
..."Jikalau ku bisa memutarkan waktu, ku pasti selalu menunggu. Andaikan seribu tahun tak cukup, milyaran abad ku sanggup."...
...- Rossa, Milyaran Abad....
.......
.......
.......
Mau berapa lama lagi Aurora harus menunggu kepulangan Pak Dikta ? Jika dicari pun tak bisa ditemukan maka solusinya hanya menunggu.
Seperti apa yang dikatakan oleh dokter Tasia, Aurora akan mencoba untuk bersabar dalam penantian ini meskipun rasa rindu hampir setiap hari menyapa dirinya.
Sudah sebulan dan Pak Dikta masih belum kunjung pulang. Tahu kan rasanya menunggu seseorang dalam ketidakpastian ?
"Rara ?" Panggil Arjuna yang langsung membuat Aurora tersadar dari lamunannya.
"Iya ?" Sahut Aurora sambil tersenyum hambar.
Sudah sejak tadi, Arjuna melihat temannya itu hanya duduk diam, melamun di taman belakang kampus. Arjuna yang memang bisa dibilang mempunyai hubungan dekat ā seperti kakak, sangat tahu persis apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh gadis itu.
"Lagi kangen sama Pak Dikta ya ?" Tanya Arjuna sambil memposisikan diri untuk duduk tepat di samping gadis itu.
Masih dengan senyuman, Aurora mengangguk. Ia membenarkan ucapan Arjuna.
"Kangen banget, Jun ! Ini udah sebulan tapi, gue sama sekali belum mendapatkan kabar apapun." Ujar Aurora mengatakan isi hatinya.
"Lo masih mencari ? Atau emang udah pasrah menunggu ?" Tanya Arjuna hanya untuk memastikan.
"Pasrah menunggu. Gue udah gak bisa nyari Pak Dikta lagi." Balas Aurora terdengar cukup putus asa.
Arjuna tahu kalau semua orang yang memang memiliki hubungan dekat dengan Pak Dikta tak ada satupun yang berniat memberitahu Aurora. Mereka seakan menutupi keberadaan Pak Dikta meskipun tahu kalau Aurora tengah mengandung dan butuh sosok seorang suami.
"Maaf ya, Ra ! Gue juga gak bisa bantu lo cari keberadaan Pak Dikta." Ucap Arjuna yang merasa tidak enak hati.
Bukannya Arjuna tak bisa bantu hanya saja lelaki itu hanya enggan untuk terlibat terlalu jauh dalam hubungan suami istri.
"It's okay..." Jawab Aurora santai.
"Sekarang lo mau gimana ?" Arjuna hanya penasaran dengan rencana ke depan dari seorang Aurora.
"Gue ?" Aurora kelihatan berpikir sejenak.
"Punya rencana buat kedepannya kan ?"
"Gue cuma mau lulus dari sini dan menjadi ibu yang baik untuk anak gue." Ucap Aurora memberitahu.
"Tetap akan menunggu Pak Dikta pulang ?" Tanya Arjuna lagi.
"Iya. Tapi, kalau seandainya Pak Dikta gak pulang juga gue tetep bakal bertahan buat anak gue." Kata Aurora dengan penuh keyakinan.
Arjuna tersenyum lebar lalu tanpa keraguan sedikitpun mengusap perut Aurora dengan lembut.
"Dek, kamu harus bersyukur karena punya seorang ibu yang penyayang." Ucap Arjuna berbicara pada anak yang ada di dalam kandungan Aurora.
"Emang anak gue udah bisa denger lo ?" Tanya Aurora sambil tertawa karena tingkah lucu nan absurd yang dilakukan oleh Arjuna.
"Anggap saja sudah bisa mendengar. Ya, meskipun masih belum berbentuk manusia." Gurau Arjuna.
__ADS_1
Berkat Arjuna, tawa kembali bisa terlihat di wajah cantik Aurora. Semenjak Pak Dikta pergi, wajah Aurora selalu saja ditekuk. Boro-boro mau melihatnya tertawa, senyuman saja dipaksa.
"Nah gini dong, Ra ! Gue suka lihat lo ketawa." Kata Arjuna yang merasa puas.
"Makasih ya, Jun..."
"Makasih buat apa ?" Tanya Arjuna bingung.
"Buat tawanya. Karena lo, gue gak lupa gimana cara tertawa." Ucap Aurora.
...š„š„š„...
Flashback On
| Australia, 09.30 pm |
Dari restoran ini, langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang terlihat begitu indah. Suasananya sangat cocok bagi orang-orang yang mau mengajak pasangannya untuk dinner romantis. Andai saja, Pak Dikta ada di restoran ini bersama dengan sang istri. Pasti rasanya akan jauh berbeda.
"Kamu mau pesan apa ?" Tanya Pak Dikta kepada dokter Tasia yang saat ini duduk dihadapannya.
