Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 27 : Perhatian


__ADS_3

Mendengar kabar kalau Aurora sakit membuat Pak Dikta cemas. Jujur, dirinya juga baru tahu saat tadi mengabsen lewat Keysha dan Arjuna.


Tadi pagi, saat dirinya bertemu dengan Aurora di rumah, ia merasa kalau kondisi sang istri itu masih baik-baik saja, tak ada yang aneh. Jadi, saat tahu kalau Aurora sakit bahkan sampai mimisan, Pak Dikta langsung terkejut dan cemas.


Karena saking ingin tahu mengenai perkembangan kondisi sang istri, Pak Dikta sampai menyelesaikan kelasnya dengan cepat.


Pak Dikta nampak terburu-buru, ia bahkan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi di jalanan kota yang terlampau cukup ramai. Mendahului banyak mobil sering dilakukannya, kalau ada polisi mungkin ia akan kena tilang.


Hanya butuh sekitar lima belas menit, akhirnya mobil SUV yang dikendarai oleh Pak Dikta sampai juga di rumah sakit tempat dimana sang istri berada.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, dengan langkah cepat yang terkesan sembrono, Pak Dikta langsung menuju ke arah ruang UGD.


Iya, dirinya tadi sempat untuk menghubungi Gilang dan diberitahu posisi Aurora sekarang. Kenapa Gilang ? Karena ponsel Aurora mati, tak bisa dihubungi.


Baru masuk ke ruang UGD, Pak Dikta langsung mendapat sebuah sapaan dari seorang perawat yang sedang bertugas. Pak Dikta terlihat akrab dengan petugas medis karena memang ini adalah rumah sakit tempatnya bekerja.


"Dokter Dikta disini ?" Kata perawat itu yang terlihat terkejut melihat keberadaan Pak Dikta.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Dok ?" Tanya perawat itu.


"Pasien yang bernama Aurora, apa masih ada disini ?" Balas Pak Dikta yang langsung dengan sebuah pertanyaan.


"Ada di brankar paling pojok, Dok." Kata perawat itu memberitahu.


"Terima kasih." Tukas Pak Dikta.


Pak Dikta akhirnya bertemu dengan Aurora yang saat ini sedang bercengkrama riang bersama Gilang. Melihat itu membuat dirinya langsung menghela nafas lega karena rupanya sakit yang di derita oleh istrinya tak terlalu parah.


"Kamu buat saya cemas." Katanya yang langsung menyentuh dahi Aurora. Iya, Pak Dikta hanya ingin merasakan suhu tubuh sang istri.


"Kenapa tidak bilang kalau sakit ?" Tanya Pak Dikta terlihat sedikit marah.


"Hanya kecapekan saja. Tak perlu ada yang di cemaskan berlebihan." Jawab Aurora terlihat santai.


Pak Dikta menatapnya dengan serius. Apakah Aurora akan dimarahi olehnya sekarang ?


"Sudah berapa kali saya ingatkan untuk tidak begadang, makan yang teratur dan banyak minum air putih ?" Katanya.


"Kalau saya sudah belajar pasti akan lupa waktu. Kan bapak sendiri yang menyuruh saya untuk belajar dengan baik." Balas Aurora.


"Tapi tak perlu memaksakan diri. Kamu harus tahu kondisi tubuh kamu. Kalau capek ya, istirahat." Tegur Pak Dikta.


Gilang yang masih ada di sana hanya bisa menyaksikan perdebatan singkat antar pasangan pengantin yang terbilang masih baru itu.


"Apa kata dokter ?" Tanya Pak Dikta mencoba mencaritahu lebih lagi soal kondisi sang istri.


"Cuma kecapekan saja. Tapi, kalau Pak Dikta gak percaya bisa diperiksa sendiri. Pak Dikta kan juga dokter." Balas Aurora dengan suara cukup sinis.


Pemeriksaan ulang dilakukan. Pak Dikta mulai mencari denyut nadi milik Aurora lalu mencoba meminjam sebuah stetoskop.

__ADS_1


"Sepertinya saya harus menjagamu dengan lebih baik lagi. Terlalu membiarkanmu melakukan sesukanya itu ternyata juga tak baik." Kata Pak Dikta dengan tegas lalu pergi meninggalkan Aurora dengan Gilang.


Tenang, Pak Dikta tidak akan lama. Setelah menemui dokter Irwan — dokter UGD yang tadi memeriksa Aurora, untuk menanyakan obat, Pak Dikta pasti akan kembali lagi.


...---ooOoo---...


Ditinggalkan oleh Pak Dikta setelah ditegur banyak hal, membuat Aurora dan Gilang langsung bertukar pandang. Suara tawa kecil keluar begitu saja diantara keduanya.


