Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 38 : Pesta


__ADS_3

| Mode Chat |


...-----------------------------...


...Empat Sekawan...


...-----------------------------...


Keysha :


@Aurora, lo jadi pergi ke klub ?


Gilang :


Ngapain dia mau ke klub ?


Keysha :


Tadi, waktu gue sama dia mau nongkrong di cafe...


Gak sengaja ngelihat Pak Dikta lagi sama dokter Tasia.


Gilang :


Terus ?


Keysha :


Si Rara tiba-tiba ajak pergi ke klub.


Gilang :


Lo biarin dia sendirian pergi ?


Keysha :


Gue gak bisa pergi, Lang !


Gilang :


Klub mana ? Biar gue susul dia.


Keysha :


Gak tahu. Dia gak mau kasih tahu.


...---ooOoo---...


Semua pesan singkat yang ada di obrolan group sebenarnya masuk dalam notifikasi ponsel Aurora namun, gadis itu dengan sengaja mengabaikannya.


Masih di kamarnya, Aurora tengah mempersiapkan diri untuk berangkat ke klub. Malam ini, dirinya berniat untuk berpesta sendirian sampai puas.


Dengan mengenakan pakaian yang terlihat cukup seksi ditambah dengan make up yang cukup tebal — tidak seperti biasanya, dan juga penataan rambut yang dengan sengaja dibiarkannya terurai. Aurora kelihatan sangat cantik dan begitu menggoda.


Puas dengan penampilannya, Aurora pun bergegas untuk melenggang keluar dari kamar. Namun, sebelum benar-benar pergi dirinya harus meminta izin terlebih dahulu kepada sang ibunda. Iya, bukan kepada Pak Dikta — suaminya, karena sekarang lelaki itu tengah tidak berada di rumah. Mungkin, masih bersama dengan dokter Tasia — dugaan nakal dari Aurora.


"Bunda..." Sapa Aurora kepada sang ibunda yang terlihat tengah bersantai di sofa sambil menonton televisi.


"Aurora sayang, kok cantik sekali... Mau pergi ?" Tanya sang ibunda langsung setelah melihat penampilan dari putrinya.


Aurora mengangguk.


"Rara mau pergi ke pesta." Kata Aurora sembari tersenyum.


"Pesta ?" Tanya sang ibunda lagi yang merasa bingung.


"Iya. Ada temen kampus Rara yang ulang tahun." Bohongnya hanya demi mendapatkan izin.


"Siapa ?"


"Kalau Rara kasih tahu namanya, bunda gak akan kenal. Ini temen sekelas Rara, cuma gak terlalu dekat." Kata Aurora.


"Sudah izin sama suami kamu ?" Tanya sang ibunda memastikan.


Aurora mengangguk dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Sudah atau belum, Rara ?"


"Rara sudah mengirim pesan tapi, belum dijawab." Katanya bohong. Aurora sama sekali tidak ada mengirim pesan apapun.


"Kalau begitu, kamu perginya tunggu suamimu membalas pesan." Ucap sang ibunda yang langsung merubah raut wajah Aurora.


"Yah..." Aurora tampak kecewa.


"Kalau nunggu, pestanya keburu selesai." Katanya.


"Mau gimana lagi. Izin dari suami itu yang penting karena kamu sekarang sudah menikah." Ujar sang ibunda sekaligus memberitahu.


Aurora tak tahu bagaimana cara menghadapi situasi seperti ini. Jika dirinya mengirim pesan kepada Pak Dikta dan bilang kalau mau pergi ke klub pasti tak akan mendapatkan izin. Kalau berbohong juga akan cepat ketahuan.


Aurora merasa berada di jalan buntu. Dia bahkan kepikiran untuk tidak jadi pergi disaat dirinya menginginkan pergi. Sampai akhirnya, secara tidak terduga ponselnya berdering menandakan sebuah notifikasi pesan masuk. Pesan itu berasal dari Gilang bukan Pak Dikta.


"Bunda..." Panggil Aurora.


"Pak Dikta maaf, maksud Rara... Mas Dikta—" kalau dihadapan sang bunda dirinya harus memanggil atau menyebut suaminya seperti itu.


"Apa dia memberikan izinnya ?" Tanya sang ibunda.


Aurora mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Dia mengizinkannya dan memberitahuku untuk berhati-hati." Aurora berbohong lagi.


Kalau sudah seperti ini, sang ibunda juga tak bisa mencegah lagi. Dengan cepat, Aurora langsung mencium tangan sang ibunda lalu berpamitan sekali lagi dengan benar.


"Rara pergi dulu... Sampai jumpa nanti." Katanya sambil melangkah ke arah pintu keluar menuju ke garasi rumah.


Sebenarnya Aurora itu punya mobil dan bisa menyetir. Sebuah mobil yang diberikan oleh sang ayah sebagai kado saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Hanya saja, jarang digunakan karena terlalu malas menyetir di jalanan kota ini yang selalu ramai.


Hanya untuk malam ini, Aurora akan menyetir dan menggunakan mobil untuk memperlengkap penampilannya. Ya kali, sudah berias cantik-cantik malah keluar dari taksi online.


Dengan cepat, Aurora membuka pintu mobilnya yang berwarna merah mencolok itu lalu masuk ke dalam kursi kemudi.


