
Bersama dengan Pak Dikta, Aurora kini sudah berada di sebuah butik yang bisa dibilang cukup terkenal. Katanya sih, butik ini memiliki koleksi gaun pengantin yang sederhana namun, terkesan elegan.
Aurora perlahan-lahan mulai melihat-lihat koleksi gaun pengantin yang tersedia. Sebenarnya, Aurora itu tak terlalu tertarik dengan gaun tapi, ketika berada disini, dirinya mulai merasa ingin mencoba semua gaun pengantin yang ada.
"Apa ada gaun yang kamu suka ?" Tanya Pak Dikta yang sedari tadi setia berjalan di belakangnya.
"Semua gaunnya cantik. Pak Dikta kok bisa tahu butik ini ?" Tanya Aurora yang penasaran.
Perlu diketahui saja, kalau yang memilihkan butiknya itu Pak Dikta. Aurora tak pernah tahu menahu soal urusan seperti ini. Bisa dibilang sih, untuk urusan pernikahan yang menyiapkan segalanya itu Pak Dikta, Aurora hanya menerima jadi.
"Rekomendasi dari teman." Jawab Pak Dikta santai.
"Ah, saya kira dari orang wedding organizer nya."
"Mereka juga sempat memberikan rekomendasi butik tapi, saya kurang tertarik."
Aurora hanya mengangguk kecil tanda mengerti. Tak memperpanjang obrolan, gadis itu memilih untuk fokus dalam hal memilih gaun pengantin yang akan ia kenakan nanti saat acara pernikahan. Ya, meski ini bukan pernikahan yang dilandasi oleh cinta tapi, Aurora tetap ingin tampil cantik.
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu untuk melihat-lihat, akhirnya Aurora sudah menentukan pilihan. Ada tiga model wedding dress yang sangat menarik perhatiannya.
"Saya akan mencobanya." Kata Auroraย ย memberitahu.
"Baik. Saya akan menunggu kamu disini." Balas Pak Dikta lalu mengambil tempat duduk di sebuah sofa yang ada.
Dengan ditemani oleh pegawai butik, Aurora pun masuk menuju ke kamar pass. Gaun pengantin bukan seperti baju sehari-hari, maka dari itu untuk bisa memakainya Aurora butuh bantuan dari pegawai butik.
"Gaun mana dulu yang ingin nona coba ?" Tanya pegawai butik itu yang meminta Aurora untuk memilih lagi.
"Ehm..." Aurora tampak sedang berpikir sejenak lalu menunjuk ke salah satu gaun.
"...yang ini." Katanya.
Sesuai keinginan Aurora, pegawai butik pun mulai melakukan tugasnya. Iya, mereka membantu Aurora dengan gaun pengantinnya.
Tak perlu banyak waktu, sekarang di tubuh ramping Aurora sudah terbalut dalam gaun pengantin.
Gaun pengantinnya memang memiliki model dan design yang cukup sederhana tapi, entah mengapa ketika dipakai oleh Aurora, gaun itu terlihat lebih elegan.
Tirai yang menutupi fitting room sudah dibuka. Dengan senyumannya Aurora memamerkan gaun yang sedang dikenakannya kepada Pak Dikta yang masih setia menunggu dengan duduk di sofa.
"Pak Dikta..." Panggil Aurora.
Pak Dikta langsung terperangah akan kecantikan Aurora. Ini baru gaun pertama tapi, kenapa sudah terlihat begitu cocok ?
"Bagaimana ? Apa bagus ?" Aurora menanyakan pendapat.
"B-bagus." Pak Dikta dibuat tergagap.
"Tapi, di dalam masih ada yang lebih bagus." Kata Aurora yang sepertinya belum terlalu puas dengan gaun yang pertama.
Tanpa banyak berbicara, Aurora pun kembali masuk ke dalam fitting room bermaksud untuk mencoba gaun yang lainnya. Teruntuk Pak Dikta diharap sabar menunggu.
Gaun kedua yang ingin dicobanya sudah melekat dengan benar di tubuh ramping Aurora. Untuk gaun kedua mungkin tak terlihat sesederhana yang pertama. Aurora sengaja memilih gaun yang memiliki model rok sedikit mengembang.
Tirai kembali dibuka dan kali ini Aurora tampak lebih puas dengan model gaun yang ia kenakan sekarang.
"Pak Dikta, bagaimana ?" Aurora bertanya kembali.
"Cocok." Kata Pak Dikta sambil tersenyum.
Aurora sudah sangat suka dengan gaun yang ini tapi, ia masih ingin mencoba wedding dress terakhir yang masih ada di dalam fitting room.
"Pak Dikta masih punya waktu gak ?" Tanya Aurora karena dirinya menyadari sudah berada terlalu lama di dalam butik ini.
"Memangnya kenapa ?" Pak Dikta bertanya kembali.
