
Sebuah mobil SUV berwarna hitam yang dikendarai oleh Pak Dikta terlihat tengah berhenti tepat di depan gerbang kampus.
Untuk kali pertama setelah menikah, Aurora menyetujui untuk diantar ke kampus oleh Pak Dikta. Biasanya, jika ditawari akan hal ini selalu saja menolak dan lebih memilih untuk naik taksi online.
Sebenarnya Aurora juga ingin menolak tapi, karena kebodohannya yang lupa dengan jadwal kelas — Aurora kira kelasnya itu masih nanti sore, terpaksa harus meminta bantuan kepada Pak Dikta untuk mengantar.
Untung saja, hari ini Pak Dikta tidak terlalu sibuk. Jadinya, bisa dengan senang hati mengantarkan sang istri pergi ke kampus.
"Pak Dikta, terima kasih ya !" Ucap Aurora sembari tersenyum hangat ke arah sang suami.
"Sama-sama, Rara..." Jawab singkat Pak Dikta.
Aurora tak punya banyak waktu lagi untuk tetap di dalam mobil ini. Waktu sedang memburunya sekarang. Dengan tergesa-gesa, dirinya mencoba untuk melepaskan sabuk pengaman supaya bisa keluar dari mobil ini. Namun, sayangnya sabuk pengaman itu tidak mau berkompromi dengan dirinya. Aurora kesusahan untuk melepaskan sabuk pengaman itu.
"Kenapa, Rara ?" Tanya Pak Dikta yang menyadari kalau sang istri tak kunjung turun dari mobil.
"Sepertinya, sabuk pengamannya stuck. Tidak bisa dilepaskan." Ujar Aurora memberitahu.
Tanpa berbicara lebih banyak lagi, Pak Dikta pun dengan berani mendekatkan tubuhnya kepada Aurora. Ia hanya bermaksud untuk membantu melepaskan sabuk pengaman itu.
Entah mengapa, memiliki jarak yang sedekat ini dengan Pak Dikta membuat jantung Aurora berdebar-debar. Pipinya juga terlihat merona merah. Kenapa belakangan ini Aurora terus merasakan hal seperti ini ?
"Sudah lepas." Kata Pak Dikta setelah berhasil melepaskan sabuk pengaman dari sang istri.
Aurora menelan ludahnya, merasa lega ketika Pak Dikta menarik tubuhnya menjauh. Jika seperti ini, ia bisa lebih mudah mengontrol kecepatan detak jantungnya.
"Kenapa begitu mudah ?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Memang mudah. Kamu tadi tidak melepasnya dengan benar." Ujar Pak Dikta menjawab pertanyaan itu.
Aurora tersenyum tipis lalu membuka pintu mobil. Iya, gadis itu harus segera turun dan menuju ke kelas karena dalam lima belas menit kelas siangnya akan dimulai.
"Saya masuk dulu. Sampai bertemu nanti..." Kata Aurora berpamitan sebelum benar-benar meninggalkan sang suami.
"Perlu di jemput ?" Tanya Pak Dikta memberi penawaran dan sangat berharap kalau Aurora tidak menolaknya.
Seperti biasa Aurora menggeleng.
"Saya pulang naik taksi online saja." Tolak Aurora yang sudah menjadi kebiasannya.
"Okay," Pak Dikta juga tak ingin memaksakan kehendak.
"Pulang dengan selamat ya, Rara ! Saya tunggu kamu di rumah." Pinta Pak Dikta.
"Pulang ke rumah Pak Dikta atau rumah bunda ?" Tanya Aurora.
"Terserah kamu. Toh, saya juga tidak akan jauh-jauh dari kamu. Dimana ada kamu, saya juga akan ada di sana." Kata Pak Dikta yang terdengar seperti sebuah gombalan.
Aurora dibuat terkekeh karena perkataan Pak Dikta itu.
__ADS_1
Tidak berbincang lebih banyak dan lama, Aurora pun melangkahkan kaki keluar dari mobil ini lalu bergegas untuk masuk ke dalam gedung kampus menuju ruang kelasnya.
Cuacanya cerah dan sangat mendukung dengan suasana hati Aurora. Entah mengapa, hari ini rasanya begitu membahagiakan. Aurora bahkan tak bisa berhenti tersenyum.
...---ooOoo---...
Sosok Aurora sudah menghilang begitu saja dari pandangan Pak Dikta. Setelah benar-benar memastikan istrinya datang ke kampus, Pak Dikta pun bergegas untuk melajukan kembali mobilnya.
Hari ini, meskipun jadwalnya tidak terlalu banyak atau bisa dikatakan bahwa Pak Dikta tak terlalu sibuk, dirinya tetap harus datang ke rumah sakit. Masih ada pasien yang perlu diperiksa olehnya.
