
Kini Aurora tengah berada di dalam kamarnya, duduk di meja rias sambil memainkan ponselnya. Sedari tadi, gadis itu terus membuka tutup aplikasi pesan yang ada di ponselnya. Apa yang sedang ditunggunya ?
"Kenapa Devin belum menghubungi sama sekali ?"
Ternyata Aurora tengah menunggu balasan pesan dari Devin. Iya, Aurora bertanya-tanya karena penasaran dengan kabar sang kekasih. Sudah ada dua hari mereka sama sekali belum bertukar kabar.
| Mode Chat |
...--------------...
...Luv ā£ļø...
...--------------...
^^^Aurora :^^^
^^^By ? Kamu kemana ? Kok udah dua harian gak ada kabar ?^^^
^^^Kamu gak ada masalah apa-apa kan ? Kamu baik-baik aja kan ?^^^
^^^By, kalau kamu ada waktu tolong baca pesan ini. Aku khawatir kalau gak ada kabar kek gini.^^^
^^^Kabari aku ya, jangan buat orang khawatir :(^^^
...---ooOoo---...
Sedikit salinan pesan singkat yang dikirim oleh Aurora ke sang kekasih namun, belum kunjung juga mendapat balasan. Di telepon juga demikian, Devin sama sekali tak menjawab. Rasanya Aurora tengah diabaikan oleh sang kekasih, tapi mengapa ? Apa Aurora sudah melakukan kesalahan ?
Disaat Aurora tengah dirundung oleh perasaan gelisah dan khawatir karena sang kekasih, tiba-tiba suara ketukan pintu kamar terdengar.
"Siapa ?" Aurora bertanya sebelum mengizinkannya masuk ke dalam kamar.
"Ini bunda." Jawabnya.
Untuk sejenak Aurora meletakan ponselnya lalu beranjak dari tempatnya bermaksud membukakan pintu untuk sang ibunda.
"Ada apa, bunda ?" Tanya Aurora setelah membukakan pintu.
"Kamu sibuk ? Bunda boleh masuk ?" Izin sang ibunda penuh harap.
Mau sesibuk apapun Aurora, ia tak mungkin melarang sang ibunda untuk masuk ke kamarnya. Bagi ibu dan anak tidak ada yang namanya ruang pribadi.
"Kamu lagi ngapain, Ra ?" Tanya sang ibunda yang kini telah duduk dipinggir ranjang kamar Aurora.
"Enggak ngapa-ngapain kok, bunda." Jawab Aurora menyembunyikan semuanya.
Feeling seorang ibu sangat kuat. Meskipun sang putri mencoba untuk menyembunyikan sesuatu tetap bisa terdeteksi dengan cepat.
"Kalau ada masalah, kamu bisa cerita apapun ke Bunda," Kata ibunda Aurora yang belum usai.
"Bunda bakal dengerin semua keluh kesah kamu." Tambahnya memberi sebuah ruang bagi putri semata wayangnya untuk bercerita.
Dengan wajah kusut dan tampak murung, Aurora pun ikut duduk di atas ranjang tepat bersebelahan dengan sang ibunda.
"Sudah dua hari Devin gak ada kabar. Pesan yang Rara kirim juga belum dibalasnya." Kata Aurora menyampaikan masalahnya dengan suara yang terdengar sedikit parau.
"Devin, pacar kamu ?"
Aurora mengangguk. "Kira-kira dia kemana ya, bunda ?" Disini Aurora memang terlihat cemas, takut terjadi sesuatu dengan hubungannya.
"Terakhir kali bertemu, apa kalian ada masalah ?" Tanya sang ibunda yang mencoba untuk mencari letak masalahnya.
Aurora menggeleng keras. "Enggak ada. Kita baik-baik aja."
Sang ibunda pun mengusap lembut rambut hitam milik putrinya lalu memberikan sebuah senyuman yang begitu menenangkan.
"Kamu jangan terlalu cemas atau berpikiran negatif. Mungkin saja, pacarmu itu sedang sibuk. Orang sibuk memang suka selalu lupa memberi kabar." Kata sang ibunda berusaha membuat putrinya berpikir positif.
Belum sempat berkomentar apapun, ponsel milik Aurora berbunyi. Gadis itu mendapatkan sebuah notifikasi pesan masuk.
