
Pagi ini, disaat matahari mulai memasuki kamar melalui celah-celah, Aurora terlihat menggeliat dan tak lama dengan perlahan-lahan membuka kedua matanya.
Setelah cukup beristirahat dan menghilangkan pengaruh alkohol, Aurora telah terbangun dengan keadaan sadar bahkan jauh lebih baik.
Hal pertama yang membuat Aurora merasa bingung setelah bangun adalah ketika melihat kamar yang berbeda. Dirinya dibuat bertanya-tanya tentang keberadaannya saat ini. Ia tak berada di kamar hotel kan ? Tadi malam, dia juga tidak menjual dirinya pada laki-laki kan ?
Disaat kesadarannya mulai kembali dan nyawanya terkumpul, Aurora langsung berteriak terkejut karena melihat bajunya yang sudah berubah.
Seperti apa yang diingat, tadi malam dirinya mengenakan pakaian berwarna hitam tapi kenapa sekarang berubah menjadi kemeja putih ?
"Aku tidak berbuat kesalahan kan ?" Tanyanya yang sama sekali tak bisa mempercayai diri sendiri.
Aurora pun bergegas untuk beranjak dari ranjang itu lalu menuju ke arah cermin. Ia harus memastikan tidak ada tanda apapun yang melekat pada tubuhnya.
"Tidak ada tanda kemerahan," ujarnya memeriksa seluruh leher sampai bahu.
"Seharusnya tak terjadi apapun kan ?" Tanyanya lagi pada diri sendiri.
Aurora juga tak ragu untuk menggerakkan kakinya. Ia ingin tahu kalau memang tak merasakan nyeri apapun pada bagian bawah tubuhnya.
"Semuanya normal." Katanya terdengar cukup lega.
Belum selesai memeriksa semua kondisi tubuhnya, tiba-tiba tanpa mengetuk seseorang yang sangat dikenal oleh Aurora membuka pintu kamarnya.
Aurora yang masih berhadapan dengan cermin langsung menoleh sembari tangannya mencoba menutupi tubuhnya yang tak telanjang itu.
"Siapa ?" Tanyanya langsung dalam posisi antisipasi.
"Ini saya." Jawab Pak Dikta yang juga sama terkejutnya.
Melihat sosok Pak Dikta membuat Aurora menghela napas lega. Kalau ada Pak Dikta bisa dipastikan tak ada hal buruk yang terjadi tadi malam. Karena jujur saja, Aurora sama sekali susah untuk ingat.
"Kirain siapa." Ucap Aurora yang langsung berhenti menutupi tubuhnya.
"Memangnya siapa yang kamu sangka ?" Tanya Pak Dikta yang sekarang sudah berada di dalam kamar ini.
"Tidak ada." Jawab Aurora santai sambil tersenyum.
Kalau sudah sama Pak Dikta, rasa aman mulai bisa dirasakannya. Aurora tak perlu mengkhawatirkan atau menakutkan apapun.
"Kita sekarang ada dimana ?" Tanya Aurora yang mulai mencari jawaban akan rasa penasarannya.
"Rumah saya."
"Benarkah ? Tapi, kenapa kamar ini terlihat berbeda ?" Tanya Aurora.
"Kita berada di kamar tamu. Kamar saya masih dalam tahap renovasi." Tuturnya memberitahu.
Aurora hanya mengangguk singkat tanpa mengerti.
"Sudah lapar ?" Tanya Pak Dikta sambil menatap hangat kepada Aurora.
Aurora memegangi perutnya dan tak lama terdengar suara demo para cacing yang sudah minta diberi makan.
"Sudah bunyi." Balasnya sambil meringis.
"Mau sarapan sekarang ?"
"Belum mandi, belum gosok gigi."
"Gosok gigi dulu lalu turun ke bawah kita sarapan di meja makan." Perintah Pak Dikta.
"Mandinya setelah sarapan ?" Tanya Aurora.
"Iya. Perutnya diisi dulu."
Sesuai dengan perkataan Pak Dikta, Aurora pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk gosok gigi.
Tak memakan waktu lama, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang masih sama.
Dengan muka bantal yang terlihat dengan jelas ditambah rambutnya yang cukup berantakan, Aurora dengan percaya diri keluar dari kamar ini lalu menuju ke ruang makan yang ada di lantai satu.
__ADS_1
Baru saja tiba di ruang makan, Aurora sudah bisa melihat sang suami yang terduduk dalam diam di kursi. Apakah Pak Dikta menunggunya ?
"Selamat pagi..." Sapa Aurora yang langsung mendapatkan sebuah senyuman.
Aurora melihat-lihat meja makan. Ia hanya penasaran dengan menu sarapan untuk pagi ini.
"Kamu mau sarapan sama apa ?" Tanya Pak Dikta.
Di meja makan kini telah tersedia banyak sekali menu untuk sarapan. Aurora hanya tinggal memilih namun, menentukan sebuah pilihan adalah hal tersulit untuk dilakukan apalagi semua makanan itu terlihat sangat lezat dan menggugah selera.
"Pak Dikta yang masak semua ini ?" Tanya Aurora penasaran.
"Tidak semua. Tadi juga dibantu oleh mbok Ratmi." Jawab Pak Dikta jujur.
"Kalau begitu, saya mau mencoba makanan yang dibuat oleh Pak Dikta." Ujar Aurora.
Dengan cepat, Pak Dikta langsung mengisi piring Aurora dengan sandwich dan beberapa sosis.
"Apa ini yang Pak Dikta buat ?" Aurora bertanya lagi.
