
"Jadi, gimana kondisi ayah saya ?" Tanya Aurora dengan cepat sesaat setelah Pak Dikta keluar dari ruang ICU.
"Ayah Andre sudah keluar dari masa kritisnya. Kita bisa menunggu beliau bangun." Jawab Dokter Dikta menyampaikan informasi tentang kondisi ayahanda Aurora.
Itu berita yang baik. Aurora, ibunya, bahkan Gilang merasa begitu lega mendengar jawaban dari dokter Dikta.
"Tapi, ayah saya bisa sembuh kan, Pak ?" Aurora bertanya ini hanya karena ingin memastikan kalau ayahnya akan selalu ada disisinya.
"Kita lakukan saja pengobatan seperti biasa. Jika, Tuhan memang berkehendak kalau ayah Andre bisa sembuh maka secepatnya beliau bisa sembuh." Perkataan Pak Dikta yang seperti tak bisa memberikan kepastian apapun membuat Aurora merasa aneh.
Maka dari itu, Aurora ingin berbicara empat mata dengan Pak Dikta.
"Pak bisa kita bicara berdua ?" Tanya Aurora yang langsung mendapatkan sebuah anggukan kepala dari Pak Dikta.
"Kita bicara di ruangan saya saja." Kata Pak Dikta.
Aurora pun ikut dengan Pak Dikta. Gadis itu berjalan dengan mengekor persis di belakang dosen sekaligus dokter yang menangani sang ayah.
Tak butuh banyak waktu, akhirnya mereka tiba juga di depan ruangan yang ada tulisan nama lengkap Pak Dikta.
Dengan ramah, Pak Dikta membuka pintu ruangannya lalu mempersilahkan Aurora untuk masuk.
"Silahkan..."
Aurora yang tanpa berkata apa-apa pun melangkah masuk melewati Pak Dikta yang masih berdiri di dekat pintu masuk dari ruangan ini.
"Boleh saya duduk ?" Tanya Aurora meminta izin.
"Duduk saja."
Aurora pun duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan Pak Dikta.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya ?" Tanya Pak Dikta tanpa basa-basi.
"Ayah saya gak bisa sembuh kan ?"
"Pak Dikta bisa beritahu saya yang sebenarnya soal kondisi ayah." Pinta Aurora.
"Seperti yang saya katakan tadi, kondisi ayahmu sudah berhasil melewati masa kritis." Tutur Pak Dikta mengulang ucapannya.
"Tapiโ" Pak Dikta berhenti pada ucapannya.
"Tapi apa, Pak ? Kok berhenti ?"
"Untuk kesembuhannya saya tak bisa menjamin itu." Kata Pak Dikta melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terhenti.
Dirasa cukup, Aurora pun beranjak dari tempatnya lalu secepatnya untuk keluar ruangan ini meninggalkan dokter Dikta.
Sebagai calon dokter, Aurora sangat paham akan kondisi yang terjadi pada ayahnya. Wajar kalau Pak Dikta sama sekali tak bisa menjamin soal kesembuhan.
Usia ayahnya yang tak muda lagi membuat operasi cangkok ginjal sangat beresiko kalau dilakukan. Jadi, yang bisa dilakukan oleh pihak medis adalah pemberian obat-obatan dan melakukan cuci darah.
Kini Aurora sudah berada kembali bersama ibunya dan juga Gilang โ temannya yang masih setia menemani di rumah sakit. Dengan memasang senyum yang dipaksakan, Aurora menghampiri mereka berdua.
"Ada apa, Ra ?" Tanya Gilang langsung.
"Gak ada apa-apa kok. Semuanya baik-baik aja." Bohong Aurora.
"Dokter Dikta bilang apa aja, Ra ? Kondisi ayahmu bagaimana ?" Tanya sang ibunda dengan wajah yang nampak kusut.
__ADS_1
"Seperti yang dikatakan tadi, ayah sudah melewati masa kritis. Ayah baik-baik saja." Kata Aurora sembari berusaha untuk mengembangkan senyumannya.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Jarum jam bergerak lebih cepat dibanding biasanya, waktu kini telah menunjukan pukul satu dini hari. Aurora, ibunya dan Gilang masih setia menunggu di luar ruang ICU.
Harapan mereka kini jauh lebih besar karena tadi sempat mendapatkan good news, kalau ayah Andre berhasil melewati masa kritisnya.
Rasa kantuk dan lelah tentu saja mereka rasakan. Ingin istirahat sejenak tapi, tidak bisa. Kedua mata rasanya memilih untuk tetap terjaga.
"Gilang..." Panggilan Aurora ini berhasil membuat Gilang yang duduk disampingnya langsung menoleh.
"Hah ?"
"Lo gak mau balik aja ? Udah mau subuh, besok lo kan ada kelas pagi." Kata Aurora tanpa ada maksud mengusir.
"Gak apa-apa kalau gue balik ?" Tanya Gilang terdengar sedikit ragu.
