Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 14 : I Say Yes !


__ADS_3

Kabar yang memberitakan soal putusnya Aurora dengan Devin sudah tersebar hampir di seluruh kampus. Banyak dari mereka yang tengah berbincang-bincang, membahas soal putusnya hubungan dari pasangan yang sering di sebut sebagai couple goals itu.


Jika di dengar, banyak dari mereka yang berusaha untuk memojokkan pihak Devin karena dianggap sebagai seorang pria yang tak bisa setia karena berkhianat tapi, ada juga yang membela Devin sehingga memojokkan Aurora dengan menyebut jika gadis itu tak pandai merawat diri — dalam penampilan, sehingga membuat sang pria berpindah hati.


Aurora yang memang sudah berada di kampus dan saat ini tengah berjalan melewati lorong kelas sangat mendengar dengan jelas tentang semua ini. Maka dari itu, Aurora dengan berani memilih untuk ikut nimbrung ke kelompok orang yang mencoba memojokkan dirinya.


"Benarkah ? Apa dia selingkuh karena kesalahanku ?" Tanya Aurora yang tiba-tiba muncul kepada mereka.


Kedatangan Aurora yang seperti ini membuat mereka semua langsung diam memaku tanpa berani berucap apapun.


Dengan sengaja Aurora mengibaskan rambutnya yang beraroma harum ke arah mereka lalu berkata.


"Aku dengan cewek selingkuhannya..." Aurora terkekeh kecil seperti sedang meremehkan sesuatu. "...tak bisa dibandingkan ! Aku seratus persen jauh lebih baik daripada dia karena gak berani merebut kebahagiaan dari perempuan lain." Tutup Aurora dengan sebuah tatapan sinis ke arah mereka yang berani menyalahkannya atas perbuatan Devin yang memang salah.


Perlu dicamkan baik-baik ! Yang namanya selingkuh itu tak pernah dibenarkan. Selingkuh adalah perbuatan jahat yang bisa melukai hati bahkan perasaan orang lain. Jika memang bosan dengan pasangannya, akan lebih baik dibicarakan atau diakhiri baik-baik daripada harus selingkuh.


Dan satu lagi, katanya kalau seseorang itu pernah selingkuh itu gak akan menutup kemungkinan dia bakal bisa melakukannya lagi di kemudian hari.


...---ooOoo---...


Putus dari Devin, awalnya Aurora kira bisa mengatasinya dengan cepat. Berhenti untuk bersedih dan teringat akan kejadian tadi malam serta berfikir untuk move on dan mencari kebahagiaan lain, nyatanya tak semudah yang dibayangkan.


Baru setengah hari Aurora berusaha untuk tebar pesona, tersenyum ke sana kemari, berpura-pura untuk baik-baik saja, ia sudah merasa lelah.


Saat ini, bersama dengan ketiga temannya, Aurora terlihat tengah terduduk lemas di kursi kantin dengan muka lemas dan ditekuk. Semangat membara yang tadi pagi ada sudah sirna begitu saja, entah pergi kemana.


"Gue capek !"


"Ternyata berpura-pura itu melelahkan." Keluh Aurora sembari menyantap nasi goreng yang disiapkan oleh ibunya pagi tadi.


Sebenarnya rasa nasi gorengnya itu enak namun, dikarenakan mood Aurora yang kurang baik berhasil mengubah kelezatan rasa dari nasi goreng itu.


"Ini kenapa rasanya hambar banget ?!" Katanya lagi memberi komentar pada nasi goreng buatan ibunya.


Ketiga temannya yang saat ini juga ada di satu meja dengan Aurora hanya bisa memaklumi semuanya. Orang kalau habis putus cinta, pasti ada aja tingkah konyolnya.


"Kalau gak enak, biar gue yang makan." Pinta Gilang dengan berani.


Tanpa berpikir panjang, Aurora memberikan kotak bekal yang berisi nasi goreng buatan sang ibunda kepada temannya itu.


"Makan aja. Tumben banget nyokap gue masak gak ada rasanya. Biasanya masakan selalu enak." Gerutu Aurora lagi.


Gilang tak terlalu menggubris itu, ia memilih untuk memakan sesuap demi sesuap nasi goreng buatan ibunda Aurora. Menurutnya, rasa nasi goreng ini pas bahkan sangat enak. Tidak seperti apa yang dikeluhkan oleh Aurora.


"Enak, Lang ?" Tanya Keysha yang menunggu komentar.


Gilang mengangguk puas. "Buatan Bunda Sarah selalu enak."


"Enak darimana ?" Aurora menyangkal pendapat jujur yang diberikan oleh Gilang.


"Itu nasi goreng gak ada rasa. Hambar banget." Imbuhnya.


Gilang terus memasukan suapan besar nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Lidah lo mati rasa kali. Buruan cek ke dokter deh, takutnya ada penyakit." Sindir Gilang.


"Aneh." Singkat Aurora lalu menghela napasnya berat.


Setelah mengungkapkan rasa kesal dan kecewanya pada nasi goreng, Aurora kembali berucap sesuatu yang menurut ketiga temannya sama sekali tak masuk diakal.


"Gue mau move on !" Tutur Aurora kembali bersemangat.

__ADS_1


"Harus." Arjuna mendukung.


"Tapi gimana caranya ?" Semangat Aurora mendadak mereda kembali.


"Cari cowok lain." Gilang begitu asal dalam memberi saran namun, ketika saran ini terucap pandangan Aurora terpaku pada sosok Pak Dikta yang sedang berjalan dengan gagah melewati kantin.


Apakah Aurora harus menyetujui atau berterima kasih atas saran yang diberikan oleh Gilang ?


