
Pak Dikta selalu datang sebagai sebuah keberuntungan disaat Aurora mengalami sedikit kesialan. Iya, setelah berbicara cukup lama dengan Dekan, Pak Dikta berhasil membuat mereka semua meninggalkan hukuman itu.
"Terima kasih banyak, Pak Dikta." Kata mereka berlima, serempak dan ini membuat Aurora juga ikut tersenyum puas.
"Sama-sama. Lain kali, jangan berkelahi lagi hanya karena masalah kecil." Ujar Pak Dikta memperingati.
Mereka semua memang berhasil meninggalkan hukuman yang diberikan oleh Dekan namun, sebagai gantinya poin hukuman mereka dinaikan dua kali lipat. Entah bagus atau tidak, yang penting sekarang mereka bisa pulang.
"Ayo..." Ajak Pak Dikta kepada sang istri yang saat ini terus berada di dekatnya seakan tak mau menjauh.
"Kemana ?" Tanya Aurora.
"Pulang. Memangnya mau kemana lagi ?" Ucap Pak Dikta.
"Ya kirain, Pak Dikta mau ajak saya pergi dulu gitu." Ujar Aurora penuh harap.
Pak Dikta tersenyum lalu menyentuh serta mengusap lembut wajah sang istri.
"Saya mau mengajak mu pergi tapi, tidak sekarang. Pekerjaan saya masih banyak." Kata Pak Dikta mencoba memberi pengertian pada Aurora.
"Pekerjaan di rumah sakit ?" Tanya Aurora.
Pak Dikta mengangguk.
"Saya meninggalkan pekerjaan itu hanya untuk datang kesini menemui kamu." Ujar Pak Dikta.
"Gak ada yang minta Pak Dikta datang."
"Saya terlalu cemas untuk tidak datang." Ungkap Pak Dikta lalu melajukan mobilnya ke jalanan kota malam ini.
Pak Dikta akan mengantar Aurora pulang terlebih dahulu baru setelahnya ia akan kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum usai. Benarkah untuk pekerjaan ? Bukan karena ada dokter Tasia di sana ? Kenapa setiap Aurora ingin mempercayai suaminya selalu saja pikiran yang berlebihan itu kembali muncul.
Sambil Pak Dikta yang tengah menyetir, Aurora mengambil ponselnya lalu kembali membuka postingan foto dari akun gosip. Aurora mencoba memberanikan diri untuk bertanya daripada ia harus dibuat overthinking terus.
Apapun jawabannya Pak Dikta nanti, jika semisal Aurora merasa kalau suaminya itu masih ada rasa untuk sang mantan pacar, Aurora akan ikhlas dan menyerah, merelakan suaminya itu dengan kebahagiaan. Masa sih, Pak Dikta masih menaruh rasa kepada sang mantan kekasih ā dokter Tasia ? Lalu yang kemarin itu apa ? Saat Pak Dikta mengungkapkan perasaannya. Apa hanya untuk main-main dan bercanda ?
"Pak Dikta..." Panggil Aurora dengan suara yang tak terlalu kencang.
Pak Dikta membalasnya dengan sebuah deheman lalu untuk sekilas menoleh ke arah sang istri.
"Mau tanya, boleh ?" Aurora meminta izin sebelum berbicara.
"Tanya apa ?"
Meski sedikit ragu, Aurora harus bertanya untuk mendapatkan sebuah kejelasan. Semoga tidak seperti yang waktu itu, saat Pak Dikta hanya bisa mengucapkan maaf tanpa memberikan penjelasan apapun.
"Tadi, waktu saya buka hp... Gak sengaja nemuin foto ini. Postingan dari salah satu akun gosip." Kata Aurora sambil menunjukan postingan itu.
Pak Dikta melihat tapi, hanya sepintas. Tak bisa terlalu lama karena lagi fokus menyetir.
"Lalu ?" Tanya Pak Dikta yang ingin tahu soal permasalahannya.
"Yang Pak Dikta peluk itu dokter Tasia kan ?" Aurora bertanya dengan berani.
