
Akhirnya, Aurora sudah bisa merasakan kembali rasanya ranjang nan super empuk dari rumah Pak Dikta yang baru pertama kali di jamahnya.
Sebenarnya tadi saat diperjalanan, Pak Dikta sudah mau membawa Aurora pulang menuju rumah kedua orang tuanya tapi, gadis itu mencegah dan meminta untuk sementara tinggal di rumah Pak Dikta dulu.
Alasan Aurora meminta itu bukan semata-mata karena ingin menikmati kenyamanan tinggal di rumah besar nan mewah milik Pak Dikta namun, ia hanya tak mau membuat kedua orangtuanya cemas kalau tahu tentang kondisi kesehatan yang masih belum sepenuhnya pulih.
Nanti, jika kondisi Aurora sudah lebih baik maka, ia akan langsung minta pulang dan tinggal bersama lagi dengan kedua orang tuanya.
"Kalau kamu butuh sesuatu, bisa langsung bilang ke saya." Kata Pak Dikta sembari menyelimuti tubuh Aurora yang sudah terbaring di atas ranjang kamarnya.
"Untuk sekarang sudah cukup. Pak Dikta hari ini juga banyak membantu. Terima kasih." Balas Aurora sembari tersenyum hangat.
Pak Dikta mengangguk tanda mengerti lalu, dengan cepat mengambil remote AC dari atas meja samping ranjang.
"Suhu AC nya cukup ?" Tanya Pak Dikta yang saat ini masih mencoba untuk menyesuaikan suhu kamar ini.
"Sedikit dibesarkan. Masih terasa dingin." Pinta Aurora.
"Dua puluh derajat ? Ya, mungkin cukup." Ujarnya lalu meletakkan kembali remote AC pada tempatnya.
Setelah dirasa cukup melakukan semua tugasnya untuk memberikan perawatan kepada sang istri, Pak Dikta pun melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu bermaksud untuk meninggalkan sang istri supaya bisa beristirahat dengan nyaman namun, entah mengapa Aurora seperti melarang Pak Dikta untuk pergi.
"Pak Dikta mau kemana ?" Tanya Aurora sembari menoleh dan menatap ke arah suaminya.
"Keluar. Mau ke kamar tamu." Jawabnya tanpa ragu.
"Kenapa ke kamar tamu ?" Tanya Aurora lagi yang membuat Pak Dikta berpikir tentang maksudnya.
"Pak Dikta disini saja. Kalau saya butuh apa-apa lebih gampang buat manggil." Katanya.
Apakah Aurora sedang meminta dirinya tidur bersama di kamar ini ? Kenapa pikiran Pak Dikta mulai kemana-mana ?
"Pak Dikta ?" Panggil Aurora yang berhasil menyadarkan Pak Dikta dari segala pikirannya.
"Iya ?"
"Tidur disini saja, sama saya. Seperti waktu di rumah ayah bunda, kita kan juga tidur sekamar. Bapak di sofa saya di kasur." Katanya yang membuat Pak Dikta tertawa kecil. Persetan dengan semua pikiran yang keluar jalur !
"Okay." Jawab Pak Dikta singkat sambil tersenyum.
Lampu telah dipadamkan oleh Pak Dikta dan yang tersisa untuk memberi penerangan hanya berasal dari sebuah lampu tidur berukuran mungil. Gelap dan sepi adalah suasana yang cocok untuk langsung masuk ke alam mimpi tapi, bagi Aurora ternyata tak semudah itu.
Dirinya memang sudah merasakan lelah dan kantuk, sangat butuh istirahat namun, kedua matanya sama sekali tak mau berkompromi. Lima belas menit setelah lampu dimatikan, Aurora belum juga tertidur. Gadis itu masih setia berjaga. Bisakah kita adakan sedikit pembicaraan sebelum tidur ?
"Pak Dikta ?" Panggil Aurora tiba-tiba yang langsung membuat kedua mata Pak Dikta yang tadi sempat tertutup menjadi terbuka lebar.
"Iya ?" Sahut singkat Pak Dikta.
"Sudah tidur ?" Aurora bertanya.
"Belum." Jawabnya berbohong.
"Saya gak bisa tidur." Ujar Aurora jujur.
"Kenapa ? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan ?"
"Tidak ada yang saya pikirkan tapi, ini mengenai jam tidur saya." Katanya.
__ADS_1
"Ada apa dengan jam tidur kamu ?"
"Saya terlalu terbiasa tidur di atas jam dua pagi. Jadi, kalau diminta untuk tidur pukul sebelas agak susah."
Selama ini atau lebih tepatnya setelah ia memasuki bangku kuliah, waktu tidur Aurora sering berantakan.
Tugas yang terlalu banyak โ kalian tahu sendiri kalau Aurora mengambil jurusan kedokteran dan seberapa beratnya masuk dalam jurusan itu, adalah salah satu faktor penyebab dari berantakannya jam tidur.