"Apa gue nikah aja ya ? Biar bisa cepat move on ?" Tanya Aurora yang berhasil membuat ketiga temannya kebingungan. Ingin menganggap sebagai sebuah candaan tapi, wajah Aurora terlihat serius.


"Lo bilang kek begitu gak ada niat bercanda kan ?" Tanya Keysha hanya ingin memastikan.


Aurora menggeleng keras. "Kalau Devin bisa tunangan, gue juga bisa nikah."


Entah kenapa hal ini membuat seorang Gilang tertawa.


"Memangnya orang yang habis putus cinta selalu menjadi gila ya ? Bisa-bisanya bilang kek begitu." Ucapan Gilang terdengar seperti meremehkan.


"Memangnya lo mau nikah sama siapa ?" Tanya Arjuna.


"Lo harusnya gak tanya kek begitu." Gilang mempersalahkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Arjuna.


"Memangnya ada yang mau nikahin lo ?" Gilang membenarkan pertanyaan yang seharusnya.


Aurora menyeringai lalu mengambil tanpa permisi kentang goreng milik Keysha. Apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu ?


"Wait. Kalau gue nikah, kalian harus datang ke acaranya." Ucap Aurora dengan keyakinan.


Tanpa banyak berkata-kata, Aurora pun berdiri dari tempatnya lalu berjalan penuh percaya diri meninggalkan kantin serta ketiga temannya dalam kebingungan akan maksud dari ucapannya.


"Aurora gak serius kan ?" Tanya Keysha penasaran.


"Dia cuma bercanda. Gue yakin omongannya cuma ngaco." Ucap Gilang yakin akan asumsinya.


"Kalau dia nikah sama cowok gak bener gimana ?" Tambah Keysha.


"Gak usah dianggap serius ucapannya. Maklumi aja, dia kan habis putus makannya kek begini." Pinta Gilang yang masih tetap saja menganggap semua hanya becandaan.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Meskipun tak ingin namun, Aurora merasa harus melakukannya. Iya, sekarang dirinya sudah berada tepat di depan ruangan dari Pak Dikta.


Aurora ada disini karena punya maksud dan tujuan yang penting. Dia harus bicara serius dengan dosen itu mengenai pernikahan.


Belum sempat untuk mengetuk, tiba-tiba Aurora dikejutkan dengan sebuah deheman suara berat dari belakanganya.


"Astaga naga..." Katanya terkejut lalu menoleh dan didapatinya seorang Pak Dikta yang tengah berdiri sambil memasang wajah datar.


"Pak Dikta bisa gak sih kalau dateng jangan kek setan ! Suka banget bikin saya jantungan." Protes Aurora.


"Maaf." Singkat Pak Dikta yang tak mau memperpanjang sebuah masalah kecil.


"Iya dimaafin." Aurora mendadak menjadi seseorang yang pemaaf.


Pak Dikta tersenyum singkat lalu menatap ke arah Aurora dengan heran.


"Kenapa kamu ada di depan ruangan saya ?" Tanya Pak Dikta langsung karena tak ingin penasaran.


"A-anu..." Mendadak Aurora tergagap.


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan dengan saya ?"

__ADS_1


"A-anu itu l-loh, Pak..."


"Iya ?"


"S-saya mau ngomong s-soal..." Rasanya sulit sekali mengatakan maksud tujuannya.


"Ngomong soal apa ?"


"I-itu, Pak..." Bukan karena gugup tapi memang susah terucap.


"Kamu butuh air ? Saya bisa ambilkan air untuk kamu." Ucap Pak Dikta dengan niat baiknya.


"Pak Dikta, ayo menikah dengan saya !" Akhirnya Aurora berhasil meloloskan ajakan itu dari mulut kecilnya.


"Saya mau maksa Pak Dikta buat nikahin saya." Katanya lagi terdengar sedikit memaksa.


"Tiba-tiba ?" Pak Dikta juga tak menduga jika Aurora bisa mengatakan hal seperti ini disini.


"Bukankah beberapa hari yang lalu kamu sudah menolak lamaran dari saya ?" Pak Dikta mengingat dengan jelas ketika Aurora menolak cincin serta ajakan lamaran yang pernah ia berikan.


"Saya berubah pikiran." Kata Aurora dengan mudahnya.


"Lamaran bapak masih berlaku kan ? Pak Dikta mau kan nikahin saya ?"


Sekarang, kenapa seperti Aurora yang tengah mengejar-ngejar untuk bisa dinikahi ? Kemana perginya rasa gengsi yang dimiliki Aurora ?


Tidak peduli dengan apapun, Aurora ingin menikah dengan Pak Dikta hanya untuk bisa move on dari Devin — mantan pacarnya. Keputusannya memang terkesan terburu-buru dan tanpa berpikir panjang tapi, it's okay Aurora akan menanggung semua konsekuensi dari pernikahan tanpa cinta yang sebentar lagi mungkin akan dijalaninya.


"Pak ?" Panggil Aurora yang membutuhkan jawaban.


"Nanti sore, saya akan datang ke rumah kamu." Jawab Pak Dikta yang entah mengapa terkesan ambigu.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kepoin saja karena disitu author bakal sering kasih spoiler tipis-tipis.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Oke, rutinitas biasa kalau kalian suka dengan cerita ini bisa langsung tinggalkan like, komentar dan vote.


Jangan sampai ketinggalan akan kelanjutannya ! Pastikan kalian sudah jadikan cerita ini sebagai favorit :)


Mari bantu author untuk meramaikan lapak ini :v


.


.


.


Apa konsekuensi dari keputusan yang dibuat terburu-buru ?


Apakah Aurora akan bisa bahagia nanti setelah menikah dengan dosen yang selama ini memang selalu dibencinya ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2