Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 22 : Godaan Dosen


__ADS_3

Terlihat Pak Dikta yang baru turun dari mobilnya. Seperti biasanya, setiap pagi bukan maksudnya setiap kedatangan Pak Dikta — si dosen yang masih dan selalu dianggap paling ganteng dan pengertian dengan mahasiswanya, selalu mendapatkan banyak sambutan hangat serta sapaan.


"Pak Dikta, selamat pagi..." Sapa seorang mahasiswi dengan cukup heboh.


"Iya, selamat pagi juga." Sapa balik Pak Dikta dengan senyuman.


Sudah tampan, ramah, baik hati, selalu pengertian, sekarang apa coba yang kurang dari Pak Dikta ? Tak heran kalau banyak cewek-cewek di kampus ini berusaha untuk mendekatinya berharap akan jadi pendamping hidupnya kelak, memang godaan seorang Pak Dikta sebesar itu.


"Selamat pagi, Pak Dikta." Sapa seorang mahasiswi lain yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Pak Dikta tak terkejut karena sudah terlalu bisa mendapatkan kejutan seperti ini.


"Selamat pagi juga." Balasnya terkesan ramah.


"Pak Dikta, Lily bawain coklat. Berharap bapak mau terima ya ?" Mahasiswi itu menyodorkan sebuah coklat batang dan sangat berharap kalau coklat pemberiannya itu bakal diterima.


"Ini masih pagi dan kamu sudah memberikan saya coklat ?"


Mahasiswi itu mengangguk. "Saya hanya ingin pagi bapak semanis coklat ini." Sedikit menggombal tidak masalahkan ?


Pak Dikta bukan tipe orang yang dengan mudahnya menolak pemberian orang lain. Siapapun yang memberikan sesuatu kepadanya pasti akan diterima. Ini adalah cara sederhana yang selalu dilakukannya untuk menghargai dan menghormati orang itu.


"Terima kasih." Kata Pak Dikta sambil mengambil coklat pemberian itu.


Tahu kalau coklatnya di terima oleh Pak Dikta, mahasiswi itu tersenyum bahagia. Rona merah juga terpancar di pipinya.


"Jangan lupa dimakan ya, Pak ! Saya jamin bapak pasti suka sama coklatnya." Kata mahasiswi itu lagi.


Pak Dikta hanya tersenyum saja untuk membalas perkataan itu.


"Kalau begitu, saya harus pergi. Kamu jangan lupa masuk kelas." Pungkas Pak Dikta lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan mahasiswi yang masih senyum-senyum sendiri di tempatnya.


Baru saja terbebas dari mahasiswi yang memberikannya coklat, Pak Dikta harus lagi-lagi berhadapan dengan mahasiswi lainnya yang memberikannya kotak makan.


"Selamat pagi, Pak Dikta... Guru ganteng kesayangan kita semua..." Sapaan yang penuh semangat terdengar.


"Selamat pagi juga." Balas Pak Dikta ramah.


"Pagi ini, Pak Dikta sudah makan belum ?" Tanya mahasiswi itu tapi, sepertinya tak membutuhkan sebuah jawaban.


"Kalau belum, ini saya bawakan kotak makan untuk bapak. Saya yang masak sendiri, loh..." Ujar mahasiswi itu dengan sedikit memamerkan bakat memasaknya.


Tak tahu harus merespon seperti apa, Pak Dikta hanya bisa mengembangkan senyumannya.


"Tolong diterima ya, Pak ! Terus kalau bapak suka sama rasanya tolong bilang. Saya pasti akan memasakkan Pak Dikta lagi." Kata mahasiswi itu sembari menyodorkan kotak makan yang ia bawa.


Dengan ragu, Pak Dikta tetap mengambil kotak makan itu. Karena diberi tak lupa untuk tetap mengucapkan terima kasih.


"Dimakan ya, Pak ! Saya buatnya itu pakai hati dan segenap perasaan yang saya punya untuk bapak."


Perkataan gombalan itu hanya mendapat sebuah senyuman getir dari Pak Dikta.


"Pasti saya makan." Kata Pak Dikta yang masih saja menanggapi.


Jika kalian tahu, disaat Pak Dikta mendapatkan banyak kepedulian dari banyak mahasiswi seperti sekarang ini, dari kejauhan ada seorang wanita yang statusnya sekarang sudah menjadi istrinya tengah memantau sambil tersenyum tak suka.


"Kalian lihat kan, kelakuannya ? Udah nikah masih bisa ramah sama cewek-cewek." Tak tahu, ucapan seperti ini terlontar begitu saja dari mulut Aurora.


"Pak Dikta kan emang ramah, Ra." Kata Arjuna terdengar seperti membela.


"Mana ada ? Dia kalau sama gue gak ada ramah-ramah nya." Gerutu Aurora yang merasa tak pernah merasakan keramahan Pak Dikta.


"Keknya itu cuma sama lo aja deh..." Ucap Gilang yang mengatakan fakta.


"Tuh orang kek playboy gak sih ?" Tanya Aurora tiba-tiba.


"Playboy ? Enggak tuh ? Memangnya kalau cowok ramah sama cewek udah bisa dianggap playboy ?" Gilang benar-benar tak paham dengan jalan pikiran Aurora.


"Kalau bokap gue tahu menantunya ternyata playboy bisa syok berat." Kata Aurora lagi yang sepertinya tak mempedulikan ucapan Gilang.


"Lo marah, Ra ? Kalau Pak Dikta ramah sama cewek lain ?" Tanya Gilang menelisik.


Aurora yang mendengar itu langsung ketawa kikuk sambil menjawab dengan sangkalan. "Ngapain gue marah ? Gue cuma gak mau ya, punya suami playboy."


