
Mendapatkan kabar seperti ini membuat Aurora pun bergegas untuk menyusul kedua orang tuanya yang saat ini masih berada di rumah sakit.
Untung saja disini ada Gilang, jadi Aurora tak perlu bingung mencari kendaraan lagi. Gilang yang baik siap sedia mau mengantarkan Aurora ke rumah sakit.
"Udah siap, Ra ?" Tanya Gilang ketika melihat temannya itu sudah mengenakan jaket Hoodie berwarna abu.
Aurora mengangguk singkat.
Dengan terburu-buru, Gilang pun mengeluarkan motornya dari halaman rumah diikuti dengan Aurora yang nampak sedang berusaha memakai helm.
Tanpa aba-aba, Aurora melompat naik ke atas motor Gilang lalu melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki itu. Ini dilakukan hanya untuk keselamatan. Gilang juga terlihat tengah memacu motornya.
"Berangkat sekarang, Lang. Kalau bisa ngebut aja." Suruh Aurora.
Motor yang dikendarai oleh Gilang akhirnya terlihat melintasi jalanan kota malam ini yang terbilang ramai lancar.
Seperti seorang pembalap, Gilang dengan mudahnya bisa menyalip kendaraan lain bahkan tanpa mengurangi kecepatan. Ini bukan ugal-ugalan, hanya saja mereka sedang terburu-buru.
...---ooOoo---...
Hanya perlu waktu sekitar lima belas menit, akhirnya motor yang dikendarai oleh Gilang sampai juga di rumah sakit tempat dimana ayah Aurora berada.
Bukan di parkiran, Gilang memberhentikan motornya tepat di depan pintu utama dari rumah sakit itu. Ia memang sengaja menurunkan Aurora disini supaya gadis itu bisa terlebih dahulu menemui sang ayah.
"Turun, Ra !" Suruh Gilang.
Tanpa berkata apapun, Aurora turun secara tergesa-gesa dari motor temannya itu sampai lupa melepaskan helm yang ia kenakan.
"Ra, helmnya dilepas dulu kali."
Aurora pun melepaskan helmnya lalu segera memberikan itu kepada Gilang yang saat ini masih berada di atas sepeda motor.
"Lo gak langsung balik kan ?" Tanya Aurora.
"Enggak. Gue mau parkir dulu. Ya kali, motornya gue tinggal disini." Balas Gilang yang hanya mendapat sebuah anggukan kecil dari Aurora.
Aurora berlari kecil memasuki gedung rumah sakit. Dengan derap kaki yang terkesan terburu-buru, Aurora langsung menuju ke arah ruang ICU tempat dimana sang ayah berada.
Setibanya, Aurora melihat sang ibunda yang sedang terduduk lemas di kursi tunggu persis di depan ruang ICU.
Tanpa ragu, Aurora pun segera mendekat ke arah sang ibunda. Sebuah pelukan hangat nan erat dilemparkan oleh Aurora kepada ibunya.
"Bunda..." Kata Aurora dengan suara lirih.
"Ayahmu, Ra. Kondisinya tadi drop." Ucap sang ibu dengan air mata uang telah terurai.
"Bunda yang tenang ya," Aurora mengatakan itu sambil mengelus punggung sang ibu dengan lembut.
"Ayah pasti akan baik-baik aja. Ayah kan orang yang kuat." Imbuhnya dengan kata-kata yang menenangkan.
Setelah mengatakan itu, Aurora pun melepaskan pelukannya lalu dengan sentuhan lembut ia mulai menghapus air mata yang ada di pipi sang ibunda.
"Bunda jangan nangis lagi ya..." Pinta Aurora.
Senyuman tipis mulai terlukis di wajah cantik sang ibunda.
"Nah, kalau bunda senyum kan cantik." Tutur jujur Aurora.
Aurora tahu kalau ibunya itu pasti merasakan sedih cuma sekarang ia berusaha untuk tersenyum, mencoba untuk kuat.
...---ooOoo---...
Lengan Aurora merangkul sang ibunda dan pandangan mereka berdua terpaku pada sebuah jendela ruang ICU.
Meskipun tak bisa mendampingi sang ayah di dalam ruangan itu, mereka tetap bisa memantau dengan jelas dari luar.
__ADS_1
Aurora yang melihat sang ayah tergeletak tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan banyak sekali peralatan medis yang terpasang merasa sangat tak tega.
Kalau bisa menggantikan posisinya, pasti Aurora akan dengan ikhlas melakukannya yang penting sang ayah bisa sehat-sehat.
"Bunda..." Panggil Aurora dengan suara lirih yang berhasil membuat sang ibunda menoleh ke arahnya.
"Tadi dokter bilang apa soal keadaan ayah ?" Tanya Aurora penasaran.
"It's not good. Hanya cuci darah tak bisa membuat ayahmu sembuh." Kata sang ibunda jujur memberitahu tentang kondisi suaminya.
"Lalu kita harus bagaimana ? Supaya ayah bisa sembuh ?" Aurora bertanya lagi dengan penuh harap akan ada cara untuk membuat ayahnya bisa sembuh. Namun...
Dengan mudahnya, ibunya menggeleng. "Tak ada. Kesembuhan hanya terjadi karena mukjizat,"
"Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk ayahmu." Tukas sang ibunda.
Kemarin kondisi ayahnya masih baik-baik saja. Beliau bahkan sempat bercengkrama hangat dengan Aurora tapi, kenapa sekarang ada di dalam ruang ICU ?
"Kenapa kondisi ayah bisa menurun ? Apa ada sesuatu yang dipikirkannya ?" Tanya Aurora lagi.
