Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 57 : Blessing


__ADS_3

Ini adalah perpisahan tapi bukan selamanya. Untuk dua minggu ke depan antara Pak Dikta dan Aurora akan memiliki jarak.


Aurora yang masih berada di dalam mobil dan merasa ragu untuk keluar pun menatap ke arah sang suami. Dari tatapan Aurora tergambar dengan jelas kalau dirinya tidak rela untuk membiarkan Pak Dikta pergi. Kalau bisa melarang, Aurora akan lakukan itu.


"Dua minggu ya ?" Tanya Aurora dengan suara yang terdengar lesu.


Pak Dikta tersenyum sambil mengangguk dan lalu mengusap singkat ujung kepala Aurora dengan lembut.


"Tidak akan lama." Kata Pak Dikta.


"Gak bakal lebih dari dua minggu kan ?" Tanya Aurora lagi.


"Dua minggu itu sudah lebih dari cukup. Saya juga tak bisa meninggalkan kamu terlalu lama." Ujar Pak Dikta.


"Jangan terlalu lama ! Kalau saya kangen gimana ?" Ungkap Aurora sembari menggenggam dengan gemas tangan Pak Dikta.


"Kalau kangen, kamu bisa hubungi saya."


"Bakal dibales ?"


"Saya usahakan." Pak Dikta juga tak bisa memberikan kepastian untuk hal itu.


Aurora masih ingin bersama Pak Dikta dan belum mau berpisah. Kenapa sang waktu sangat tidak memiliki perasaan ? Kenapa bergerak begitu cepat ? Tidak bisakah untuk memberikannya kesempatan lebih lama lagi ?


"Pak Dikta hati-hati ya... Berangkat selamat pulang juga harus begitu. Saya bakal tungguin Pak Dikta." Ucap Aurora yang kemudian langsung dilanjut membuka pintu mobil.


Aurora turun dari mobil itu sambil terus menatap dengan senyuman kearah sang suami. Sebelum pintu mobil ditutup, biarkan ia menikmati ketampanan wajah sang suami. Karena untuk dua minggu ke depan, dia tak bisa melakukan itu.


Lambaian tangan juga diberikan Aurora dan sampai akhirnya, saat pintu mobil itu sudah tertutup...


Aurora yang sudah siap melangkah masuk menuju ke kelasnya harus dihentikan kembali oleh sang suami. Iya, secara tiba-tiba suaminya itu turun dari mobil dan menarik tangan Aurora.


Sebuah tarikan tangan yang berhasil membuat Aurora tersentak kaget sehingga membuatnya harus jatuh kedalam pelukan Pak Dikta.


"Pak Dikta ?" Aurora dibuat bertanya-tanya akan apa yang sedang dilakukan suaminya itu.


Tak memberikan jawaban apapun, Pak Dikta justru semakin memeluk Aurora dengan begitu erat seakan tak mempedulikan keadaan sekitar. Iya, mereka berdua sekarang sedang menjadi pusat perhatian dari seluruh warga universitas.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja..." Pinta Pak Dikta yang merasa enggan untuk melepaskan pelukan itu.



"Selama saya tidak ada, tolong untuk jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai sakit atau terluka !" Ucap Pak Dikta ditengah-tengah pelukan itu.


"Iya..." Aurora hanya bisa menjawab sesingkat itu.


"Love you, Rara..." Ucapnya yang langsung melepaskan pelukan itu. Kini kedua mata mereka saling bertemu. Iya, mereka sedang bertukar pandang.


"Love you more..." Aurora tak segan untuk menjawab itu.


Tak langsung meninggalkan istrinya begitu saja, Pak Dikta memberikan sebuah kecupan singkat pada kening Aurora. Kecupan pada kening yang berartikan kalau Pak Dikta sangat menghormati istrinya itu.


"Semangat untuk kuliahnya." Tutur Pak Dikta yang menjadi akhir dari semua obrolan ini. Sekarang Pak Dikta benar-benar akan membiarkan Aurora pergi masuk ke dalam kelasnya.


