Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 69 : Lelaki Terbaik


__ADS_3

..."Namun kini engkau pergi, tinggal aku berkasih dengan bayangmu. Namun ku tak cari pengganti agar kau dimana tahu, aku suami terbaik."...


...- Kahitna, Suami Terbaik....



.......


.......


.......


Aurora sama sekali tidak mau menerima ini semua tapi, kenyataan kembali menghantam ketika dirinya melihat tulisan tangan nan rapi milik Pak Dikta pada surat yang tergeletak di atas meja ruang tamu.


Sebenarnya gadis itu masih ingin menyangkal kenyataan. Ia ingin tetap percaya kalau Pak Dikta itu masih hidup dan akan pulang sesuai dengan apa yang dikatakannya lewat email. Bukan dengan cara seperti ini.


Aurora menatap kembali ke arah dokter Tasia. Tatapannya tampak dengan jelas meminta dokter Tasia untuk ikut menyangkal semua yang ada.


"Kak, bisa katakan kalau semua ini hanya sebuah kebohongan ?" Pinta Aurora.


"Dari kemarin aku sudah sering berbohong kepadamu, maka dari itu sekarang tidak lagi." Ujar dokter Tasia yang berusaha untuk membuat Aurora berhenti menyangkal kepergian Pak Dikta.


"Bagaimana bisa Pak Dikta sakit ? Waktu sama aku, dia selalu baik-baik saja. Tidak pernah mengeluhkan apapun." Ucap Aurora sesuai dengan kenyataan.


"Dikta tak akan pernah menunjukan kelemahannya kepada orang yang dia sayang. Dikta selalu ingin terlihat baik-baik supaya kamu juga tidak perlu khawatir." Ungkap Dokter Tasia.


Sebenarnya, dokter Tasia sangat tidak setuju kepada keputusan Pak Dikta yang sangat ingin menyembunyikan penyakitnya dari Aurora. Sudah berulang kali Dokter Tasia memberitahu temannya itu — Pak Dikta, untuk segera memberitahu semuanya kepada Aurora tapi, ia malah bilang mau menunggu sampai sembuh.


Pak Dikta adalah seseorang yang selalu dipenuhi oleh aura positif. Meskipun tahu penyakit jantungnya yang kambuh dalam beberapa bulan kebelakang itu cukup sulit untuk disembuhkan tapi tak mustahil.


"Kamu tahu, Rara... Semua yang diperjuangkan oleh Dikta itu semua demi kamu."


"Setiap dia capek akan penyakitnya ini, dia selalu ingat kamu terus. Dia selalu berpikir untuk pulang karena tak mau membuat kamu menunggu." Ungkap Dokter Tasia memberitahu segalanya.


"Kamu adalah mahasiswi dari fakultas kedokteran, seharusnya bisa tahu dan mengerti apa saja yang harus dialami oleh pemilik penyakit lemah jantung." Tambah dokter Tasia lagi.


Aurora masih merasa syok berat. Kepergian Pak Dikta yang begitu tiba-tiba membuatnya tak bisa berpikir jernih dan air matanya juga, mau berapa kali dihapus tetap saja menetes.


"Pak Dikta ternyata egois ya ?" Ucap Aurora yang langsung membuat dokter Tasia membelalakkan kedua matanya.


"Apa maksudmu ? Dikta egois ? Bukankah kamu yang egois ?"


"Pak Dikta egois karena gak mau memberitahu hal sepenting ini. Dia malah memilih diam hanya karena merasa takut membuatku sedih. Kalau seperti itu, apa bedanya sekarang ? Aku tetap menangis dan merasa sangat menyesal." Ungkap Aurora.


"Seharusnya dia bisa beritahu aku, kalau sedang sakit. Setidaknya disaat dia lagi berjuang aku ada disisinya untuk menemani. Bukan malah melakukan hal bodoh dengan meminta sebuah perceraian." Tambah Aurora meruntuki diri sendiri.


"Kenapa kamu bisa meminta cerai darinya ?" Tanya dokter Tasia penasaran.


"Itu semua karena kak Tasia. Aku pikir kalian berdua masih ada hubungan dan aku ingin membiarkan kalian bahagia. Makanya aku melakukan hal sebodoh itu." Aurora mengatakannya jujur tanpa ada keraguan sedikitpun.


Karena perkataan Aurora yang seperti itu, dokter Tasia jadi terdiam sejenak. Dokter Tasia hanya berpikir kalau untuk saat ini pembicaraan akan hal ini sudah cukup. Dokter Tasia sudah melakukan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


"Sebelum aku pergi dan kelupaan untuk menyampaikan hal ini, nanti sore pengacara dari Dikta akan datang menemui mu." Ujar dokter Tasia.


"Pengacara ? Kenapa pengacara ?" Tanya Aurora yang masih belum mengerti.


"Beliau kemari hanya untuk memberikan semua aset milik Dikta. Iya, Dikta menyerahkan semua kepemilikannya pada kamu." Jawab Dokter Tasia.


Aurora menghela napasnya berat lalu untuk sebentar menutup matanya. Ia tampak sedang terlarut dalam pikirannya sendiri.


"Sekarang Pak Dikta ada dimana ?" Tanya Aurora sambil membuka kedua matanya, menatap tajam ke arah dokter Tasia.


