
Seperti apa yang diminta oleh Aurora, Gilang dengan senang hati membawanya pergi untuk menonton film horor yang memang itu merupakan genre favorit seorang Aurora.
Gilang juga tidak tahu, kenapa temannya itu lebih tertarik dengan genre film horor dibandingkan yang lain. Kalau bukan karena Aurora, Gilang sangat tak bersedia untuk menonton film horor.
"Lo yakin mau nonton film itu ?" Tanya Gilang memastikan sekali lagi sebelum memesan tiket.
"Film IT kan ? Tentu saja, dari kemarin pengen nonton itu tapi belum kesampaian." Ucap Aurora sambil tersenyum semangat.
"Gak mau nonton kartun aja ? Itu ada film kartun, keknya juga bagus." Gilang mencoba untuk membujuk temannya itu.
"Kalau nonton kartun bisa-bisa gue tidur di dalem bioskop." Ujar Aurora yang dengan jelas menolak menonton film lainnya.
"Ya udah, lo tunggu sini dulu. Gue beli tiketnya." Perintah Gilang lalu bergegas pergi menuju loket.
Dikarenakan tidak terlalu mendapatkan banyak antrean yang berarti, Gilang bisa kembali pada Aurora dengan cepat sambil membawa dua tiket.
"Ayo, Ra..." Ajak Gilang yang belum mendapat tanggapan apapun dari Aurora.
"Ra ?" Panggil Gilang kali ini sembari memberikan uluran tangan.
Aurora masih saja diam, tertunduk pada layar ponsel. Entah apa yang terjadi, hal ini membuat Gilang sedikit khawatir.
"Kenapa, Ra ? Ada masalah ?" Tanya Gilang yang kini telah mengambil tempat persis di samping gadis itu.
"Lang..." Aurora menunjukan layar ponselnya pada Gilang, menunjukan hal yang berhasil membuat matanya berkaca-kaca.
Gilang menatap layar ponsel itu dan mulai mencoba memahami apa yang sedang terjadi disini. Bukan tanpa sebab Aurora merasa sedih.
"Itu dokter Tasia sama Pak Dikta ?" Tanya Gilang langsung setelah melihat foto pada layar ponsel yang ditunjukan oleh Aurora itu.
Iya, sebuah foto yang menunjukan dinner bersama antar Pak Dikta dan Dokter Tasia, di rooftop sambil memperlihatkan keindahan langit malam dari negara Australia. Fotonya terkesan romantis dan mungkin bagi orang yang tak tahu pasti akan mengira kalau mereka berdua adalah pasangan.
Untuk foto ini, masih belum diketahui siapa yang mengirimkan padanya. Pasalnya, Aurora mendapatkannya dari sebuah nomer telepon yang tidak diketahui.
"Memangnya ini juga termasuk pekerjaan ?" Tanya Aurora yang mungkin setelah ini akan berhenti untuk mempercayai Pak Dikta.
Dari kemarin selalu saja, Aurora mencoba untuk berpikiran positif dan lebih percaya akan suaminya itu. Tapi, kalau sekarang sudah seperti ini apakah Aurora masih harus terus percaya ?
Gilang tahu kalau temannya itu ingin menangis. Sejak tadi, ia berusaha untuk menahan air matanya karena merasa sedikit malu kalau sekarang menangis. Akan banyak orang yang memperhatikannya.
Maka dari itu, Gilang berinisiatif untuk membawa Aurora keluar dari tempat ini dan mengajak gadis itu ke suatu tempat yang memang bisa membuatnya menangis dengan nyaman.
Gilang beranjak dari tempatnya lalu, tanpa sungkan menggandeng tangan Aurora dan melangkah keluar dengan tergesa-gesa dari gedung bioskop ini.
Sekarang jangan pedulikan tentang filmnya lagi. Tidak menjadi masalah kalau tiket yang telah dibeli Gilang itu hangus. Bukankah seharusnya lebih mementingkan keadaan Aurora dulu daripada film ?
...---ooOoo---...
Di atas motor yang masih bergerak melewati jalanan kota yang masih dengan langit sorenya, Aurora terlihat memeluk dengan erat pinggang ramping milik temannya itu lalu kepalanya ia benamkan pada bahu lebar Gilang.
__ADS_1
Gilang memang sedang berfokus untuk mengendarai motor ini tapi, suara tangisan Aurora mampu terdengar begitu jelas di telinganya.
Sesekali, Gilang melirik ke arah kaca spion bermaksud supaya bisa melihat temannya tapi, Aurora benar-benar menenggelamkan wajahnya. Gilang tak bisa melihat dan hanya bisa mendengar suara tangisan saja.
"Ra ?" Panggil Gilang yang berharap mendapatkan sebuah balasan.
"Apa Lang ?" Sahut Aurora meski sedikit agak lama.
"Mau pulang sekarang ?" Tanya Gilang lagi.
