Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 75 : Life Goes On


__ADS_3

Aurora tidak pernah bermaksud melupakan sosok Pak Dikta. Baginya Pak Dikta masih mengambil ruang disudut terdalam hati dan tak dipungkiri setiap mengenang semua kenangan indah, jantung Aurora masih bisa berdebar dengan kencang. Sampai saat ini, perasaan Aurora kepada Pak Dikta masih sama dan takkan ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Pak Dikta.


Meskipun masih merasa seperti itu, Aurora tetap mau untuk berjalan maju supaya bisa menyambut takdir baru yang sudah Pencipta siapkan untuknya.


Hidup selalu terus berjalan jadi, tak akan baik kalau masih terjerumus dalam lingkaran masa lalu. Apalagi sekarang Aurora sudah memiliki seorang anak yang harus dijaga dengan baik.


Diusia Lyora yang masih terbilang begitu kecil ini, dia sangat membutuhkan sosok ibu yang selalu bisa menjaga dan berada disampingnya. Jadi, bisa dibayangkan kalau Aurora masih terlibat dalam lingkaran masa lalu, Lyora pasti tak akan terurus dengan baik.


Aurora menatap sang putri kecilnya yang saat ini tengah berada di atas ranjang. Dalam balutan pakaian bayi bermotif polkadot, Lyora terlihat begitu menggemaskan. Apalagi ditambah dengan bedak tabur bayi yang memenuhi seluruh mukanya.


"Anak cantik mami habis mandi udah wangi." Kata Aurora sembari terus mencium pipi putrinya.


Bau badan bayi apalagi setelah mandi lalu dipakaikan minyak telon pada tubuhnya dan ditambah dengan bedak. Bisa dibayangkan bagaimana harumnya tubuh dari seorang Lyora saat ini. Siapa sih, yang tidak suka bau khas milik seorang bayi ?


"Sayang, hari ini temenin mami ya..." Meskipun tahu kalau putri kecilnya itu masih belum bisa berbicara, Aurora tetap saja berusaha mengajaknya berbincang.


"Mami mau berkunjung ke makamnya papi. Ada hal penting yang harus mami bicarakan ke papi." Tambah Aurora.


"Lyora kangen juga kan sama papi ?" Tanya Aurora yang kemudian menggendong tubuh mungil Lyora dan membawanya dalam pelukan hangat seorang ibu.


"Hari ini kita ketemu papi, ya sayang." Tutup Aurora sembari berjalan keluar dari kamarnya.


Walaupun sekarang Pak Dikta sudah pergi meninggalkannya dan tak mungkin untuk kembali, Aurora tetap bisa melihat sosok Pak Dikta dalam putri kecilnya. Kalau boleh memberitahu, Lyora memiliki banyak sekali hal yang mirip dengan Pak Dikta. Bisa dibilang kalau putrinya adalah versi perempuan dari Pak Dikta.


Hidung yang ramping namun, tetap mancung, bentuk mata dan kelopak, bibir, alis semua mirip Pak Dikta. Kalau cantiknya tentu saja sama persis seperti Aurora.


Bersama dengan putri kecilnya yang masih berada dalam gendongan, Aurora kini telah berada di ruang tamu dan bersiap untuk pergi berziarah ke makam Pak Dikta.


"Bunda..." Panggil Aurora kepada ibunya yang kini tengah sibuk akan aktivitas menjahit.


"Sudah mau berangkat ?" Tanya sang ibunda.


Aurora mengangguk. "Iya, sudah ditunggu juga."


"Gilang menjemput mu ?"


"Bukan Gilang. Dia saat ini tengah sibuk dengan urusan persiapan pernikahannya."


"Lalu siapa yang menjemput mu ? Jangan bilang, kamu berangkat dengan kendaraan online ?" Sang ibunda dibuat bertanya-tanya.


"Nanti kalau waktunya sudah tepat, bunda juga akan tahu. Dia sendiri yang akan menemui, bunda." Kata Aurora sambil tersenyum malu.


Sebenarnya, ibunda Aurora sudah tahu pasti siapa seseorang yang saat ini tengah dekat dengan putrinya itu. Ibunya ingin memberitahu Aurora supaya berhenti menyembunyikan hal itu tapi, tidak bisa dilakukan. Untuk menghormati privasi sang putri, sebagai seorang ibu harus setia menunggu sampai putrinya sendiri yang memberitahu.


