
..."...dan izinkan aku, memeluk dirimu kali ini saja. 'Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja."...
...- Ungu, Cinta Dalam Hati....
.......
.......
.......
Dua minggu berlalu, seharusnya hari ini Pak Dikta kembali pulang setelah melakukan sebuah urusan 'pekerjaan' di negeri orang.
Awalnya memang Aurora sangat menanti kepulangan Pak Dikta. Dirinya hanya tidak sabar memberitahukan kabar bahagia tentang kehamilannya ini kepada sang suami. Namun, setelah mendapatkan sebuah foto dari nomor tidak dikenal, Aurora hanya ingin menunggu kepulangan Pak Dikta karena ingin membahas soal perceraian.
Niat Aurora untuk bercerai dari Pak Dikta sudah benar-benar bulat. Keputusannya kali ini sama sekali tak bisa diganggu gugat. Pertama kali jatuh cinta dengan sosok Pak Dikta, Aurora sangat dibuat bahagia sampai tidak ingin kehilangan tapi, sekarang perasaan kecewa karena Pak Dikta hadir memenuhi dirinya.
Aurora kecewa karena Pak Dikta sama sekali tak mau jujur akan perasaannya sendiri kalau memang masih menaruh hati dengan Dokter Tasia dan juga kecewa karena Pak Dikta berhasil memainkan perasaannya.
Jika sudah seperti ini, bukankah lebih baik untuk menghentikan dan memilih mundur demi kebaikan bersama.
"Ini kenapa di meja ada berkas perceraian ?" Tanya Pak Dikta yang baru saja tiba namun, langsung mendapatkan sebuah surat cerai.
"Sengaja saya taruh." Ujar Aurora dengan tegas sambil memasang wajah datar.
"Kamu mau minta cerai ?" Tanya Pak Dikta yang masih dibuat bertanya-tanya akan alasan kenapa sang istri melakukan hal seperti ini.
"Iya." Singkat Aurora.
"Tapi kenapa ? Apa saya sudah berbuat kesalahan ?"
Aurora terdiam sejenak lalu memberanikan diri untuk menatap suaminya itu. Tidak tahu mengapa kalau dilihat setelah pulang dari Australia, Pak Dikta terlihat berbeda. Wajahnya tampak cukup pucat daripada biasanya.
"Saya merasa gak sanggup lagi dengan kelas bapak yang semakin hari semakin menyulitkan. Semuanya sulit dan saya ingin menyerah. Saya capek." Katanya yang tidak memberitahu secara gamblang tentang alasan sesungguhnya.
Pak Dikta tidak mengerti sama sekali. Apakah ini adalah sebuah kekonyolan ? Bagaimana mungkin perceraian terjadi hanya karena alasan yang tidak masuk diakal ?
Pak Dikta menghela napas berusaha untuk menenangkan dirinya dan berpikir jernih. Mau bagaimanapun perceraian tidak boleh terjadi.
"Besok, materi pembelajaran akan saya permudah. Jadi, jangan cerai ya Rara !" Pinta Pak Dikta mencoba mencegah hal buruk ini terjadi.
Untuk sesaat Aurora terhenyak dalam pikirannya mencari alasan lainnya. Mau bagaimanapun cara, ia harus membuat Pak Dikta menandatangani surat cerai itu.
"Pagi ini, saya minum kopi dan sangat kecewa akan rasanya. Jadi, saya mau cerai sama Pak Dikta." Ucap Aurora sedikit mendesak.
"Lalu ? Apa kamu lupa menambahkan gula ke dalamnya ?" Tanya Pak Dikta berusaha untuk hanya mengikuti alur yang telah dibuat Aurora.
"Sudah tapi, saya tetap kecewa. Jadi, saya ingin bercerai dari Pak Dikta." Pinta Aurora lagi.
__ADS_1
"Nanti saya buatkan lagi kopi dengan rasa yang tidak akan membuat kamu kecewa. Jadi, jangan cerai ya Rara !" Pak Dikta menolak keras perceraian ini. Lelaki itu masih sangat ingin mempertahankan rumah tangganya selagi ada waktu dan kesempatan.
Aurora sekarang sadar, sangat tahu persis kalau dirinya harus memberikan alasan yang sesungguhnya kepada Pak Dikta. Aurora tak bisa kalau hanya dengan kode-kode seperti itu karena mau sampai kapanpun Pak Dikta tak akan bisa mengerti.
Maka dari itu, Aurora mencoba dengan berani mengungkapkan segalanya, alasan yang berhasil membuat dirinya ingin bercerai dari lelaki bernama Dikta itu.
"Pernikahan ini gak bisa dilanjutkan lagi," ucap Aurora yang berhasil membuat Pak Dikta terhenyak.
"Saya sudah tak memiliki kepercayaan lagi kepada Pak Dikta," katanya lagi yang kali ini sambil menatap kedua bola mata milik Pak Dikta.
"Saya sangat kecewa dengan ketidakjujuran dari Pak Dikta." Ungkapnya sesuai perasaannya.
