
Sudah sejak tadi, semenjak Pak Dikta pergi keluar dari rumah ini, Aurora masih saja duduk diam di meja belajarnya sambil terus memandangi surat perceraian yang sudah dibubuhi tanda tangan milik sang suami.
Entah mengapa, setelah dipikirkan lebih lagi, Aurora merasa kalau apa yang dilakukannya ini salah. Berkas perceraian saja masih belum masuk ke pengadilan tapi, mengapa Aurora merasa bimbang dan bingung ?
Di usianya yang masih bilang sangat muda ini, Aurora mengakui kalau dirinya memang sangat labil. Suka mengambil keputusan yang terburu-buru, egois dan keras kepala.
Kenapa Aurora malah meminta cerai daripada mencari tahu kebenarannya dan bertanya apa yang sedang terjadi ? Bukankah dari perceraian ini yang paling dilukai adalah bayi kecilnya yang bahkan belum lahir ?
Bagaimana mungkin Aurora setega itu membiarkan bayinya tumbuh tanpa seorang ayah ?
Jika berbicara tentang perpisahan ini untuk sebuah kebaikan, kebaikan mana yang dimaksud ? Tidak ada kebaikan sama sekali dan justru perceraian akan melukai perasaan.
Aurora mengambil surat cerai itu dari atas meja lalu dilihatnya dengan baik-baik tanda tangan milik Pak Dikta yang sudah ada di atas kertas itu.
Aurora dibuat berpikir, apakah dirinya juga harus membubuhkan tanda tangan di surat cerai itu ? Atau memilih untuk memperbaiki kekacauan yang dibuatnya sendiri sebelum benar-benar terlambat ?
Jujur, kalau Aurora terus saja bersikap keras kepala pada keputusannya yang salah ini, sebuah penyesalan pasti akan menghampirinya.
Disaat Aurora tengah terlarut dalam pikirannya akan keputusan ini, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar. Aurora pun bergegas menaruh kembali surat cerai itu pada atas meja.
Pintu terbuka dan terlihat dengan jelas oleh kedua matanya sosok sang ibunda yang sedang membawa segelas susu untuknya.
"Apa bunda menganggu waktu kamu ?" Tanya sang ibunda sambil tersenyum.
"Tidak sama sekali. Rara masih senggang." Jawab Aurora.
"Bunda kemari untuk memberikan susu ini dan ingin bertanya sesuatu sama kamu." Ucap sang ibunda menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Ah, kalau begitu kita bicara di dalam saja." Aurora mempersilahkan sang ibunda untuk masuk ke kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar, sang ibunda langsung meletakan segelas susu itu pada meja belajar lalu memposisikan diri untuk duduk di salah satu kursi yang ada di kamar.
Aurora yang juga ada di kamar ini sudah terlihat duduk pada pinggiran ranjang.
"Apa yang ingin bunda tanyakan ?"
"Apa benar kamu dan Nak Dikta akan bercerai ?" Tanpa basa-basi pertanyaan ini keluar dari mulut sang ibunda.
Aurora yang mendengarnya langsung menundukkan kepala. Kelihatan dengan sangat jelas kalau gadis itu tengah bimbang.
"Tidak tahu, Bunda." Jawab Aurora yang sesuai dengan kondisi pikirannya sekarang.
"Kenapa tidak tahu ? Bukankah kamu tadi sudah memaksa Nak Dikta untuk menandatangani surat perceraian ?"
"Iya tapi, hanya Mas Dikta yang menandatanganinya. Rara belum melakukannya." Jujur Aurora.
"Kenapa belum ? Apa sekarang kamu merasa ragu untuk melakukan itu ? Kamu akan mengubah keputusanmu lagi seperti sebelumnya ?" Tanya sang ibunda seakan tahu persis dengan sifat putrinya yang selalu labil.
"Di satu sisi Rara merasa menyesal dan di sisi lain Rara juga kecewa." Katanya.
"Bunda memang tak terlalu tahu apa masalahnya tapi, apapun itu perceraian bukan keputusan yang bagus. Itu akan melukai diri kamu, Nak Dikta dan anak yang ada di perut kamu." Tegur sang ibunda yang juga tidak terlalu mendukung keputusan Aurora soal perceraian.
Aurora masih saja terdiam. Ia tak tahu harus merespon seperti apa mengenai teguran dari sang ibunda. Terlalu banyak hal yang sedang dipikirkannya.
"Bunda sama sekali tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kenapa rela melepaskan orang yang begitu kamu cintai ? Kamu bahkan tidak berusaha untuk mempertahankan." Sepertinya ibunya juga merasa kesal atas sikap Aurora yang selalu mengambil keputusan secara seenaknya tanpa memikirkan lebih jauh ke depan.
"Apa begitu susah untuk memberi kesempatan dan mendengarkan penjelasan ? Nak Dikta pasti punya penjelasan atas semua yang dilakukannya." Ibunya bukan berpihak tapi, hanya ingin memberitahu Aurora apa yang seharusnya.
"Rara hanya berpikir kalau bahagianya Pak Dikta itu bukan sama Rara." Kata Aurora dengan suara sayu.
"Memang bahagianya Pak Dikta sama siapa ?" Tanya sang ibunda lagi dan kali ini membutuhkan jawaban yang tepat.
"Mungkin, dokter Tasia." Balas Aurora tak ragu.
"Yakin ? Kalau salah, kamu yang akan menyesal." Ucap sang ibunda memperingati.
"Bunda harap kamu bisa berhenti egois dan mengambil keputusan dengan benar." Ujar sang ibunda sebelum pergi.
