Tidak baik tidur di balkon saat udara malam terlalu dingin. Kalau kamu kena flu bagaimana ?" Tanya Pak Dikta sambil sedikit memperingati.
"Kan ada Pak Dikta. Kalau saya kena flu bisa langsung berobat ke Pak Dikta." Ungkap Aurora yang langsung membuat Pak Dikta mencubit gemas hidungnya.
Sudah cukup dengan obrolan ini, Aurora pun mulai beranjak bangun dari tempatnya. Iya, dirinya harus cepat bersiap karena dalam satu jam kelas paginya akan dimulai.
"Pak Dikta..." Panggil Aurora lagi sambil menyelinguk dari pintu kamar mandi.
"Iya ?" Pak Dikta menyahuti panggilan itu.
Tunggu dulu... Ini masih pagi, Aurora tak punya pikiran atau niat yang macam-macam kan ? Maksudnya, gadis itu tak ingin mengajak Pak Dikta untuk mandi bersama kan ?
"Hari ini, Pak Dikta anterin saya ke kampus kan ?" Tanya Aurora yang memang tak memiliki niat aneh-aneh.
"Tentu saja."
"Kirain saya harus berangkat sendiri." Tutup Aurora yang langsung masuk ke kamar mandi dan segera melakukan rutinitas mandinya.
...---ooOoo---...
Beberapa menit kemudian, Aurora pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.
Sepertinya sekarang, Aurora sudah merasa biasa saja atau tak malu untuk melakukan ini dihadapan suaminya yang jelas-jelas masih ada di kamar itu.
Melihat tubuh sang istri yang hanya ditutupi oleh handuk membuat Pak Dikta gugup bahkan sampai beberapa kali menelan saliva.
"Kenapa tidak langsung bawa pakaian ?" Tanya Pak Dikta.
"Takut basah." Balas Aurora dengan santai sambil terus memilih-milih pakaian yang ada di dalam lemari.
"Selalu suka pakai seperti itu kalau selesai mandi ?" Tanya Pak Dikta lagi dengan segala kegugupannya.
"Iya. Memangnya kenapa ? Apa membuat Pak Dikta merasa kurang nyaman ?"
__ADS_1
"Sebagai lelaki normal, saya merasa kurang nyaman." Kata Pak Dikta jujur.
"Kalau begitu, bisakah Pak Dikta keluar terlebih dahulu ? Saya mau ganti baju takutnya, nanti makin buat bapak kurang nyaman." Ujar Aurora meminta dengan baik.
Pak Dikta mengerti. Memang, akan lebih baik kalau dirinya segera keluar dari kamar ini sebelum apa yang ditakutkan terjadi. Sebenarnya mereka berdua sudah pernah melakukannya dan kalau mau mereka bisa melakukannya lagi sekarang tapi, waktu sangat tidak mendukung. Aurora masih harus pergi ke kampus dan Pak Dikta juga harus bekerja. Tidak mungkin melakukan hal itu sangat sebentar.
"Kamu mau sarapan apa ? Saya akan buatkan sesuai yang kamu minta." Ujar Pak Dikta sebelum benar-benar meninggalkan kamar ini.
"Apa saja..." Aurora tersenyum.
"Saya tidak akan menolak makanan apapun yang dibuat oleh Pak Dikta." Ucapnya sembari mengambil satu style pakaian.
Selagi Aurora bersiap-siap, Pak Dikta akan membuatkannya makanan untuk sarapan. Nasi goreng spesial pakai telur mungkin cocok untuk pagi ini.
...🥀🥀🥀...
| Mode Chat |
...-----------------------...
...Keysha...
...-----------------------...
Keysha :
Ra ?
^^^Aurora :^^^
^^^Iya, kenapa Key ?^^^
^^^Maaf baru bales, soalnya tadi mandi.^^^
Keysha :
Ke kampus jam berapa ?
^^^Aurora :^^^
^^^Mungkin masih lama.^^^
^^^Gue baru siap-siap belum sarapan.^^^
^^^Memangnya kenapa Key ? Apa ada masalah ? Atau lo butuh bantuan gue ?^^^
Keysha :
^^^Aurora :^^^
^^^Pak Dikta.^^^
^^^Kalau bukan dia mau sama siapa lagi.^^^
Keysha :
Ah... Jadi, hubungan lo sama Pak Dikta baik-baik aja.
Syukur deh, gue ikut seneng dengernya.
^^^Aurora :^^^
^^^Hah ? Gimana-gimana ?^^^
^^^Hubungan gue sama Pak Dikta emang baik-baik aja.^^^
Keysha :
Ya udah...
