Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 49 : Confused


__ADS_3

...Kalau ditanya, seberapa besar rasa sayang Aurora kepada Pak Dikta... Maka ia akan menjawab sangat besar sampai dia sendiri bingung kemana perginya rasa benci yang selama ini ada....



.......


.......


.......


| Mode Chat |


...------------------------...


...Si Resek ā£ļø...


...------------------------...


Pak Dikta :


Dimana ?


Apa masih di kampus ?


^^^Aurora :^^^


^^^Iya...^^^


Pak Dikta :


Masih lama ?


Mau pulang kapan ?


^^^Aurora :^^^


^^^Sepertinya bakal nginep di kampus.^^^


Pak Dikta :


Saya rasa tugas hukuman itu tidak harus membuat kamu menginap.


Toh, saya juga tidak memberikan tenggat waktu.


^^^Aurora :^^^


^^^Ini bukan soal tugas hukuman dari Pak Dikta.^^^


Pak Dikta :


Lalu ?


^^^Aurora :^^^


^^^Saya dihukum oleh dekan.^^^


^^^Di suruh membersihkan taman kampus.^^^


Pak Dikta :


Bagaimana bisa ?


^^^Aurora :^^^


^^^Tidak sengaja bertengkar.^^^

__ADS_1


Pak Dikta :


Dengan siapa ?


^^^Aurora :^^^


^^^Mahasiswi kampus.^^^


...---ooOoo---...


"Woi... Jangan main hp mulu !" Sentak salah seorang dari lima mahasiswi, memperingati Aurora.


Karena sudah diperingati, Aurora pun bergegas untuk memasukan ponselnya ke dalam saku celana dan mengabaikan balasan pesan selanjutnya dari Pak Dikta.


Dengan wajah ditekuk — kelihatan tidak ikhlas untuk mengerjakan hukuman ini, Aurora pun mulai mengambil sapu taman.


Jika dirinya ingin pulang, maka harus menyelesaikan hukuman ini. Sebuah hukuman yang entah harus berapa lama dan sampai kapan bisa selesai.


Sebenarnya, kalau tidak ada dekan yang melihat soal perkelahian itu, Aurora juga tak akan berada pada posisi ini. Mungkin, sekarang dirinya sudah bisa beristirahat di rumah. It's a bad day for Aurora.


Hari semakin malam, waktu ternyata berlalu dengan begitu cepat dan hukuman yang dijalani Aurora tak kunjung usai. Bagaimana mau selesai ? Kalau yang bekerja keras hanya Aurora ? Sedangkan kelima mahasiswi itu, bekerja dengan asal-asalan.


"Kalian sebenarnya mau pulang gak sih ? Kalau mau, kerja yang bener !" Ucap Aurora dengan nada meninggi.


"Santai aja kalau ngomong. Gak usah ngegas !" Balas salah seorang dari mahasiswi itu.


Aurora memang sedang dalam amarah. Rasa kesalnya kembali mencuat terhadap mereka berlima. Ingin memaki tapi, Aurora mencoba untuk menahannya agar perkelahian lanjutan tak terjadi. Takutnya, hukuman ini malah ditambah karena Pak Dekan belum pulang dan masih memantau.


"Sebenernya nih, kita gak perlu harus susah-susah bersihin taman kampus kalau si Rara gak mulai duluan." Sindir seorang lainnya yang merasa semua ini tidak adil.


"Si Rara mah beneran resek. Padahal kita gak gosipin dia." Ujar yang lain merasakan hal sama.


"Mana pakai ngaku-ngaku jadi istrinya Pak Dikta lagi." Kesal lainnya.


"Bukan ngaku-ngaku tapi, gue emang istrinya." Balas Aurora mencoba memberitahu lagi.


"Gue emang ngomong kenyataan. Udah empat bulan gue nikah sama Pak Dikta." Kata Aurora terdengar meyakinkan tapi, entah mengapa sangat susah dipercaya oleh mereka berlima.


Aurora juga bingung harus bagaimana lagi meyakinkan mereka berlima. Pasalnya, Aurora juga tidak memiliki hal kuat untuk dijadikan sebuah bukti dari ucapannya. Seandainya, Aurora membawa akta nikah pasti mereka akan dengan mudah mempercayai.


Alasan kenapa Aurora sibuk meyakinkan mereka dan memberitahu tentang pernikahan dan status hubungan dengan Pak Dikta adalah supaya semua gosip yang melibatkan sang suami serta dokter Tasia berhenti.


"Kenapa sih kalian susah banget buat percaya sama omongan gue ?" Tanya Aurora yang sudah terlihat frustrasi.


"Ya, karena ucapan lo sama sekali gak meyakinkan. Bagaimana mungkin lo bisa nikah sama Pak Dikta ?"