"Sebentar ya, bunda..." Izin Aurora.
Dengan penuh harap, Aurora melangkah kembali menuju ke meja rias untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
Harapan tidak akan selalu terwujud. Ternyata itu bukan notifikasi pesan masuk yang dikirimkan oleh sang kekasih melainkan dari temannya, Gilang.
"Apa itu dari kekasihmu ?" Tanya sang ibunda ketika melihat aura kecewa dari wajah putrinya.
"Bukan, bunda." Balasnya sembari memaksakan senyuman.
"Siapa ?"
"Dari Gilang." Jawabnya.
"Kenapa ?"
"Dia mau ngajak aku keluar."
Ibunda Aurora bukan tipe ibu yang suka melarang anaknya bergaul atau bersenang-senang. Tak perlu memaksa untuk meminta izin, Aurora dengan cepat bisa mendapatkan itu.
"Terima saja ajakannya. Siapa tahu kamu memang sedang butuh itu." Kata ibunda Aurora yang justru memberikan izinnya.
"Bolehkah, bunda ?" Aurora tak yakin.
"Tentu saja. Lebih baik kamu pergi hang out bareng temen kamu daripada disini menunggu pesan yang tidak pasti." Kata sang ibunda berupaya untuk meyakinkan putrinya.
"Apa tidak apa-apa aku meninggalkan ayah dan bunda ?"
"No problem. Bunda bisa jaga ayahmu. Beberapa hari belakangan kamu juga sudah banyak membantu, ini saatnya buat kamu menghibur diri."
Aurora berpikir kalau yang dikatakan oleh ibundanya benar. Maka dari itu, dengan cepat ia beranjak dari tempatnya.
"Kalau begitu, Rara akan bersiap." Kata Aurora.
Sang ibunda pun tersenyum lalu beranjak keluar dari kamar sang putri. Iya, beliau hanya ingin membiarkan putrinya itu bersiap dengan nyaman.
...š„š„š„...
Hanya perlu memakan waktu sebentar, penampilan Aurora sudah terlihat berbeda. Terlihat sederhana adalah ciri khas yang dimiliki oleh seorang Aurora.
Sekedar mengenakan tank top berwarna putih dan ditutupi oleh kardigan kuning pastel dengan tambahan celana jeans, membuat Aurora tetap terlihat cantik walaupun terkesan santai dan sederhana.
"Ayah, bunda..." Panggil Aurora ketika melihat kedua orang tuanya yang tengah berada di ruang tamu.
"Anak ayah kok cantik sekali." Puji sang ayah yang berhasil membuat Aurora tersipu malu.
"Bunda cantik, ayah juga ganteng, kalau Rara jelek kan jatuhnya aneh." Ucap Aurora menimpali dengan pujian balik.
"Hanya ingin keluar dengan Gilang tapi, kamu berdandan secantik ini ? Kamu tidak berniat untuk mencari pacar baru kan ?" Tanya sang ibunda sedikit menggoda.
"Untuk apa Rara cari pacar baru ? Kalau dia putus dengan Devin, masih ada Nak Dikta yang siap untuk menikahinya." Timpal sang ayah yang pembahasannya lagi-lagi tak jauh dari perjodohan.
Aurora memutar bola matanya terlihat enggan dan malas memperpanjang obrolan jika seperti ini.
"Kalau begitu, Rara izin berangkat sekarang." Tutur Aurora meminta izin.
"Apa Gilang sudah menjemputmu ?" Tanya sang ibunda.
Aurora mengangguk. "Dia sudah menunggu di depan sedari tadi."
Tak membuang lebih banyak waktu lagi, Aurora pun bergegas untuk mencium tangan dari kedua orang tuanya lalu dengan cepat melenggang pergi menuju ke arah pintu keluar dari rumah ini.
Aurora harus segera menghampiri Gilang yang sekarang tengah merasa bosan dibuat menunggu terlalu lama oleh Aurora.
"Dandannya gak kurang lama cantik ?" Sindir Gilang sembari tersenyum lebar.
Jujur Aurora merasa sangat tak enak dengan temannya itu.
"Maaf ya, Lang. Tadi, diajak ngobrol dulu sama bokap nyokap." Tutur Aurora memberitahu problem nya.
"Di ajak ngobrol atau emang dandannya lama ?" Tanya Gilang hanya bermaksud bercanda.
