
..."...pedih ku saat merasa indah, semua hilang dan usai..."...
...- Tiara Andini, Merasa Indah....
.......
.......
.......
Terlihat dengan jelas di salah satu kursi yang ada di cafe ini, Devin bersama dengan seorang wanita yang tengah duduk saling berhadapan sembari berbincang dan terlihat akrab.
Meskipun diantara keduanya tak menunjukan suatu sikap yang romantis, tetap saja berhasil membuat pikiran negatif Aurora menyeruak. Apalagi, ia teringat kembali akan satu nama Arin.
Dengan langkah yang ragu, Aurora memberanikan diri untuk mendekat ke arah sang kekasih. Mungkin setelah ini ia akan mengetahui sebuah kenyataan.
"Devin..." Tidak seperti biasanya, Aurora memanggil sang kekasih dengan nama.
Panggilan yang terlontar dari mulut mungil Aurora itu berhasil membuat Devin dan juga wanita yang ada bersamanya terkejut.
"Kamu ngapain disini ?"
"Ini siapa ?" Pertanyaan rentetan itu dikeluarkan oleh Aurora tanpa basa-basi.
Gilang yang sedari tadi ada di belakang Aurora dan bahkan sempat tertinggal langkahnya, terlihat sudah ikut bergabung dengan mereka. Bahkan, Gilang juga terkejut mengetahui kehadiran Devin di Cafe ini bersama seorang wanita.
"Devin disini ?" Kata Gilang dengan pupil mata yang tampak membesar.
"Lang, lo tahu kalau Devin bakal ada disini ?" Tanya Aurora hanya ingin memastikan kalau ini sama sekali tak direncanakan oleh temannya.
"Gue gak tahu. Seriusan ! Gue ajak lo disini cuma buat have fun. Gak ada maksud lain." Ucap Gilang jujur.
"Jadi, ini ketidaksengajaan." Decak pelan Aurora.
Devin yang sedari tadi diam pun mulai bergerak. Lelaki itu beranjak dari tempatnya lalu menatap sang kekasih lekat-lekat. Sepertinya ada yang ingin dikatakan oleh Devin, mungkin sebuah penjelasan.
"Rara, bisa kita bicara berdua ?" Ajak Devin hanya ingin suasana lebih kondusif saja. Iya, karena ini mereka berempat jadi pusat perhatian dari semua orang yang berkunjung di Cafe ini.
Belum sempat menjawab, tangan Aurora langsung ditarik paksa menjauh dari sana.
Sedikit menjauh, lebih tepatnya di luar Cafe, Devin melepaskan genggaman tangannya lalu menghela napas yang terdengar cukup berat.
"Kenapa ? Kamu mau jelasin apa ?" Tanya Aurora langsung.
"Maaf." Tak disangka ternyata daripada memberikan sebuah penjelasan, Devin justru mengatakan permintaan maaf.
"Apa kamu membuat kesalahan ?" Tanya Aurora yang saat ini malah makin dibuat bingung dengan sang kekasih.
Devin hanya diam lalu menundukkan kepalanya seakan enggan untuk menatap ke arah Aurora.
"Kenapa kamu diam ?" Tanya Aurora yang membutuhkan sebuah jawaban.
"Maaf." Seperti tidak ada hal lain, Devin hanya bisa mengatakan satu kata yang memiliki sejuta arti itu.
Aurora terlihat frustasi karena dalam pikirannya sekarang dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Jika, Devin hanya bisa mengatakan itu untuk apa ada disini ?
"Sepertinya aku harus bertanya langsung dengan perempuan yang datang bersamamu itu." Tutur Aurora lalu mencoba melangkah masuk lagi ke Cafe.
Namun, lagi-lagi Devin mencegahnya.
__ADS_1
"Jangan !" Larangnya.
"Kenapa ?"
Devin menatapnya dengan serius. Apakah sekarang lelaki itu siap untuk menjelaskan atau memberitahu Aurora sesuatu ?
"Jangan !" Devin mengatakan hal yang sama lagi.
"KENAPA ?!" Aurora sudah berteriak frustrasi bahkan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Devin menggenggam erat tangan Aurora lalu...
"Dia Arin," Devin memberi jeda sejenak pada ucapannya.
"Tunangan aku." Tambahnya.
Perkataan itu berhasil membuat hati Aurora terasa sakit dan begitu sesak. Ternyata semua feeling dan pikiran negatif nya terwujud.
"Sejak kapan ?" Mendadak suara gadis itu berubah menjadi lebih parau.
"Kemarin." Jawab Devin yang sekarang sudah melepaskan genggaman tangannya.
"Kenapa ? Kok bisa ? Apa yang sebenarnya terjadi ? Kamu ngelakuin apa ?" Rentetan pertanyaan itu sangat ingin diucapkan namun, entah mengapa bibir Aurora rasanya enggan untuk terbuka. Gadis itu hanya bisa diam dan menatap Devin dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Bagaimana ia bisa tak menangis ? Seorang laki-laki yang paling dicintainya berkhianat dengan selingkuh. Apakah ada seseorang tersenyum ketika mengalami ini ?
