Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 62 : Ibu Tunggal


__ADS_3

Lima hari berlalu setelah kepergian Pak Dikta dan Aurora disini masih setia mencoba mencari cara untuk mencari keberadaan sang suami yang hilang begitu saja seperti ditelan bumi.


Pesan singkat yang hampir setiap hari, setiap detik, menit dan jam selalu dikirimkan oleh Aurora sama sekali tak mendapatkan sebuah jawaban apapun.


Aurora memang salah tapi, apakah harus sampai mengabaikannya seperti ini ? Setidaknya bisa membalas pesan itu sudah lebih dari cukup bagi Aurora.


Dengan wajah yang terlihat putus asa, Aurora mendatangi temannya yang saat ini tengah berbincang sambil menikmati makan siang.


Pak Dikta yang pergi dan menghilang membuat senyuman di wajah Aurora juga sirna. Seakan ia merasakan kehampaan dalam hidup.


Perlu diketahui, tidak hanya pergi dari kehidupan Aurora, Pak Dikta juga memilih untuk berhenti menjadi dosen di kampus ini. Sebuah kabar yang mengejutkan karena Aurora juga tidak tahu menahu akan hal ini.


"Masih belum ketemu, Ra ?" Tanya Arjuna menanyakan perkembangannya.


Aurora dengan yakin menggeleng.


"Pesan yang gue kirim aja gak pernah dibales." Ungkapnya.


"Gue gak ngerti banget, emangnya diantara kalian berdua tuh ada masalah apa ? Kok bisa sampai Pak Dikta pergi kek gini. Lo pasti ngelakuin kesalahan fatal ya, Ra ?" Tanya Keysha menelisik mencoba mencari tahu.


"Iya, lo belum cerita masalahnya ke kita..." Sahut Gilang dengan rasa penasarannya.


"Kalau ada akibat pasti ada sebab." Imbuh Keysha.


Aurora terdiam sejenak. Ia berpikir apakah harus menceritakan masalah rumah tangga kepada tiga temannya. Tapi, kalau dipikir-pikir lebih baik untuk memberitahu mereka daripada harus dipendam.


"Gue yang salah. Gue yang buat Pak Dikta pergi." Ujar Aurora yang mulai memberitahu.


"Gimana ? Kok bisa ? Pasti lo ngelakuin hal bodoh." Duga Keysha.


"Gue sempat minta cerai karena sebuah foto yang gue sendiri gak tahu siapa yang kirim." Ungkap Aurora jujur.


"Foto ?" Tanya Keysha bingung.


Daripada memberikan penjelasan, Aurora pun mengambil ponsel yang ada di dalam tas selempang miliknya lalu, membuka file foto itu dan tanpa sungkan menunjukannya kepada tiga temannya.


Melihat foto itu berhasil membuat Keysha tertawa terbahak-bahak atas kebodohan yang dilakukan temannya.


"By ? Kenapa ketawa ? Apa ini hal yang lucu ?" Tanya Arjuna merasa sedikit aneh ketika sang kekasih itu malah memilih untuk tertawa.


"Gue kira si Rara itu pinter tapi, ternyata enggak sama sekali." Jawab Keysha yang dengan berani memberikan sebuah kritik pedas kepada sang teman.


Ada alasan yang membuat Keysha berani tertawa dan mengkritik temannya seperti itu.


"Gini gue jelasin ya..."


Keysha mengambil ponsel milik Aurora yang masih dengan jelas menampilkan foto kebersamaan Pak Dikta dengan dokter Tasia.


"Ini foto dikirim sama orang yang memang gak suka sama hubungan lo. Bisa dibilang orang itu ngelakuin ini supaya hubungan lo dengan Pak Dikta berakhir. Tentunya, sekarang berhasil." Keysha mulai menjelaskan dari apa yang berhasil ia tangkap dan analisis.


"Dan untuk foto, itu bisa lo dapetin lewat internet. Foto kebersamaan antar Pak Dikta dan dokter Tasia itu sudah lama." Tambah Keysha.


"Lo kok bisa tahu ?" Tanya Gilang yang terheran akan penjelasan temannya itu.

__ADS_1


"Hubungan antara Pak Dikta dan dokter Tasia menjadi salah satu yang paling heboh pada masanya. Banyak media yang menyorot." Balas Keysha dengan mudah.


Semua ucapan yang terlontar dari mulut Keysha terasa sangat amat benar. Kalau seperti ini, Aurora akan makin merasa bersalah.


"Terus gue harus gimana ? Gue pengen ketemu Pak Dikta dan minta maaf." Ucap Aurora meminta solusi terbaik.


