
..."...i maybe not yours and you're not mine but I'll be there for you when you need me. It is only me. Believe me girl it's only me..."...
...- Kaleb J, It's only me....
.......
.......
.......
Sepeda motor laki yang digunakan oleh Gilang untuk membonceng Aurora telah berhenti tepat di depan pintu pagar dari sebuah rumah sederhana yang tampak tak asing dilihat.
Aurora pun turun dari motor itu lalu tak lupa melepas helm dan memberikannya pada Gilang yang masih setia berada di atas motornya.
"Makasih ya, Lang." Ucap Aurora dengan wajah yang nampak masih lesu. Rupanya, putus dari Devin berhasil menghilangkan riang tawa gadis penuh semangat bernama Aurora.
Gilang tersenyum begitu lebar di balik helm yang masih dikenakannya.
"Sama-sama, Rara. Itu nasi gorengnya Pak Min jangan lupa dimakan !" Kata Gilang sembari mengingatkan soal bungkusan nasi goreng yang ada di genggaman tangan Aurora.
"Iya, nanti gue makan." Jawab Aurora tanpa semangat.
"Beneran dimakan ya. Awas kalau enggak ! Itu gue yang beli jadi, gak boleh sampai mubasir. Apalagi lo kan belum makan." Ucap Gilang cukup tegas.
"Iya Gilang. Ini nasi goreng gak akan ke buang." Kata Aurora menegaskan sesuatu.
"Janji ?"
Aurora mengangguk pelan.
"Ya udah. Gue balik ya ! Udah malem." Pamit Gilang.
"Hati-hati." Aurora terlihat berubah. Ia mengatakan itu hanya sekedar mengatakannya. Tak ada semangat yang berarti. Putus membawa perubahan besar dalam sekejap.
"Rara, sini deh..." Panggil Gilang yang meminta temannya itu untuk mendekat. Dengan langkah yang terkesan malas, Aurora menurut itu.
"Jangan sedih terus !" Perintah Gilang sembari mengacak singkat rambut temannya itu.
"Gue gak sedih, cuma—" Perkataan Aurora langsung dipotong begitu saja oleh Gilang.
"—kecewa ?" Tanya Gilang yang mungkin dirasa benar.
Gilang terkekeh pelan tapi, tak bermaksud untuk mengejek temannya.
"Makanya, Ra... Lain kali jangan taruh hati seratus persen buat orang yang belum tentu jadi pasangan hidup kita. Jangan berekspektasi terlalu tinggi bahkan berharap terlalu dalam ! Itu hanya bikin lo kecewa," Kata Gilang memberi nasihat.
Aurora menundukkan kepalanya dan lebih memilih untuk mendengarkan nasihat yang diberikan oleh teman kesayangannya itu.
"Manusia itu hanya bisa bikin lo kecewa, mau sebaik apapun mereka." Imbuh Gilang.
"Jadi..." Aurora mengangkat kepalanya kembali untuk menatap ke arah temannya itu. "...gue juga gak boleh berekspektasi atau berharap sama lo ?" Tanyanya.
"Jangan ! Gue kan juga manusia," larang Gilang langsung.
"Kalau lo mau ngelakuin itu, sama Dia. Maksud gue, Tuhan,"
__ADS_1
"Karena Tuhan gak akan pernah buat lo kecewa." Tutup Gilang mengakhiri nasihatnya sambil tersenyum.
Meskipun belum sepenuhnya merasa baik, Aurora berusaha untuk mengembangkan senyuman terbaiknya.
"Makasih banyak ya, Lang. Lo bener-bener temen terbaik yang paling bisa mengerti gue." Kata Aurora terdengar tulus dari hati.
"Ra, lo harus ingat. Walau semua orang di dunia ini pergi ninggalin lo, gue yang akan tetap setia berdiri di samping lo,"
"Gue akan tetap ada di samping lo sampai nanti Tuhan minta gue buat pulang." Semua ucapan yang terlontar dari mulut Gilang sangat membuat Aurora merasa tenang dan selalu menjadi lebih baik.
"Beneran ya, Lang. Lo harus menepati ucapan sendiri." Tutur Aurora butuh lebih kepastian lagi.
Gilang mengangguk. "Gue akan selalu ada buat lo."
Karena udara malam yang mengenai kulit mulai terasa lebih dingin dari sebelumnya, Aurora pun bergegas untuk berpamitan secara benar kepada Gilang sebelum masuk ke dalam rumahnya.
"Kalau gitu, gue masuk dulu. Mau habisin nasi gorengnya Pak Min. Kan kata Gilang gak boleh sampai mubasir." Ucap Aurora dengan suara yang terdengar lebih baik dari sebelumnya.
Tak perlu menunggu jawaban apapun, Aurora pun melangkah masuk lebih dalam ke rumahnya meninggalkan Gilang yang masih setia menatapnya dari atas motor. Iya, Gilang berniat untuk pergi pulang setelah melihat Aurora masuk ke dalam rumah. Ia hanya ingin memastikan kalau gadis itu benar-benar pulang dengan selamat.