__ADS_1
"Jangan lupa untuk minum susu ! Bayi kamu harus sehat." Tutup sang ibunda yang langsung keluar dari kamar ini meninggalkan putrinya supaya bisa kembali memikirkan matang-matang akan keputusan untuk bercerai.
...---ooOoo---...
Ibunya pergi meninggalkannya dengan raut wajah kecewa. Aurora bisa melihatnya dengan jelas. Untuk kali pertama, terjadi perdebatan antar dirinya dan sang ibu.
Sebenarnya semua perkataan yang dilontarkan oleh ibunya itu benar dan Aurora sangat menyadari akan hal itu. Jadi, sekarang bagaimana ?
Aurora mengambil surat cerai itu dari atas meja belajarnya lalu dengan penuh keyakinan ia merobeknya menjadi beberapa bagian lalu membuangnya ke tempat sampah.
Perceraian ? Aurora tidak akan melakukannya karena ia sama sekali tak mau menyesal. Apa sekarang belum terlambat ? Masih ada kesempatan baginya untuk memperbaiki kan ?
Setelah membuang surat cerai itu ke tempat sampah, Aurora bergegas keluar dari kamar. Meski sudah malam, Aurora akan menyusul dan menemui Pak Dikta di kediamannya.
Dengan masih mengenakan piyama tidur, Aurora cepat-cepat menuruni anak tangga lalu menyambar sebuah kunci mobil milik sang ibunda. Supaya bisa lebih cepat menuju rumah Pak Dikta, Aurora akan meminjam mobil sang ibunda.
"Bunda, pinjam mobil." Kata Aurora meminta izin.
"Mau kemana ?" Tanya sang ibunda yang sama sekali tak mendapatkan jawaban karena Aurora memang bergerak secepat itu.
Aurora sedang sangat terburu-buru jadi, tak ada banyak waktu untuk menjawab apapun.
Meski terlihat jarang, Aurora sebenarnya bisa menyetir mobil karena sang ayah sempat mengajarinya. Menyetir mobil bukanlah sesuatu yang susah untuk dilakukan.
Setelah sabuk pengaman dipasang, Aurora bergegas untuk melajukan mobil melintasi jalanan kota malam ini yang terbilang ramai lancar.
Jika dikira-kira, mungkin dalam waktu dua puluh menit Aurora bisa tiba di rumah pribadi milik Pak Dikta.
.
.
.
Apa Aurora memang sudah terlambat ? Apakah penyesalan datang secepat ini ?
Aurora mencoba mengingat-ingat kembali, takutnya ia salah rumah akan tetapi, semakin diingat justru ia semakin merasa kalau ini memang kediaman milik suaminya.
Bukan hanya itu ketika Aurora turun dari mobil dan bermaksud untuk menekan bel, Aurora menemukan kalau pagarnya ditutup rapat oleh gembok dan rantai.
Ini masih rumah Pak Dikta kan ? Tapi, kenapa kelihatan seperti ini ? Pak Dikta belum benar-benar pergi kan ? Aurora masih bisa bertemu Pak Dikta disini kan ?
Karena tujuan Aurora adalah untuk bertemu dengan sang suami, gadis itu tak segan untuk berteriak dengan kencang memanggil-manggil nama Pak Dikta.
Aurora sangat berharap mendapatkan sebuah sahutan atau ada seseorang siapapun itu yang datang menghampirinya.
Tetapi, nyatanya semua itu hanyalah sebuah harapan belaka. Beberapa kali dipanggil sampai tenggorokan terasa kering, tak ada satupun orang yang menyahut atau mendatanginya.
Karena sudah tahu usahanya yang seperti ini sia-sia, Aurora pun kembali masuk ke mobil lalu mengambil ponsel miliknya. Iya, dirinya berniat untuk menghubungi Pak Dikta dan memberitahu keberadaannya sekarang.
Satu panggilan sama sekali tak dijawab. Bahkan nada sambung pun tak terdengar. Ponsel Pak Dikta masih menyalakan ?
Beberapa kali dicoba hasilnya tetap sama. Apa Aurora akan menyerah sekarang ? Tentu saja tidak.
Aurora pun memutuskan untuk mengirim sebuah pesan spam ke suaminya itu dengan harapan akan mendapat balasan.
Ini tidak seperti biasanya. Pesan singkat yang dikirimkan oleh Aurora hanya mendapatkan centang satu.
Jangan bilang kalau saat ini Pak Dikta sedang marah pada Aurora ? Sampai-sampai tak mau menjawab panggilan bahkan pesan dari Aurora. Tapi, apa itu mungkin ? Marah sampai bisa meninggalkan rumahnya ?
| Mode Chat |
...------------------------...
...Si Resek ā£ļø...
...------------------------...
__ADS_1
^^^Aurora :^^^
^^^Pak Dikta dimana ?^^^
^^^Saya mau ketemu sama Pak Dikta.^^^
^^^Sekarang saya ada di depan rumah tapi, kosong.^^^
^^^Pak Dikta gak marah sam saya kan ?^^^
^^^Saya minta maaf karena bersikap labil, egois, berpikiran pendek.^^^
^^^Saya memang belum sepenuhnya dewasa.^^^
^^^Saya minta maaf...^^^
^^^Saya gak jadi minta cerai.^^^
^^^Surat cerainya sudah saya sobek.^^^
^^^Pak Dikta jangan pergi ! Saya masih mau lihat senyuman Pak Dikta.^^^
^^^Pak Dikta ?^^^
^^^Tolong balas pesan saya !^^^
^^^Pak ?^^^
^^^Pak ?^^^
^^^Pak Dikta ?^^^
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Apa penyesalan memang selalu datang secepat ini ?
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1