Tak sungkan Pak Dikta mengangguk. Ini berarti ia membenarkan soal foto itu.
"Dokter Tasia itu mantan Pak Dikta ?" Aurora bertanya lagi dan jawaban Pak Dikta selalu sama.
"Pak Dikta masih sayang sama dokter Tasia ?" Pertanyaan Aurora yang seperti ini berhasil membuat Pak Dikta menghentikan mobilnya secara mendadak.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Pak Dikta dengan tegas sambil melihat ke arah sang istri.
Aurora mengangguk dan pandangan gadis itu hanya melihat ke arah jalanan. Seakan enggan untuk bertatapan dengan sang suami.
"Apa itu yang menganggu pikiranmu ?" Giliran Pak Dikta untuk bertanya.
"Iya," Aurora mengangguk. "Sangat menganggu dan selalu buat saya kesal." Ungkapnya jujur.
"Jangan terlalu dipikirkan ! Lebih baik kamu pikiran soal kuliah." Perintah Pak Dikta lalu kembali melajukan mobilnya.
Meski belum pasti, Aurora menduga kalau suaminya itu seperti tak ingin terlalu membahas soal dokter Tasia. Maka dari itu, dirinya memutuskan untuk berhenti bertanya. Padahal sejujurnya, masih banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan.
Setelah menanyakan itu, Aurora terus saja diam dan hanya memandangi jalanan kota malam ini yang terbilang cukup indah karena banyak lampu jalanan yang dinyalakan.
Suasana di dalam mobil cukup hening, tidak ada pembicaraan yang berlangsung. Sampai akhirnya, Pak Dikta kembali membuka mulutnya.
"Dokter Tasia memang mantan saya tapi, itu dulu. Sekarang hubungan kamu tidak seperti yang akun gosip itu katakan." Ucap Pak Dikta yang langsung membuat Aurora menoleh ke arahnya.
"Maksud saya, kalau memang Pak Dikta masih menyimpan rasa sama dokter Tasia..." Untuk sejenak Aurora memberikan jeda pada ucapannya ini.
"...saya bakal menyerah dan membiarkan Pak Dikta supaya bisa bersama dengan dokter Tasia." Sambungnya yang entah itu sesuai keinginan hati nuraninya atau tidak.
"Tidak ada yang seperti itu, Rara ! Bisakah kamu mempercayai saya daripada gosip di luaran sana ?" Kata Pak Dikta.
"Saya selalu mempercayai Pak Dikta tapi terkadang ada hal yang membuat saya ragu." Ungkap Aurora jujur.
"Itu berarti kamu belum mempercayai saya sepenuhnya." Ujarnya.
"I'll try to trust you." Ucap Aurora sambil tersenyum tipis.
"Trust me... I never thought of cheating you but, what I always thought was how to make you always happy." Perkataan Pak Dikta yang seperti ini terdengar cukup meyakinkan.
"I'm gonna be try." Kata Pak Dikta.
Walaupun Pak Dikta tak mengatakan atau menjelaskan secara jelas dan mendetail, Aurora merasa semua ucapan yang keluar dari mulut Pak Dikta itu lebih dari cukup. Iya, cukup untuk membuat dirinya berhenti overthinking.
Aurora akan menanamkan dalam pikirannya kalau Pak Dikta hanya mencintainya dan dirinya adalah satu-satunya wanita untuk Pak Dikta tak ada yang lain.
...š„š„š„...
Di balkon kamarnya, terlihat Aurora yang tengah duduk sendirian menatap ke arah langit malam yang dipenuhi bintang-bintang sambil mendengarkan lagu lewat earphone nya.
Hari sudah semakin larut dan angin malam yang menyentuh kulit terasa begitu dingin tapi, Aurora masih belum ada niat untuk masuk ke kamar dan tidur.
Rupanya, gadis itu berniat untuk menunggu kepulangan sang suami yang sampai tengah malam lebih belum kunjung pulang.
Tadi memang, sang suami sempat pulang tapi hanya untuk mengantar dan setelahnya kembali berangkat ke rumah sakit. Aurora juga tak terlalu tahu pekerjaan apa yang sedang sang suami kerjakan sampai lupa waktu.
