Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 71 : Berjuang Dalam Diam


__ADS_3

| Flashback On |


Dikta POV


Australia, aku ingat betul tujuan keberadaan ku disini. Bukan untuk jalan-jalan atau menikmati keindahan dari negara ini. Aku kemari karena ingin menemui dokter Nico dan melakukan pengobatan supaya bisa sembuh sehingga aku tak takut lagi untuk meninggalkan Aurora.


Aku tahu dengan pasti kalau kepergian ku ke Australia menimbulkan kesalahpahaman. Apalagi waktu aku ada disini, ponselku benar-benar tak bisa dihubungi.


Bukan sengaja tapi, memang dokter menyarankanย  untuk lebih fokus pada pengobatan dan harus banyak istirahat.


Sampai pada hari kelima berada di Australia, aku mulai merasa kalau semua pengobatan yang dilakukan akan sia-sia. Kenapa ? Karena dokter Nico menyarankan untuk melakukan operasi transplantasi jantung. Jika, memang mudah sudah kulakukan tanpa diminta.


Sayangnya, mencari pendonor untuk jantung sangat susah didapatkan. Kalau ditunggu sampai ada, aku juga tak bisa melakukannya.


Karena sudah memiliki feeling kalau semuanya akan berakhir, aku memutuskan untuk menyiapkan segalanya.


Di kamar rumah sakit, malam ini, aku meminta bolpoin dan kertas kepada perawat yang memang sedang berjaga. Aku memutuskan untuk menulis sebuah surat yang akan ku tujukan pada istri tersayang โ€” Aurora.


Sebenarnya, aku sangat berharap kalau surat yang ku tulis tak akan pernah sampai padanya karena kalau surat ini bisa sampai ke Aurora berarti dunia kita sudah berbeda.


Aku menulis segalanya di surat itu, semua yang aku rasakan serta ucapan permintaan maaf dan juga ucapan ulang tahun kepada Aurora.


Setelah menulis ini, aku menghubungi Tasia yang memang kebetulan tengah sibuk mengurus segala macam acara pertunangannya. Lagi dan lagi aku harus merepotkan Tasia.


Aku minta bertemu dengannya. Meskipun masih sibuk, Tasia tetap mau menemui ku. Akhirnya kita bertemu di salah satu restoran rooftop terdekat dari rumah sakit.


Di pertemuan ini aku menitipkan surat yang ku tulis untuk Aurora. Awalnya, Tasia sama sekali tak mau menerima surat ini. Dia bahkan memintaku untuk memberikannya sendiri.


Tapi, setelah kami terlibat dalam sebuah pembicaraan Tasia akhirnya mau membantuku.


"Kamu itu pasti bisa sembuh. Kenapa harus menyiapkan surat seperti ini ?" Tanya Tasia.


"Mencari pendonor tak semudah itu. Aku juga merasa kalau waktu yang ku punya tak akan lebih dari dua bulan." Jawabku dengan santai.


"Kenapa kamu bilang seperti itu ? Apa kamu sudah tak ada keyakinan untuk sembuh ?"


"Aku ingin sembuh tapi, kalau Tuhan sudah minta aku buat pulang mau gimana lagi ? Memaksa takdir ? Tidak mungkin." Ucapku terdengar pasrah.


"Jadi, hanya surat ? Tidak ada hal lain ? Aku akan membantumu." Kata Tasia.


"Ada lagi. Tapi, nanti akan ku beritahu. Belum sekarang."


Seusai meyerahkan surat itu kepada Tasia, aku merasa sedikit lega. Setidaknya jika nanti aku memang sudah disuruh pulang, maka aku tidak perlu khawatir karena pergi begitu saja tanpa pamit.


Aku dan Tasia tidak bertemu terlalu lama di restoran itu. Tasia ternyata harus bergegas pulang, tunangannya sudah menunggu sedangkan aku harus segera kembali ke rumah sakit. Dokter Nico sudah memintaku untuk kembali.


Dimasa pengobatan, tepatnya hari ke sepuluh aku berada di Australia, dokter Nico tiba-tiba memintaku untuk lebih lama lagi berada disini. Dalam artian, aku tidak diizinkan untuk kembali ke Indonesia sesuai dengan waktu yang sudah ku janjikan pada Aurora.


Saat diberitahu seperti itu, tentu saja aku sangat tidak setuju. Tidak mungkin aku ingkar janji kepada Aurora dan bilang akan lebih lama disini. Aku berusaha untuk menentang dokter Nico. Aku bilang kepadanya kalau tidak bisa terlalu lama berada di Australia karena ada seseorang yang sedang menungguku untuk pulang.


Awalnya dokter Nico tak menyetujuinya. Dia terus memaksaku untuk tetap menjalani pengobatan di sini tapi, keinginan ku yang menang.

__ADS_1


Meskipun sedikit enggan untuk memberikan izinnya, dokter Nico tetap memperbolehkan ku kembali ke Indonesia dengan catatan di bulan berikutnya aku harus kembali lagi ke Australia dan menjalani perawatan.


Aku menyetujui itu dan akhirnya bisa pulang dengan kondisi yang memang kurang baik. Semua kulakukan hanya untuk Aurora. Aku tahu kalau gadis itu sudah menunggu kepulangan ku.


Kalian harus tahu bagaimana bahagianya aku ketika bisa menginjakkan kaki kembali ke Indonesia. Saat itu aku merasa begitu bersemangat dan bahagia. Rasa tidak sabar karena akan bertemu dengan Aurora semakin memuncak.


