
Tiga hari berlalu, dengan kebaikan Tuhan yang masih boleh memberikan kesempatan untuk singgah di Bumi, Ayah Andre sudah diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit karena keadaannya yang semakin hari, makin membaik.
"Bukankah sudah Rara bilang, kalau ayah akan baik-baik saja." Ucap Aurora sambil mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh sang ayah.
"Iya hari ini. Gak tahu kalau besok." Ungkap sang ayah dengan tak percaya diri.
"Besok dan seterusnya, ayah akan tetap baik-baik saja." Kata Aurora sangat positif vibes.
Ayah Andre tersenyum lebar. Meskipun tak tahu dengan pasti sampai kapan Tuhan akan berbaik hati dengan memberikan kesempatan hidup lebih lama, ia tetap akan bersyukur.
"Ayah harus percaya kalau bakal temani Rara sampai seratus tahun ke depan." Itu adalah sebuah harapan yang tak mungkin pernah terjadi.
"Bisakah ?" Meskipun tahu tak mungkin, ayah Andre tetap saja menanggapi.
"Tentu. Ayah itu orang baik makannya, Tuhan sayang sama ayah." Ucap Aurora.
Setelah berjalan melewati lorong rumah sakit, akhirnya Aurora yang bersama dengan ayah Andre dan ibunya berada di depan pintu masuk dari rumah sakit ini.
"Taksi onlinenya sudah sampai dimana ?" Tanya sang ibunda kepada Aurora yang saat ini tengah fokus menatap ke layar ponsel.
"Dari tadi masih di tempat yang sama.Ā Mobilnya seperti gak bergerak." Jawab Aurora.
"Sudah kamu hubungi sopirnya ?" Tanya sang ibunda lagi.
Aurora mengangguk singkat. "Tapi, gak dibalas."
"Terus ? Kira harus menunggu berapa lama lagi ? Kasihan ayahmu kalau tetap ada disini." Kata sang ibunda terburu-buru.
"Coba Rara telepon ya..."
Setelah mengatakan itu, Aurora pun bergegas untuk menekan tombol panggilan yang ada di layar ponselnya.
Panggilan demi panggilan terus dilayangkan oleh Aurora tapi, hasilnya tetap sama. Sopir dari taksi online yang dipesannya tak memberikan jawaban sama sekali.
"Bagaimana ?"
"Tidak dijawab bunda."
Mereka tak bisa menunggu lebih lama dari ini. Bukannya apa-apa tapi, ayah Andre harus segera istirahat.
"Kamu batalkan saja. Cari driver lain." Perintah sang ibunda.
Seperti perintah itu, Aurora tanpa ragu untuk membatalkan pesanan taksi online akan tetapi, ketika dirinya akan memesan kembali tanpa diduga sebuah mobil SUV berwarna hitam yang tampak tak asing berhenti tepat di depan mereka.
"Apa ini mobilnya ?" Tanya sang ibunda.
"Rara baru akan mau memesan lagi." Jawab Aurora terlihat bingung juga.
Tak dibuat penasaran terlalu lama, kaca mobil pada bagian depan dari mobil itu terbuka. Sesosok pria tampan yang begitu dikenal oleh keluarga kecil Aurora, menatap ke arah mereka dengan senyumannya yang manis. Iya, itu adalah Pak Dikta.
"Selamat siang..." Sapaan akrab terlontar dari mulut Pak Dikta.
Aurora tak mau menggubris dosen itu jadi, ia akan tetap diam. Aurora diam tapi, tidak dengan kedua orang tuanya. Mereka justru membalas sapaan itu dengan ramah.
"Selamat siang juga, Nak Dikta." Balas kedua orang tua Aurora bersamaan.
Entah apa yang diinginkan oleh dosen itu, Aurora melihat dengan jelas kalau Pak Dikta berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobilnya.
