
Beristirahat selama satu hari di rumah adalah pengobatan terbaik bagi Aurora. Setelah kemarin sempat menderita sakit karena terlalu capek dan kurang istirahat, kondisi Aurora sekarang sudah jauh lebih baik.
Di kamarnya, pagi ini, Aurora terlihat tengah bersiap diri untuk kembali ke kampus. Secepat ini ? Bahkan saat dirinya baru sembuh ? Aurora tak bisa lebih dari ini mengambil izin apalagi pekan ujian akan datang dalam beberapa hari lagi.
Baju kasual berwarna kuning dipadukan dengan celana jeans berwarna biru, Aurora sudah siap untuk kembali lagi ke kampus, belajar sambil menunggu masa pekan ujian itu tiba.
Dengan semangatnya, Aurora membuka pintu kamar ini lalu berjalan menuruni anak tangga dengan cepat dan terkesan terburu-buru menuju ke meja makan.
Sejak tadi, waktu dia sedang bersiap-siap di kamar, aroma wangi masakan terus saja tercium oleh hidungnya dan ini membuat Aurora merasa tak boleh melewatkan sarapan.
"Selamat pagi..." Sapa Aurora kepada Pak Dikta yang tengah sibuk menyelesaikan masakannya.
"Selamat pagi juga, Rara..." Balas Pak Dikta dengan cepat.
Aroma wangi masakan makin tercium dengan jelas, ketika Aurora berada di meja makan dan ini berhasil membuat perut lapar Aurora berbunyi.
"Pak Dikta masak apa ?" Tanya Aurora dalam ketidaksabarannya menunggu masakan Pak Dikta.
"Hanya nasi goreng. Saya buat yang sederhana saja." Jawab Pak Dikta sambil tangannya terus sibuk bergerak.
"Menurut Pak Dikta, lebih enak nasi goreng itu atau mie instan rebus buatan saya ?" Pertanyaan jebakan itu terlontar secara tiba-tiba dari mulut Aurora.
"Tak ada yang bisa menandingi rasa dari mie instan rebus buatan kamu." Ungkap Pak Dikta sembari menyajikan seporsi nasi goreng buatannya kepada Aurora.
"Maaf kalau hanya bisa membuatkan ini. Saya belum sempat belanja jadi, tidak ada terlalu banyak bahan makanan di rumah ini." Katanya sembari mengusap lembut rambut Aurora.
"No problem, selama rasanya enak dan masih cocok di lidah saya." Kata Aurora sembari memasukan suapan besar nasi goreng buatan Pak Dikta ke dalam mulutnya.
Tinggal dan hidup berdampingan dengan Pak Dikta rupanya tak terlalu buruk seperti apa yang Aurora bayangkan sebelumnya.
Perasaan nyaman setiap kali berada di dekat Pak Dikta, Aurora mulai merasakan itu. Tapi, merasa nyaman bukan berarti Aurora sudah menerima pernikahan ini. Dirinya hanya mencoba untuk berdamai supaya bisa bertahan sampai nanti. Iya, kalau Aurora sudah move on dan menemukan lelaki pengganti, ia akan meminta cerai โ seperti apa yang sudah disetujui waktu awal sebelum pernikahan terjadi.
"Pak Dikta harus lebih sering buatkan saya makanan. Supaya nanti, kalau kita udah pisah, saya gak kangen sama masakan Pak Dikta." Ucap Aurora dengan mudahnya.
Pak Dikta tersenyum lemah lalu menjawab. "Kamu juga harus sering buatkan saya mie instan rebus."
Tanpa berpikir panjang, Aurora menyetujui itu. "Setuju. Selama masih ada mie instannya, saya pasti akan buatkan."
...---ooOoo---...
Jarum jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Setelah menghabiskan sarapannya โ nasi goreng buatan Pak Dikta, Aurora melangkah keluar rumah ini dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati, Rara !" Pak Dikta memperingatkan Aurora karena langkah sembrono yang dibuat oleh gadis itu membuatnya takut.
"Saya gak punya banyak waktu untuk berhati-hati." Katanya yang tak mau menurut.
__ADS_1
Entah hal apa yang membuat Aurora terburu-buru seperti ini, Pak Dikta juga kurang tahu. Padahal untuk hari ini, gadis itu hanya memiliki kelas siang. Apakah ada keperluan mendesak dan penting ? Tapi apa ? Pak Dikta ingin bertanya namun, dirinya terus berusaha untuk sadar tempat dan posisi. Meskipun, ia adalah suami sah, Aurora masih belum benar-benar menerima itu.
