Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 24 : Treat Like A Queen


__ADS_3

| Mode Chat |


...-----------------------...


...Si Resek šŸ‘æ...


...-----------------------...


Si Resek :


Pulang sama saya, mau ?


^^^Aurora :^^^


^^^Enggak.^^^


Si Resek :


Kamu dimana ?


^^^Aurora :^^^


^^^Lagi nongkrong sama temen-temen.^^^


Si Resek :


Kalau sudah mau pulang, kabarin.


Saya akan jemput kamu.


^^^Aurora :^^^


^^^Gak perlu, Pak.^^^


^^^Saya bisa pulang sendiri.^^^


^^^Nanti, bisa bareng Gilang atau Arjuna.^^^


Si Resek :


Padahal saya mau ajak kamu beli coklat.


^^^Aurora :^^^


^^^/send location.^^^


^^^Jemput saya di sana.^^^


Si Resek :


Mau sekarang atau nanti ?


^^^Aurora :^^^


^^^Sekarang aja.^^^


...---ooOoo---...


Langit luar sudah terlihat menggelap. Bersama dengan kedua temannya - Gilang dan Arjuna, Aurora berada di cafe ini selama kurang lebih dua jam setelah kelas terakhir usai.


"Gue udah menepati janji untuk traktir kalian." Kata Aurora sambil menatap kedua temannya.


"Iya, makasih Rara..." Ujar Arjuna.


"Terima kasih, Rara..." Gilang juga mengatakan hal yang sama.


"Oke, sama-sama." Balasnya singkat.


"Lain kali traktir lagi ya, Ra... Di tempat yang lebih mahal." Canda Gilang tanpa maksud serius.


"Emang ya, lo suka banget ngelunjak." Tanggal Aurora serius.


Gilang terkekeh setelah tahu kalau Aurora menganggap bercandaannya itu serius.


"Semenjak nikah sama Pak Dikta, si Rara hidupnya serius mulu..." Sindir Gilang.


Aurora memutar bola matanya pertanda enggan untuk menanggapi ucapan temannya itu.

__ADS_1


"Kita mau sampai jam berapa disini ?" Tanya Arjuna hanya penasaran.


"Sampai nanti malem dong... Seperti biasanya kan ?" Timpal Gilang.


"Enggak. Gue keknya harus balik." Kata Aurora yang memberitahu kalau dirinya tak bisa lebih lama lagi berada di cafe ini.


"Lah kenapa, Ra ? Lo udah disuruh balik sama mas suami ?" Tanya Gilang.


Sebenarnya Aurora juga masih ingin lebih lama berada disini namun, ia ke makan oleh bujuk rayu Pak Dikta yang akan membelikannya coklat. Tahu sendiri, bagaimana sukanya Aurora terhadap coklat. Gadis itu penikmat makanan manis.


"Ya, begitulah..." Balasnya dengan singkat dan terkesan santai.


"Sepertinya setelah Rara punya suami, kita bakalan susah buat kumpul lebih lama dari ini." Kata Arjuna yang hanya menduga.


Tak menanggapi ucapan itu, Aurora terus saja meneguk lemon tea yang dipesan sampai habis.


"Rara sekarang sudah punya keluarga sendiri." Timpal Gilang yang memang sesuai fakta.


Tak berselang lama dari obrolan itu, tiba-tiba ponsel milik Aurora berdering. Rupanya gadis itu mendapatkan panggilan dari sang suami.


"Siapa si Resek ?" Tanya Gilang ketika berhasil mengintip layar ponsel Aurora yang menyala karena panggilan itu.


"Pak Dikta..." Jawab Aurora sembari mengambil tas selempang.


Aurora sama sekali tak menjawab panggilan itu. Iya, dirinya tahu kalau tujuan pak Dikta menghubunginya adalah hanya untuk memberitahu keberadaannya.


"Gue balik dulu ya ! Udah ditungguin." Pamit Aurora yang langsung melenggang pergi meninggalkan kedua temannya tanpa menunggu balasan apapun.


Tidak tahu kapan tepatnya langit mulai mendung namun, sekarang hujan sudah mulai turun mengguyur kota ini dengan cukup deras.


Langkah Aurora terhenti secara mendadak persis di depan dari cafe ini. Ingin mengambil payung dari dalam tasnya namun, ia baru menyadari jika barang itu tertinggal.


Hujan semakin deras, tidak mungkin bagi Aurora untuk menerobos guyuran air hujan, bisa-bisa sampai di mobil pakaiannya akan basah kuyup.


Apakah Aurora harus menunggu sampai hujan mulai mereda ? Tentu saja tidak perlu dilakukan. Pak Dikta, selalu sangat pengertian dan datang pada saat yang tepat.


Pak Dikta datang menghampirinya dengan membawa payung berukuran cukup besar.


"Ayo..." Ajaknya langsung tanpa berkata lebih banyak lagi.


Tangan Aurora juga tengah di gandeng begitu erat oleh Pak Dikta. Genggamannya terasa begitu hangat dan sangat membuat nyaman. Rasanya, enggan untuk dilepaskan.


Hanya sebentar, Pak Dikta melepaskan genggaman tangan itu. Iya, dosen itu harus membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Masuklah." Suruh nya sembari menjaga dahi Aurora supaya tak terbentur pada atap mobil.