"Om, Tante... Kalau diizinkan, saya bisa mengantar kalian pulang." Ucap Pak Dikta mengajukan sebuah penawaran tapi, langsung ditolak Aurora mentah-mentah.
"Gak perlu ! Saya sudah memesan taksi online." Nada bicara Aurora terdengar amat sinis.
"Oh ya ? Sekarang sudah sampai dimana ?" Tanya Pak Dikta yang berhasil membuat Aurora kelimpungan melihat ke arah layar ponsel miliknya.
Aurora masih diam, belum menjawab apapun.
__ADS_1
"Sudah sampai mana ?" Pak Dikta mengulang pertanyaan.
"A-anu..." Aurora menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Pak Dikta tersenyum lalu berkata. "Kamu belum memesan taksi online kan ? Sudah daripada menunggu lebih lama, lebih baik saya yang antar saja."
"Rara ?" Panggil sang ibunda yang memberikan isyarat melalui tatapan matanya. Sebuah isyarat yang meminta supaya Aurora tak menolak tawaran dari Pak Dikta.
"Kalau kamu memesan taksi online sekarang, pasti datangnya akan lama. Apa kamu tidak kasihan dengan Om Andre ?" Pak Dikta hanya berusaha untuk membuat Aurora mau menerima tawarannya.
Karena banyak desakan, mau tidak mau Aurora menerima tawaran dari Pak Dikta. Setidaknya kalau diantar oleh Pak Dikta, ayahnya bisa segera beristirahat.
"Tolong bantu ayah saya masuk ke mobil." Tutur Aurora sambil melangkah mendekat ke arah mobil SUV milik Pak Dikta.
Tanpa diminta, dengan senang hati Pak Dikta pasti akan membantu ayah Andre.
...---ooOoo---...
Mereka bertiga saling bekerjasama untuk membatu Ayah Andre masuk ke dalam mobil SUV itu.
Aurora yang sudah berada di samping mobil pun tak ragu untuk membuka pintunya ā membuka jalan supaya sang ayah bisa masuk.
Pak Dikta yang memiliki banyak otot dan kekuatan, seperti seorang pria jantan yang perkasa ia menggendong tubuh ayah Andre, membawanya masuk dan duduk nyaman di jok belakang dari mobil.
Sang ibunda juga berusaha untuk melipat kursi roda milik suaminya lalu berniat memasukkannya ke dalam bagasi mobil namun, Pak Dikta mencegahnya.
"Biar saya saja yang memasukannya. Tante, duduk nyaman saja dengan Om Andre." Larang Pak Dikta.
Tak terlihat kelelahan, Pak Dikta mengangkat kursi roda itu lalu dengan mudah memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Ketika si dosen ganteng itu akan ikut masuk ke dalam mobil, langkahnya harus terhenti karena Aurora.
Aurora yang kini sudah ada tepat di hadapannya dengan kedua tangan terlipat dan tak ketinggalan juga dengan tatapan mata yang tajam, mengintimidasi.
"Tenang saja. Saya tak pernah mengharapkan apapun setelah berbuat baik." Ucap Pak Dikta dengan mudahnya lalu melewati Aurora begitu saja.
...š„š„š„...
Jalanan kota pada siang ini terbilang ramai lancar dan sangat mendukung Aurora untuk segera keluar dari mobil yang dikemudikan oleh Pak Dikta.
Rasanya berada di dekat Pak Dikta sungguh membuat tak nyaman. Sejak tadi mobil ini bergerak, Aurora sudah berharap untuk bisa cepat-cepat turun.
Hanya butuh sekitar dua puluh menit untuk bertahan, akhirnya Aurora bisa turun juga dan tentunya menjaga jarak dari dosen itu.
Setelah turun, rasa sesak dan tak nyamannya langsung hilang. Ia merasa cukup bebas sekarang.
"Makasih ya, Pak." Ucap Aurora dengan gaya bicara santai.
"Rara kok bilang makasihnya gak sopan gitu ?" Kata sang ibu memperingatinya.