Dengan perlahan-lahan, Aurora melangkah menjauh dari Pak Dikta. Ia berjalan pergi sambil sesekali masih menengok untuk memastikan kalau sang suami masih ada di sana untuk memperhatikannya.


Jarak semakin jauh dan juga sosok Aurora makin terlihat samar dalam pandangan Pak Dikta.


Dirasa sudah benar-benar tak bisa melihat sosok sang istri, Pak Dikta pun bersiap untuk masuk ke mobil. Iya, dirinya harus bergegas menuju airport. Hanya satu jam waktu yang dia miliki supaya tak ketinggalan pesawat.


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Aurora terduduk dengan lesu di kursi kantin bersama ketiga temannya. Kalau diperhatikan, sudah sejak tadi gadis itu hanya diam seperti melamun sambil terus memainkan sedotan yang ada pada es jeruk miliknya.


"Kenapa lagi, Rara ?" Tanya Arjuna yang mulai penasaran. Kali ini, masalah apa yang tengah menimpa temannya itu ?


"Pak Dikta pergi." Ujar Aurora mengatakan penyebabnya.


"Pergi kemana ?" Kali ini Keysha yang bertanya.


"Australia." Balas singkat Aurora.

__ADS_1


"Sendiri ?" Keysha bertanya lagi.


Aurora menggeleng. "Sama dokter Tasia."


"Kenapa sama dokter Tasia ?" Keysha memang banyak bertanya.


"Katanya sih ada urusan. Mungkin pekerjaan."


Keysha terkekeh kecil. Bagaimana bisa urusan pekerjaan sampai harus ke luar negeri ? Apalagi bersama dokter Tasia yang jelas-jelas merupakan mantan pacarnya. Pergi dengan mantan pacar dan meninggalkan istrinya. Keysha tak bisa menerima jika Pak Dikta pergi untuk alasan pekerjaan.


"Yakin cuma pekerjaan ?" Keysha meragu.


"By ?" Tegur Arjuna mencoba menghentikan sang kekasih supaya tak semakin memperkeruh keadaan dengan keraguannya itu.


"Apa ?"


"Lebih baik kamu hibur, Rara deh..." Suruh Arjuna.


"Hibur gimana ?" Tanya Keysha merasa bingung.


"Ya, hibur. Ajak jalan-jalan atau ngapain gitu." Rupanya Arjuna juga tak punya cara untuk membuat Aurora kembali bersemangat.


"Ra ?" Panggil Gilang tiba-tiba dan langsung membuat Aurora menoleh.


"Apaan ?"


"Nanti setelah selesai kampus, gue berniat main ke Timezone. Lo mau ikut gak ? Temenin gue gitu... Gak enak kalau main sendirian." Ajak Gilang.


"Lo cuma ajak Rara aja ? Kita enggak ?" Protes keras Keysha. Sepertinya dia tak mengerti maksud dan tujuan Gilang kenapa mengajak pergi Aurora secara tiba-tiba.


"Kita kan gak bisa, by... Bukankah nanti ada acara makan malam sama keluarga kamu ?" Tanya Arjuna yang berusaha membuat sang kekasih mengerti akan maksud Gilang.


"Mana ada ? Kita gak punya acara apa-apa." Keysha memang sangat tidak peka.


"Kok bisa kamu lupa sih... Kita ada acara, By..." Arjuna mencoba meyakinkan kekasihnya itu.


Sebenarnya acara yang dimaksud oleh Arjuna itu tak ada. Arjuna hanya mengarang supaya kekasihnya itu tak ikut pergi bersama dengan Gilang dan Aurora.


"Ra ? Lo mau kan nemenin gue main ke Timezone ?" Tanya Gilang untuk kepastian dan mengesampingkan ketidakpekaan seorang Keysha.


"Gue..." Belum sempat memberikan jawaban, rasa mual terlebih dahulu dirasakannya.


"Kenapa, Ra ?" Tanya Gilang yang langsung panik.


"Lo sakit ?" Tak ragu, Gilang langsung menyentuh kening Aurora. Hanya ingin memastikan saja kalau gadis itu tidak demam.


