Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 19 : First Night


__ADS_3

Jika seharusnya pasangan suami istri akan langsung tinggal bersama setelah pernikahan maka, tidak dengan Aurora. Gadis itu, masih belum sepenuhnya siap untuk tinggal di rumah Pak Dikta.


Meski sebenarnya tidak disetujui oleh kedua orang tuanya namun, sesudah melakukan sedikit perdebatan Aurora yang kini sudah menjadi istri dari Pak Dikta diizinkan untuk tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya tapi, tidak selamanya. Iya, hanya sementara. Itupun, Pak Dikta harus ikut bersamanya.


"Tidak bisakah kalau Pak Dikta pulang ke rumahnya ?" Aurora dengan keras kepalanya.


"Nak Dikta itu sudah sah menjadi suamimu jadi, tidak mungkin dia meninggalkanmu disini bersama kami." Sang ayah sangat tidak menyetujui itu.


"Ya sudah kalau begitu berikan Pak Dikta kamar tamu. Aurora akan tidur sendiri, seperti biasanya." Ujar Aurora yang sangat menolak untuk tidur bersama dalam satu kamar dengan sang suami.


"Kenapa harus kamar tamu ? Sangat wajar kalau pasangan suami istri tidur bersama dalam satu ruangan. Apa yang kamu takutkan ?" Ayah Andre dibuat bertanya-tanya.


"Tidak ada yang Rara takutnya cuma, belum terbiasa saja ada orang lain yang tidur satu ranjang yang sama." Aurora terus saja mengeluh, hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri tanpa berpikir kenyataan yang ada.


"Kalau belum terbiasa ya, kamu harus berusaha untuk membiasakannya." Kata sang ayah dengan mudah.


"Tapi-" belum sempat menyampaikan keluhan lagi, sang ayah memotong dengan cepat.


"Sudah malam, lebih baik kamu masuk kamar dan istirahat. Tidakkah kamu sekarang merasa lelah ?" Ucap sang ayah.


Aurora mendengus tak suka. Tidur satu kamar dengan Pak Dikta ? Oh my Gosh, tidak dibayangkan menikah tanpa cinta juga harus berbagi kamar.


"Pak Dikta..." Panggil Aurora kepada sang suami yang ada tepat disampingnya tapi, sedari tadi memilih untuk menjadi pendengar perdebatan antar ayah dan anak.


"Iya ?" Sahutnya.


"Pak Dikta kalau tidur tidak mendengkur atau menggertakkan gigi kan ?" Tanya Aurora.


"Tidak." Singkat Pak Dikta.


"Bagus deh. Soalnya saya gak akan bisa tidur kalau ada suara seperti itu." Pungkas Aurora yang langsung membuka pintu kamarnya.


...---ooOoo---...


Pasangan suami istri yang baru menikah beberapa jam lalu, kini sudah berada di dalam kamar pribadi Aurora.


Sebenarnya Aurora itu termasuk dalam tipe orang yang tidak suka kalau aset pribadinya disentuh atau digunakan oleh orang asing. Jadi, tak salah kalau ia tampak kesal ketika tahu harus berbagi kamar dengan Pak Dikta - seorang suami yang masih dianggap seperti orang asing oleh Aurora.


"Karena saya adalah pemilik kamar ini jadi, Pak Dikta harus menuruti semua peraturan yang akan saya buat." Kata Aurora dengan lugas dan tegas.


"Jadi, apa peraturannya ?" Sepertinya Pak Dikta akan mengikuti semua keinginan dari sang istri.


"Pertama, kita akan buat batasan pakai guling," ucapan Aurora ini terhenti sejenak karena gadis itu tengah berupaya untuk menaruh guling miliknya tepat di tengah-tengah ranjang.


"Pak Dikta gak boleh melewati itu. Kalau berani akan mendapat hukuman." Lanjut Aurora sambil tersenyum menyeringai.


"Apa hukumannya ?" Tanya Pak Dikta penasaran.


"Bayar lima ratus ribu." Jawab Aurora terdengar asal. Memang benar, gadis itu mengatakan apa yang ada dipikirannya tanpa pertimbangan.

__ADS_1


Pak Dikta terkekeh kecil lalu, mengambil dompet miliknya yang ada di saku belakang celananya. Apa yang akan dilakukan oleh dosen itu ?


Sebuah kredit card berwarna hitam keluar dari dompetnya dan ya, tanpa ragu Pak Dikta memberikan itu kepada Aurora.


"Saya akan terima hukumannya." Katanya sembari menyodorkan kredit card itu berharap kalau Aurora akan menerimanya.


Aurora meliriknya sekilas dan tentu saja ia merasa sedikit tergoda untuk mengambilnya.


"Ambil saja. Jatah uang bulanan kamu ditambah uang saku kamu ada disini. Kamu bisa pakai sepuas mu. Kartunya tak memiliki limit." Kata Pak Dikta terdengar seperti memaksa Aurora untuk mengambilnya.


