Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Epilog


__ADS_3

..."Adakalanya Semesta membuat kita menangis terlebih dahulu sebelum nanti mendapatkan sebuah akhir yang bahagia."...



.......


.......


.......


Pagi ini di saat matahari sudah mulai menunjukan sinarnya dan memaksa masuk ke kamar melewati celah-celah, terlihat Aurora yang tengah berusaha untuk membuka kedua matanya.


Jika pagi-pagi sebelumnya rasanya terlalu kosong, kali ini tidak lagi terasa seperti itu. Ketika Aurora membuka matanya, hal pertama yang berhasil dilihatnya adalah wajah tampan dari seorang lelaki yang berhasil menikahinya delapan bulan lalu.


Lelaki yang memiliki senyuman termanis dan selalu menjadi favorit Aurora. Setiap melihatnya tersenyum, jantung Aurora semakin berdetak begitu kencang. Bisa dibilang, alasannya bisa jatuh cinta dengan lelaki itu karena senyumannya.


Meskipun dirinya tahu kalau lelaki itu masih tertidur, Aurora tetap saja tak ragu untuk menyentuh pipinya dengan lembut.


Bukan bermaksud menganggu tidurnya tapi, Aurora hanya ingin mamastikan kalau dia masih menjadi figur yang nyata.


"Ternyata masih ada." Gumam Aurora dalam hati kecilnya.


Aurora merasa begitu lega kalau sosok lelaki yang saat ini masih tertidur pulas tepat di sampingnya adalah sosok nyata.


"Selamat pagi." Kata lelaki itu sambil perlahan-lahan membuka kedua matanya.


"Selamat pagi juga, Pak Dikta." Balas Aurora sembari memberikan senyum termanisnya.


Walau matanya masih belum bisa terbuka sepenuhnya, Pak Dikta tetap dapat melihat dengan jelas wajah cantik istrinya yang saat ini tengah tersenyum.


"Kenapa senyum ? Apa ada hal baik yang baru saja terjadi ?"


"Apa kamu bermimpi indah ?" Tanya Pak Dikta penasaran.


"Bukan mimpi indah tapi, mimpi yang sangat buruk dan rasanya seperti kenyataan." Jawab Aurora jujur.


"Bisa beritahu saya seburuk apa mimpi mu ?" Pak Dikta bertanya lagi dan kali ini sangat ingin tahu akan mimpi Aurora.


"Saya bermimpi kalau Pak Dikta itu pergi jauh dari saya dan tak akan pernah kembali." Kata Aurora yang berani mengungkap mimpi buruknya.


"Saya pergi jauh ? Kemana ?"


"Sangat jauh sampai saya pun gak bisa menjangkaunya. Pak Dikta pergi meninggalkan saya dan jujur itu sangat menyakiti." Ujar Aurora.


"Lalu ?" Pak Dikta ingin mengetahui kelanjutan cerita dari mimpi buruk itu.


"Pak Dikta meninggalkan saya dan Lyora."


"Lyora ? Siapa dia ? Kenapa namanya begitu manis ?"


"Anak kita." Jawab Aurora sambil tersipu malu.


"Tunggu dulu, apakah kamu bisa bermimpi seperti itu karena sedang ingin memiliki seorang anak ?" Tanya Pak Dikta dengan sedikit menggoda.

__ADS_1


"Karena kita sudah menikah jadi, tidak ada salahnya kalau memiliki seorang anak." Ujar Aurora menanggapi.


"Apa kamu ingin membuatnya ? Kita bisa buat sekarang juga."


Perkataan itu berhasil membuat Aurora tertawa keras. Bagaimana bisa melakukan hal itu di saat waktu tengah memburu mereka untuk melakukan aktivitas pagi ?


"Berhenti bercanda. Pagi ini saya harus mengikuti ujian. Kalau membuatnya sekarang, bisa-bisa saya harus mengikuti ujian susulan." Kata Aurora dengan pipi yang mulai memerah.


Tak mau lebih banyak menanggapi suaminya, Aurora pun beranjak dari tempat tidur lalu melangkah menuju ke arah lemari pakaian. Gadis itu ingin memilih pakaian yang cocok digunakan untuk datang ke kampus.


Ketika Aurora tengah disibukan memilih pakaian, tiba-tiba dia merasakan sebuah pelukan dari belakang. Siapa lagi yang bisa melakukan hal ini kalau bukan Pak Dikta.


"Kamu belum menyelesaikan cerita tentang mimpi itu. Kenapa main asal pergi ?" Tanya Pak Dikta yang rupanya ingin mendengar kelanjutannya.


"Lanjutannya ?" Aurora terdiam sejenak dan terlihat tengah berpikir.


Bisakah Aurora menceritakan semua yang ada dalam mimpi buruknya dengan detail ? Memberitahu lelaki itu kalau di mimpinya, dia meninggal ?