Sorry kalau gue ganggu pagi lo.
Sampai ketemu nanti di kampus ya !
^^^Aurora :^^^
^^^Key ?^^^
^^^Ada sesuatu yang lo sembunyikan dari gue kan ?^^^
...---ooOoo---...
Iya, pada saat Aurora akan keluar dari kamarnya tiba-tiba dirinya mendapatkan sebuah pesan singkat dari teman dekatnya, Keysha.
__ADS_1
Ini jarang terjadi. Keysha bukan seseorang yang akan mengirim pesan di pagi hari. Oleh karenanya, sekarang Aurora merasa penasaran dengan sesuatu yang sedang disembunyikan oleh temannya itu.
Apalagi pesan terakhir yang dikirim oleh Aurora sama sekali tak mendapat sebuah jawaban hanya di read saja.
Untuk menghilangkan semua rasa penasarannya yang muncul di pagi hari, Aurora berniat untuk menghubungi temannya itu tapi, harus tertunda karena suara panggilan yang dibuat oleh Pak Dikta sudah terdengar.
Iya, Pak Dikta memanggil Aurora untuk memberitahu kalau makanan sarapan yang dibuatnya sudah siap dan bisa dinikmati.
Dengan cepat, Aurora langsung melangkah keluar kamar lalu menuruni anak tangga. Meskipun belum sampai di meja makan, aroma wangi yang berhasil membuat nafsu makan tercium jelas oleh hidung mancung milik Aurora.
Aurora sangat mengenali aroma masakan ini. Bahkan sebelum melihat, ia sudah bisa menebak kalau suaminya itu membuatkannya nasi goreng. Tahu banget kalau diantara semua menu sarapan, Aurora selalu menyukai nasi goreng.
"Wah, sepertinya sangat enak..." Ucap Aurora sembari mengambil tempat pada salah satu kursi yang ada di meja makan.
"Sarapan kali ini cuma nasi goreng tapi, saya bisa jamin kalau kamu akan merasa puas dengan rasanya." Kata Pak Dikta dengan penuh kepercayaan diri.
Aurora tersenyum tipis lalu, tanpa membuang waktu lebih banyak lagi ia bergegas mengambil sendok dan akan memasukan suapan pertama dari nasi goreng itu.
"Jangan lupa berdoa dulu, sebelum makan !" Ucap Pak Dikta mengingatkan Aurora yang lupa untuk melakukannya.
Karena diingatkan, Aurora pun menutup matanya lalu mengambil sikap berdoa yang baik dan benar.
"Amin..." Kata Aurora yang sudah selesai berdoa dan siap untuk menyantap sarapan buatan Pak Dikta.
Benar ya, kalau rasa nasi goreng buatan Pak Dikta itu selalu enak dan sama sekali tak kalah dengan buatan sang ibunda. Tapi, kalau dibandingkan buatan sang ibunda masih lebih enak.
"Enak." Kata Aurora sedikit memberikan pujian.
"Nasi gorengnya ?" Tanya Pak Dikta yang meminta lebih spesifik.
"Iya, mau apalagi." Balas Aurora sambil terus memasukan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.
Pak Dikta hanya tersenyum singkat lalu lanjut membersihkan dapur. Setelah memasak dan selesai menggunakan harus dibersihkan agar selalu terlihat rapi dan bersih.
"Pak Dikta gak makan ?" Tanya Aurora.
"Masih kenyang, belum lapar. Mungkin nanti." Ucap Pak Dikta.
Untuk sarapan pagi ini, Aurora sepertinya harus makan sendiri. Pak Dikta tidak sarapan dan sang ibunda juga kebetulan tak ada di rumah. Katanya sih, lagi pergi berkunjung ke rumah saudara.
"Pak Dikta ?" Panggil Aurora yang berhasil membuat suaminya menoleh.
"Iya ?"
"Sekali-kali ajarin saya masak. Biar saya gak cuma jago masak mie instan." Pinta Aurora.
"Boleh. Mau kapan ?" Pak Dikta dengan mudah menyetujui permintaan itu.
"Terserah. Mungkin kalau ada waktu senggang."
"Oke, dengan senang hati." Ujar Pak Dikta sembari tersenyum.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Bisakah untuk tidak mengubah apapun yang sudah ada ? Untuk sekarang Aurora sudah merasa nyaman akan semua kebahagiaan yang ada.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
__ADS_1
.
^^^Bersambung...^^^