Namun, ketika Pak Dikta ingin memacu kendaraannya tiba-tiba ia mendapatkan sebuah pesan singkat dari seseorang.
Selagi belum mengemudi, Pak Dikta tak ragu untuk membaca pesan itu terlebih dahulu dan ya, sebuah senyuman terlukis begitu saja di wajahnya seusai membaca pesan singkat itu.
Tak hanya membaca, Pak Dikta juga melemparkan sebuah balasan. Entah siapa orang yang mengirim pesan itu ? Tidak mungkin kalau Aurora ?
...🥀🥀🥀...
Aurora berjalan dengan tergesa-gesa melewati koridor kampus. Waktu benar-benar sangat memburunya, kalau tidak cepat dia bisa terlambat masuk kelas siang.
Aurora langsung menghela napas lega ketika ia berhasil tiba di kelas sebelum Pak Dosen datang. Ia tahu kalau terlambat masuk bisa langsung dikeluarkan karena dosen yang mengajar adalah Bu Risma — dosen perempuan yang terkenal akan kedisiplinan.
Baru saja sampai dan baru mau mengambil tempat duduk bersama ketiga temannya — yang memang sudah ada di kelas sejak tadi, tanpa sengaja Aurora mendengar bisik-bisik gosip.
Awalnya Aurora tak terlalu mempedulikan orang-orang yang suka bergosip itu tapi, ketika ada mendengar ada nama Pak Dikta dan dokter Tasia disebut, Aurora dibuat penasaran.
Aurora ingin bertanya langsung kepada mereka yang sedang bergosip tapi, Bu Siska sudah datang dan siap memulai kelasnya.
Kelas yang dibawakan oleh Bu Siska pun dimulai namun, Aurora masih belum bisa fokus. Iya, pikirannya masih dibuat bertanya-tanya tentang gosip apa yang tengah beredar.
Sampai pada akhirnya, Aurora memutuskan untuk mencari tahu disini. Di kampus ini kalau ada gosip atau rumor itu sangat cepat tersebar dan pastinya mudah untuk dicari tahu.
Aurora mengambil ponselnya yang ada di dalam tas lalu, tak ragu untuk membuka aplikasi Twitter. Biasanya sih, gosip atau rumor menyebar di sana.
Tidak butuh banyak waktu, Aurora tahu apa yang sedang menjadi gosip di kampus ini. Tanpa perlu bertanya 'ada apa' kepada mereka, Aurora bisa menemukan jawabannya sendiri.
Membaca itu dan semua komentar dari netizen membuat Aurora tercengang. Banyak orang yang meninggalkan komentar, menginginkan kalau Pak Dikta dan dokter Tasia balikan. Mendoakan kalau mereka berdua bisa menikah.
Seketika dadanya berasa begitu sakit dan sesak apalagi ditambah dengan amarah yang ingin ditumpahkan sekarang juga.
Resiko kalau menyembunyikan pernikahan ya, seperti ini. Banyak orang masih mengira kalau Pak Dikta itu lajang.
Aurora terus saja sibuk membaca semua komentar yang ada sampai-sampai lupa dengan Bu Siska yang saat ini tengah menyampaikan materi pembelajaran.
Keysha yang duduk tepat disebelah Aurora dan tahu kalau temannya itu lebih sibuk pada ponsel pun memberi sebuah teguran.
"Ra, jangan main hp mulu ! Lo gak berniat buat keluar dari kelas kan ?"
__ADS_1
Aurora mendengar teguran itu tapi, gadis itu hanya memilih untuk menatap Keysha dengan tajam lalu menggeleng dan ujungnya kembali pada ponsel.
"Emang apa sih yang lo lihat di hp ?" Tanya Keysha.
"Gosip panas dan terbaru !" Ucap Aurora dengan penekanan pada setiap katanya.
"Gosip ? Sejak kapan lo peduli sama gosip ?" Tanya Keysha mulai merasa aneh.
"Sejak hari ini ! Gue mulai menyadari kalau tahu gosip itu penting !" Dari cara bicaranya terdengar dengan jelas kalau Aurora sedang kesal.
Keysha hanya menggeleng tak berucap lebih banyak lagi. Soal rumor ini, Keysha sepertinya belum mengetahui. Benarkah ? Belum mengetahui atau memang sudah tahu tapi memilih untuk pura-pura tidak tahu ?
"Key, lo udah tahu gosipnya ?" Tanya Aurora.
"Gosip apa ?" Tanya balik Keysha terlihat bingung.
"Belum buka hp ?"
Keysha meringis. "Gak ada notifikasi apapun karena gue kehabisan paket data."
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
__ADS_1
.
^^^Bersambung...^^^