Sepertinya mimpi seperti ini tak harus diceritakan lebih jauh lagi. Aurora juga ingin segera menghapus semua mimpi buruk itu.


Masih dengan senyuman dan pipi yang memerah, Aurora membalikkan badannya. Posisi keduanya kini begitu dekat dan Aurora bisa melihat dengan jelas wajah tampan dari suaminya itu.


"Tak ada kelanjutannya. Semuanya berakhir ketika Pak Dikta pergi jauh." Kata Aurora.


"Kalau begitu kenapa kamu bisa tersenyum setelah bermimpi buruk ?" Tanya Pak Dikta lagi.


"Saya hanya merasa lega karena semua itu mimpi buruk bukan sebuah kenyataan."


"Kalau kenyataan..." Aurora kembali memberikan sentuhan lembut pada wajah suaminya. "...mungkin saya sudah tak bisa lagi melihat wajah Pak Dikta."


"Saya akan selalu ada di samping kamu. Menemani kamu terus, menjaga kamu dan membuat kamu bahagia." Tambahnya.


"Harus ditepati ya, jangan ingkar !" Pinta Aurora.


"Tentu saja." Pak Dikta menyanggupi.


"Tapi, Pak Dikta dalam keadaan sehat kan ? Tidak ada sakit atau hal lainnya ?" Tanya Aurora yang ingin lebih yakin lagi kalau semua itu hanya sebuah mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.


Pak Dikta menyentuhkan telapak tangan Aurora pada dahinya. "Tidak demam dan tak memiliki penyakit bawaan apapun. Bisa dipastikan saya dalam kondisi selalu sehat."


"Setiap bulan selalu memeriksakan kondisi kesehatan dan hasilnya tak ada apapun." Kata Pak Dikta memberitahu tentang kondisinya.


Mendengar itu membuat Aurora semakin lega. Sekarang dia yakin kalau mimpi buruknya hanya sekedar sebuah mimpi.


"Pak Dikta harus selalu sehat. Rara sama sekali gak mengizinkan Pak Dikta buat sakit."


"Kamu juga." Pungkasnya yang kembali memberikan kecupan hangat pada bibir milik istrinya itu.


Dikarenakan memang sedang diburu oleh waktu, Aurora harus bergegas untuk mempersiapkan dirinya.


Pak Dikta membantunya untuk memilihkan sebuah pakaian yang cocok digunakan ke kampus dan menurut Aurora pilihan suaminya itu tidak buruk.


"Pakai baju yang hangat karena udara diluar sedang dingin." Kata Pak Dikta dengan perhatiannya.

__ADS_1


Aurora tersenyum kembali lalu mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Pak Dikta.


"Hari ini mau sarapan sama apa ?" Teriak Pak Dikta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Aurora yang sekarang sudah ada di dalam kamar mandi.


"Nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang." Balas Aurora.


Sebelum Pak Dikta juga pergi ke dapur, ada satu hal penting lagi yang ingin dia sampaikan kepada Aurora.


"Nanti, saya akan pulang cepat. Saya usahakan sebelum pukul sembilan, saya sudah ada di rumah." Kata Pak Dikta.


"Tidak perlu terlalu terburu-buru. Pak Dikta bisa pulang seperti biasanya."


"Saya akan pulang sebelum pukul sembilan. Katanya ingin menghadirkan Lyora ?"


Ucapan itu benar-benar membuat Aurora tersipu malu. Untung saja, Pak Dikta tak bisa melihat kalau pipinya sekarang sedang memerah.


"Ya sudah, sekarang lebih baik Pak Dikta buat sarapan. Setelah mandi dan mempersiapkan diri, saya akan langsung pergi ke meja makan."



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


...🥀🥀🥀...


Tidak terasa setelah beberapa bulan menulis cerita ini, akhirnya kita bisa sampai pada bab terakhirnya.


Author mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua pembaca setia yang mau pantengin cerita sederhana ini.


Author juga memohon maaf yang sebesar-besarnya kalau ada salah kata atau penulisan dalam karya ini.


Sebelum ditutup, seperti biasanya Author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote.


Mari bantu author untuk meramaikan cerita ini :v


Sekian dari Author, sampai bertemu di karya lainnya dimana kita bisa berhalu bersama.


Terima kasih semuanya...


.


.


.


Sebuah mimpi yang berhasil membuatku selalu ingin menghargai setiap momen yang terjadi dalam hubungan kita. Dari mimpi itu, aku belajar banyak hal dan bagian terpentingnya, aku belajar untuk tidak pernah melepaskan tanganmu. Aku harus selalu menggenggam supaya tidak kehilanganmu seperti di mimpi itu. Mimpi buruk yang sama sekali tak ku harapkan untuk menjadi kenyataan kecuali, kehadiran Lyora.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.

__ADS_1


.


^^^- The End -^^^


__ADS_2