"Gue mau ke kamar mandi dulu." Ujar Aurora lalu dengan cepat beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju ke kamar mandi yang jaraknya tak jauh dari sana.


Keysha yang mengetahui kalau temannya itu tidak dalam keadaan yang baik-baik saja pun berinisiatif untuk menyusul dengan membawa tisu — siapa tahu dibutuhkan.


...---ooOoo---...


Di kamar mandi dari kampus ini, Aurora yang telah ada persis di depan closet pun mulai mengeluarkan semua isi perutnya. Entah mengapa, sekarang dirinya merasa begitu pusing dan mual padahal tadi ia dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Lo sakit ?" Tanya Keysha langsung setelah tiba di kamar mandi.


"Mungkin." Jawab Aurora yang terus merasa mual.


"Mau ke klinik kampus ? Gue anterin."


Aurora hanya mengangguk singkat.


"Hari ini ada yang jaga kan ?" Tanya Aurora.


"Harusnya setiap hari ada petugas yang jaga klinik kampus." Ucap Keysha lalu membantu temannya itu bangkit berdiri.


Tak perlu membuang waktu lebih banyak lagi, bersama dengan Keysha, Aurora melangkah menuju ke arah klinik kampus.


Klinik kampus juga tak kalah dengan rumah sakit. Penjaganya juga merupakan seorang dokter bukan hanya perawat.


Setibanya di klinik, Aurora langsung diminta oleh dokter itu untuk berbaring di atas brankar yang tersedia.

__ADS_1


Aurora pun berbaring dengan nyaman di atas brankar itu dan untuk Keysha masih setia menemani Aurora persis berada disampingnya.


"Ada apa ini ?" Tanya dokter penjaga klinik kampus yang ingin tahu soal permasalahannya.


"Temen saya, tiba-tiba aja merasa pusing dan mual." Keysha mencoba untuk membantu menjawab.


"Tadi habis makan apa aja ?" Tanya sang dokter sembari mulai memeriksa keadaan Aurora.


"Hanya nasi goreng dan es jeruk. Belum ada apa-apa lagi yang masuk ke perut." Ungkap jujur Aurora.


"Apa teman saya salah makan atau keracunan atau gimana ?" Tanya Keysha terdengar panik.


Setelah memeriksa secara menyeluruh, dokter itu hanya bisa tersenyum penuh arti. Kenapa tersenyum ? Apa memang kondisi Aurora tidak terlalu buruk sehingga membuat dokter itu bisa tersenyum ?


"Kamu sudah menikah ?" Tanya dokter itu.


Aurora mengangguk dengan percaya diri.


"Kapan terakhir kali datang bulan ?"


Mendadak dokter itu bertanya seperti ini ?


Aurora mencoba mengingat-ingat dan akhirnya menyadari sesuatu. Iya, siklus bulanannya ternyata sudah telat lebih dari dua minggu.


Dokter itu kembali tersenyum. Tunggu dulu, apakah Aurora sedang dalam keadaan hamil ?


"Saya sarankan kamu dan suami datang ke dokter kandungan untuk memeriksa lebih lanjut keadaan bayi yang ada di dalam perut kamu." Ujar dokter itu memberikan saran.


"Bayi ?" Aurora terkejut setelah mendengar saran itu.


"S-saya h-hamil ?" Pertanyaan itu keluar secara terbata-bata.


"Kalau ingin lebih memastikan lagi, kamu bisa melakukan cek lagi lewat testpack." Ucap dokter itu.


Hamil ? Secepat ini ? Dalam usia pernikahan yang baru akan menginjak tujuh bulan ? Apakah ini nyata ? Tuhan sangat percaya mau menitipkan manusia baru kepada Aurora ?


"Ini beneran kan, Dok ?" Tanya Aurora yang masih tidak menyangka.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...šŸ„€šŸ„€šŸ„€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Aurora menerima berkat sebesar ini dari Tuhan disaat Pak Dikta sedang tak ada disampingnya. Entah harus merasa senang atau justru sebaliknya.


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2