"Ada satu gaun lagi yang ingin saya coba." Tutur Aurora.
Pak Dikta tersenyum lalu berkata. "Saya selalu punya waktu dan bisa menunggu jika kamu ingin mencoba semua gaun yang ada butik ini. Jadi, kamu santai saja."
Kalau Pak Dikta berkata seperti itu, Aurora tak akan mengkhawatirkan soal waktu.
__ADS_1
Tak membalas apapun, Aurora pun meminta kepada pegawai butik untuk menutup kembali tirai fitting room. Gaun ketiga akan segera dicobanya.
Gaun ketiga memiliki model yang lebih tertutup. Aurora memilih gaun ini ya, karena suka saja.
Tubuh ramping Aurora kembali terbalut oleh gaun pengantin yang berbeda. Namun, entah mengapa sekarang Aurora malah menjadi bingung. Tiga gaun yang dirinya pilih semuanya terlihat bagus dan cocok. Ingin memakai ketiganya namun, itu tak mungkin.
"Pak Dikta, gaun mana yang harus saya pilih ?" Tanya Aurora meminta pertimbangan.
"Pilih saja yang kamu suka." Pak Dikta tak tahu harus memilih yang mana juga karena baginya Aurora sangat cocok dan cantik memakai gaun yang mana saja.
"Saya suka ketiganya. Apa harus mengenakan ketiganya saat acara nanti ?" Kata Aurora seperti mendesak Pak Dikta untuk membuat pilihan.
"Pakai saja yang kedua. Terlihat lebih elegan dan cocok di kamu." Pak Dikta mulai memberikan komentar namun, hanya mendapatkan sebuah senyum tipis dari Aurora.
Aurora pun kembali masuk ke dalam fitting room untuk menganti gaun itu dengan baju rumah yang tadi ia kenakan.
"Jadi, gaun mana yang ingin nona ambil ?" Tanya pegawai dari butik ini sambil membantu Aurora dengan pakaiannya.
"Yang kedua saja. Calon suami saya suka yang itu." Jawab Aurora memberitahu keputusannya.
Sejak kapan Aurora mendengarkan pendapat Pak Dikta ?
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Untuk urusan wedding dress sudah selesai. Aurora sudah mendapatkan gaunnya, Pak Dikta juga pun sudah mendapatkan tuxedo nya. Rupanya tak ada lagi yang perlu diurus karena untuk gedung, makanan dan semuanya sudah di selesaikan oleh petugas wedding organizer. Terkecuali untuk gaun, Pak Dikta memang mau membiarkan Aurora memilih sendiri untuk gaunnya.
"Sekarang kita akan kemana ?" Tanya Aurora yang baru saja selesai memasang sabuk pengaman.
"Mengantarmu pulang." Jawab Pak Dikta singkat.
"Pulang ? Apa tidak ada yang perlu diurus lagi ?" Tanya Aurora hanya ingin memastikan.
"Tidak ada. Saya sudah menyerahkan semuanya pada wedding organizer."
"Untuk invitation card ? Kapan kita bisa membagikannya ?"
"Apa ada seseorang yang ingin kamu undang ?" Tanya Pak Dikta.
"Mungkin hanya teman terdekat saya. Tidak lebih dari mereka bertiga karena saya mau pernikahan ini tak diketahui oleh banyak pihak." Kata Aurora.
Ketika pembicaraan itu berakhir, tiba-tiba ada hal yang berhasil membuat Aurora merasa malu.
"Apa kamu lapar ?" Tanya Pak Dikta setelah mendengar bunyi perut Aurora.
"Maaf, tapi bolehkah kita mampir ke tempat makan dulu sebelum pulang ?" Tanya Aurora tanpa sungkan.
"Apa ada tempat makan favoritmu ?" Tanya Pak Dikta sambil memutar kemudi.
"Bakso Pak Min yang dekat kampus." Kata Aurora memberitahu lokasi tempat makan favorit bersama ketiga temannya.
"Mau kita makan di sana ?" Pak Dikta memberikan sebuah penawaran.
Karena memang Aurora sangat suka dengan citarasa dari bakso Pak Min, ia tak ragu langsung menyetujui penawaran itu.
"Boleh. Pak Dikta memangnya tidak keberatan makan ditempat seperti itu ?" Tanya Aurora.
"Tidak masalah. Saya bisa makan dimana saja." Balas Pak Dikta sembari tersenyum tipis.
Sudah diputuskan kalau sebelum pulang mereka akan menuju ke tempat makan bakso milik Pak Min yang berada di dekat kampus. Jadi, Pak Dikta harus mengemudikan mobil ini ke arah sana. Ya, meskipun jarak tempatnya cukup jauh dari butik tapi, Pak Dikta sama sekali tak masalah.
...---ooOoo---...
Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit supaya bisa sampai di warung bakso milik Pak Min. Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Pak Dikta terlihat juga terparkir dipinggir jalan dekat dengan warung bakso itu.