Belum sempat untuk menjawab itu, tiba-tiba... Tidak tahu waktunya tepat atau enggak, Pak Dikta datang menghampiri mereka. Iya, dosen itu datang kembali setelah tadi sempat meninggalkan Aurora. Mungkin, ia menunda pekerjaannya ?


Saat melihat suaminya datang, Aurora sama sekali tak memasang raut wajah bahagia. Gadis itu sama sekali tidak terlihat semangat karena lagi-lagi pikirannya mengingat soal foto yang dikirim pada akun gosip.


"Kenapa bisa berakhir disini, huh ?" Tanya Pak Dikta kepada sang istri.


Aurora mengendikkan bahunya seakan tak mau memberitahu kejadian pastinya.


Melihat kedatangan Pak Dikta yang tak terduga ini, kelima mahasiswi itu langsung bersikap sopan serta ada yang senyum-senyum sendiri seperti merasa senang melihat dosen kesukaannya muncul.


"Apa yang terjadi ? Bisa beritahu saya ?" Tanya Pak Dikta penasaran.


"Si Rara duluan yang memulai perkelahiannya." Jawab seseorang dari kelima mahasiswi itu mulai mengadukan Aurora dengan berani.


Pak Dikta pun melirik ke arah istrinya sambil tersenyum tipis. Walaupun baru sebentar bersama tapi, Pak Dikta sangat tahu kalau istrinya tak akan memulai sesuatu tanpa adanya sebuah sebab.


Supaya lebih adil, Pak Dikta ingin bertanya juga kepada sang istri. Mengutamakan untuk mendengar dari kedua sisi.


"Benarkah seperti itu, Rara ?" Tanya Pak Dikta.

__ADS_1


Aurora mengangguk. "Saya kesal karena mereka tidak ada habisnya menggosipkan tentang Pak Dikta dan dokter Tasia." Aurora mencoba jujur.


"Gosip ?" Tanya Pak Dikta bingung.


"Iya. Mereka menjodoh-jodohkan Pak Dikta dengan dokter Tasia bahkan berharap kalian berdua bisa balikan." Ungkap Aurora yang langsung membuat Pak Dikta kelepasan tertawa.


"Kamu kesal dan bertengkar dengan mereka karena hal itu ?" Tanya Pak Dikta.


Aurora mengangguk keras.


"Saya cemburu kalau suami sendiri harus dijodohkan sama cewek lain, apalagi cewek itu mantannya sendiri." Tutur Aurora sambil menatap mata suaminya.


Mendengar itu membuat Pak Dikta meringis. Tidak disangka kalau cemburunya sang istri itu sangat menggemaskan.


"Tidak perlu cemburu sampai berkelahi. Kamu kan tahu kalau saya sayangnya cuma sama kamu." Ungkap Pak Dikta sembari mengusap lembut ujung kepala Aurora.


Kelima mahasiswi yang masih ada di sana pun terperangah kaget. Mereka tak menyangka kalau semua pengakuan Aurora itu bukan sebuah haluan saja. Kenyataan kalau memang Pak Dikta sudah menikah dan itu dengan Aurora.


"Pak Dikta sama Rara udah menikah ?!" Tanya salah satu dari kelima mahasiswi itu supaya lebih jelas.


"Iya." Balas Pak Dikta dengan singkat tapi bisa menjelaskan sekaligus membuktikan semuanya.


"Kan udah gue bilang. Pak Dikta itu suami gue, pada gak percaya sih..." Kata Aurora yang merasa menang.


"Ya habisnya kita kira lo bercanda. Lo kan tahu sendiri hampir semua mahasiswi disini ngaku-ngaku kek begitu." Ujar mereka masih dengan pembelaan diri.


"Jadi, Pak Dikta gak ada balikan sama dokter Tasia ?" Berani sekali ya mereka mempertanyakan soal ini. Padahal ini sudah termasuk dalam zona pribadi dan privasi.


"Saya tidak ada hubungan apapun dengan dokter Tasia. Hanya sebatas teman dalam dunia medis." Katanya menjelaskan. Apakah ini cukup untuk membuat Aurora mempercayai Pak Dikta ?


Karena hari sudah semakin malam dan mereka semua juga butuh untuk istirahat, Pak Dikta pun berbaik hati mau membantu mereka dengan berbicara kepada dekan. Siapa tahu, setelah dibicarakan dengan baik-baik,Ā  mereka bisa lepas dari hukuman ini.


"Kalian tunggu disini. Saya akan menghadap dekan dan memintanya untuk mentolerir masalah ini." Ujar Pak Dikta lalu melangkah pergi menuju ke ruang dekan yang berlokasi tak jauh dari taman kampus.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Secara tidak langsung Pak Dikta memberi penjelasan akan hubungannya dengan dokter Tasia. Apakah dengan ini Aurora bisa lebih percaya kepada suaminya itu ?


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.

__ADS_1


.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2