
Aurora tak tahu pasti, apakah kebahagiaan yang dirasakannya saat ini bisa berlangsung selamanya atau hanya sementara. Aurora sangat berharap kalau waktu dan semesta mau berbaik hati kepada dirinya untuk tetap memberikan kebahagiaan seperti ini selamanya bukan yang hanya datang lalu pergi.
Masih di perpustakaan dari gedung kampus ini, Aurora masih sibuk untuk menyelesaikan tugas hukumannya sambil sesekali mencuri pandang kepada sang suami yang sedari tadi setia menemaninya.
"Apa sudah selesai ?" Tanya Pak Dikta.
"Kurang sedikit lagi." Jawab Aurora memberitahu soal progres nya.
"Saya sama sekali tak memberi tenggat untuk tugas ini tapi, saya harap kamu bisa kumpulkan secepatnya." Ujar Pak Dikta.
"Pak Dikta tenang saja. Hari ini langsung saya bakal kumpulin tugas hukuman ini." Kata Aurora dengan penuh kepercayaan diri.
"Baiklah. Saya akan tunggu."
Aurora tersenyum sekilas lalu kembali berfokus pada tugasnya. Seperti apa yang baru saja dikatakan, Aurora akan mencoba untuk menyelesaikan makalah ini hari ini.
Suasana mendadak menjadi sepi. Tak ada perbincangan diantara mereka dan Aurora sangat tidak menyukai suasana seperti ini. Meskipun sedang fokus dan sibuk pada tugas, setidaknya masih ada obrolan.
"Pak Dikta..." Panggil Aurora mencoba membuat obrolan baru supaya suasananya tak terlalu sepi.
"Iya ?" Sahutnya singkat.
"Kenapa Pak Dikta memilih jadi dokter dan dosen ?" Tanya Aurora penasaran.
"Hanya ingin saja. Karena awalnya saya berfikir kalau profesi ini sedikit menyenangkan." Jawab Pak Dikta yang tidak memberi alasan sebenarnya.
"Benarkah seperti itu ?" Tanya Aurora yang merasa kurang yakin.
"Iya. Kalau kamu sendiri ? Kenapa memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran ? Ingin jadi dokter ?" Tanya Pak Dikta juga ingin tahu tentang hal yang sama.
"Ehmm..." Sebelum menjawab, Aurora sempat berpikir sejenak.
"Mungkin karena saya dulu terlalu menjadi fans fanatik dari dokter Tasia. Iya, sampai alasan saya jadi dokter karena ingin seperti dokter Tasia." Ungkap Aurora jujur dan tak bermaksud memancing.
"Kenapa seperti itu ?" Tanya Pak Dikta lagi tampak bingung.
"Dokter Tasia itu gak hanya cantik tapi, memang sangat berbakat. Namanya begitu terkenal dan paling hebatnya dia bisa mendapatkan beasiswa sampai ke luar negeri." Jawab Aurora mengatakan sesuai kenyataannya.
"Jadi, seharusnya kamu senang kalau dokter Tasia akan menjadi salah satu dosen tamu di kampus ini ?"
"Awalnya saya senang namun, sekarang sama sekali tidak." Tutur Aurora.
"Kenapa ?"
"Pak Dikta kenal dokter Tasia ?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Aurora ini berhasil membuat Pak Dikta terdiam sejenak.
"Kenal," Jawabnya sambil tersenyum.
"Sebagai sesama dokter, pasti saling mengenal." Tambah Pak Dikta yang membuat Aurora tersenyum tipis.
Awalnya Aurora memang berniat untuk mengobrol sambil mengerjakan tapi, setelah mendengar jawaban Pak Dikta itu membuat Aurora ingin mengakhiri obrolan dan hanya berfokus pada tugasnya.
Aurora tak tahu apa alasan Pak Dikta menjawab seperti itu ? Kenapa Pak Dikta tidak beritahu Aurora kalau dokter Tasia adalah mantan pacarnya ? Semua ini membuat Aurora menerka-nerka.
"Dokter Tasia cantik ya, Pak ?" Tanya Aurora tiba-tiba.
"Iya, karena dia perempuan." Jawab Pak Dikta dengan berani.
"Kalau dibuat perbandingan. Lebih cantik saya atau dokter Tasia ?" Tanya Aurora menjebak.
"Kamu. Makannya saya sukanya sama kamu." Jawab Pak Dikta yang langsung berhasil membuat pipi Aurora memerah.
...š„š„š„...
| Mode Chat |
...-----------------------...
__ADS_1
...Si Resek ā£ļø...
...-----------------------...
Pak Dikta :
Saya benar-benar minta maaf karena meninggalkan kamu begitu saja.