Pak Dikta yang sangat pengertian sebagai seorang suami pun terlihat beranjak dari atas sofa lalu menyalakan lampu kamar ini kembali.
"Apa yang bisa saya lakukan supaya kamu bisa cepat tidur ?" Tanya Pak Dikta yang kini sudah duduk di atas ranjang tepat di samping Aurora.
"Mari berbincang sejenak..." Ajak Aurora dengan antusias.
"Kamu serius mau berbincang dengan saya ?" Pak Dikta menanyakan ini untuk memastikan saja.
Aurora mengangguk dengan semangat.
"Selama menikah, kita kan belum pernah melakukannya. Saya pikir itu akan menyenangkan." Ungkapnya.
Apakah ini sudah menjadi tanda-tanda kalau Aurora memang mencoba untuk membuka diri untuk Pak Dikta ? Benarkah ini bukan mimpi atau imajinasi atau sebuah fatamorgana ? Ini nyatakan ? Aurora mengajak Pak Dikta berbincang ?
"Topik apa yang ingin kita bincangkan ?" Tanya Pak Dikta sekaligus meminta saran.
"Terserah. Apapun topiknya boleh asal jangan soal kehidupan kampus." Jawabnya.
Perbincangan diantara keduanya terjadi dan nampak begitu akrab sekaligus seru, serasa ingin ikut bergabung ke dalamnya.ย
Mereka membahas banyak sekali hal, mulai dari makanan, minuman dan benda kesukaan; hobi masing-masing serta soal kehidupan pribadi juga diceritakan secara gamblang.
Posisi keduanya begitu dekat. Pak Dikta yang terlihat ada di samping membiarkan lengannya digunakan sebagai bantal sedangkan Aurora terlihat tidur dengan pulas dalam dekapan kehangatan tubuh Pak Dikta.
Untuk kali pertama setelah pernikahan, mereka tidur bersama dalam satu ruangan dan satu ranjang.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Pagi mulai menjemput kembali. Terlihat di luar, matahari mulai menggantikan bulan dalam tugasnya menerangi bumi.
Pak Dikta yang sudah terbangun dari tiga puluh menit lalu hanya bisa terus menatap dan memperhatikan wajah cantik sang istri saat sedang tertidur.
Aurora memang ingin terus tidur โ lagipula hari ini ia akan mengambil izin sakit namun, karena kebiasaan bangun pagi yang dimiliki, ia tak bisa melakukan itu.
Perlahan-lahan kedua matanya mulai terbuka dan hal pertama yang dilihat olehnya adalah wajah tampan Pak Dikta yan sedang tersenyum hangat kepadanya.
Memang sedikit terkejut melihat wajah Pak Dikta di pagi hari seperti ini โ mungkin belum terlalu terbiasa, tapi Aurora berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
"Selamat pagi..." Sapa Pak Dikta yang terkesan hangat.
Dengan cepat, Aurora juga membalasnya. "Selamat pagi juga."
Disaat semua nyawa dan kesadarannya sudah berkumpul, Aurora mulai menyadari sesuatu. Sejak kapan dirinya tidur bersama seperti ini dengan Pak Dikta ?
"Apa kita tidur seperti ini tadi malam ?" Tanya Aurora yang sedikit canggung.
__ADS_1
Sebelum menjawab ini, Pak Dikta pun menarik tangannya secara perlahan lalu beranjak dari atas ranjang.
"Maaf, karena tidak pindah ke sofa." Ungkapnya.
Aurora hanya diam tak memberikan tanggapan lebih. Diamnya Aurora tanpa respon seperti ini membuat Pak Dikta malah semakin merasa tidak enak. Seharusnya tadi malam, sebelum dirinya juga ikut tertidur, ia pindah terlebih dahulu ke sofa.
"Maafkan saya, Rara. Saya tidak ada maksud untukโ" perkataan Pak Dikta yang belum usai ini langsung dipotong begitu saja oleh Aurora.
"No problem. Lagipula tak ada hal buruk yang terjadi." Potongnya.
Merasa lega, Pak Dikta pun kembali menunjukan senyumannya. Terlalu sering mendapatkan sebuah senyuman dari Pak Dikta membuat Aurora makin candu ingin melihat terus senyumannya.
"Pak, laper !" Kata Aurora yang menghilangkan semua rasa canggung yang ada.
"Mau saya buatkan sesuatu ?"
"Pak Dikta bisa masa bubur ayam ? Kalau bisa saya mau..." Minta Aurora yang sedang ingin sarapan bubur ayam.
"Kalau bubur ayam, saya akan membelinya. Jika, harus memasak itu akan memakan waktu yang cukup lama." Katanya lalu bergegas melenggang pergi keluar dari kamar ini.
Tugas pertamanya di hari ini adalah membelikan bubur ayam untuk sang istri. Ia tidak akan lama pergi.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Udah ganteng, baik, perhatian, peduli, pinter, mapan, siapa lagi kalau bukan Pak Dikta.
Tuhan cari cowok kek Pak Dikta dimana ya ? Limited edition keknya ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1