"Suami ? Sekarang lo udah anggap Pak Dikta suami ?" Sahut Keysha yang tiba-tiba ikut menimbrung dalam obrolan.


"Ya enggak g-gitu, maksud gue bukan gitu tapi—" ucapan Aurora ini langsung dipotong oleh Keysha.

__ADS_1


"Kalau emang lo udah anggap Pak Dikta sebagai suami itu bagus banget, Ra ! Itu berarti lo udah move on dari si brengsek Devin." Potong Aurora.


"Enggak. Gue sama sekali belum move on dan di hati gue masih ada rasa untuk Devin." Aurora terus saja menyangkal.


Keysha hanya terkekeh kecil lalu kembali mengingatkan temannya itu. "Rara, hati-hati ! Mending lo jagain Pak Dikta baik-baik. Gak lihat tuh banyak cabe-cabean yang lagi coba deketin."


Aurora menatap dengan dingin ke arah sang suami yang saat ini masih terus bercengkrama hangat nan ramah kepada cewek-cewek— mahasiswi di kampus ini.


"Mau dideketin sama cabe-cabean kek, terong-terongan kek, kubis-kubisan kek, tomat-tomatan kek gue gak peduli !" Kata Aurora lalu berlalu begitu saja menjauh dari teman-temannya.


...🥀🥀🥀...


| Mode Chat |


...------------------------...


...Si Resek 👿 ...


...------------------------...


Si Resek :


Kamu dimana ?


^^^Aurora :^^^


^^^Di bumi.^^^


Si Resek :


Di bagian mana ?


^^^Aurora :^^^


^^^Antartika.^^^


^^^Lagi cosplay jadi penguin.^^^


Si Resek :


^^^Aurora :^^^


^^^...^^^


Si Resek :


Sudah makan ?


^^^Aurora :^^^


^^^Kenapa ? Mau traktir saya makan siang ?^^^


Si Resek :


Iya...


^^^Aurora :^^^


^^^Enggak ah...^^^


^^^Palingan makanan yang dikasih ke saya dari cewek-cewek tadi pagi 🙄^^^


Si Resek :


Beneran gak mau ?


Padahal saya mau pesan pizza.


^^^Aurora :^^^


^^^Pizza tuna dan jagung satu tapi, jangan banyak-banyak kejunya.^^^


...---ooOoo---...


"Dari siapa, Ra ?" Tanya Gilang penasaran ketika melihat temannya itu terus senyam-senyum sembari menatap layar ponselnya.


"B-bukan dari siapa-siapa kok." Jawab Aurora sambil memasukan ponselnya ke dalam tas selempang.

__ADS_1


"Dari your husband or your new crush ?" Tebak Arjuna.


"Bukan keduanya."


"Lo bohong banget. Seorang Aurora gak mungkin senyam-senyum sendiri kalau bukan dapet chat dari orang yang dia suka." Kata Gilang yang tak percaya.


"Cuma dari abang gopud. Gue pesan pizza." Ucap Aurora memberitahu tapi masih setengah dari kebenarannya.


"Lo pesan pizza ? Tumben ?"


"Mending sekarang lo jangan meremehkan gue deh..." Larang Aurora dengan keras.


"Itu utang sama Abang cilok, seblak di depan udah lo bayar belum ?" Tanya Gilang sembari tertawa kecil.


Bukannya mau sombong atau apa tapi, Gilang kalau belum diberikan bukti tidak akan berhenti. Lelaki itu pasti akan terus meremehkannya.


Tak pakai banyak bicara, Aurora pun mengeluarkan sebuah kredit card berwarna hitam dari dalam dompetnya. Dengan ini, ia berani membungkam mulut Gilang.


"Lo mau pesan apa ? Gue yang traktir." Kata Aurora.


Hanya ingin memastikan kalau kartu itu asli, Gilang mengambilnya untuk melihat-lihat sebentar.


"Ini kredit card yang kek punya Arjuna ?"Tanya Gilang.


"Iya..." Jawab Aurora santai.


"Punya Pak Dikta ?" Tanya Gilang lagi setelah melihat nama yang tertera pada kartu kredit itu.


"Dia kasih gue itu. Katanya buat jajan." Ucap Aurora.


"Wih enak dong... Lo tahu kan Ra, kalau kartu kek gini limitnya selalu gede ?" Kata Gilang yang masih belum percaya kalau temen seperjuangannya yang selalu hutang dengan Abang cilok, seblak sekarang sudah kaya


"Ya, of course i know. Gue juga udah kasih tahu Pak Dikta kalau gue itu orangnya boros tapi, dia tetep kasih kartunya." Ucap Aurora memberitahu.


"Nice husband ya, Ra." Ujar Arjuna singkat.


"Kalau soal ini gue akan akuin itu." Tutup Aurora lalu beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke ruangan Pak Dikta. Gadis itu harus pergi ke sana karena akan makan pizza kesukaannya.


"Rara, mau kemana ?" Tanya Gilang sambil sedikit berteriak.


"Perpus, pinjem buku." Balas Aurora tak sesuai fakta.


"Lo gak jadi traktir kita ?" Tanya Gilang lagi.


"Nanti aja ya, setelah ini." Pungkasnya.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kepoin akunnya supaya bisa dapat spoiler dari kelanjutan cerita ini :)


...🥀🥀🥀...


Hello kawan cuma mau kasih tahu, jangan lupa untuk berikan like, vote dan komentar pada cerita ini. Dukungan kalian sangat berharga bagi Author supaya bisa melanjutkan cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan kelanjutannya.


Mari bantu author untuk meramaikan karya yang selalu sepi ini :)


.


.


.


Sebenarnya enak gak sih jadi Aurora ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2