Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 72 : Hal Paling Menyakitkan


__ADS_3

..."Ternyata belum siap aku, kehilangan dirimu. Belum sanggup untuk jauh darimu yang selalu ada dalam hatiku."...


...- Stevan Pasaribu, Belum Siap Kehilangan....



.......


.......


.......


Bagaimana caranya untuk Aurora berhenti meneteskan air mata dan merasakan sakit setelah mendengar bagaimana kisah sebenarnya yang dialami oleh Pak Dikta ?


Aurora sama sekali tidak tahu bahkan menyadari kalau selama ini suaminya itu mengidap penyakit lemah jantung.Ā  Karena selalu terlihat sehat dan baik-baik saja, Aurora jadi mengira kalau semua sama seperti apa yang kelihatan.


Jika tahu akan kehilangan seperti ini, Aurora pasti berusaha untuk mencintai pria itu lebih baik lagi dari semua yang telah dilakukannya kemarin.


Aurora benar-benar dibuat meruntuki diri sendiri, dia merasa sangat menyesal akan semua hal yang pernah dilakukannya kepada Pak Dikta. Sikapnya yang kurang baik dan selalu seperti anak kecil yang suka menyusahkan nya.


Andaikan saja waktu bisa diputar, Aurora pasti akan bersikap lebih baik dan pastinya akan merawat, memberikan dukungan kepada Pak Dikta supaya bisa cepat pulih.


Menyesal juga karena disaat Pak Dikta menghembuskan nafas terakhirnya, Aurora tak ada di sana untuk menemani.


"Bunda..." Aurora menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang ibunda.


Kabar mengenai kepergian Pak Dikta ini juga sudah di dengar oleh ibunda Aurora. Seperti halnya Aurora, ibunya juga merasa terkejut akan hal ini. Tidak dikira kalau menantu kesayangannya itu akan pergi secepat ini.


"Yang sabar ya, sayang." Tidak ada hal berarti yang bisa disampaikan oleh sang ibunda selain menenangkan putrinya itu.


"Padahal Pak Dikta janji bakal nemenin Rara terus tapi, kenapa sekarang pergi ?" Aurora masih belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian suami tercintanya itu.


"Apa memang Pak Dikta suka banget ingkar janji ? Kenapa Pak Dikta pergi ? Rara gak siap untuk hal ini." Ungkapnya lagi dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Semuanya sudah takdir dari Tuhan. Kalau Nak Dikta ingkar itu juga bukan keinginannya." Kata sang ibunda yang masih terus memeluk putrinya itu.


"Sekarang Rara harus gimana ? Anak Rara gimana ?" Tanyanya yang terdengar cukup frustrasi.


"Bunda yakin kamu pasti bisa mengurus dan mendidik anak mu dengan baik." Jawab sang ibu sambil menatap putrinya dengan senyuman.


Perasaan Aurora saat ini sedang tak baik-baik saja. Banyak hal yang tengah dia pikirkan dan itu menjadi ketakutannya. Apalagi sekarang, Pak Dikta sudah tak ada lagi disisinya. Kepercayaan diri Aurora terus menerus memudar.


"Kamu pasti akan menjadi ibu yang hebat. Seorang ibu yang selalu bisa dibanggakan oleh anaknya." Ibunda Aurora mengatakan hal ini lagi karena mengerti betul perasaan putrinya.


Merawat seorang anak, apalagi untuk kali pertama dan seorang diri itu begitu sulit. Tapi, mau sesulit apapun Aurora tetap harus melewatinya. Tidak perlu khawatir meskipun Pak Dikta sudah tak ada, Aurora masih memiliki ibunya dan juga ketiga temannya yang masih setia berada disisinya.


"Setidaknya jika ingin pergi, Pak Dikta harus berpamitan dengan benar." Protes Aurora sambil menatap ke arah foto pernikahannya yang terpajang dengan jelas pada dinding ruang tamu dari rumah ini.


Masih dengan perasaan sedih dan air mata yang tak kunjung berhenti, Aurora pun beranjak dari tempatnya lalu melangkahkan kakinya perlahan-lahan menaiki anak tangga.


Aurora merasa kalau harus menuju kamarnya dan beristirahat. Siapa tahu, nanti setelah terbangun semua mimpi buruk atas kepergian Pak Dikta bisa berakhir. Aurora tetap berharap kalau semua ini hanya sebuah mimpi. Pak Dikta, orang yang paling dicintainya masih hidup dan tinggal disisinya.


.


.


.


Pintu kamar dibuka oleh Aurora lalu tak perlu membuang banyak waktu lagi, gadis itu pun masuk dan memposisikan tubuhnya dengan nyaman di atas tempat tidur.


Ketika kedua mata Aurora bersiap untuk tertutup tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya. Aurora dengan cepat mengambil dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Gilang.


| Mode Chat |


...-----------------------...


...Gilang...


...-----------------------...


Gilang :

__ADS_1


Sedang apa ?


^^^Aurora :^^^


^^^Mau tidur.^^^


Gilang :


Disaat matahari belum tenggelam ?


^^^Aurora :^^^


^^^Tidak ada hal lain yang bisa gue lakukan selain tidur.^^^


Gilang :


Gue ada di depan rumah lo.