"Dia hamil." Kata Devin seakan tahu semua pertanyaan yang ada dibenak Aurora.
Satu pernyataan itu sudah menjawab semuanya. Sepertinya tak ada lagi yang bisa diperjelas maupun dipertahankan. Apa ini saatnya untuk mengakhiri ?
"Kita udahan aja ya !" Kata Aurora berusaha untuk tegas.
Devin hanya diam tak bisa berkata-kata maupun mencegah hal ini terjadi. Lelaki itu hanya bisa berpasrah dengan semua keputusan Aurora.
Hubungan tiga tahun yang sudah mereka jalani harus berakhir karena satu wanita bernama Arin. Kenapa Devin bisa berbuat sejauh itu ?
Aurora mencoba menghapus air matanya lalu melangkah masuk kembali ke Cafe untuk menemui Gilang.
Dengan senyuman palsunya, Aurora langsung menggandeng lengan Gilangย tepat di depan Arin โ perempuan yang menjadi tunangan Devin.
"Gilang, kita pergi aja yuk ! Jangan disini." Pinta Aurora terdengar cukup manja.
"Kenapa ? Bukannya ini tempat favorit lo ?" Gilang bertanya-tanya.
Aurora menggeleng keras.
"Mulai sekarang, ini bukan tempat favorit gue." Kata Aurora sembari menatap tak suka ke arah Arin yang masih duduk diam ditempatnya.
Tak menanyakan lebih banyak lagi, Gilang pun menyetujui permintaan Aurora untuk pindah tempat akan tetapi, sebelum mereka pergi Devin datang dengan wajah yang tampak kusut.
"Lang..." Sapa Devin singkat lalu berusaha memaksakan senyumnya.
Gilang hanya mengangguk dan tersenyum singkat.
Enggan berada satu ruangan dengan mantan pacarnya, Aurora pun mendesak Gilang untuk segera pergi dari sini.
"Gilang, ayo ! Udah jangan lama-lama disini, gue laper." Ajak Aurora terdengar memaksa.
Tanpa berkata apapun, Gilang yang sudah dipaksa oleh Aurora pun melangkah pergi dari Cafe ini meninggalkan Devin dan Arin.
Sejujurnya, Gilang tahu kalau ada sesuatu yang terjadi dalam hubungan Aurora dan Devin namun, ia memilih untuk tak memberikan tanggapan apapun.
__ADS_1
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Bersama dengan Gilang, Aurora kini berada di pinggir dari sebuah danau. Jika merasa sedih atau butuh ketenangan, Aurora selalu datang kesini.
"Memangnya disini ada yang jual makanan, ya ?" Tanya Gilang sembari mengedarkan pandangan mencari pedangan kaki lima.
Aurora tak menggubris perkataan temannya itu. Ia sibuk untuk memandangi langit malam yang saat ini terlihat begitu indah.
"Rara ?" Panggil Gilang yang membuat Aurora menoleh dan berhenti memandangi langit malam.
"Apaan ?"
Tanpa aba-aba, Gilang langsung memberikan sebuah pelukan kepada temannya itu. Gilang tahu kalau sekarang ini yang sangat dibutuhkan oleh Aurora.
"Ra, kalau lo laper boleh nangis kok." Suruh Gilang.
Karena disuruh seperti itu, Aurora pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan erat nan hangat seorang Gilang. Air mata yang tadi sempat tertahan pun keluar juga tanpa adanya sebuah hambatan.
"It's okay, Ra. Nanti gue beliin nasi gorengnya Pak Min, ya." Kata Gilang ditengah-tengah tangisan seorang Aurora.
"Lang, kenapa dia jahat banget sih sama gue ? Kalau memang dia udah bosen, langsung bilang aja. Gak perlu cari cewek lain apalagi sampai..." Ucapan Aurora terhenti, rasanya ia tak sanggup untuk mengatakan kelanjutannya.
"Nasi gorengnya mau yang pedes atau enggak ?" Tanya Gilang sambil menepuk-nepuk ringan punggung Aurora bermaksud untuk menenangkan.
"Mau yang pedes." Balas Aurora dengan suara lirih.
"Nanti gue beliin ya !"
Gilang memang sengaja membahas hal yang lain. Ini adalah caranya supaya tak ada pembahasaan lebih lagi soal pengkhianatan Devin.
Gilang tahu itu dan tadi saat di Cafe, ia merasa ingin sekali memberi pelajaran pada Devin namun, tak jadi karena Aurora. Ia mencoba untuk menghargai temannya itu โ Aurora.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kepoin akunnya siapa tahu dapat spoiler di sana.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Hello kawan, seperti biasa ya kalau kalian suka dengan cerita ini bisa berikan like, komentar dan vote nya :)
Mari bantu author untuk meramaikan lapak ini supaya bisa lebih semangat lagi dalam update.
Oh ya, kalian juga boleh follow akun noveltoon author atau join di group supaya kita bisa berteman lebih akrab :v
.
.
.
Cari temen seperti Gilang dimana ya ? Kelihatan tulus dan sayang banget sama Aurora gak sih ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^