"Seriusan deh, diajak ngobrol. Lo tahu sendiri kalau gue paling gak bisa dandan."
Gilang tersenyum usil lalu tanpa izin mengacak rambut Aurora yang memang sudah rapi.
"Ya udah, ayo naik !" Suruh Gilang sembari memberikan helm kepunyaan Aurora.
__ADS_1
Dengan cepat, Aurora memakai helmnya lalu ia beranjak naik ke atas motor, berboncengan dengan Gilang.
"Pegangan, Ra !" Titah Gilang bukan bermaksud modus.
Seperti sudah biasa, tanpa sungkan Aurora melingkarkan tangannya pada pinggang ramping nan berotot milik Gilang. Jangan salah paham ! Aurora hanya sedang berpegangan bukan memeluk.
"Kita berangkat sekarang." Tukas Gilang yang langsung memacu motornya, bergegas melaju melewati jalanan kota malam ini yang tampak indah berkat sinar terang dari lampu jalanan.
...š„š„š„...
Di sebuah cafe ā tempat biasanya empat sekawan nongkrong, sudah terlihat Gilang yang tengah memarkirkan motornya.
Tak ada maksud ataupun tujuan khusus, Gilang hanya merasa ingin mengajak Aurora kemari.
"Kita cuma berdua nih ? Si Arjun sama Keysha gak ikut ?" Tanya Aurora ketika tak melihat batang hidung dua temannya.
"Gue gak ajak mereka." Jawab jujur Gilang.
"Kenapa ? Padahal kalau ada mereka kan seru."
"Gue pengen nongkrong berdua aja sama lo." Kata Gilang.
Kedua mata Aurora menyipit, dirinya merasa sedikit aneh dengan Gilang. "Tumben cuma pengen berdua aja. Lo gak ada niat macem-macem kan sama gue ?"
"Ya kali gue aneh-aneh sama cewek yang mau gue lindungi ?" Gilang langsung menyanggah dugaan tak mendasar yang di lontarkan oleh temannya itu.
Aurora akan mempercayai Gilang. Sebenarnya menghabiskan malam berdua dengan Gilang tak akan terlalu membosankan. Tahu sendirian kalau Gilang itu orangnya bisa mencairkan suasana.
"Traktir gue ya, Lang !" Kata Aurora.
"Tenang aja. Kalau cuma berdua gue masih sanggup traktir tapi, kalau berempat gue serahin urusan itu ke Arjuna." Balas Gilang.
Aurora tak menanggapi lagi, gadis itu pun melangkah masuk ke dalam cafe dengan penuh semangat namun, tiba-tiba...
Langkahnya terhenti dan raut wajahnya berubah murung. Gilang yang mengekor tepat di belakangnya merasa bingung dengan apa yang terjadi.
"Ra ? Ada apa ? Kok berhenti ?" Tanya Gilang yang membutuhkan jawaban.
"Lo ngajak gue kesini bukan buat maksud untuk ngelihat Devin sama cewek lain kan ?" Aurora mengatakan ini hanya untuk mencari tahu saja.
"Maksud lo ?" Gilang masih tak mengerti.
Aurora sama sekali tak berniat untuk memberikan penjelasan panjang lebar kepada Gilang karena niat gadis itu sekarang adalah melabrak sang kekasih yang ketahuan tengah bersama dengan seorang wanita tak dikenal.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kepoin akun Instagram jika, kalian ingin mencari spoiler dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Hello kawan, ketemu lagi dengan author yang akan tiap hari menemani kalian lewat cerita ini. Gimana nih ? Sudah sejauh ini, apa kalian masih betah dan suka ? Jika ya, jangan lupa untuk berikan like, vote maupun komentar. Mari bantu author untuk meramaikan lapak ini supaya author juga ada semangat buat update cerita ini.
Oh ya, cuma mau kasih tahu aja sebelum ditutup. Kalau kalian mau follow akun noveltoon author silahkan, mau minta follback akun noveltoon tinggal chat dan bilang saja, mau join di grup punya author juga boleh :v Ayo saling berkenalan dan berteman siapa tahu bisa akrab :)
.
.
.
Devin tidak mengkhianati Aurora kan ? Kalau harus putus, sia-sia tiga tahun mereka sudah bersama :(
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1