
..."...sejak ku putusan kan menunggu dalam ketidakpastian, itulah janji hati yang siap terluka."...
...- Afgan, Setia Menunggu....
.......
.......
.......
Aurora terdiam membisu ditempatnya ketika melihat sosok seorang pria yang sejak kemarin selalu ia tunggu kedatangannya.
Entah mengapa saat melihat sosok pria itu, perasaan kecewa dan kesal yang kemarin dirasakan oleh Aurora menghilang begitu saja.
Rasanya, Aurora sangat ingin berlari kearahnya dan memeluk pria yang tak lain adalah Pak Dikta dengan begitu erat tapi, tubuhnya tak mau diajak bekerjasama.
Dengan perlahan-lahan, Pak Dikta melangkah mendekati Aurora, mencoba untuk mempersempit jarak diantara mereka.
Pak Dikta menatap istrinya itu lekat-lekat lalu tersenyum dengan begitu lebar. Rasanya menyenangkan karena pagi ini dia bisa melihat wajah cantik Aurora.
"Aurora..." Sapa nya yang terdengar sangat hangat ditambah lagi dengan adanya sebuah senyuman yang terlukis di wajah tampannya.
"Saya sudah menyiapkan barang-barang Pak Dikta untuk keberangkatan ke Australia." Entah mengapa bukannya mengatakan hal lain, mulut Aurora malah memilih untuk berucap seperti ini.
Tidak menjawab itu, Pak Dikta malah memberikan sebuah pelukan yang begitu erat nan terasa sangat hangat. Dipeluk seperti ini oleh suaminya berhasil membuat genangan air mata. Ini adalah pertanda kalau Aurora memang sangat merindukan kehadiran Pak Dikta. Sangat rindu, sampai saat bertemu dirinya tak mampu berkata-kata dengan benar dan hanya bisa menangis.
"Maaf, Rara..." Ucap Pak Dikta dengan suara lembutnya.
Air mata yang tadinya hanya menggenang akhirnya keluar juga membasahi pipi Aurora tanpa malu-malu. Aurora menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Pak Dikta.
Untuk menenangkan sang istrinya, Pak Dikta pun tanpa segan mengusap bagian belakang kepala sang istri dengan sentuhan yang lembut dan hangat.
"Pak Dikta bisa gak usah pergi ?" Tanya Aurora sambil melepaskan pelukan ini supaya dapat lebih leluasa menatap suaminya.
Jika bisa, Pak Dikta pasti tak akan pergi. Dia akan memilih untuk tetap tinggal dan menemani Aurora tapi, pergi ke Australia juga sangat ia butuhkan untuk sekarang. Perginya ini akan membuatnya tinggal lebih lama bersama Aurora.
"Tidak akan lama kok, cuma dua minggu." Kata Pak Dikta sembari menyeka air mata yang masih ada di pelupuk mata Aurora.
"Dua minggu itu lama. Saya ikut ya, Pak !" Aurora meminta ini dengan penuh harap.
"Sekarang enggak dulu. Nanti, kalau semuanya sudah membaik saya janji akan bawa kamu keliling dunia." Ucap Pak Dikta terdengar meyakinkan.
"Saya gak mau nanti. Saya maunya sekarang." Seperti seorang anak kecil, Aurora sendang merengek minta ikut.
"Rara, dengerin saya..." Pak Dikta meminta perhatian lebih pada sang istri.
"Saya pergi supaya bisa sama kamu lebih lama lagi." Ujar Pak Dikta yang entah apa maksudnya, Aurora juga tak mengerti.
"Apa harus dengan dokter Tasia ?" Tanya Aurora tiba-tiba.
Pak Dikta dengan mudah mengangguk. "Iya, Tasia sangat diperlukan dalam urusan ini."
Tak tahu urusan apa yang dimaksud tapi, Aurora berpikir itu adalah pekerjaan. Sebenarnya, dalam diri Aurora ada sedikit perasaan cemburu karena yang akan pergi ke Australia bersama Pak Dikta itu dokter Tasia bukan dirinya. Meminta untuk ikut juga, Pak Dikta juga tak memberikan izinnya.
"Dua minggu, gak akan lebih kan ?" Tanya Aurora hanya ingin memastikan lagi.
"Iya, hanya dua minggu."
"Cuma untuk urusan pekerjaan kan ? Bukan berlibur atau menghabiskan waktu sama dokter Tasia kan ?" Aurora bertanya ini untuk mengeluarkan semua hal yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.
"Tak ada yang lebih dari pekerjaan. Kamu harus percaya itu, Rara..." Pinta Pak Dikta.
__ADS_1
"Selama di Australia, Pak Dikta harus sering hubungin saya. Saya gak mau diantara kita tiba-tiba lost contact begitu aja." Aurora meminta ini demi kebaikan.
"Pasti. Setiap saat saya akan menghubungi kamu." Ujar Pak Dikta yang mungkin akan memenuhi permintaan Aurora.
Karena sudah seperti ini, tak ada alasan lagi bagi Aurora untuk melarang sang suami pergi. Hanya dua minggu, itu tak akan lama. Semoga saja pikiran macam-macam yang terjadi karena iri dan cemburu tidak terjadi.
"Masih ada tiga jam sebelum pesawat landing, saya bisa membuatkan sarapan untuk kamu." Ujar Pak Dikta.