Tanpa menjawab, Aurora pun masuk seperti yang disuruh. Berkat Pak Dikta, dirinya sekarang telah duduk degan nyaman di dalam mobil.


Pakaian yang dikenakan oleh Aurora sama sekali tak terkena air hujan berbanding terbalik dengan Pak Dikta. Pakaiannya terlihat basah pada bagian lengan kirinya. Memang sih, sedari tadi ia hanya membiarkan Aurora berteduh dengan nyaman dibalik payung.


"Pakaian Pak Dikta basah." Ujar Aurora memberitahu suaminya yang saat ini tengah berusaha untuk mengenakan sabuk pengaman.


Diberitahu itu, Pak Dikta hanya melihatnya sekilas. Dosen itu tampak seperti tak peduli dengan pakaiannya yang basah.


"Tidak masalah, yang penting pakaian kamu kering." Katanya lalu memutar kemudi mobil ini.


Mobil SUV pun melaju melewati jalanan kota ini yang masih diguyur oleh hujan. Pak Dikta yang ada di kursi kemudi juga terlihat sangat fokus sampai tak ada obrolan sama sekali.


"Pak Dikta..." Panggil Aurora yang mencoba untuk membuka obrolan.


"Iya ?" Balasnya singkat tanpa menoleh.


"Sekarang kan lagi hujan, apa kita jadi beli coklat atau langsung pulang ?" Aurora bertanya seperti ini karena memang sedikit bingung mau mengambil topik apa.


"Kamu maunya gimana ?" Pak Dikta balik bertanya.


"Lebih baik pulang saja. Pakaian Pak Dikta basah, kalau dibiarkan bisa masuk angin,"


"Jangan sampai masuk angin ! Saya gak mau repot ngurusin Pak Dikta !" Larang Aurora.


Mendengar itu membuat sebuah senyuman lebar mengembang begitu saja dari mulut seorang Pak Dikta.


"Mampir dulu aja ya !" Katanya.


"Ke toko coklat ?"


"Bukan. Tapi, ke rumah saya." Ucap Pak Dikta.

__ADS_1


"Mau ngapain ke rumah, Pak Dikta ? Kita kan gak tinggal di sana ?" Tanya Aurora yang tak mengerti dengan jalan pikiran dosen itu.


"Hanya ingin berganti pakaian supaya tidak masuk angin lalu, setelahnya mengantarkan kamu ke toko coklat." Balas Pak Dikta memberitahu maksudnya.


"Pulang aja deh, Pak ! Kalau seperti itu, ribet..." Perintah Aurora yang sepertinya tak akan dituruti oleh sang suami.


"Hari ini saja. Saya takut, kalau ditunda bisa lupa. Saya tidak mau berhutang janji dengan kamu." Tutur Pak Dikta sembari mengendarai mobil menuju ke arah rumahnya yang ternyata berada di dekat sini.


...---ooOoo---...


Datang ke rumah Pak Dikta yang memiliki luas lebih besar dari rumahnya, untuk kali pertama, berhasil membuat Aurora terpukau.


Rumah yang digunakan oleh Pak Dikta sebagai tempat bernaung dan berlindung ternyata begitu besar dan terlihat sangat mewah.


Melihat rumah milik suaminya yang seperti ini, membuat Aurora semakin bertanya-tanya tentang seberapa suksesnya Pak Dikta.


"Pak Dikta gak salah rumahkan ?" Tanya Aurora sembari mengedarkan pandang pada seluk beluk rumah ini.


"Tidak."


"Ini beneran rumah Pak Dikta ?" Aurora bertanya lagi karena saking terpukau.


"Kenapa memangnya, Ra ?"


"Tidak sesuai dengan yang saya duga dan kira." Kata Aurora.


"Memangnya kamu menduga atau mengira seperti apa ?" Tanya Pak Dikta yang penasaran.


"Tidak ada. Lupakan saja." Aurora tak mau lagi melanjutkan pembahasan itu.


Jujur, memiliki rumah seperti milik Pak Dikta adalah impiannya setelah sukses nanti. Rumah yang besar dengan model modern minimalis dan hanya memiliki perpaduan warna putih, abu-abu, hitam. This is her dream house.


"Aurora ?" Panggilan dari Pak Dikta berhasil menghentikan Aurora untuk mengagumi rumah ini.


"Iya ?" Aurora membalas sambil tersenyum ceria.


"Saya mau ganti baju di kamar. Kamu bisa tunggu disini atau boleh berkeliling sesukamu." Kata Pak Dikta memberikan izinnya.


"Bolehkah saya melakukan itu ?" Aurora hanya ingin memastikan saja.


"Rumah saya adalah rumah kamu juga. Lakukan apapun yang kamu suka." Pungkasnya lalu melangkah pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua dari rumah ini.


Ditinggalkan Pak Dikta untuk sebentar, Aurora akan menunggu dengan sangat sabar. Tak usah terburu-buru karena gadis itu juga masih ingin melihat-lihat.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Mau cari suami seperti Pak Dikta dimana ya ? Olshop jual gak ya ?


.


.


.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2