"Ya sudah, kalau begitu hati-hati. Suruh dia jangan terlalu mengebut saat bawa mobil." Kata sang ibunda.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan baik, Aurora yang masih menggendong Lyora pun melangkah menuju pintu keluar. Ketika membuka pintu, Aurora bisa melihat dengan jelas di depan gerbang rumahnya ada sebuah mobil SUV hitam yang berhenti lalu tepat di sampingnya, seseorang lelaki dengan tinggi sekitar 185 cm tengah berdiri, menatap ke arah Aurora dengan senyuman.


Seperti yang dikatakan tadi, hidup ini terus berjalan dan Aurora tak ingin terjerumus terlalu lama ke dalam masa lalu. Pak Dikta yang sekarang sudah ada di atas sana pasti juga mengharapkan hal yang sama. Aurora dekat dengan lelaki ini bukan semata-mata untuk kesenangannya atau menggantikan posisi Pak Dikta tapi, ia memikirkan Lyora.


Aurora melihat kalau setiap bermain dengan lelaki itu, Lyora selalu merasa nyaman dan tak habisnya untuk tersenyum. Lyora terlihat sangat bahagia.


Kebahagiaan Aurora sekarang adalah dengan melihat putrinya itu juga bahagia. Apalagi kalau bisa, Lyora harus tumbuh dan merasakan kasih sayang dari seorang ayah.


Dengan langkah yang hati-hati, Aurora pun mendekat ke arah lelaki itu. Setelah membuka pintu pagar, lelaki itu langsung mengambil ahli. Iya, dia membawa Lyora dalam gendongannya.


"Hai cantik..." Sapa nya kepada Lyora sembari memberikan sebuah kecupan hangat pada pipinya.


"Kamu kok bisa sih, setiap hari selalu saja semakin cantik." Puji lelaki itu.


"Ibunya cantik, anaknya pun juga ikut." Kata Aurora.


"Ibunya memang cantik sih tapi, anaknya yang lebih cantik." Goda lelaki itu.


Setelah sedikit bermain dengan Lyora, lelaki itu pun kembali memberikan Lyora kepada ibunya. Sebenarnya ingin sekali untuk terus menggendongnya tapi, ia harus menyetir. Tidak mungkin menggendong anak kecil sambil menyetir.


"Mau berangkat sekarang ?" Tanya lelaki itu.


"Iya." Jawab Aurora singkat.


Tak pakai banyak berucap lagi, lelaki itu pun membukakan pintu mobil untuk Aurora dan menggunakan tangannya untuk melindungi kepala Aurora supaya tak terantuk pada pintu mobil.


"Jangan lupa pakai sabuk pengamannya !" Perintah lelaki itu yang benar-benar mengutamakan keselamatan.


"Sudah." Ucap Aurora.


"Kita berangkat sekarang, pergi ke rumah baru papinya Lyora." Ujar lelaki itu sambil menginjak pedal gas.


Mobil SUV hitam yang dikendarai oleh lelaki itu, kini telah melintasi jalanan kota yang terbilang ramai lancar. Jika, keadaan jalanan terus seperti ini tak akan membutuhkan banyak waktu supaya bisa sampai ke pemakaman.


.


.


.


Sejak tadi, tepatnya setelah Aurora bersama Lyora keluar dari rumah ini, sang ibunda memilih untuk mengawasi putrinya itu dari kaca jendela.


Bukan dengan niat yang tak baik, ibunya hanya ingin memastikan kalau Aurora memang bahagia bersama lelaki itu.


Lelaki yang sudah beberapa kali mengajak Aurora dan Lyora pergi untuk bersenang-senang.

__ADS_1


Kebersamaan mereka bertiga sudah terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang sedang berada di masa bahagia. Jadi, sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan sebagai seorang ibu.


Putri dan cucunya itu tampak bahagia dan nyaman bersama lelaki yang masih belum mau dikenalkan secara langsung itu.


"Bahagia kalau bisa melihat kalian berdua tersenyum lagi." Kata sang ibunda setelah menghela napas lega.


"Nak Dikta apa kamu bisa melihatnya dari atas sana ? Rara sekarang bisa bahagia jadi, Nak Dikta tak perlu mengkhawatirkannya lagi. Nak Dikta sekarang bisa beristirahat dengan tenang."



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Karena posisi pemeran utama masih sama dan itu tak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


Catatan kecil :


- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada beberapa bab lagi yang akan di update.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2