Rasa kantuk memang terus menghampiri tetapi, Aurora berusaha sebisa mungkin untuk tetap terjaga. Ia sudah berniat menunggu Pak Dikta sampai pulang.
Waktu terus bergerak dengan cepat dan Aurora masih setia menunggu dengan sabar kepulangan suaminya itu. Mau sampai kapan dirinya harus dibuat menunggu ? Entahlah, dia sendiri juga tak tahu jawaban pastinya.
"Kapan Pak Dikta pulang ?" Tanyanya sembari melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua lewat lima belas, dini hari.
Apakah Aurora akan dibuat terjaga semalaman ? Masalahnya juga, tadi sempat Aurora mengirimkan sebuah pesan dan bertanya kepada Pak Dikta mengenai kepulangannya namun, sama sekali belum ada jawaban. Pesan itu dibaca juga tidak, ya masa mau minta jawaban.
Aurora benar-benar tak bisa terjaga lebih lama lagi. Iya, rasa kantuknya mulai menyerang lagi dan kali ini lebih tidak tertahankan. Berusaha tapi gagal, Aurora sekarang sudah masuk ke alam mimpi. Tidur sambil duduk di kursi balkon dan membiarkan tubuhnya terkena sepoi-sepoi angin malam.
Dua puluh menit setelah Aurora tertidur di balkon, suara deru mobil terdengar mulai memasuki garasi dari rumah ini. Suara ini cukup kencang namun, sama sekali tak bisa membuat Aurora bangun.
__ADS_1
Iya, itu suara deru mobil milik Pak Dikta yang baru saja tiba setelah pulang bekerja.
Pekerjaan apa yang dikerjakan oleh Pak Dikta ? Apa begitu berat dan melelahkan sampai membuat wajahnya terlihat begitu pucat ?
Pak Dikta tahu soal kondisinya yang memang sudah begitu lelah dan butuh istirahat. Maka dari itu, tak ingin membuang waktu lebih lama, ia langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah lalu pergi menuju ke kamar.
Baru saja tiba di kamar, Pak Dikta sama sekali tak bisa melihat sosok sang istri. Ini yang membuatnya bertanya-tanya dan langsung mencari.
Ternyata, Pak Dikta berhasil menemukan istrinya itu tengah tertidur di kursi yang ada pada balkon kamar.
Dalam tidurnya Aurora kelihatan begitu pulas. Pak Dikta jadi tidak tega kalau harus membangunkannya. Maka dari itu dengan berani dan tanpa keraguan, Pak Dikta menggendong tubuh Aurora yang sama sekali tidak berat dalam posisi ala bride style.
Pak Dikta harus memindahkan istrinya itu ke ranjang supaya bisa tidur dengan lebih nyaman.
Perlahan-lahan, mencoba sebisa mungkin untuk tidak membangunkan, Pak Dikta meletakkan tubuh Aurora ke atas ranjang empuk yang ada di kamar ini.
Pergerakan kecil dibuat Aurora tapi, tidak sampai membuatnya bangun. Aurora hanya ingin membenarkan posisi tidurnya.
Dengan sangat baik Pak Dikta mengurus istrinya itu. Bahkan ia juga menutupi tubuh Aurora dengan selimut supaya lebih hangat.
Setelah melakukan itu, untuk sebentar, Pak Dikta duduk tepat di samping Aurora sambil mengusap lembut wajahnya. Tak cuma itu, Pak Dikta juga menatapnya tapi, tatapannya terlihat berbeda tidak seperti biasanya. Iya, tatapannya tampak sedih.
"Maaf tapi, sepertinya saya tidak bisa selamanya ada di samping kamu. Meskipun saya ingin tapi, Tuhan tak mengizinkannya." Kata Pak Dikta yang entah apa arti dan maksudnya.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Pak Dikta gak berniat ninggalin Rara kan ? Maksudnya ngomong seperti itu apa ? Jangan buat Rara sakit karena kepergian Pak Dikta !
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1