Tak lama, mobil yang dikendarai oleh Aurora itu terlihat melewati jalanan kota malam ini yang bisa dibilang cukup sepi.


Karena jalanan juga mendukung, Aurora tak ragu untuk memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi. Sudah lama tidak menyetir ternyata rasanya menyenangkan juga.


Hanya butuh waktu singkat, mobil Aurora akhirnya tiba juga di salah satu klub ternama yang ada di kota ini.


Aurora terlihat sedang tebar pesona. Bahkan kedatangannya di klub ini berhasil membuat semua lelaki yang ada memandang kepadanya tanpa ingin berhenti.


Aurora sangat menyadari kalau dirinya tengah menarik perhatian dari semua lelaki tapi, ia memilih untuk mengacuhkannya.


Seperti di catwalk, gadis itu jalan melenggak-lenggok menuju ke arah meja bartender. Baru saja tiba, Aurora memilih untuk langsung memesan minuman. Ia tak ada niat untuk naik dilantai dansa.


"One bacardi with ice, please..." Aurora langsung memesan minumannya.


Bartender yang menerima pesanan itu langsung dengan cekatan dan cepat menyiapkan minuman untuk Aurora.


Di kesempatan kali ini, dirinya akan memesan minuman beralkohol meski tahu tubuhnya tak bisa terlalu mentolerir soal kadar alkohol.


Tak pakai lama, minuman yang dipesan oleh Aurora siap. Dengan cepat, ia meminum nya dalam satu kali teguk.


Pahit dan sedikit ada rasa panas saat meneguk minuman beralkohol bisa dia rasakan dengan jelas. Tidak mau berhenti dalam satu kali teguk, Aurora kembali mengisi gelasnya.


Menikmati minuman beralkohol sendirian, tentu saja tidak ? Baru two shoot, ada seseorang lelaki yang berusaha mendekati Aurora dengan mengambil duduk tepat di sebelahnya.


"Sendirian ?" Tanya lelaki itu.


Aurora mengangguk meskipun tak kenal dengan lelaki itu.


"Boleh saya menemani ?" Tanya lelaki itu lagi.


Aurora kembali mengangguk dengan mudahnya.


Lelaki itu juga memesan minuman yang sama dengan milik Aurora.


"Baru berapa gelas yang kamu minum ?" Lelaki itu bertanya sambil memperhatikan dengan tatapan nakal kepada Aurora.


"Ini yang ketiga." Jawab Aurora sembari meminum alkohol itu.


"Baru tiga. Saya kira sudah habis satu botol." Ujar lelaki itu.

__ADS_1


"Belum." Singkat Aurora.


Aurora memang masih sedikit meneguk minuman beralkohol itu tapi, entah mengapa rasanya sudah begitu pusing. Apakah memang dirinya selemah ini akan alkohol ?


"Kamu terlihat seperti seseorang yang tidak bisa meminum alkohol." Kata lelaki itu yang terdengar seperti sebuah sindiran.


"Aku bisa melakukannya." Ujar Aurora sambil menunjukan tegukan gelas keempatnya.


"Sudah mabuk atau belum ?" Tanya lelaki itu.


Aurora menggeleng dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja meskipun rasa pusing seperti bumi ini sedang berputar menghantamnya.


"Jika sudah mabuk, maukah kamu ikut dengan saya ? Kita akan beristirahat sejenak. Saya akan memesankan kamar yang terbaik untukmu." Ujar lelaki itu dengan tatapan yang cukup menggelikan namun, Aurora tak menyadarinya karena terlalu mabuk.


Belum memberikan jawaban apapun atau menghindar dari lelaki yang punya niat buruk, ponsel milik Aurora berbunyi. Ternyata, ia mendapatkan sebuah panggilan dari Pak Dikta.


Dengan cepat, Aurora menjawab panggilan itu.


"Ada apa ?" Tanyanya dengan suara sudah terdengar seperti suara orang mabuk.


"Kamu dimana ?" Pak Dikta terdengar khawatir.


"Sedang berpesta."


"Dimana ?"


"Klub Heaven."


"Saya akan menjemputmu. Tunggu di sana dan jangan kemana-mana." Pinta Pak Dikta.


"Gak perlu ! Ini kesenangan saya dan Pak Dikta gak boleh ganggu !" Larang Aurora.


"Saya akan jemput kamu." Ujar Pak Dikta terdengar terburu-buru.


Tak mau mengobrol lebih banyak lagi, secara sepihak Aurora mematikan panggilan itu.


Lelaki asing yang masih berada di hadapannya mulai berani menyentuh tubuh Aurora.


"Mau ikut saya atau tidak ?" Tanyanya sembari membelai lembut tubuh Aurora namun, langsung ditangkis.


"Jangan sentuh-sentuh !" Larang Aurora kemudian...


Kesadarannya menghilang. Dirinya pingsan di atas meja bar yang membuat lelaki asing itu langsung menyeringai.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Aurora itu hanya cemburu. Tapi, salahnya dia tak tahu cara yang tepat untuk mengungkapkan rasa cemburunya ini.


Mau ngomong apa sama mereka ? Aurora ? Pak Dikta ? Atau mungkin Tasia ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2