
..."Kebahagiaan seorang ibu adalah ketika melihat anaknya bahagia. Itu sudah lebih dari cukup."...
.......
.......
.......
Mobil SUV hitam yang dikendarai oleh lelaki itu pun sudah terlihat berhenti tepat diparkiran dari pemakaman tempat dimana sekarang Pak Dikta beristirahat. Masih menggendong Lyora, Aurora turun dari mobil itu dengan hati-hati.
Tidak seperti terakhir kali, Aurora datang kembali kesini dengan perasaan bahagia seperti berbunga-bunga. Ia bahkan tak bisa menyembunyikan senyuman bulan sabit yang terus saja terlukis di bibirnya.
Bersama lelaki itu yang selalu ada menemani Aurora di samping, mereka mulai berjalan mendekat menuju rumah terakhir milik Pak Dikta.
"Hai, papi..." Sapa Aurora sembari menggerakkan tangan mungil milik sang putri.
Karena usia Lyora juga masih kecil jadi, seperti layaknya anak seumuran dia belum mengerti apapun. Dia belum tahu dimana keberadaannya sekarang dan juga mengenai kepergian ayahnya, Lyora juga tak tahu. Pak Dikta meninggalkan Lyora jauh sebelum lahir.
Masih sambil menggendong Lyora, Aurora dengan perlahan-lahan mulai berlutut di dekat batu nisan yang bertuliskan nama suaminya itu.
Aurora menatapnya dan sebuah senyuman ikhlas terlukis jelas di wajah cantiknya. Kali ini tak ada setetes air mata pun yang jatuh membasahi pipinya.
"Pak Dikta apa kabar ?"
Meskipun tahu kalau pertanyaan itu tak akan mendapatkan jawaban, seperti tak peduli Aurora tetap saja mencoba berbincang dengan Pak Dikta.
"Keadaan di sana bagaimana ? Apa baik-baik saja ?" Tanyanya lagi sembari menyentuh batu nisan.
"Aurora harap, Pak Dikta sekarang sudah bisa bahagia dan berhenti khawatir."
"Sekarang Rara dan Lyora baik-baik saja. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
"Aurora yakin dari atas sana Pak Dikta sedang memantau dan pastinya tahu dengan keadaan sekarang."
"Pak Dikta juga tahukan sekarang Aurora datang bersama siapa ? Tidak hanya dengan Lyora tapi juga..." Perkataannya terhenti. Untuk sejenak Aurora menatap ke arah lelaki yang masih setia berada di sampingnya itu.
"Hai, kak." Sapa lelaki itu.
Lelaki yang selama ini selalu berada di sisi Aurora dan bisa dibilang sangat dekat tak lain dan tak bukan adalah Dion. Iya, dia adalah adik dari Pak Dikta.
Awalnya Dion hanya berniat untuk menjalankan amanat terakhir yang diberikan oleh Pak Dikta. Dion diminta untuk menjaga Aurora menggantikan dirinya. Memastikan kalau Aurora selalu dalam kondisi baik dan bahagia.
Dion berhasil melakukan itu tapi, sayangnya saat dekat dengan Aurora perasaan juga mulai ikut campur. Dion tak bisa menepis kenyataan kalau hatinya sudah jatuh kepada sosok Aurora.
Dion itu adik yang baik. Tahu dengan jelas kalau sang kakak sangat mencintai Aurora, ia memilih untuk mengabaikan perasaannya ini. Dia membiarkan cintanya tak diketahui oleh Aurora.
__ADS_1
Namun, namanya juga takdir dan rencana Semesta. Tanpa disangka saat hari kelulusan, Dion diberikan keberanian untuk mengungkapkan ini kepada Aurora.
Dia mengungkapkan dengan alasan untuk membuat perasaannya menjadi lega dan sama sekali tak berharap apapun.
Tanpa disangka, apa yang tak menjadi harapannya itu terjadi. Aurora menerima Dion untuk mengisi hari-harinya yang sejak kemarin selalu terasa kosong.
Meskipun sekarang sudah ada Dion, tetap saja posisi Pak Dikta selalu nomer satu. Siapapun orangnya, sebaik apapun tak akan pernah ada yang bisa mengantikan Pak Dikta. Dion juga sadar akan hal ini.
"Maaf kak, aku sama sekali gak bermaksud untuk mengambil milik kakak tapi, aku yakin kak Dikta pasti bisa mengerti." Kata Dion.
"Kak Dikta jangan khawatir, meski sekarang ada aku tapi, di hati Rara tetap yang nomer satu adalah Kak Dikta dan itu akan selamanya." Tambahnya.