Godaan uang itu memang tak bisa tertahankan. Aurora tanpa ragu menerima kredit card yang diberikan oleh Pak Dikta itu. Lumayan bukan ? Dengan kartu ini dirinya tak akan punya hutang lagi dengan pedangan cilok, seblak, cimol.


"Kalau ada tagihan membengkak, jangan terkejut !" Aurora hanya mengingatkan.


"It's okay, my money is yours. Sekarang saya bekerja juga untuk memenuhi kebutuhan kamu." Ujar Pak Dikta santai sambil tersenyum hangat, seakan-akan tak mempermasalahkan soal uang.


"Yakin ? Saya boros loh orangnya." Aurora hanya bermaksud untuk menakuti.


"Tak masalah, saya justru senang." Perkataan ini membuat Aurora merasa aneh. Apakah Pak Dikta waras ?


Masih merasa aneh sekaligus terheran, Aurora berucap. "Orang tua saya saja selalu membatasi uang jajan karena tahu kalau saya orangnya sangat boros, tapi..." Aurora berhenti, berasa enggan untuk melanjutkan ucapannya.


"Makasih ya, Pak ! Saya pasti akan menggunakannya dengan baik dan benar." Tambah Aurora sambil tersenyum lebar.


Tanpa sungkan, Aurora memasukan kredit card itu ke dalam dompetnya kemudian bergegas untuk naik ke atas ranjang.


Hari sudah semakin larut dan rasa kantuk mulai menghampirinya. Aurora harus istirahat sekarang karena besok ia ada kelas. Kelas pertamanya setelah mengambil libur seminggu.


"Kenapa ? Pasti mau ambil kembali kredit card nya ya ?" Duga Aurora yang sama sekali tak benar.


"Kamu bisa pakai guling dan ranjangnya. Saya akan tidur di sofa."


Setelah mengatakan itu, Pak Dikta pun mematikan lampu kamar ini dan membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam kamar ini.


"Selamat malam." Ucap Pak Dikta sebelum benar-benar masuk ke alam mimpi.


Seperti ada yang ketinggalan. Aurora harus mengatakan ini sebelum kejadian.


"Pak Dikta, satu lagi..." Aurora membuat Pak Dikta membuka matanya lagi.


"Ada apa, Rara ?" Tanya Pak Dikta benar-benar sabar.


"Jangan ada pikiran macem-macem atau jorok ya, Pak ! Kita nikah bukan untuk kearah membuat keturunan." Larang Aurora.


"Iya. Saya juga tak berfikir ke arah sana. Kamu tenang saja, malam ini tak akan ada yang terjadi." Tutur Pak Dikta.


Masih beberapa jam menjadi suami, Pak Dikta sudah terlihat begitu pengertian dan sabar dengan semua keluhan, keinginan dari Aurora. Jika orang lain yang ada diposisi Pak Dikta, apakah bisa melakukan hal yang sama ? Tahu sendiri kalau Aurora bukan seseorang yang mudah.


"Apa ada lagi yang ingin kamu katakan ?" Tanyanya hanya ingin memastikan sebelum kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


"Shhhttt ! Jangan berisik ! Saya sudah mau tidur." Kata Aurora ketus.


"Selamat malam, Rara. Semoga mimpi indah." Pak Dikta mengatakannya lagi namun, sama sekali tak ada jawaban atau balasan dari sang istri.


...---ooOoo---...


Sambil menatap ke langit-langit kamar di tengah kegelapan yang menyapu, Pak Dikta merasa tak bisa tidur.


Sofa yang tak pas dengan ukuran tingginya membuat kaki Pak Dikta harus sedikit ditekuk.


Sebenarnya, tidur dalam posisi seperti ini sangat terasa tak nyaman tapi, mau bagaimana lagi ? Dirinya harus lebih mengutamakan kenyamanan sang istri.


Pak Dikta tahu kalau Aurora merasa kurang nyaman berada satu nyaman dengan dirinya apalagi tidur bersama dalam satu ranjang. Mengalah adalah jalan terbaik untuk semuanya. Iya, Pak Dikta melakukan itu.


Jarum jam terus bergerak dan suara irama dengkuran merdu yang keluar dari kerongkongan Aurora terdengar dengan jelas.


Mendengar ini membuat Pak Dikta yang masih belum kunjung tertidur pun menoleh ke arah Aurora. Seketika Pak Dikta pun terkekeh kecil ketika mengingat tentang larangan untuk mendengkur.


"Sekarang siapa yang mendengkur dan menggertakkan gigi ? Kamu atau saya ?" Ucap Pak Dikta dengan suara pelan.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akun itu karena bakal ada spill tipis-tipis.


...🥀🥀🥀...


Masih sama seperti bisa, author tak bosan-bosan untuk mengingatkan kalian. Jika suka dengan ceritanya jangan lupa untuk tinggalkan jejak lewat like, vote dan komentarnya...


Mari bantu author untuk meramaikan lapak ini :)


Supaya kalian gak ketinggalan dengan update terbaru, kalian bisa jadikan cerita ini sebagai favorit.


.


.


.


Mau ngomong apa ke Pak Dikta ?


Mau ngomong apa ke Aurora ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2