"Aku gak membutuhkan semua aset itu yang aku butuhkan saat ini adalah Pak Dikta." Ucap Aurora dengan tegas.


"Rupanya kamu masih belum bisa percaya akan berita ini ?"


"Bagaimana mau percaya di saat hati ini terus berseru meminta Pak Dikta untuk pulang ?"


"Baiklah. Kalau kamu mau bertemu, aku bisa mengantarmu." Ucap dokter Tasia.


"Kita berangkat sekarang."


Aurora pun beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah keluar dari rumah ini, mengekor di belakang dokter Tasia.


Kabar kalau Pak Dikta tiada memang menyakitkan. Air mata juga telah terus jatuh membasahi pipinya tapi, Aurora tetap ingin memastikan kalau semua kabar itu benar.


Memastikan kebenarannya sendiri dan membuat hati merasa yakin supaya tak terus berharap akan kepulangan Pak Dikta.


Dengan mata bengkaknya akibat menangisi hal yang masih ingin disangkalnya, Aurora masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang tepat di samping dokter Tasia.


...---ooOoo---...


Mobil yang dikendarai oleh dokter Tasia sudah memasuki lokasi pemakaman tempat dimana tubuh Pak Dikta sudah berbaring untuk istirahat dalam damai.


Aurora yang ada di dalam mobil dan bisa melihat dengan jelas keberadaannya sekarang tetap masih ingin menyangkal kenyataan.


Dokter Tasia pun menghentikan mobilnya tepat pada tempat parkir yang ada. Setelah melepaskan sabuk pengaman, dokter Tasia menengok ke arah Aurora.


"Di bagasi mobil ada bunga yang tadi sempat aku beli. Aku tahu kalau kamu pasti akan meminta kesini." Ucap dokter Tasia lalu mendahului Aurora untuk turun dari mobil.


Aurora menundukkan kepalanya sejenak, rasanya sekarang ia ragu untuk turun dari mobil. Aurora hanya takut tak bisa lagi menyangkal kenyataan pahit itu. Suaminya yang ditunggu kepulangannya selama berbulan-bulan ternyata...


Dokter Tasia yang sudah memegang dua keranjang bunga pun mengetuk kaca mobilnya. Aurora mau tidak mau pun ikut turun.


Air mata kembali turun di setiap langkah kaki Aurora yang semakin mendekat pada sebuah gundukkan tanah.


Meskipun masih ada jarak namun, Aurora bisa melihat dengan sangat jelas gundukan tanah yang terbilang sangat baru itu, paling memiliki banyak bunga dibanding lainnya.


Langkah Aurora semakin lambat bahkan sudah tertinggal cukup jauh dari dokter Tasia yang kini sudah tiba terlebih dahulu pada gundukan tanah penuh dengan bunga itu.


Apa ini sebuah kenyataan ? Aurora sudah kehilangan Pak Dikta untuk selama-lamanya ? Aurora bahkan belum sempat menggenggam Pak Dikta dengan benar tapi, kenapa sekarang sudah terlepas begitu saja ? Kenapa waktu yang diberikan oleh Pencipta begitu cepat seperti ini ?


Aurora semakin mendekat dan tentu saja, karena jaraknya sekarang ia bisa dengan jelas melihat nama seseorang yang tertulis pada nisan.

__ADS_1


Keanu Rajendra Pradikta, lahir tahun 1992 dan wafat pada tahun 2022. Apa yang bisa disangkal lagi dari semua ini ?


"Lihat siapa yang datang, Dikta... Ada Aurora, perempuan yang selalu menjadi kebanggan mu. Bagaimana tidak, hampir tiap detik setiap kita bertemu kamu selalu saja mengatakan semua hal baik tentang dia." Ucap dokter Tasia sambil melirik sekilas ke arah Aurora yang sekarang sudah duduk termangu persis di samping pusaran milik Pak Dikta.


"Saat kamu bercerita tentang dia, aku bahkan sampai dibuat iri. Bagaimana bisa ada lelaki yang begitu menyayangi pasangannya sedalam itu." Sambung dokter Tasia.


"Dia datang kesini khusus untuk menemui kamu. Katanya dia kangen, pengen lihat kamu. Gimana Dikta ? Apa ini yang memang kamu mau ?"


"Karena kamu sudah tahu semuanya akan berakhir seperti ini, kamu sengaja meninggalkan dia. Membuat Aurora berusaha menjalani hidup tanpa kamu dan dia berhasil tapi..." Dokter Tasia menghentikan ucapannya karena tangisan Aurora yang terdengar sudah mulai mengganggunya.


"Bagaimana aku bisa baik-baik saja disaat tahu di duniaku sudah tak ada Pak Dikta lagi ?" Teriak Aurora menumpahkan segala kesedihan, amarah dan kecewanya.


"See ? Aurora mungkin bisa hidup tanpa kamu tapi, bagaimana dengan perasaannya ? Bukankah sudah ku katakan untuk menunggu sebentar lagi ? Kenapa memilih untuk pergi secepat ini ?" Protes keras Dokter Tasia sambil memberikan pelukan kepada Aurora yang sekarang ini dalam kondisi kurang baik.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Semua memang tampak baik-baik saja karena disitu ada sebuah harapan tapi, sekarang ? Setelah harapan itu tiada... Apakah semua akan baik-baik saja ?


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


Catatan kecil :


- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada kilas balik pada dua bab ke depan.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2