"Gue masih belum mau pulang." Jawab Aurora dengan suara sayu.
Jujur saja, Gilang belum kepikiran mau membawa Aurora kemana lagi. Karena setelah tadi keluar dari gedung bioskop, dirinya hanya terus mengendarai motor keliling kota. Begitu saja terus sambil membawa Aurora yang tengah menangis.
Sampai akhirnya, Gilang melihat ada sebuah tempat yang cocok untuk didatangi. Gilang lebih cepat lagi memacu motornya lalu, berhenti persis di dekat taman pinggir sungai.
"Kalau lo gak mau pulang, kita mampir di sini dulu aja ya..." Ucap Gilang yang kemudian melepaskan helm lalu turun dari motor terlebih dahulu.
Aurora yang saat ini memiliki mata sembab pun turun dari atas motor dan mengikuti Gilang dengan langkah tak bersemangat.
Gilang memandu Aurora untuk duduk sambil menikmati keindahan sungai yang memiliki Air begitu tenang ini. Mungkin, tempat ini memang cocok untuk Aurora yang sedang bersedih.
"Sekarang lo bisa nangis sepuasnya, cuma ada gue di sini." Kata Gilang mempersilahkan lagi Aurora untuk menangis.
Sebetulnya, jika kondisinya seperti ini sangat tidak disarankan untuk meminta Aurora menangis. Terkadang seseorang perlu menangis supaya perasaannya bisa lebih lega.
Aurora yang kini telah duduk persis di samping Gilang pun tak ragu menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu. Air mata kembali jatuh membahasi pipinya tapi tidak sederas tadi.
"Maksud lo ?" Gilang bertanya karena memang tak mengerti dengan arti kata berhenti.
"Berhenti percaya sama Pak Dikta." Ucap Aurora memberitahu dengan jelas maksudnya.
"Kenapa berhenti ? Apa karena foto itu ?" Tanya Gilang sedikit menelisik.
"Pak Dikta sama Dokter Tasia bilang kalau diantara mereka gak ada hubungan sama sekali dan..." Aurora mencoba untuk lebih perlahan-lahan lagi dalam berbicara.
"...Pak Dikta selalu meyakinkan gue kalau perasaannya cuma buat gue tapiโ" jeda sengaja dibuatnya.
"โsekarang gue ngerasa kalau semua itu bohong. Dari awal kepergiaannya ke Australia itu bukan karena pekerjaan." Tutur Aurora yang sudah meragukan semuanya.
"Bukannya gue mau membela Pak Dikta tapi, kalau dari pengelihatan gue perasaan Pak Dikta ke lo itu bukan pura-pura. Pak Dikta beneran sayang tulus sama lo." Ucap Gilang mencoba untuk menyakinkan temannya kalau semua keraguannya itu tak benar.
"Sayang ?" Aurora terkekeh kecil.
"Pernikahan gue awalnya itu bukan karena cinta. Semua terjadi karena terpaksa. Pak Dikta itu cuma mempermainkan gue aja. Dia gak sayang sama gue, Lang ! Dia lebih sayang sama mantannya itu." Ucap Aurora yang mulai muak akan perasaannya sendiri.
"Bodohnya, gue malah melibatkan perasaan dalam permainannya itu." Tambah Aurora.
"Terus sekarang, lo maunya gimana ?" Tanya Gilang yang sudah menyerah untuk memberitahu temannya.
__ADS_1
"Mungkin melepaskan adalah yang terbaik. Gue mau membiarkan Pak Dikta bahagia." Kata Aurora menyampaikan niatnya.
"Gue rasa, Pak Dikta gak akan bahagiaย dengan itu."
"Kebahagiaan Pak Dikta itu bukan gue, Lang ! Dia bahagianya cuma sama dokter Tasia." Ujar Aurora yang merasa kalau dugaannya akan hal ini benar.
"Melepaskan memang jalan paling baik hanya untuk orang-orang yang tidak saling mencintai bukan sebaliknya." Kata Gilang sembari mengusap singkat ujung kepala Aurora dengan lembut.
"Perpisahan itu menyakitkan, Ra ! Apalagi sekarang ada bayi di dalam perut lo." Gilang mencoba untuk memperingati temannya itu.
"Tapi lebih menyakitkan jika kita memaksakan bersama dengan orang yang tidak mencintai kita."
Aurora menghela napasnya berat sebelum memberitahu keputusan besarnya kepada Gilang.
"Gue mau minta cerai sama Pak Dikta. Ini adalah sesuatu yang tepat dilakukan untuk kebaikan semua orang." Tutup Aurora memberitahu keputusannya yang benar-benar salah.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Kesalahpahaman memang selalu menjadikan hal buruk. Kalau saja Aurora masih memilih mempercayai sang suami pasti, pikiran untuk berpisah tak akan muncul.
Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?
.
.
.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^