"Ayahmu mengkhawatirkan kalau nanti tak bisa menjadi wali saat kamu menikah." Jawab sang ibunda jujur.
"Kenapa hal seperti itu harus dikhawatirkan ?"
"Ayah kamu selalu merasa kalau umurnya sudah tak panjang lagi dan belakangan ini dia terus bicara akan menikahkan mu secepatnya." Tutur sang ibunda.
"Menikahkan aku ? Dengan siapa ?" Aurora terlihat bertanya-tanya.
Sang ibunda menggeleng. "Bunda juga kurang tahu. Ayahmu tak pernah memberitahu."
Ketika ibu dan anak itu masih tengah sibuk berbincang, Gilang pun datang menghampiri mereka berdua.
Gilang sedikit lama datang karena tadi ada sesuatu hal penting yang menarik perhatiannya.
"Nak Gilang disini." Balas ibunda Aurora.
"Gilang yang anterin aku kesini. Kalau gak ada dia mungkin aku udah bingung mau naik apa karena saking paniknya." Jelas Aurora.
"Terima kasih ya, Nak Gilang. Kamu selalu mau bantuin Rara." Kata ibunda Aurora dengan senyuman tipis.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Gilang melihat dengan jelas ayahanda Aurora yang tengah tertidur pulas di dalam ruang ICU. Tak lama, ia kembali mengarahkan pandangan ke Aurora dan ibunya.
"Bunda sama Rara yang sabar ya. Ayah Andre pasti baik-baik saja." Kata Gilang memberikan kesan positif.
...š„š„š„...
Hari sudah semakin larut, masih di rumah sakit tepatnya di depan ruang ICU, Aurora bersama dengan Gilang dan ibunya masih setia menunggu dalam harapan akan kesadaran Andre - ayahanda Aurora.
Bibir mereka terutama Aurora dan sang ibu terus bergerak membuat untaian doa untuk Andre yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemajuan.
Jujur saja, di saat seperti ini Aurora merasa begitu takut. Iya, dia takut kehilangan sosok ayah. Semua orang yang mengenal mereka tahu kalau Aurora begitu dekat dengan ayahnya. Tidak dibayangkan bagaimana sedihnya kalau kehilangan seseorang yang memang begitu dekat bahkan sampai sangat diandalkan.
"Ayah bangun yuk !"
"Tidurnya udahan. Aurora disini khawatir, takut kalau ayah pergi."
Aurora mengungkapkan itu semua dalam hati kecilnya. Selalu minta dan memohon supaya ayahnya bisa bangun.
"Kalau ayah bangun, Aurora janji akan menuruti semua keinginan ayah,"
"Aurora bakal jadi anak baik yang berbakti."
Aurora terus saja menyampaikan seperti itu, sampai akhirnya ucapannya itu terputus karena kedatangan seseorang yang dirasa dikenal oleh Aurora.
Lelaki tampan nan tinggi, pemilik wajah yang sangat akrab dan tentunya yang paling di benci oleh Aurora, siapa lagi kalau bukan Pak Dikta.
__ADS_1
Entah apa yang dilakukan oleh lelaki itu, Aurora juga tak tahu pasti namun, yang jelas Pak Dikta sudah mengenakan jas berwarna putih kebanggaannya ā jas dokter.
"Maaf, saya terlambat datang." Kata Pak Dikta dengan nafas yang terdengar sedikit tersengal.
Melihat kehadiran sosok orang yang tak terlalu disukainya membuat Aurora langsung berdiri dari tempatnya.
"Pak Dikta ngapain disini ?" Tanya Aurora bingung.
"Untuk menjadi dokter." Jawab Pak Dikta singkat.
"Dokter ?" Aurora masih tak mengerti.
Belum sempat Pak Dikta menjawab, sang ibunda terlebih dahulu memberitahu Aurora.
"Nak Dikta ini dokter yang menangani ayah kamu menggantikan dokter Bram." Ucap sang ibu.
"Kenapa diganti ?"
"Dokter Bram yang menyarankan pergantian itu."
"Oke, tapi kenapa harus Pak Dikta ?"
"Dokter Bram yang merekomendasikannya juga. Katanya di rumah sakit ini tak ada dokter terbaik selain Nak Dikta." Tutur sang ibu.
Mendengar itu membuat Aurora menatap ke arah Pak Dikta dengan serius.
"Jadi, benarkah Pak Dikta bisa menyembuhkan ayah ?" Aurora bertanya sekaligus ingin meminta kepastian.
"Saya hanya membantu dan untuk kesembuhan tergantung pada doa dan yang di atas." Kata Pak Dikta yang enggan untuk memberikan kepastian apapun.
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Pak Dikta pun langsung masuk ke dalam ruang ICU bersama dua orang suster perawat. Pak Dikta harus memeriksa kondisi ayahanda Aurora.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Untuk yang tidak sabar dengan kelanjutannya bisa di kepoin akun Instagram nya karena akan ada spill tipis-tipis.
...š„š„š„...
Seperti biasa kawan, kalau kalian suka dengan cerita ini sangat diperbolehkan untuk memberikan like, vote dan komentarnya.
Jadikan cerita ini favorit supaya tak ketinggalan dengan update terbarunya :)
Ayo kawan bantu author untuk meramaikan cerita ini :) biar kita bisa berhalu ria bersama-sama.
Kalian juga bisa follow akun noveltoon milik Author atau bisa join di grup. Mari kita berteman :)
.
.
.
Mau bilang apa ke Aurora dan ibunya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1