"Pak Dikta sudah banyak bantu, masa ucapan terima kasihnya seperti itu." Ayahnya juga ikut menegur sang putri.
Aurora menghela napas malas, ia juga memutar bola matanya dengan enggan.
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Dikta yang baik hati dan tidak sombong." Ucap Aurora terdengar tak ikhlas.
Pak Dikta terkekeh kecil.
"Iya sama-sama." Balasnya dengan sebuah senyuman yang terukir di wajah tampannya.
Aurora kira setelah mengatakan semua itu, ia bisa langsung masuk bersama kedua orang tuanya tapi, nyatanya tidak. Dirinya masih harus terlibat dengan Pak Dikta.
"Ada apa ya, Pak ?" Tanya Aurora tanpa basa-basi lagi.
Belum menjawab apapun, Pak Dikta mengambil sesuatu yang belum jelas dari saku dalam jasnya.
__ADS_1
Pak Dikta meraih tangan Aurora lalu ditaruhnya sebuah kotak cincin pada telapak tangan gadis itu.
"Saya hanya ingin memberikan ini kepadamu." Kata Pak Dikta sembari tersenyum tipis.
Aurora membelalak tak menyangka kalau dosen itu memberikan sebuah cincin yang sangat cantik dan pastinya memiliki harga tak murah.
"Kamu suka ?" Tanya Pak Dikta ingin memastikan saja kalau yang dibelinya itu sesuai dengan selera Aurora.
Aurora tak akan munafik ataupun berbohong. Ia akan bilang kalau cincin ini sesuai dengan seleranya.
"Kalau kamu suka, saya harap cincin itu bisa kamu pakai tepat di jari manis." Kata Pak Dikta penuh harap.
"Maksud, Pak Dikta ?" Rupanya Aurora masih belum mengerti.
"Itu cincin yang akan saya pakai untuk melamar kamu. Saya berikan kepadamu dulu, supaya kamu bisa memikirkan lagi soal pernikahan yang diinginkan oleh Om Andre." Ujar Pak Dikta mengungkap maksud dan tujuannya.
Dengan segera dan tak berpikir panjang, Aurora memberikan cincin itu kembali. Secantik atau semahal apapun cincin yang diberikan Pak Dikta, Aurora tak akan menerima.
"Tidak. Keputusan saya sudah bulat. Pernikahan itu tak akan pernah terjadi." Ucap Aurora menolak lagi dengan tegas.
"Kamu yakin ingin mengabaikan keinginan ayahmu ?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Aurora membungkam. Jujur, tak ada jawaban yang pas untuk itu.
"Saya sudah punya pacar, gak mungkin kalau mengkhianatinya." Aurora memperjelas alasannya menolak.
"Oke." Pak Dikta memasukan kembali kotak cincin itu ke dalam saku jasnya. Cukup kecewa karena mendapat penolakan beruntun dari Aurora.
"Kalau kamu punya alasan untuk menolak, saya juga punya alasan untuk menyetujui pernikahan itu," Kata Pak Dikta seraya menatap Aurora lekat-lekat.
"Kalau kamu berubah pikiran, tolong temui saya. Kabar baik darimu akan selalu saya tunggu." Pungkas Pak Dikta.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Pak Dikta pun bergegas untuk meninggalkan rumah ini.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. kepoin aja akun Ig nya supaya bisa dapat spoiler dikit-dikit :)
...š„š„š„...
Hai kawan, gimana nih ? Kalian suka gak ? Kalau suka seperti biasa, jangan lupa untuk berikan like, komen dan vote supaya author bisa lebih semangat lagi updatenya.
Yuk, bantu author untuk meramaikan lapak cerita ini :)
Sangat diperbolehkan untuk kalian yang ingin follow akun noveltoon author maupun bergabung dengan group. Mari kita berteman lebih dekat :v
.
.
.
Sebenernya lebih enak yang pasti gak sih ? Daripada harus nungguin yang gak pasti ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1