"Ketidakjujuran ? Apa saya berbohong sama kamu ?" Tanya Pak Dikta bingung.
"Pak Dikta bohong soal perasaan. Bapak bilang sudah tidak memiliki perasaan kepada dokter Tasia dan ternyata itu semua bullshit !" Jika menyangkut ini, Aurora sudah tak bisa menahan emosinya. Dia berkata seperti ini dengan suara meninggi.
"Saya memang tak memiliki perasaan dengan Tasia. Dia hanya masa lalu." Pak Dikta menyangkal tuduhan yang dilontarkan oleh Aurora.
"Kalau memang gak ada perasaan, kenapa pergi ke Australia ? Saya tahu itu bukan karena pekerjaan ! Pak Dikta mending stop bohongin saya. Saya capek kalau harus dipermainkan seperti ini !" Bentak Aurora.
Untuk kali pertama dalam pernikahan ini, pertengkaran terjadi diantara keduanya dan parahnya Aurora berani membentak suaminya itu.
"Saya tidak bohong, Rara ! Hubungan saya dengan Tasia tidak lebih dari sebuah urusan. Perasaan saya cuma untuk kamu dan saya tidak pernah sekalipun mempermainkan kamu." Pak Dikta berusaha untuk memperjelas kesalahpahaman ini.
"Pak Dikta bilang sayang ke saya tapi, ternyata hatinya memang bukan untuk saya." Ujar Aurora yang jelas-jelas sudah tak mempercayai suaminya.
"Itu lebih menyakitkan, Pak ! Lebih baik Pak Dikta sakiti saya secara langsung daripada harus berpura-pura punya perasaan." Tambahnya.
Untuk sebentar, Pak Dikta terdiam sambil beberapa kali menepuk dadanya. Rupanya lelaki itu tengah berpikir, mencoba untuk mencari jalan tengah dari permasalahan ini.
"Jadi, apa yang kamu mau ?" Tanya Pak Dikta.
"Bercerai." Jawab Aurora singkat namun, terkesan tegas.
Meski ragu, Pak Dikta melihat surat perceraian itu lalu ia bergegas untuk mengambil pulpen dan membubuhkan tandatangan pada kertas itu.
Tadi, Pak Dikta sempat untuk berusaha keras mempertahankan tetapi sekarang, kenapa dia menyerah ?
"Saya menuruti apa yang kamu mau. Ini bukti kalau saya memang sayang sama kamu dan ini bukan suatu kepura-puraan." Pungkas Pak Dikta sembari memberikan surat cerai yang sudah ditandatangani kepada Aurora.
Suasana diantara mereka terasa begitu dingin. Saling bertukar pandang untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar berpisah. Awalnya, Aurora berencana untuk tidak menangis namun, entah mengapa air mata malah jatuh membasahi pipinya.
Aurora yang memutuskan untuk bercerai dan dirinya juga yang menangis. Jika tidak siap dengan keputusan ini, kenapa harus dilakukan ?
Pak Dikta sudah melakukan tugas dengan baik dan sepertinya kehadirannya disini sudah tak berarti lagi. Oleh karena itu, Pak Dikta memutuskan untuk pergi dengan membawa tas koper yang isinya masih belum dibongkar.
"Jaga diri baik-baik, tetap bahagia. Aku pamit." Tukas Pak Dikta lalu melenggang pergi begitu saja.
"Pak Dikta..." Panggil Aurora tiba-tiba.
__ADS_1
Aurora tak ada niat untuk mengubah keputusannya kan ? Bukankah memang Aurora itu seseorang yang cukup plin plan ?
Pak Dikta menoleh dengan cepat. Ia kembali menatap Aurora dengan penuh harap.
"Terima kasih..." Kata Aurora yang ternyata sudah kekeh sama keputusan untuk bercerai.
"Aku pasti akan menjaga diri baik-baik dan..." Lanjut Aurora tapi sengaja tak dilanjutkan.
Pak Dikta hanya membalasnya dengan senyuman lebar. Meskipun belum ikhlas untuk melepaskan tapi, sekarang apa yang bisa dilakukan oleh Pak Dikta ? Kalau memang Aurora tak ingin mempertahankan pernikahan ini.
Dengan langkah yang terlihat tak terlalu bersemangat Pak Dikta berjalan keluar meninggalkan rumah ini dan juga Aurora.
Tidak tahu, apakah mereka bisa bertemu kembali setelah perpisahan ini. Mereka sama-sama tidak tahu tentang garisan takdir Tuhan. Menjalani apa yang ada, itulah yang dilakukan termasuk dengan perpisahan ini.
"Aku akan menjaga anak kita dengan baik juga." Sambung Aurora yang bergumam di dalam hati.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Kesel banget gak sih sama Aurora ? Kenapa dia harus membuat keputusan yang terburu-buru ? Dia juga gak mau mendengarkan penjelasan dari Pak Dikta ? Apa dia tak berpikir soal anak yang sedang dikandungnya ? Bagaimana mungkin ia membiarkan anaknya tumbuh tanpa seorang ayah ? Keputusan yang egois bukan gak sih ?
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^