"Mau saya antar ?" Pak Dikta memilih menawarkan tumpangan daripada bertanya soal rasa ingin tahunya.
"Tidak perlu. Saya sudah memesan taksi online. Lagipula, Pak Dikta juga harus ke rumah sakit untuk bekerja." Tolak Aurora.
Sekarang, Pak Dikta semakin terbiasa dengan penolakan dari seorang Aurora. Terbiasa karena seringkali ditolak begitu saja.
Tanpa berpamitan dengan benar, Aurora mendekat ke arah taksi online yang sudah menunggunya di depan gerbang dari rumah ini. Aurora pergi meninggalkan Pak Dikta yang terpantau masih setia berdiri di ambang pintu.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Sesudah memastikan sang istri pergi dengan selamat, Pak Dikta pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Akan tetapi, ketika dirinya ingin menuju ke kamar yang ada di lantai dua dari rumah ini, sebuah panggilan dari nomer asing di dapatkannya.
Pak Dikta bukan seseorang yang dengan mudahnya mengabaikan sebuah panggilan. Ia merasa semua panggilan yang didapatkannya itu penting. Jadi, tanpa ragu Pak Dikta menjawab panggilan itu.
"Halo ? Dengan dokter Dikta disini... Saya sedang bicara dengan siapa ?" Tanyanya yang tanpa basa-basi.
"Hai Dikta... don't you remember me ?" Ucap seseorang dari balik panggilan itu.
"Bisa beritahu saja langsung, dengan siapa saya berbicara saat ini ?" Balas Pak Dikta yang tak mau terlalu ambil pusing.
"Kamu lupa sama suara aku ?" Tanya seseorang itu lagi.
"Tasia ? Apakah benar aku sedang berbicara dengan Tasia ?" Tanya Pak Dikta yang ingin memastikan saja kalau dugaannya ini benar.
"Akhirnya ketebak juga. Aku pikir kamu lupa." Kata wanita itu dari balik panggilan.
"Sedikit lupa. Lagian aku sudah lama sekali tidak mendengar suaramu." Ujar Pak Dikta sangat akrab.
"Bagaimana keadaan di Berlin ? Apa baik-baik saja ?" Sambung Pak Dikta dengan pertanyaan lainnya.
"Baik. Aku juga baik."
"Kalau kamu, aku selalu yakin akan baik-baik saja."
"Dikta, do you miss me ? Kita sudah tiga tahun tidak bertemu. Kalau aku ajak kamu bertemu, apa tidak keberatan ?"
"Katakan saja kalau mau bertemu. Aku pasti akan mengunjungimu." Ujarย Pak Dikta.
"Lusa depan, aku akan sampai di Indonesia. Apa kamu mau menjemput ku ?" Tanya Tasia dengan penuh harap.
"Ya, of course. Aku pasti akan menjemputmu." Jawab Pak Dikta tanpa berpikir panjang.
"Aku tahu kalau kamu pasti sibuk jadi, maaf kalau harus membuatmu repot." Kata Tasia.
__ADS_1
"No... Kalau sama kamu, aku sama sekali tidak merasa direpotkan."
"Jangan terlambat ya, Dikta ! I'll be waiting for you at the airport. Untuk waktunya akan aku kabari lagi." Ujar Tasia dengan nada bicara yang terdengar semangat.
"Okay. I will be waiting for you." Jawab Pak Dikta.
Panggilan itu berakhir begitu saja. Dari percakapan singkat dalam panggilan itu, terlihat dan terdengar seperti Pak Dikta dengan Tasia yang sudah saling akrab.
Mereka bahkan tak memanggil atau berbincang dengan bahasa yang formal, sangat informal seperti teman dekat. Sebenarnya hubungan mereka berdua apa ? Saudara ? Teman ? Atau yang lainnya ? Apakah Aurora tahu soal Tasia ini ?
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Pak Dikta ? Tasia itu cuma teman kan ? Pak Dikta gak selingkuh dari Aurora kan ?
Meskipun pernikahan ini belum bisa disebut sebagai pernikahan tapi, aku tahu kalau Pak Dikta memang ada perasaan sama Aurora. Iya kan ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1