Karena sudah terlalu biasa makan disini, Aurora tanpa ragu langsung menghampiri penjualnya dan memesan seporsi bakso.
"Pak Min..." Panggil Aurora yang terdengar akrab.
"Eh dek Rara, hari ini mau berapa porsi ?" Tanya Pak Min, si penjual bakso.
"Ehm, dua aja..." Jawab Aurora.
"Cuma dua ? Tidak empat seperti biasanya ?" Pak Min hanya bertanya karena memang biasanya Aurora selalu memesan empat porsi.
__ADS_1
"Hari ini lagi gak sama temen." Jawab Aurora dengan mudah.
"Mau pakai apa aja ?" Tanya Pak Min sembari membuka penutup dari panci bakso.
"Yang satu campur terus yang satunya seperti biasa, gak pakai tahu putih, daun bawang, pakai bawang gorengnya yang banyak." Kata Aurora memberitahu pesanannya.
"Dek Rara duduk aja. Nanti pesanannya diantar." Ujar Pak Min mempersilahkan Aurora untuk mencari tempat duduk kosong.
Meskipun kampus sedang dalam hari libur, warung bakso ini selalu ramai pengunjung. Ramai karena memang rasa dari baksonya begitu enak dan menyegarkan, apalagi asli dari daging sapi tanpa campuran.
Aurora pun melangkah menuju ke arah Pak Dikta yang sudah mendapatkan tempat duduk. Walau masih merasa sedikit canggung, Aurora mengambil tempat duduk persis berhadapan dengan Pak Dikta. Untuk kali pertama dalam hidup, Aurora makan bersama dengan seorang dosen yang paling dibencinya.
"Sepertinya kamu sudah sering makan disini." Singgung Pak Dikta ketika melihat keakraban Aurora dengan penjual bakso.
"Kalau selesai kampus, saya selalu makan disini sama temen-temen." Balas Aurora memberitahu.
Tanpa dibuat menunggu terlalu lama, akhirnya bakso yang dipesan oleh Aurora tiba juga. Dua porsi bakso yang diantar langsung oleh Pak Min.
"Adek Rara, pesanannya." Kata Pak Min sembari menyajikan dua porsi bakso itu ke atas meja.
Rupanya Pak Min hanya berfokus pada Aurora tanpa mempedulikan siapa gerangan yang datang makan bersama pelanggan tetap nya itu.
"Makasih ya..." Tutur Aurora dengan sopan.
"Semoga dek Rara masih suka sama rasanya." Ucap Pak Min dengan penuh harap.
Seusai menyajikan itu, Pak Min pun melenggang pergi untuk kembali ke tempatnya dan melanjutkan berjualan. Jika mengurusi Aurora terus akan menumpuk antrean. Iya, memang seramai itu warung bakso milik Pak Min.
"Selamat makan." Ucap Aurora sembari menaruh banyak sambal di mangkoknya.
"Selamat makan juga." Sahut Pak Dikta lalu menyeruput kuah bakso yang masih belum diberi tambahan apapun.
Makan bakso akan terasa jauh lebih enak jika dimakan dengan sambal. Maka dari itu, tak heran kalau Aurora merasa begitu aneh ketika melihat Pak Dikta makan bakso tanpa mencampurkan tambahan apapun.
"Pak Dikta suka makan bakso polosan ?" Tanya Aurora ditengah-tengah acara makannya.
"Iya. Bukankah bakso lebih enak dimakan seperti ini ?"
"Tambah sambal yang banyak, jauh lebih enak."
"Cita rasa aslinya nanti bisa hilang." Jawabnya sambil tersenyum.
Namanya kesukaan orang memang berbeda-beda. Tak bisa dipaksakan. Kalau Pak Dikta memang suka makan bakso dengan cara seperti itu, ya sudah.
"Orang Indonesia itu kebanyakan suka pedes." Tutur Aurora yang entah sesuai fakta atau tidak.
"Saya kurang suka makanan pedas." Jawab Pak Dikta singkat sambil tersenyum cukup lebar.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalau penasaran dengan kelanjutannya, kalian bisa kepoin akun itu :)
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Hai kawan, balik lagi sama cerita author yang mungkin akan menemani kalian hampir tiap hari :) author cuma mau bilang jangan lupa untuk meninggalkan like, komen dan votenya untuk author supaya bisa lebih semangat lagi updatenya.
Kalian bisa jadikan cerita ini sebagai favorit supaya tak ketinggalan notifikasi kalau sudah update.
.
.
.
Cuma mau tanya, kalau kalian makan bakso sukanya polosan seperti Pak Dikta atau yang sukanya diberi tambahan lagi seperti Aurora ?
Kalau author sih di team Pak Dikta :) soalnya gak terlalu suka pedes sama saos tomat apalagi kecap.
.
.
__ADS_1
.
^^^Bersambung...^^^