"Terlambat." Gumam Gilang yang langsung menarik perhatian dari mereka bertiga.


"Lo ngomong apa, Lang ?" Tanya Aurora yang ingin Gilang mengulang ucapannya.


"E-enggak... Gue gak ngomong apa-apa." Ucap Gilang seperti ada sesuatu hal yang ditutupi.


"Gue denger lo bilang terlambat. Maksudnya gimana ya ? Terlambat apa ?" Aurora yang menginginkan jawaban.


"M-maksud gue ya lo terlambat aja buat merasa bersalah." Gilang berhasil membuat alasan.


Aurora yang saat ini tengah diliputi oleh perasaan bersalah dan menyesal pun mengelus singkat perutnya โ€” tempat dimana sang bayi berada.


"Gue gak mau jadi ibu tunggal dan gue gak akan membiarkan anak ini tumbuh tanpa seorang ayah." Kata Aurora dengan menggebu-gebu.


"Gue bakal cari Pak Dikta sampai ketemu." Ucapnya lalu menarik diri pergi meninggalkan ketiga temannya.


Mencari keberadaan Pak Dikta dan menemuinya adalah satu-satunya tujuan yang dimiliki oleh Aurora. Mau bagaimanapun caranya, sesusah apapun dia akan bertemu dengan suaminya itu.


"Ra, mau kemana ?" Tanya Keysha sambil berteriak.


"Mau ke rumah sakit." Jawab Aurora singkat.


...---ooOoo---...


Aurora datang jauh-jauh dari kampus sampai ke rumah sakit hanya karena ingin menemui dokter Tasia. Firasatnya mengatakan kalau akan bisa menemukan keberadaan Pak Dikta lewat dokter Tasia.


"Ada apa ? Aku lihat kamu ingin menanyakan sesuatu ?" Dokter Tasia mulai membuka suara mencoba mengatasi kecanggungan ini.


"Aku datang karena ingin bertanya soal Pak Dikta." Kata Aurora menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Soal keberadaan Dikta ?" Tebak dokter Tasia benar dan langsung membuat Aurora menganggukkan kepalanya.


"Kak Tasia tahu keberadaan Pak Dikta sekarang ?" Tanya Aurora yang sudah tak ingin basa-basi lebih banyak.


Untuk sekilas, dokter Tasia menatap mata Aurora dengan penuh arti lalu tatapannya turun pada perut Aurora.


"Bagaimana keadaan bayi kamu ? Apa semua baik-baik saja ?" Tanya dokter Tasia memilih mengganti topik.


"Kak Tasia tahu itu ?" Aurora terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter Tasia.


"Aku ini dokter jadi, bisa tahu hanya dengan mengamati." Katanya.


Aurora mengerti dan akan mempercayai itu.


"Semua baik-baik saja."


Dokter Tasia tersenyum singkat dan berucap kembali. "Jaga baik-baik ! Karena itu adalah anak Dikta."

__ADS_1


Tanpa diminta pun Aurora akan melakukan itu. Jadi, jangan khawatir ! Apapun yang terjadi anak ini akan selalu dalam keadaan baik.


Kenapa topiknya jadi berubah ? Aurora datang kemari bukan untuk membahas tentang kehamilannya tapi, karena ingin mencari keberadaan dari sang suami.


"Kak Tasia tahu dimana Pak Dikta berada ? Aku harus ketemu sama di. Ada hal yang ingin aku katakan dan ini penting." Ucap Aurora yang kembali pada tujuan awalnya.


"Aku tidak tahu." Jawab dokter Tasia dengan mudahnya.


"Kak Tasia yakin tidak tahu ? Bukankah kakak juga dekat dengan Pak Dikta ?" Aurora mendesak meminta untuk diberitahu.


Aurora yakin seratus persen kalau dokter Tasia itu tahu keberadaan suaminya hanya saja sedikit enggan untuk memberitahu.


"Kami memang dekat tapi, tidak sedekat itu juga yang harus saling tahu keberadaan masing-masing." Ucap dokter Tasia.


"Kak, tolong kasih tahu ! Aku benar-benar inginโ€”" belum sempat dilanjutkan, Dokter Tasia sudah terlebih dahulu memotong.


"Bukankah kamu istrinya ? Seharusnya yang paling tahu soal keberadaan Dikta itu kamu bukan aku." Ujar Dokter Tasia terdengar sedikit meninggi.


"Jadi, kak Tasia benar-benar gak tahu ?"


"Tidak." Jawab tegas dokter Tasia sekali lagi.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Entah mengapa Aurora merasa kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan dari dirinya. Sepertinya hal yang cukup penting untuk diketahui.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2