^^^Aurora :^^^
^^^Memangnya Pak Dikta kemana sih ?^^^
^^^Apa ada masalah ?^^^
Pak Dikta :
Bukan masalah.
Hanya saja ada pekerjaan dadakan yang harus saya urus.
Maaf karena meninggalkanmu di perpustakaan begitu saja.
^^^Aurora :^^^
^^^It's okay. ^^^
^^^Tapi, nanti Pak Dikta jemput saya kan ?^^^
Pak Dikta :
Saya gak bisa janji.
Kalau pekerjaannya belum selesai...
Maaf saya gak bisa jemput kamu.
^^^Aurora :^^^
Pak Dikta :
Tapi, saya akan kirim taksi online untuk kamu.
Tenang saja, kamu gak perlu panik soal kendaraan pulang.
^^^Aurora :^^^
^^^Hmmm... ^^^
^^^Iya...^^^
Pak Dikta :
Maafkan saya.
...---ooOoo---...
Pesan itu hanya berakhir dengan tanda read. Iya, Aurora hanya merasa enggan untuk menjawab lebih banyak lagi.
Baru tadi, mereka mengobrol bersama dan saling tertawa bahagia sambil mengerjakan tugas hukuman, Aurora kembali dibuat kesal oleh kelakuan Pak Dikta.
Bagaimana tidak ? Tadi, saat Aurora masih sibuk, suaminya tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan. Jangan dikira, Aurora tak tahu siapa gerangan yang menghubunginya. Aurora sempat melirik sekilas namun, bisa membaca dengan jelas.
Iya, Pak Dikta mendapat panggilan dari siapa lagi kalau bukan Dokter Tasia ā satu-satunya orang yang selalu berhasil membuat Aurora merasa kesal.
Bisa-bisanya suaminya itu memilih pergi meninggalkannya hanya untuk menemui Dokter Tasia namun, bilangnya ada pekerjaan dadakan.
Karena sudah diliputi oleh perasaan malas dan kesal, akhirnya Aurora memutuskan untuk mengakhiri semua pekerjaannya. Biarkan saja kalau tugas hukuman ini tak selesai. Aurora juga gak peduli. Cara Aurora merajuk memang seperti ini.
Tanpa berlama-lama lagi, Aurora pun beranjak dari tempatnya lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan ruang perpustakaan. Tujuannya sekarang adalah pergi ke kantin untuk mengisi perutnya sebelum pulang.
__ADS_1
.
.
.
Kantin, sore ini terlihat cukup ramai. Ternyata, meskipun matahari sudah mau terbenam, di kampus masih banyak mahasiswa yang tinggal. Mungkin, mereka semua tengah menunggu kelas sorenya ?
Tidak terlalu mempedulikan mahasiswa lain, sekarang yang harus dipedulikan olehnya adalah perut. Iya, tanpa membuang-buang waktu Aurora langsung memesan semangkok bakso ā bukan makanan favorit tapi, yang paling dipesan Arora saat di kampus.
"Bu, pesan baksonya satu porsi. Untuk isian seperti biasa ya !" Pinta Aurora yang langsung dapat dimengerti oleh penjualnya.
"Minumnya mau apa ?" Tanya ibu penjual bakso itu.
"Es teh manis." Jawabnya.
Karena pesanannya itu diantar, Aurora pun bergegas untuk mencari kursi kosong. It's okay, Aurora mendapatkan tempat duduk dengan jarak yang cukup jauh dari stand bakso itu.
Membuat dirinya nyaman, Aurora pun mengambil ponselnya yang ada di dalam tas sambil menunggu bakso pesannya siap.
Awalnya tidak ada apa-apa. Tidak ada notifikasi masuk yang berarti namun...
Mendapat notifikasi dari akun ghibah kampus membuat Aurora keringat dingin. Gak tahu hal apa yang membuat Aurora memfollow akun itu.
Membaca itu membuat Aurora semakin merasa kalau semua yang diduganya tadi sangat benar. Pak Dikta pergi bukan karena urusan pekerjaan tapi, memang ingin menemui dokter Tasia.
Tetapi, apakah beritanya bisa dipercayai ? Akun itu sama sekali tak memiliki foto apapun untuk bukti yang menunjukan kalau semua ucapannya benar. Aurora dibuat bimbang untuk sejenak. Ia bingung harus percaya dengan suaminya atau akun gosip itu. Bukankah, seharusnya Aurora percaya pada sang suami ?
Sekarang... Apakah Aurora masih harus mempercayai suaminya ? Benar-benar kepercayaannya saat ini tengah diuji.
"Baru kali ini membenci diri sendiri." Gumam Aurora yang kemudian menyantap langsung seporsi bakso yang telah dipesannya.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...š„š„š„...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Apa yang menjadi pilihan Aurora ? Apa ia akan mempercayai berita atau suaminya sendiri ?
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^