
Rasanya begitu sepi, sangat sepi tanpa adanya kehadiran seorang Pak Dikta. Biasnya kalau setiap pagi Aurora selalu bisa menikmati sarapan yang dibuat oleh sang suami tapi, sekarang tidak lagi.
Jujur saja, Aurora sekarang begitu rindu dengan nasi goreng buatan Pak Dikta. Andai saja waktu itu dirinya tak menyuruh sang suami pergi dan memaksanya menandatangani surat cerai semua tidak akan menjadi seperti ini.
"Sebelum berangkat ke kampus, kamu harus sarapan terlebih dahulu." Minta sang ibunda yang memang sejak pagi sudah sibuk dengan urusan dapur.
"Pagi ini Bunda masak apa ?" Tanya Aurora penasaran.
"Nasi goreng dan telur setengah matang. Bukankah kamu sangat menyukainya ?" Ujar sang ibu memberitahu menu sarapan yang sudah disiapkan dengan susah payah.
Dengan cepat, Aurora duduk di salah satu kursi yang ada pada meja makan lalu mulai mengisi sendiri piringnya dengan nasi goreng buatan sang ibu.
"Makan yang banyak, Rara ! Kenapa mengambilnya sedikit sekali ?" Tegur sang ibunda.
"Rara tidak terlalu lapar jadi, ambil secukupnya." Ujar Aurora lalu bersiap untuk memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.
Suapan pertama telah masuk ke mulutnya. Masakan ibunda memang selalu enak dan tak mengecewakan. Aurora puas sangat rasanya tapi, entah mengapa air mata justru jatuh membasahi pipinya. Ini masih pagi, Aurora tak berpikiran untuk menangis kan ?
"Kenapa Rara ? Apa masakan bunda gak enak ?" Tanya sang ibunda ketika menyadari air mata yang mulai meluruh ke pipi putrinya.
"Ini sangat enak tapi..." Aurora memberi jeda sejenak pada ucapannya.
"...aku rindu nasi goreng buatan Mas Dikta." Lanjut Aurora memberitahu sang ibunda tentang perasaannya.
Namanya juga seorang ibu tidak terlalu sulit baginya untuk memahami perasaan sang anak. Oleh karenanya, tanpa ragu ibunya langsung memberikan pelukan hangat serta tak lupa untuk menghapus air mata yang membasahi pipi Aurora.
"Kamu pasti bisa menemuinya lagi." Kata sang ibunda mencoba untuk menenangkan.
"Bagaimana aku bisa menemukannya kalau tak ada petunjuk apapun yang ditinggalkannya ?" Ujar Aurora terdengar putus asa.
Tidak tahu sudah berapa hari Aurora masih terus berusaha untuk mencari keberadaan suaminya itu. Aurora berusaha seorang diri karena semua orang dilingkungan yang bisa dibilang mengenal Pak Dikta sama sekali tak berniat untuk memberitahu.
"Nak Dikta pasti akan pulang. Kamu hanya perlu mempercayai itu." Pinta sang ibunda supaya Aurora bisa lebih bersabar lagi.
"Jika Mas Dikta benar-benar pergi dan gak kembali, aku akan sangat merasa bersalah kepada anak ini." Kata Aurora yang sekarang begitu mengkhawatirkan anaknya yang masih ada dalam kandungan.
...🥀🥀🥀...
Aurora masih belum menyerah juga untuk mencari keberadaan Pak Dikta. Dia sangat bersikeras ingin menemui Pak Dikta dan membicarakan semuanya.
Disinilah Aurora sekarang, berada di ruangan dokter Tasia sambil duduk berhadapan dengan maksud tujuan yang sama. Iya, Aurora kembali menemui dokter Tasia karena merasa kalau sang dokter mengetahui sesuatu tentang Pak Dikta.
"Kali ini apalagi ? Masih ingin bertanya soal Dikta ?" Tanya dokter Tasia yang tampak mulai bosan melihat kehadiran Aurora. Bagaimana tidak bosan, hampir setiap hari gadis itu melakukan hal ini. Datang menemuinya hanya untuk bertanya soal Pak Dikta.
"Kak Tasia tahukan keberadaan Pak Dikta sekarang ?" Tanya Aurora mendesak sang dokter untuk memberitahu.
"Jawaban saya masih sama. Tidak tahu." Ucap Dokter Tasia dengan tegas.
"Apa benar, kak Tasia tidak tahu ?" Aurora meragukan hal ini.
"Kalau aku tahu pasti akan memberitahumu." Tutur dokter Tasia.
__ADS_1
"Ini sudah sekitar dua minggu, aku masih belum bisa menemukan Pak Dikta." Aurora mulai mencoba sebisanya supaya Dokter Tasia mau memberitahu keberadaan sang suami.
"Lalu ?"
"Aku rindu, dunia terasa sepi karena ketidakadaan Pak Dikta. Kak Tasia tahu rasanya sepi tanpa adanya orang yang kita sayang ? Itu benar-benar menyesakan. Apalagi sekarang aku lagi hamil dan sangat butuh kehadiran Pak Dikta." Kata Aurora mencoba membujuk sang dokter.