"Pak Dikta bisa kek begitu, ya ?" Tanya Gilang yang jujur baru pertama kali melihat dosennya bisa se-cemas itu.


"Gue juga baru tahu." Balas Aurora yang merasakan hal sama.


"Ternyata peduli banget ya tuh dosen sama lo."


"Tanggung jawabnya dia ke bokap. Kalau gue kenapa-napa, dia pasti kena masalah." Ujar Aurora.


Untuk sejenak, keheningan kembali menyapa mereka berdua. Gilang tak ingin berucap lagi karena akan membiarkan Aurora supaya bisa beristirahat.


Dari tempatnya duduk, Gilang menatap wajah Aurora yang terlihat sangat damai dalam tidurnya. Meski sedang tidur, Aurora tetap saja terlihat sangat cantik.


Dengan pelan-pelan, tanpa ingin mengganggu, Gilang membelai lembut rambut Aurora lalu tersenyum.


"Gue sayang lo, Ra ! Gue juga gak mau lihat lo kenapa-napa, bukan cuma Pak Dikta." Kata Gilang berasal dari hatinya.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Mendapatkan perawatan dari pihak medis dengan suntikan dan juga infus membuat kondisi kesehatan Aurora menjadi lebih baik. Gadis itu sudah tidak sepucat sebelumnya, tampak segar tapi belum benar-benar sembuh. Demamnya masih belum juga turun.


"Kata dokter, kamu sudah diperbolehkan pulang tapi, tetap harus banyak istirahat." Kata Pak Dikta memberitahu.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang !" Ajak Aurora langsung tanpa berbasa-basi.


"Saya juga merasa bosan kalau terlalu lama berada di rumah sakit." Sambungnya.


Tak berselang terlalu lama, Gilang datang kembali dengan membawa sebuah kursi roda. Rupanya lelaki yang katanya teman akrab Aurora itu masih setia menemani di rumah sakit.


"Naik ini, Ra. Lo belum boleh jalan dulu." Pinta Gilang yang langsung mendapat balasan dari Aurora.


"Penyakit gue gak separah itu. Jadi, gak perlu pakai kursi roda segala." Tolak Aurora yang sangat tidak ingin naik kursi roda.


"Mau naik kursi roda atau saya gendong ?" Mendadak Pak Dikta memberikan sebuah pilihan.


"Naik kursi roda." Aurora sudah memilih.


Walaupun keduanya bukan pilihan yang baik namun, akan lebih baik memilih naik kursi roda daripada digendong oleh Pak Dikta. Aurora hanya tak mau jadi pusat perhatian.


Tetap dengan bantuan Pak Dikta dan Gilang, Aurora berusaha untuk bangun lalu beranjak dari atas brankar — tempatnya berbaring. Perlahan-lahan, Aurora berpindah dan duduk di atas kursi roda yang sudah disiapkan oleh Gilang.


Meski kurang merasa nyaman, Aurora tetap duduk dan memberikan sebuah senyuman terpaksa. Jika bisa ia berjalan sampai parkiran, Aurora akan melakukannya.

__ADS_1


"Gilang terimakasih atas bantuannya. Dari sini, saya yang akan mengurus Aurora." Ucap Pak Dikta sembari mengambil ancang-ancang untuk mendorong kursi roda Aurora.


"Saya akan antar sampai parkiran. Siapa tahu nanti bapak dan Aurora membutuhkan bantuan saya." Kata Gilang yang sepertinya juga ingin memastikan kalau Aurora memang baik-baik saja.


"Tidak perlu. Bantuan dari kamu sudah cukup. Kamu bisa pulang dan istirahat." Perintah Pak Dikta.


Ingin membantah tapi, merasa tak ada hak untuk melakukannya. Perintah itu bukan datang dari mulut dosen tapi, datang dari mulut suami Aurora. Bukankah Gilang harus menghormati Pak Dikta sebagai suami Aurora ?


Mau tak mau, Gilang harus menurut. Ia terpaksa pulang dan berpisah dengan Aurora sampai disini saja.


"Ra, gue balik ya ! Jaga diri lo baik-baik. Makan yang cukup, istirahat juga jangan lupa ! Cepet sehat." Pamit Gilang sembari mengacak singkat rambut Aurora.


"Iya..." Aurora tersenyum hangat. "Makasih ya, Lang buat hari ini..."


Gilang mengangguk lalu melambaikan tangannya kepada Aurora. Sebuah perpisahan singkat untuk mereka berdua.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Gilang ? Keysha ? Arjuna ? Atau mungkin Pak Dikta ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2