Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 7 : Mas Pacar


__ADS_3

Dengan perasaan senang bercampur lega, Aurora membuka pintu ruangan rawat inap tempat dimana sang ayah berada.


"Ayah..." Sapa Aurora sambil mengembangkan senyuman lalu berjalan mendekat ke arah ayahnya yang sekarang lagi disuapi makanan oleh sang ibunda.


"Bagaimana kondisi ayah ? Apa sudah merasa lebih baik ?" Tanya Aurora yang sekarang telah ada persis di samping kiri dari ranjang ayahnya.


"Sudah lebih baik." Jawabnya sambil tersenyum.


Melihat ayahnya yang makan dengan lahap membuat Aurora yakin kalau semuanya sudah baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Ayah..."


"Jangan seperti kemarin lagi ya ! Aurora dan bunda sangat cemas." Tutur Aurora yang terdengar seperti sebuah protes kecil.


"Maafkan ayah kalau sudah membuat kalian berdua merasa seperti itu. Ayah tidak bermaksud." Permintaan maaf terlontar begitu saja dari mulut ayah Andre kemudian Aurora langsung memeluk tubuh sang ayah dengan erat.


"Ayah, jangan tinggalin Aurora dulu ya !"


"Kalau ayah pergi, siapa yang bakal jagain Aurora ?" Pinta Aurora seperti seorang anak kecil.


Sebenarnya permintaan itu sangat mustahil untuk dikabulkan jadi, sang ayah hanya bisa tersenyum hangat tanpa memberikan sebuah janji apapun.


Di dunia ini tak ada yang pasti terutama soal kematian yang bisa datang kapan saja. Jadi, berjanji untuk terus bersama rasanya kurang tepat. Apalagi, sekarang kondisi kesehatan beliau juga tidak memungkinkan untuk membuat janji seperti itu. Bisa kapan saja, secara mendadak dan tanpa tanda-tanda, beliau bisa pergi.


Aurora pun melepaskan pelukannya lalu menatap sang ayah lekat-lekat, sorot matanya nampak hangat.


"Rara sama sekali belum siap untuk kehilangan seseorang seperti ayah." Kata Aurora.


"Ayah juga belum siap pergi sebelum menitipkan kamu dengan orang yang tepat." Ujar sang ayah yang langsung membuat Aurora merasa bingung.


"Maksud ayah ?"


Belum sempat sang ayah menjawab itu, tiba-tiba ponsel milik Aurora berdering. Iya, gadis itu mendapatkan sebuah panggilan masuk dari Devin, sang kekasih.


"Sebentar..." Izin Aurora.


Aurora pun melangkah keluar ruangan ini, sedikit menjauh lalu tanpa membuat sang kekasih menunggu lebih lama lagi, ia menjawab panggilan itu.


"Sayang ?" Suara khas milik Devin terdengar dari balik panggilan ini.


"Kamu dimana ? Kok aku gak lihat kamu di kampus ?" Ternyata alasan Devin menghubungi hanya untuk mencari tahu keberadaan Aurora.


"Aku hari ini gak ke kampus. Lagi jagain ayah di rumah sakit." Ucap Aurora memberitahu.


"Ayah kamu masuk rumah sakit ? Kok bisa ? Apa penyakitnya kambuh lagi ?" Dari cara bicaranya, Devin memang terdengar cemas.


"Setelah cuci darah kondisinya langsung drop."


"Sekarang kondisinya gimana ? Apa baik-baik saja ?" Devin bertanya karena memang peduli.


"Puji Tuhan, pagi tadi ayah sudah sadar setelah semalaman kritis." Kata Aurora jujur.


"Apa perlu sekarang aku ke sana buat temani kamu ?" Tanya Devin dari seberang panggilan ini.


"Tidak perlu sekarang. Aku tahu kamu masih ada kelas. Jangan meninggalkan kelas, By..." Larang Aurora.


"Ya sudah kalau gitu nanti saja setelah kelasnya selesai." Devin memang berniat untuk mengunjungi sang kekasih.

__ADS_1


"Kamu mau titip apa ? Udah makan belum ? Aku bisa beliin kalau kamu minta." Tutur Devin bertanya sekaligus menawarkan.


Mendengar ini membuat Aurora tersenyum bahkan sampai tersipu malu karena perhatian dari sang kekasih.


"Apa aja deh. Kalau yang beliin mas pacar pasti akan aku terima dengan senang hati." Tutur Aurora.


"Siapa mas pacar ?" Tanya Devin bercanda.


"Ya kamulah, siapa lagi ?"


"Beruntung banget ya, aku bisa jadi mas pacar kamu."


"Aku juga beruntung punya kamu..."


"...udah baik, pengertian, selalu sayang sama aku." Aurora tak sungkan untuk melemparkan segala pujian kepada sang kekasih.


"Jangan memuji terus ! Kalau aku ternyata gak sesuai dengan itu, kamu bakal kecewa." Larang Devin dengan jelas.


Panggilan itu harus segera diakhiri meskipun Devin masih ingin terus mengobrol via telepon dengan sang kekasih. Devin tak bisa lebih lama dari ini karena dosen pengajar sudah berada di dalam kelas.


"Sayang, aku tutup teleponnya dulu ya... Pak Arsy sudah ada di kelas." Pamit Devin sebelum benar-benar mengakhiri panggilan ini.