"Ayahnya Lyora itu cuma Kak Dikta dan aku tak mungkin bisa menggantikan hal sepenting itu."
"Tapi kak, aku merasa bahagia ketika Rara menerima perasaanku ini dan juga Lyora yang selalu menatapku sambil tersenyum. Aku gak bisa bohong akan hal ini."
"Aku izin ya, kak ! Aku izin untuk menjaga Rara dan Lyora, membuat mereka selalu bahagia." Tukas Dion sembari menaburkan bunga di atas rumah terakhir dari Pak Dikta.
Setelah semua ucapan itu, tiba-tiba Lyora yang masih kecil berusaha untuk berbicara. Ia berbicara dengan bahasa yang belum jelas, layaknya seperti seorang bayi yang sedang ingin mengoceh.
"Ada apa, sayang ? Iya, ini Lyora lagi ketemu papi." Kata Aurora yang berusaha membuat sang putri melihat ke arah makam Pak Dikta yang sekarang sudah dipenuhi oleh kelopak bunga mawar.
"Lyora seneng gak ketemu papi ?"
Tidak tahu kenapa yang tadinya hanya berusaha untuk berbicara kini, Lyora malah rewel. Gadis cilik itu seperti akan menangis.
Sebagai seorang ibu, Aurora pun bergegas untuk beranjak dari tempatnya dan berusaha untuk menenangkan putrinya itu.
"It's okay, sayang... Lyora lagi ketemu papi masa harus nangis sih ?"
"Papi, Lyora disini pengen minta gendong biar dipeluk. Lyora kangen papi, pengen lihat papi." Aurora berucap seperti itu menggantikan Lyora.
Aurora hanya menduga hal yang membuat Lyora rewel sampai mau menangis karena rasa rindunya terhadap kehadiran seorang ayah. Walaupun, Lyora belum pernah melihat atau bersama dengan ayahnya secara langsung tapi, sebagai anak pasti bisa merasakan kalau ayahnya memang sudah tak ada.
Tahu kalau Lyora rewel, Dion pun ikut beranjak dari tempatnya. Tanpa sungkan dan ragu lelaki itu mengantikan posisi Aurora untuk menggendong Lyora. Dion hanya ingin membantu menenangkan gadis cilik itu.
Baru masuk dalam gendongan seorang Dion, Lyora langsung berhenti rewel. Gadis cilik itu menatap wajah Dion dengan senyuman.
Meskipun Dion bukan ayah kandung, Lyora bisa dibilang sudah terlalu dekat dengan sosok Dion. Dia akan diam kalau sudah berada dalam gendongan Dion.
"Lyora udah senyum lagi." Kata Dion.
Melihat kedekatan mereka berdua yang terlihat seperti sepasang ayah dan anak membuat Aurora merasa lega. Memang benar, Dion bukan Pak Dikta tapi, Lyora bisa merasakan kasih sayang seorang ayah lewat Dion. Kalau Lyora bisa bahagia maka, Aurora juga akan ikut bahagia.
Aurora mendengus lega lalu untuk terakhir kali sebelum pergi, ia menatap lekat-lekat makam tempat suami tercintanya beristirahat.
"Istirahat yang tenang ya, Pak Dikta. Sampai ketemu nanti di saat Semesta memang mengizinkan kita berdua untuk bersama." Tukas Aurora mengakhiri.
__ADS_1
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat ini, Aurora meminta kepada putri kecilnya untuk berpamitan dengan terlebih dahulu kepada ayahnya.
"Lyora, pamit dulu sama papi."
"Papi, Lyora pulang dulu ya... Nanti, kita ketemu lagi." Kata Aurora sambil menggerakkan tangan mungil putrinya.
Sekarang memang Lyora masih kecil dan belum tahu apapun namun, nanti ketika sudah beranjak dewasa Aurora berharap Lyora akan mengerti dan tahu kalau ayahnya ā Pak Dikta, bukan pergi karena ingin. Jadi, Lyora sama sekali tak boleh membenci ayahnya karena pergi terlalu cepat bahkan sebelum dia lahir ke dunia.
Aurora akan membuat Lyora tak akan pernah melupakan sosok Pak Dikta. Setiap saat akan selalu diingatkan kalau gadis cilik itu memiliki ayah selain Dion yang juga sama besarnya dalam hal menyayangi. Pak Dikta akan selalu menjadi cinta pertama Lyora dan mau dalam kondisi apapun Lyora tetap putri kecilnya Pak Dikta. Itu kenyataan yang tak pernah bisa diubah.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Bukan ingin mengganti tapi, Dion hanya berusaha untuk mengisi tempat yang kosong itu.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
Catatan kecil :
- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada epilog yang akan di update.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^