...🥀🥀🥀...
Pagi menyapa kembali. Tepatnya di sebuah kamar yang ada pada lantai dua dari rumah ini, terlihat Aurora yang tengah sibuk merias dirinya.
Setelah putus dari Devin, Aurora akan membuat sebuah gebrakan baru. Iya, gadis itu ingin mengubah seluruh penampilannya. Mulai dari cara berpakaiannya bahkan sampai riasan wajah serta tataan rambutnya.
Ia akan pergi ke kampus dengan penampilan terbaik, membuat semua mata hanya tertuju kepadanya dan pastinya akan membuat Devin — sang mantan kekasih, menyesal karena selingkuh — memilih seseorang yang bahkan tak bisa disandingkan oleh dirinya.
Aurora yang kemarin bukanlah Aurora yang sekarang. Semuanya berubah dan justru lebih baik.
"Cantik dan elegan." Puji Aurora kepada dirinya sendiri sembari memandangi cermin yang ada di meja rias.
"Good morning, bunda..." Sapa Aurora yang terdengar ceria.
"Pagi juga, Rara." Balas sang ibunda yang masih sibuk terus menyiapkan makanan di dapur.
Aurora mencoba melihat-lihat pada meja dapur, bermaksud mencari tahu apa yang sedang sang ibunya masak.
"Bunda lagi buat apa ?" Tanya Aurora.
Meski sudah mencari tahu, Aurora tetap saja tidak berhasil tahu. Maklumi saja, Aurora kalau soal urusan dapur sama sekali tidak jago.
"Buat nasi goreng." Jawab sang ibunda sambil tersenyum hangat.
"Ah..." Aurora mengangguk tanda mengerti.
"Kamu mau bawa bekal atau mau makan di rumah saja ?" Tanya sang ibunda.
"Ehm..." Aurora berpikir sejenak sembari melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan.
"Bawa bekal aja. Rara sudah hampir terlambat." Kata Aurora memberitahu keputusannya.
"Ya sudah kamu tunggu di meja makan dulu. Bunda, akan menyiapkan kotak bekal untuk kamu." Pinta sang ibunda.
"Baiklah." Tukas Aurora sembari tersenyum riang.
Aurora pun melangkah menuju meja makan lalu mengambil tempat duduk di kursi yang tersedia.
__ADS_1
Seraya menunggu, Aurora mengambil ponselnya lalu membuka kamera. Tidak biasanya Aurora melakukan ini tapi, hari ini ia ingin mengambil foto selfie dirinya dan menguploadnya pada media sosial.
Satu demi satu jepretan foto selfie diambilnya. Pose cantik, lucu, keren semua telah berhasil ia coba pagi ini. Puas dengan semuanya, Aurora pun mencoba mencari satu foto terbaik dari semua hasil jepretan yang sebenarnya bisa dibilang bagus.
"Biar aku pilih." Tuturnya.
Seusai memilih foto yang sesuai dengan kriteria pilihannya, Aurora tanpa ragu memposting di sosial media.
Karena memang di kampus Aurora merupakan seseorang yang dianggap cukup terkenal, postingan terbarunya itu mendapat banyak like bahkan komentar dari para lelaki yang mengantre untuk menjadi pasangan selanjutnya.
"Rara ?" Panggil sang ibunda yang akhirnya membuat Aurora berhenti untuk memandangi layar ponselnya.
"Kok senyum-senyum sendiri ? Ada apa ?" Lanjut sang ibunda dengan pertanyaan.
Iya, karena membaca komentar yang ada dari postingan terbarunya, Aurora tidak sadar kalau bibirnya membuat sebuah lengkungan seperti bulan sabit.
"Tidak ada." Jawab singkatnya sambil menggeleng.
Tengah diburu waktu, Aurora pun bergegas untuk mengambil kotak makan yang sudah disiapkan oleh sang ibunda lalu tak lupa untuk berpamitan dengan baik dan benar.
"Baiklah, kalau gitu sekarang Rara harus berangkat. Abang taksi online sudah menunggu di luar,"
"Sampai bertemu nanti sore, bunda..."
"Makasih untuk nasi gorengnya, nanti pasti Rara akan makan." Pamit Aurora dengan beranjak dari tempatnya.
Belum sempat sang ibunda mengatakan apapun, gadis itu sudah menghilang begitu saja dari balik pintu utama dari rumah ini.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalau kalian kepo akan kelanjutannya, bisa dikepoin aja akunnya author :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa, kalau kalian suka jangan lupa untuk tinggalkan jejak lewat like, komen dan votenya.
Supaya tak tertinggal dengan update selanjutnya, kalian bisa masukan cerita ini dalam daftar favorit. Mari bantu author untuk meramaikan lapak ini, supaya author bisa lebih semangat updatenya :)
.
.
.
Bagaimana cara move on terbaik dan tercepat ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^