Aurora menutup matanya lalu mengangguk.
"Lo emang harus balik, Lang."
"Tapi, lo sama bunda gimana ?" Gilang bertanya lagi karena merasa cukup cemas untuk meninggalkan kedua wanita itu.
"Gue bakal tetep disini sama bunda sampai ayah sadar." Kata Aurora.
"Ya udah, sekarang gue pulang dulu tapi, besok setelah kelas gue pasti bakal kesini lagi." Ucap Gilang.
Sebelum Gilang benar-benar pergi meninggalkannya, Aurora ingin meminta bantuan sekali lagi. Mungkin akan sedikit terasa merepotkan namun, Aurora sangat berharap kalau temannya itu mau dengan senang hati membantu.
"Lang, boleh minta tolong gak ?"
Aurora mengambil sebuah flashdiskย dari dalam tas selempang, lalu ia tak ragu memberikannya pada Gilang.
"Tugas makalah gue ada di sana." Aurora belum mengatakan apapun tapi, Gilang sudah mengerti. Dengan gerakan cepat, Gilang mengambil flashdisk itu dari tangan Aurora.
"Lo tenang aja. Tugas ini bakal ada di meja Pak Dikta sebelum pukul dua siang." Kata Gilang dengan yakin.
Aurora tersenyum lebar. Ia bersyukur karena bantuan yang diberikan oleh Gilang.
"Hari ini gue pasti banyak ngerepotin lo."
"Maaf ya, Lang."
"Kenapa minta maaf, Rara ? Lo itu sama sekali gak ngerepotin gue."
"Bohong banget." Balas Aurora tak percaya.
"Serius. Gue kan tulus buat bantuin lo jadi, gak ngerasa repot sama sekali." Tutur Gilang jujur.
"Makasih, Gilang..." Ucap Aurora.
"Kembali kasih." Tutup Gilang sambil mengacak singkat rambut temannya itu.
Setelah mengatakan semua itu, Gilang pun berpamitan kepada ibunda Aurora dan kemudian ia pulang.
Hari ini, Gilang sudah sangat membantu. Ia bahkan menghabiskan banyak waktu untuk ikut berjaga di rumah sakit. Aurora sangat berterima kasih atas sikap baik yang dimiliki oleh Gilang.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
__ADS_1
Matahari mulai terbit dari ufuk timur menggantikan rembulan yang saat ini harus beristirahat.
Pagi kembali datang menyapa, masih berada di tempat yang sama terlihat Aurora yang masih tertidur pulas bersama dengan sang ibunda di kursi ruang tunggu.
Ketika mereka masih berada di alam bawah sadar, tiba-tiba seorang suster perawat datang menghampiri dan tak ragu membangunkan Aurora serta ibunya.
Aurora yang masih ingin tidur harus dipaksa bangun karena suster perawat itu.
"Selamat pagi, maaf kalau saya membangunkan kalian." Ucap suster perawat itu kepada sepasang ibu dan anak yang masih setengah bangun.
"Ada apa ya, suster ?" Tanya Aurora.
"Saya hanya ingin memberitahu kalau Tuan Andre sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa." Suster perawat itu memberitahu sebuah kabar baik di pagi hari.
Aurora yang nyawanya masih terkumpul setengah bisa mendengar dengan baik kabar ini.
"Apa kondisi ayah saya membaik ?" Tanya Aurora lagi.
"Tuan Andre telah siuman." Kata suster perawat.
Mendengar itu membuat kedua mata Aurora terbuka lebar. Rasa kantuk yang memang masih bisa dirasakannya mendadak menghilang.
"Benarkah ayah saya sudah sadar ?" Tanya Aurora yang masih belum mempercayai.
"Dokter Dikta sedang memeriksa beliau." Tukas suster perawat itu.
Seperti apa yang dikatakan oleh suster perawat, di dalam ruang ICU tempat sang ayah berada, pagi ini Aurora melihat dengan jelas sosok Pak Dikta yang tengah bercengkrama dengan sang ayah.
Entah mengapa menyaksikan hal seperti ini di pagi hari sangat membuat Aurora menghela napas lega. Ayahnya yang sudah sadar dari masa kritis bahkan sekarang bisa bercengkrama dengan Pak Dikta, sungguh ini adalah keajaiban yang menjadi nyata.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akun media sosial Author supaya bisa dapat spill tipis-tipis dari cerita ini :)
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Tak bosan-bosan Author mengingatkan kepada para kawan-kawan readers, jika suka dengan cerita ini bisa langsung berikan like, vote dan komentarnya.
Mari kita ramaikan cerita ini supaya bisa berhalu bersama-sama.
Oh ya, kalau kalian mau follow akun noveltoon atau gabung ke grup author itu sangat diperbolehkan :) Mari kita berteman...
.
.
.
Kalian pernah ngerasain sebuah keajaiban dari Tuhan gak ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^