"Gini Rara..." Dokter Tasia mulai berbicara serius. Apakah akhirnya dia akan memberitahu keberadaan Pak Dikta kepada Aurora ?
"Kak Tasia bisa beritahu saya. Setelah ini saya langsung menemui Pak Dikta." Aurora sudah siap mendengarkan dengan penuh percaya diri.
"Dikta pasti akan pulang kalau waktunya sudah tepat." Kata dokter Tasia yang langsung membuat Aurora kecewa. Aurora kira kalau dokter Tasia akan benar-benar memberitahu soal keberadaan Pak Dikta.
"Waktu tepatnya itu kapan ?" Tanya Aurora.
"Kenapa kak Tasia sangat bersikeras tidak ingin memberitahuku soal keberadaan Pak Dikta ? Kenapa harus ditutup-tutupi ?" Aurora mulai kesal, selama ini dia sudah cukup bersabar.
"Bukannya tidak ingin memberitahu tapi, Dikta yang minta seperti itu." Ucap dokter Tasia.
"Kenapa ? Apa Pak Dikta sudah tak lagi ingin menemui ku ?"
"Dikta hanya merasa malu bertemu denganmu dalam keadaannya yang sekarang." Jawab dokter Tasia.
"Malu ?"
"Rara, dengerin aku baik-baik. Dikta tahu kalau kamu mencarinya dan ingin bertemu tapi, bukan sekarang. Kamu harus memberi Dikta waktu untuk bersiap. Kalau sudah dirasa siap, dia pasti akan pulang." Tutur dokter Tasia yang entah apa maksudnya, Aurora juga tak mengerti.
"Berapa lama aku harus memberinya waktu ?" Tanya Aurora yang ingin kepastian.
Tidak ada lagi yang ingin ditanyakan atau dikatakan oleh Aurora. Kenapa setiap menemui dokter Tasia selalu saja dia pulang dengan kesia-siaan ? Dokter Tasia sangat tahu keberadaan dan kondisi pasti Pak Dikta tapi, entah mengapa ia sangat enggan untuk memberitahu. Padahal Aurora juga masih istri sah dari Pak Dikta. Seharusnya Aurora berhak tahu semua tentang Pak Dikta.
"Kenapa sangat sulit untuk menemukanmu ?" Gumam Aurora yang bertanya dalam hati kecilnya.
...---ooOoo---...
Aurora pun melangkah keluar dari ruangan dokter Tasia. Dia berjalan dengan kurang semangat karena lagi dan lagi tak mendapatkan informasi apapun tentang suaminya.
Sambil berjalan, Aurora mengambil ponselnya yang ada di dalam tas selempang lalu membuka aplikasi pesan. Ia hanya ingin memastikan kalau pesan tadi pagi yang ia kirimkan untuk Pak Dikta sudah dijawab namun, nyatanya masih centang satu dan tak ada balasan apapun.
Aurora menghela napasnya berat. Kenapa mencari Pak Dikta rasanya begitu melelahkan ? Apa sekarang ia harus berhenti dan memilih untuk menunggu ? Tapi kalau menunggu mau sampai kapan ?
Disaat Aurora masih terlarut dalam pemikirannya sendiri, tiba-tiba dari belakang dokter Tasia berlari melewatinya dengan terburu-buru. Aurora yang melihat itu hanya bisa menganggap kalau sekarang pasti ada pasien darurat yang harus ditangani oleh dokter Tasia.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Aurora bisa melihat dengan begitu jelas kalau dokter Tasia yang kini telah berganti pakaian mulai masuk dengan wajah panik ke dalam kamar ICU.
Sebenarnya, Aurora tak ingin ikut campur tapi, rasa penasarannya ini lebih kuat. Aurora sangat ingin tahu bagaimana cara dokter Tasia menangani pasien. Maka dari itu, Aurora pun melangkah mendekat ke arah ruang ICU namun....
Ketika dirinya hanya berjarak beberapa centimeter dari ruang ICU, ponsel miliknya berdering. Aurora mendapatkan sebuah panggilan mendesak dari Gilang.
Tak mau membuat Gilang menunggu, Aurora pun bergegas untuk menjawab panggilan itu.
"Halo, iya Gilang ada apa ?" Tanya Aurora tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Lo dimana ?" Tanya Gilang dari seberang panggilan ini.
"Masih di rumah sakit. Emangnya kenapa, Lang ?"
"Lo gak lupa kalau ada kelas siang kan ?"
Mendengar itu membuat Aurora langsung ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aurora begitu terkejut ketika melihat waktu sudah menunjukan pukul sebelas. Ini berarti ada sekitar tiga puluh menit sebelum kelas siangnya dimulai.
"Gue langsung on the way ke kampus. Kalau dosennya udah ada di kelas tolong kasih tahu gue." Pintanya.
Tak menunggu jawaban apapun dari Gilang, Aurora secara sepihak mengakhiri panggilan itu.
Sekarang yang lebih penting bagi Aurora adalah kembali ke kampus. Lain kali saja, ia melihat cara dokter Tasia menangani pasiennya.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Sangat berharap kalau Pak Dikta akan kembali pulang. Aurora akan menunggu dengan percaya kalau suaminya akan pulang. Meski tak tahu kapan.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1