"Belajar yang bener. Kalau dosen jelasin jangan ditinggal tidur !" Aurora mengingatkan.


"Oke... See you soon ya sayang. Love you..." Pungkas Devin terdengar terburu-buru.


Panggilan pun diakhiri sebelum Aurora sempat membalasnya. Tidak masalah, Aurora akan mengerti.


Tak perlu berada di luar ruangan lebih lama, Aurora pun masuk kembali ke dalam ruangan rawat inap. Hari ini, dirinya bersama sang ibunda akan menghabiskan waktu untuk menemani ayah Andre.


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Tuan Jordi โ€” ayahanda Pak Dikta yang sekarang sudah meninggal, merupakan sahabat karib dari ayah Andre sejak dari bangku SMA. Hubungan mereka sangat dekat bahkan sampai Tuan Jordi memiliki hutang budi kepada ayah Andre.


Hutang budi yang sampai sekarang berhasil membuat Pak Dikta merasa bingung tentang bagaimana cara membalasnya kepada ayah Andre sekeluarga.


Dulu keluarga Pak Dikta mengalami sebuah problem tapi, bukan tentang finansial. Iya, ibunda Pak Dikta mengalami gagal ginjal kronis stadium akhir dan butuh untuk melakukan transplantasi ginjal.


Saat itu, keluarga Pak Dikta sangat kebingungan mencari pendonor yang tepat sampai akhirnya Ayah Andre, orang baik yang dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi pendonor.


Operasi transplantasi ginjal itu berhasil membuat ibunda Pak Dikta bertahan hidup sedangkan untuk Ayah Andre mau tak mau harus hidup dengan hanya memiliki satu ginjal.


Pak Dikta yang saat itu baru berusia enam belas tahun dan sudah bisa paham dengan kondisinya pun memutuskan untuk menjadi seorang dokter ahli yang nanti bisa membantu kondisi Ayah Andre.


Pak Dikta hanya berpikir dengan dirinya menjadi seorang dokter bisa sedikit membayar hutang budi kepada kebaikan ayah Andre.


"Selamat sore, Om Andre..." Sapa Pak Dikta terdengar sopan.


"Bagaimana kabarnya hari ini ?" Lanjut Pak Dikta dengan sebuah pertanyaan biasa.


"Puji Tuhan, sudah lebih membaik." Jawaban ayah Andre ini berhasil membuat Pak Dikta tersenyum lega.


"Oh ya, tadi kata perawat Om Andre mencari saya ya ?" Pak Dikta hanya ingin memastikan kalau perawat itu tidak memberinya kabar bohong.


"Iya..." Jawab ayah Andre singkat.


"Ada apa ya, Om ?" Tanya Pak Dikta tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Giniโ€“" Ayah Andre memberi jeda sebentar pada ucapannya. Beliau hanya merasa sedikit gugup untuk menyampaikan hal ini.


"Saya ingin meminta tolong kepada Nak Andre, boleh ?" Tambahnya yang masih ada kelanjutan.


"Mau minta tolong apa ya, om ? Kalau saya bisa bantu pasti akan bantu." Kata Pak Dikta.


"Nak Dikta kan tahu dengan pasti bagaimana kondisi kesehatan saya," Ayah Andre harus berhenti sejenak untuk mengatur napasnya karena memang sekarang untuk bicara masih cukup sulit.


"Saya tidak tahu sampai kapan akan bisa bertahan pada kondisi seperti ini." Sambungnya yang masih belum dimengerti oleh Pak Dikta.


"Om akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap Pak Dikta.


"Sekarang memang saya baik-baik saja tapi, tidak tahu nanti atau besok." Perkataan ini cukup menusuk perasaan seorang Pak Dikta.


"Apa yang bisa saya bantu ?" Pak Dikta bertanya lagi hal yang sama.


"Tolong nikahin Rara. Saya baru akan tenang kalau Nak Dikta yang menjadi imam untuk Rara."


Permintaan terbesar yang selama ini sudah terpendam dalam benak ayah Andre akhirnya terungkap juga. Jujur, pada saat mendengar ini Pak Dikta tak tahu harus bersikap atau berkata seperti apa. Dia hanya bisa terdiam, tertegun seperti patung sambil matanya menatap tanpa arti ke arah ayah Andre.


Ayah Andre sengaja memilih momen ketika Aurora sedang diajak oleh ketiga temannya keluar makan supaya bisa lebih leluasa untuk mengatakan ini kepada Pak Dikta.


"Itu permintaan terakhir dari saya,"


"Saya tahu kalau Nak Dikta pasti akan bisa menjaga Rara dengan baik bahkan melebihi saya." Tukas Ayah Andre dengan penuh harap.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Author akan spoiler tipis-tipis cerita ini, jadi buruan follow supaya gak ketinggalan :)


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Hello kawan ? Gimana nih udah sampai bab 7 ? Seperti biasa, kalau kalian suka silahkan tinggalkan like, komen dan vote untuk author :)


Ayo bantu author buat ramaikan cerita ini ! Kalau ramai author juga semangat buat update banyak-banyak...


Oh ya, kalian bisa follow akun noveltoon author atau bisa join ke grup. Mari berteman :)


.


.


.


Gimana rasanya dijodohkan ? Adakah dari kalian yang pernah merasakannya ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2