"Bolehkah aku memesan rib eye steak dan segelas red wine ?"
"Tentu saja."
Pelayan dari restoran ini yang memang sudah menunggu sedari tadi pun mulai mencatat pesanan dari dokter Tasia dan Pak Dikta.
"Dua rib eye steak, segelas red wine dan satu orange juice." Kata pelayan itu memastikan kalau pesanan itu sudah benar.
Setelah mengambil pesanan dari meja Pak Dikta, pelayan itu pun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua dan akan kembali saat pesanan siap.
Pak Dikta membawa dokter Tasia kemari bukan tanpa tujuan. Ia hanya merasa butuh berbicara dengan dokter Tasia sebelum semuanya terlambat.
"Jadi ? Apa yang membuatmu tiba-tiba mengajakku untuk datang kemari ?" Tanya Dokter Tasia yang sangat penasaran.
"Bantuan apa ?" Tanya Dokter Tasia yang tidak ingin berbasa-basi lagi.
Pak Dikta mengambil sebuah surat dengan amplop berwarna coklat yang sudah ia siapkan sejak dulu. Ia memberikan itu kepada dokter Tasia.
"Apa ini ?" Dokter Tasia merasa bingung ketika melihat amplop coklat itu.
"Kalau waktunya sudah tepat, tolong berikan ini kepada Aurora." Kata Pak Dikta.
Dokter Tasia mengambil surat itu lalu ia perhatikan dengan seksama. Tak butuh waktu lama, dokter Tasia sangat mengerti alasan kenapa surat ini ditulis.
"Kenapa harus aku ? Kamu bisa memberikannya sendiri." Dokter Tasia menolak untuk membantu.
"Sebenarnya aku tak ingin kalau surat ini sampai ke tangan Aurora." Ucapnya dengan nada bicara kurang semangat.
Dokter Tasia menghela napasnya berat lalu memasukan surat itu ke dalam tasnya. Meskipun enggan tapi, tetap saja ia lakukan.
"Jadi, apa kata Niko ?" Tanya dokter Tasia
"Dia minta aku untuk tinggal lebih lama disini tapi..." Belum sempat Pak Dikta melanjutkan ucapannya, dokter Tasia lebih cepat memotongnya.
"Tapi, kamu gak bisa ninggalin Aurora terlalu lama. Makannya, kamu harus segera kembali ke Indonesia." Potong dokter Tasia.
Pak Dikta tersenyum setelah mendengar perkataan dokter Tasia yang sangat benar sekali itu.
"Aku janji sama dia cuma dua minggu pergi dan tidak lebih dari itu." Kata Pak Dikta yang rupanya masih teringat akan janjinya.
Sebenarnya dokter Tasia itu tak terlalu setuju dengan keinginan Pak Dikta yang akan pulang esok hari ke Indonesia. Tapi, mau bagaimana lagi ? Tak ada yang bisa mencegah lelaki itu pulang. Pak Dikta itu juga sedikit keras kepala.
__ADS_1
"Tapi, kalau kamu pulang sendiri tidak masalah kan ?" Tanya dokter Tasia yang rupanya harus membiarkan Pak Dikta kembali ke Indonesia seorang diri.
"It's okay. Aku paham kalau kamu masih mau berlibur bareng calon suami." Kata Pak Dikta.
"Gak ada yang lebih pengertian dari kamu, Dikta." Ujar dokter Tasia sedikit memberikan pujian.
Setelah berbincang-bincang, akhirnya pelayan restoran kembali datang ke mereka dengan membawa semua pesanan.
Dua porsi ribeye steak, segelas red wine dan juga orange juice sudah tersaji begitu saja di atas meja.
"Silahkan dinikmati." Ucap pelayan itu setelah menyajikan semua pesanan dari mereka berdua.
"Terima kasih." Tutur Pak Dikta sembari memberikan sedikit tip kepada pelayan itu.
Karena memang sudah merasa lapar, dokter Tasia terlebih dahulu menyantap rib eye steak itu. Potongan pertama sudah berhasil masuk ke dalam mulut mungil dokter Tasia dan untuk rasa begitu memuaskan.
Steak ini terasa begitu enak dan luxury. Sepertinya memang dipilih dari daging bagus.
"Kali ini siapa yang akan bayar makanannya ?" Tanya dokter Tasia.
"Aku."
"Kalau begitu, bolehkah aku menambah satu porsi lagi ? Steak ini rasanya benar-benar enak." Pinta dokter Tasia yang mungkin kurang tahu diri.
"Tentu saja boleh." Pak Dikta tak sungkan mengizinkan dokter Tasia menambah pesanan.
Flashback Off
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Pak Dikta itu sebenarnya mau berkata jujur kepada Aurora tapi, dia takut kalau kejujurannya itu akan membuat Aurora terluka. Keberadaannya bersama Aurora itu hanya untuk membuat bahagia bukan sebaliknya.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^