"Silahkan dicoba !"
Sebelumnya, Aurora pernah mencoba makanan yang dimasak oleh Pak Dikta dan rasanya itu sangat tidak mengecewakan. Jadi, disini ia tanpa ragu memakan sandwich dalam suapan besar.
Perlahan-lahan Aurora mulai mengunyah makanan itu dan merasakan dengan seksama rasanya. Benar saja, rasanya sungguh enak dan tidak beda jauh dengan sandwich yang dijual. Justru, buatan Pak Dikta jauh lebih enak.
"Bagaimana ?" Tanya Pak Dikta yang ingin mengetahui soal rasa.
Aurora mengangguk lalu tersenyum merasa puas. "Enak."
"Habiskan lalu setelahnya kamu harus minum sup ini." Ujar Pak Dikta sembari menyodorkan semangkok sup berwarna bening.
"Sup apa itu ?" Tanya Aurora yang kurang tertarik melihat kenampakan dari sup itu.
"Pereda pengar." Jawab Pak Dikta memberitahu.
"Tapi saya sudah gak mabuk." Aurora mencoba untuk menolak.
Sesudah menghabiskan sandwich nya, Aurora langsung menyesap sup yang diberikan oleh Pak Dikta itu. Ya, meskipun kenampakannya sangat tak menggugah selera tapi, ternyata rasanya begitu enak. Gurih dan menyegarkan.
Perut Aurora yang tadi sempat berbunyi sekarang sudah terasa penuh. Dia sangat kenyang dan sepertinya tak bisa lagi menambah lebih banyak makanan.
"Sudah kenyang ?" Tanya Pak Dikta yang masih belum usai dengan aktivitas sarapannya.
Aurora mengangguk.
"Saya sangat diurus dengan baik oleh Pak Dikta." Kata Aurora.
"Kalau tidak diurus dengan baik, kamu tidur dalam keadaan baju kotor." Singgung Pak Dikta yang membuat Aurora mulai kembali mengingat-ingat kejadian tadi malam.
"Tadi malam, waktu saya mabuk, semua baik-baik saja kan ?" Aurora bertanya karena butuh tahu.
Pak Dikta tersenyum penuh arti sambil menatap Aurora.
"Kamu tidak ingat apapun ?"
Aurora menggeleng. "Belum."
"Sebaiknya jangan diingat." Ujar Pak Dikta yang merasa enggan untuk membahas kejadian tadi malam. Biarlah hanya Pak Dikta yang tahu tentang semua kejadian tadi malam.
"Saya tidak membuat masalah kan ?" Tanya Aurora yang semakin penasaran.
"Tidak ada." Bohong Pak Dikta.
Aurora sangat tidak mempercayai itu. Ia yakin kalau tadi malam sempat mengacaukan sesuatu tapi, apa ? Aurora sama sekali belum bisa mengingatnya.
"Masalah apa yang saya lakukan ? Pak Dikta bisa beritahu !" Pinta Aurora seperti memaksa.
Pak Dikta tidak mungkin memberitahu Aurora kalau tadi malam dirinya mengacaukan seisi rumah ditambah dengan muntah disembarang tempat. Alasan yang sama kenapa Aurora harus tidur di kamar tamu bukan kamar milik Pak Dikta.
Aurora benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak mengacaukan semua barang yang ada. Pak Dikta bahkan sampai dibuat begadang karena harus merapikan semua kekacauan itu.
__ADS_1
Permasalahannya bukan tentang Aurora yang pergi ke klub malam dan bertemu pria asing lagi tapi, tentang dirinya yang berhasil membuat isi rumah Pak Dikta menjadi seperti kapal pecah.
"Kamu tidak percaya ?" Tanya Pak Dikta.
"Saya hanya berpikir telah mengacaukan sesuatu sampai baju saya harus berubah." Katanya.
"Tidak mungkin saya biarkan kamu tidur dengan pakaian itu. Bisa-bisa nanti masuk angin." Ujarnya.
Meskipun Pak Dikta tidak memberitahunya, Aurora masih yakin kalau ada hal buruk yang terjadi tadi malam.
"Pak Dikta..." Panggil Aurora dengan suara kecil.
"Iya ?" Balas singkat Pak Dikta.
"Rara, minta maaf untuk semuanya. Mulai dari pergi ke klub tanpa izin." Kata Aurora tulus dari dalam hatinya.
"Tanpa kamu meminta saya pasti sudah memaafkan." Tutur Pak Dikta.
"Pak Dikta kalau mau marah, silahkan saja ! Saya siap untuk dimarahi." Aurora pasrah.
Mendengar itu membuat Pak Dikta tertawa kecil. Lucu kalau melihat Aurora yang sudah pasrah akan keadaan seperti itu.
"Untuk apa saya marah ? Kamu sudah pulang dengan selamat seharusnya saya bahagia bukan marah," Ujarnya.
Kenapa sih Pak Dikta bisa begitu sabar dan baik seperti ini ?
"Kalau kamu kenapa-napa, baru saya akan marah." Sambungnya.
"Marah sama saya ?"
"Bukan."
"Lalu ?"
"Marah sama orang yang berani buat kamu kenapa-napa." Tukasnya sambil tersenyum lebar ke arah Aurora.
It's crazy. Jika seperti ini terus apa ada alasan bagi Aurora untuk tidak jatuh cinta dengan Pak Dikta ? Bahkan saat ini pun, jantungnya sudah berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajahnya juga tampak merona merah.
Aurora memang ingin move on dan mencari pengganti Devin tapi, apa harus Pak Dikta ?
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^