Baru saja melakukan landing dan keluar dari bandara, aku langsung memesan taksi dan meminta pengemudi untuk mengantarkan ku pulang ke rumah tempat Aurora berada.


Karena memang aku tidak mengambil jadwal penerbangan paling awal, aku tiba di Indonesia ketika langit sudah mulai akan menggelap.


Aku membayangkan, ketika pulang nanti aku bisa langsung melihat senyuman mengembang di wajah cantik Aurora ditambah dengan sebuah pelukan yang diberikannya kepadaku untuk mengungkapkan semua rasa kerinduannya namun, semua yang kubayangkan ternyata salah.


Baru saja tiba, dia justru menatapku dengan cara berbeda. Aku melihat dari sorot matanya kalau Aurora tengah merasa begitu kecewa terhadapku.


Bisa kubilang kalau Aurora memang tersenyum kepadaku tapi, senyuman itu mengandung sebuah rasa kekecewaan.


Dia bilang kalau akan membiarkanku bahagia bersama dengan Tasia maka dari itu, dia berani memintaku untuk menandatangani surat perceraian. Dia selalu melakukan kalau ingin melihat aku bahagia tapi, bagaimana aku bisa bahagia tanpa ada dirinya ? Perlu diketahui kalau sekarang satu-satunya orang yang bisa buat aku bahagia adalah Aurora.


Orang yang berhasil menjadi kebahagiaan dan semangat justru memintaku untuk menemukan kebahagiaan lewat orang lain. Apa itu masuk diakal ?


Aku tahu kalau saat ini, ia tengah salah paham. Maka dari itu, aku berusaha sebisa mungkin untuk menjelaskan namun, dia tak mau mendengarkannya. Aurora benar-benar bersikeras terhadap keputusannya untuk bercerai. Dia memilih untuk melepaskannya dengan dalih kalau perceraian ini bisa membuatku bahagia.


Saat Aurora terus memaksa dan mendesak ku untuk menandatangani surat perceraian itu, rasanya dadaku mulai sesak dan aku kesulitan untuk bernafas dengan benar.


Sesekali ku tepuk-tepuk dadaku berharap kalau bisa mengurangi rasa sakitnya namun, nyatanya rasa sakit itu tak bisa terkontrol.


Aku tidak berpikiran lebih panjang karena rasa sakit ini. Oleh karenanya, aku menandatangani surat perceraian itu.


Aku ini hanya seorang pria lemah yang begitu egois karena ingin memiliki banyak waktu bersama dengan seseorang yang dicintai.


Setelah memberitahu Aurora untuk menjaga kondisinya, aku pun keluar dari rumah ini untuk bergegas menuju ke rumah sakit.


Singkatnya, aku mendapatkan perawatan intensif selama berbulan-bulan di rumah sakit ini. Dokter Nico bahkan sampai meluangkan waktunyaย  bolak-balik Indonesia Australia hanya untukku. Tasia juga begitu, ditengah kesibukannya mengatur rencana pernikahan dia tetap mau merawat ku dengan baik.


Disaat keadaanku yang semakin hari tak kunjung membaik, aku mulai berpikir untuk berhenti. Iya, aku hanya merasa tak enak hati kepada Nico dan Tasia yang sudah dengan sabar merawat ku. Terlalu banyak aku merepotkan mereka berdua.


"Sepertinya sudah selesai." Kataku yang terdengar begitu lesu karena memang aku tak memiliki banyak kekuatan yang tersisa.


"Selesai apa ?" Tanya Tasia sambil menyuntikan obat ke dalam infus ku.


"Aku mau istirahat. Ini sudah begitu melelahkan." Jawabku dengan jujur.


"Apa harus sekarang ? Kamu sudah tak mau lagi bertemu dengan Aurora ?" Aku tahu kalau disini Tasia juga masih berharap kalau aku bisa bertahan.


"Sekarang dia sudah baik-baik saja. Dia bisa hidup tanpa adanya aku." Ucapku terdengar cukup pasrah.


"Dua hari lagi, Aurora berulang tahun. Apa kamu tak ingin datang ke acara ulang tahunnya ?" Tasia mencoba mengingatkanku akan hari penting itu.


"Tenang saja, aku sudah menyiapkan segalanya untuk hari ulang tahun Aurora. Kado dan juga ucapan."


"Aurora butuh kado dan juga ucapan di setiap ulang tahunnya. Jadi, kamu harus sembuh untuk melakukan itu." Kata Tasia yang terus memintaku untuk bertahan dalam rasa sakit yang rasanya ingin segera ku akhiri.

__ADS_1


"Setiap Aurora berulang tahun, dia akan terus menerima kado dan ucapan selamat dari ku. Aku sudah menyiapkan segalanya." Ucapku.


"Apa maksudmu ?" Tanya Tasia yang rupanya masih belum mengerti.


Aku menghela nafasku yang terdengar berat lalu menatap ke arah langit-langit kamar rumah sakit ini untuk terakhir kalinya.


"Aku tidak akan melewatkan hari-hari terpenting dalam hidup Aurora." Ucapku sembari memejamkan mata perlahan-lahan.


"Jika tak ingin melewatkan, maka kamu harus sembuh terlebih dahulu."


"Sekarang aku ingin istirahat. Jangan bangunkan aku !" Pintaku terakhir.


| Flashback Off |



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Karena ada beberapa hal yang memang ditakdirkan untuk tak harus berakhir dengan bahagia.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


Catatan kecil :


- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada beberapa bab lagi yang akan di update.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2