"Nasi goreng dengan telur setengah matang, itu selalu menjadi menu sarapan favorit." Kata Aurora.
"Nasi goreng ? Saya akan buatkan itu untuk kamu."
...---ooOoo---...
Dua minggu, mungkin selama itulah Aurora tak akan bisa duduk di meja makan bersama sang suami dan juga tak bisa menyantap sarapan spesial buatan sang suami.
Bukan waktu yang singkat untuk ditinggalkan tapi, Aurora yakin bisa menjalaninya dengan baik. Tidak masalah kalau masih bisa berkabar, toh ini hanya sementara.
"Bagaimana ?" Tanya Pak Dikta sesaat setelah Aurora memasukan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Rasanya selalu sama. Enak, saya suka." Balasnya yang merasa puas dengan nasi goreng buatan Pak Dikta.
"Kalau begitu habiskan." Suruh Pak Dikta.
Untuk menghabiskan makanan dengan rasa seenak ini, bukanlah menjadi suatu masalah susah bagi Aurora.
"Tentu saja saya akan habiskan. Pak Dikta gak mau kan ?"
"Tidak."
"Gak sarapan ?"
"Tidak."
"Hanya belum lapar saja." Jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.
Lima belas menit berlalu, akhirnya piring yang tadi berisi nasi goreng bisa kosong juga. Aurora juga telah merasa kenyang hanya karena nasi goreng itu.
"Setelah ini apa yang kamu akan lakukan ?" Tanya Pak Dikta kepada sang istri.
"Pergi ke kampus."
Dikarenakan waktu yang dimiliki oleh Pak Dikta masih cukup banyak, ia berniat untuk mengantarkan Aurora terlebih dahulu baru akan pergi ke airport. Tidak masalah kalau jarak antar airport dengan kampus Aurora agak jauh.
"Saya antar kamu ?"
"Apa masih sempat ?" Tanya Aurora yang tak yakin dengan waktu.
"Satu setengah jam itu lebih dari cukup." Tutur Pak Dikta yang kemudian langsung beranjak dari tempatnya.
Aurora yang memang telah bersiap pun dengan cepat mengambil tas selempang miliknya lalu memakai sepatu.
Oh ya, sebelum benar-benar berangkat ke kampus, Aurora tak lupa berpamitan kepada sang ibunda yang pagi ini sedang ada di taman belakang.
"Bunda..." Panggil Aurora dengan cukup lantang dan terdengar bertenaga.
"Iya ?" Sahut sang ibunda lalu menghentikan aktivitas memotong rumputnya.
"Aurora pamit mau berangkat dulu." Ucap Aurora sembari mencium tangan sang ibunda.
Disini bukan hanya Aurora saja yang berpamitan melainkan Pak Dikta juga ikut. Ya masa, mau pergi jauh tidak berpamitan dengan ibu mertua ?
"Bunda, saya juga ijin pamit. Mau pergi sebentar, ada sedikit urusan di negeri orang." Ucap Pak Dikta terdengar sopan.
__ADS_1
"Australia ? Perginya sama siapa ? Kenapa gak ajak Rara ?" Tanya sang ibunda yang sama sekali tak ada maksud untuk mengintrogasi.
"Sama teman, bunda..." Pak Dikta mencoba menjawab pertanyaan itu satu demi satu.
"Sekarang saya pergi sendiri dulu nanti, kalau urusan ini sudah selesai pasti saya akan ajak Rara." Sambung Pak Dikta yang berhasil menjawab semua pertanyaan dari ibu mertuanya.
"Rara sudah mengizinkan suaminya untuk pergi ?" Tanya sang ibunda memastikan saja.
"Sudah kok bunda." Jawab Aurora.
"Kalau begitu kalian berdua hati-hati. Untuk Nak Dikta, tolong selalu diingat kalau masih ada istri yang menunggu jadi, jangan pergi terlalu lama." Tutur sang ibunda memberikan sebuah wejangan.
"Saya tidak akan lama."
Seusai berpamitan dengan benar, Pak Dikta bersama dengan Aurora melangkah keluar dari rumah ini. Untuk barang Pak Dikta yang semalam disiapkan oleh Aurora juga masuk ke dalam bagasi mobil.
"Ayo..." Ajak Pak Dikta sembari membukakan pintu mobil untuk Aurora.
Tak membuang banyak waktu lebih lama, Aurora pun masuk ke dalam mobil SUV itu lalu disusul oleh Pak Dikta.
Setelah memasang sabuk pengaman, Pak Dikta pun bersiap untuk melajukan mobilnya meninggalkan rumah ini dan menuju kampus.
"Kita berangkat." Katanya memberitahu.
Mobil mulai bergerak melintasi jalanan pagi kota ini yang terbilang ramai lancar. Kalau kondisi jalanan nya seperti ini mungkin akan dibutuhkan sekitar dua puluh menit untuk bisa sampai ke kampus.
Dua puluh menit sebelum mereka berdua benar-benar dipisahkan oleh jarak. Jaraknya antar benua dan juga negara.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Dua minggu bukan waktu yang singkat. Mungkin dari perpisahan sementara ini akan banyak kerinduan yang muncul. Aurora pasti akan merindukan suaminya itu.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1