Sebenernya sih, mau ajakin lo keluar. Jalan-jalan gitu...


^^^Aurora :^^^


^^^Jalan-jalan kemana ?^^^


Gilang :


Kemanapun tempat yang bisa bikin lo senyum lagi.


^^^Aurora :^^^


^^^Gue gak yakin ada tempat yang seperti itu. Gue aja sekarang masih bingung gimana cara buat senyum lagi.^^^


Gilang :


Ya udah, kalau gitu kita gak perlu keluar jalan-jalan.


Gue aja yang nemuin lo dan berusaha sebisa mungkin untuk balikin senyuman itu.


^^^Aurora :^^^


Gilang :


Dari tadi udah ada di depan.


Gue bawa banyak coklat buat lo.


...---ooOoo---...


Membaca pesan itu, berhasil membuat Aurora langsung beranjak dari atas ranjang dan membuka kaca jendelanya. Ia hanya ingin memastikan kalau di luar gerbang memang ada Gilang.


Ketika dirinya baru membuka kaca jendela, dengan jelas terlihat seorang Gilang yang berdiri di dekat motornya, mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan tersenyum ramah kepada Aurora.


Mengetahui kalau Gilang datang berkunjung, Aurora pun kembali terlihat sedikit bersemangat. Gadis itu dengan cepat keluar dari kamarnya karena berniat membukakan pintu untuk Gilang.


Tak boleh membuat Gilang menunggu terlalu lama, Aurora harus bergegas mempersilahkan lelaki yang sudah lama menjadi teman akrabnya itu masuk.


"Gilang..." Panggil Aurora yang kemudian membukakan pintu pagar.


"Hai, Ra..." Sapa Gilang masih dengan senyuman lebar yang terlukis indah pada wajah tampannya.


"Gue kira lo masih ada di rumah." Kata Aurora.


"Udah ada disini dari tadi. Niatnya mau ngajak lo pergi tapi, gak jadi." Ucapnya.


"Kenapa gak jadi ?" Tanya Aurora terlihat bingung.


"Lo nya gak mau diajak." Jawab Gilang.


"Memangnya gue bilang gak mau pergi ?" Sepertinya Gilang salah untuk mengerti maksud Aurora.


"Ya enggak sih," Gilang terlihat tengah menggaruk tengkuknya yang dirasa tak gatal. "Tapi, gue ngerasa aja kalau lo emang masih mau ada di rumah."

__ADS_1


Aurora tersenyum kepadanya. Entah ini termasuk senyuman asli atau hanya kepura-puraan untuk menutupi rasa sedih.


"Masuk dulu, gue mau siap-siap. Gak mungkin kan perginya pakai baju kek gini ? Nanti yang ada gue dikira pembantu." Ucap Aurora mempersilahkan temannya itu untuk singgah sejenak di rumahnya.


"Jadi, beneran mau diajak pergi ?" Gilang bertanya lagi karena ingin memastikan.


"Iya..." Jawab Aurora singkat sambil menganggukkan kepalanya.


Mendengar itu membuat Gilang merasa bahagia. Ternyata kedatangannya kemari berhasil membuahkan hasil. Ia tak jadi pulang dengan hanya memberikan Aurora sekotak coklat yang tadi sempat dibelinya dalam perjalanan.


Karena sudah dipersilahkan, Gilang pun memasukkan motornya dan memarkirkan dengan rapi pada garasi yang tersedia di rumah ini. Tak lama setelah melakukan itu, Gilang pun mengekor di belakang Aurora masuk ke dalam rumah dengan membawa kotak coklat ditangan.


Menurut Gilang, siang ini suasana di rumah Aurora terasa begitu sepi, seakan ada sesuatu hal penting yang hilang. Ternyata, kepergian Pak Dikta bisa merubah semuanya sampai seperti ini. Mungkin, hanya waktu yang bisa mengembalikan semuanya seperti sediakala.


"Bunda ada di rumah, Ra ?" Tanya Gilang.


"Ada." Jawab Aurora singkat.


"Dikamar ? Lagi tidur ?"


"Mungkin."


"Memangnya kenapa, Lang ?" Tanya Aurora.


"Enggak apa-apa cuma ngerasa ini rumah agak sepi." Balas jujur Gilang.


"Seseorang yang penting udah gak ada jadi, suasananya seperti ini." Ucap Aurora dengan senyum terpaksa.


"Duduk dulu, Lang ! Gue mau ganti baju di kamar." Aurora meminta izin untuk meninggalkan Gilang sebentar.


"Oh ya... Gue juga bawa coklat mau ditaruh dimana ?"


"Taruh saja di meja ruang tamu." Perintah Aurora yang kemudian kembali menaiki anak tangga menuju kamar meninggalkan Gilang sendirian di ruang tamu.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Semua hal yang terjadi dalam hidup sudah diatur dalam takdir. Pertemuan dan perpisahan juga seperti itu. Takdir memang suka memberikan kejutan tak terduga.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.


Catatan kecil :


- cerita ini belum tamat ya, karena masih ada beberapa bab lagi yang akan di update.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2