Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 36 : Cemburu


__ADS_3

Waktu memang merupakan hal terbaik untuk melupakan segala kesedihan. Akhirnya, setelah kurang lebih seminggu Aurora bisa kembali kepada rutinitas normalnya.


Pagi ini, Aurora yang mengenakan pakaian berwarna mencolok melangkah mendekat ke arah ketiga temannya yang tengah duduk bersama di kantin.


Aurora mendatangi mereka dengan semangat dan wajahnya kelihatan sangat ceria dan sumringah. Mungkinkah rasa sedihnya sudah sepenuhnya hilang ?


"Pagi epribadiii..." Sapa nya sambil tersenyum lebar.


Melihat kedatangan temannya yang tiba-tiba itu membuat Keysha sedikit panik dan terkejut. Kalau dilihat sih, seperti ada yang sedang disembunyikan darinya tapi, Aurora masih belum menyadari.


"Nih anak akhirnya masuk juga. Gimana liburannya, Ra ?" Tanya Gilang.


Aurora mendengar dengan jelas pertanyaan yang dilontarkan oleh Gilang namun, entah mengapa dirinya sekarang tak ingin menjawabnya. Kenapa ? Karena fokus Aurora sudah teralihkan pada sesuatu benda yang terlihat disembunyikan oleh Keysha.


"Apa yang lo sembunyikan ?" Tanya Aurora yang berhasil membuat Keysha kelimpungan.


"Bukan apa-apa kok, Ra..." Jawab Keysha yang sepertinya tak ingin menunjukan.


Dengan cepat, Aurora berhasil mengambil paksa sebuah undangan dari tangan Keysha. Awalnya Aurora masih belum membaca dan melihat secara seksama isi dari undangan itu.


"Lo sama Arjuna mau nikah ? Udah sampai tahap menyiapkan undangan." Kata Aurora yang masih belum menyadari.


Tahu kalau Aurora berhasil mendapatkan undangan itu membuat mereka bertiga terdiam. Rasa cemas dan takut kalau temannya itu tahu isi dari undangan itu.


"Ra, mending lo gak usah baca deh !" Larang Gilang sambil ingin merebut undangan itu tapi, dihalangi oleh Aurora.


"Kenapa gak usah ? Kalau ini memang bener undangan nikahan Keysha sama Arjuna, gue harus lihat dan baca." Ujar Aurora yang tak mau mendengar larangan itu.


"Ra, sini balikin undangannya ke gue..." Pinta Keysha.


"Jangan dibaca ya, Rara !" Arjuna juga ikut melarangnya.


Semakin dilarang, rasa penasaran yang timbul pada diri Aurora semakin besar. Tak mempedulikan semua itu, Aurora langsung membuka undangan itu dan membaca isinya. Ternyata...


Aurora menatap ke arah tiga temannya tanpa ekspresi. Tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, mereka bertiga berharap kalau Aurora bisa baik-baik saja.


"Undangan nikahannya Devin ?" Kata Aurora, semangatnya sudah meredup.


Keysha hanya bisa mengangguk.


"Kan udah gue bilang, jangan dibaca ! Salah sendiri gak mau nurut !" Ujar Gilang.


"Are you okay, Ra ?" Tanya Arjuna yang mulai merasa cemas.


"Cuma dikasih satu ?" Aurora bertanya.


"Iya..."


"Dasar gak modal !" Ejek Aurora.


Mendengar itu membuat ketiga temannya melongo kebingungan. Tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Mereka mengira kalau setelah melihat undangan itu, Aurora akan merasa sakit hati dan sedih. Maka dari itu, mereka berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan. Tapi, malah respon dari Aurora menunjukan hal lainnya. Apa dia sudah benar-benar move on ?


"Lo maunya dia kasih berapa undangan ?" Tanya Gilang.

__ADS_1


"Empat. Kita kan ada empat orang." Jawab Aurora terdengar santai.


Mengetahui reaksi Aurora yang seperti ini membuat keempat temannya merasa lega. Syukur kalau Aurora baik-baik saja.


"Jadi, lo udah benar-benar move on dari Devin ?" Tanya Keysha yang langsung membuat Aurora meringis.


"Kalau gue gak move on nanti sakit hati mulu. Tentu saja, gue sedang berusaha." Jawab Aurora lalu meletakkan kembali undangan pernikahan milik Devin dan Arin di atas meja kantin.


"Key, lo harus dateng ke acara pernikahan Devin !" Suruh Aurora.


"Kenapa gue harus dateng ?" Tanya Keysha yang rupanya juga tak memiliki niat untuk datang.


"Di undangan ini jelas tertulis nama lo. Dateng aja sama Arjun kalau enggak sama Gilang." Kata Aurora dengan mudah.


"Gue ada acara, Ra ! Jadi, gak bisa." Tutur Gilang dengan cepat.


"Si Arjuna dateng ?" Tanya Aurora.


"Kalau Keysha mau, gue pasti nemenin dia." Jawab Arjuna dengan senyuman.


Dengan memasang raut wajah sinis dan nampak tak nyaman, Keysha berucap. "Lagian nih ya, gue bingung sama si Devin. Dia kan harusnya tahu kalau diantara kita berdua masih ada perang dingin. Bisa-bisanya dia undang gue ke acara nikahannya."


"Maybe, dia pengen lo rusak acaranya." Canda Gilang yang berhasil membuat Aurora tertawa.


"Apa gue harus bawa petasan ? Nanti tuh petasan gue nyalain di tengah-tengah acara. Biar makin heboh." Ujar Keysha dengan niat buruknya.


"Kalian ini gak boleh jahat begitu..." Kata Aurora yang masih belum bisa menghentikan tawanya.


Di saat mereka berempat masih asyik bercengkrama, tiba-tiba ada sebuah notifikasi masuk dari akun Twitter kampus ini.


"Ada apa, Key ?" Tanya Aurora yang masih bingung.


"Katanya kampus kita bakal kedatangan dosen tamu." Jawab Keysha memberitahu.


"Seperti tahun-tahun sebelumnya." Tutur Gilang yang terlihat tak peduli.


"Siapa yang jadi dosen tamu ? Udah diumumin belum ?" Aurora sangat penasaran.


"Dokter Tasia. Lo pasti tahu dia akan ? Dokter cantik yang sekarang lagi ambil spesialis di Berlin ? Yang beritanya selalu ada di televisi dan sosoknya sangat menginspirasi ?" Ucap Keysha yang sepertinya sangat mengenal tentang dokter Tasia.


"Gak perlu panjang lebar memberitahu. Gue juga tahu soal dokter Tasia. Sekarang siapa sih yang gak kenal dia ?" Ungkap Aurora tanpa semangat sama sekali.


Bukannya tak mau menyambut atau bereaksi sama dengan yang lain โ€” penuh semangat, Aurora justru merasa bosan karena lagi-lagi nama dokter Tasia di dengar oleh telinganya. Apakah belum cukup beritanya hampir setiap hari berada di televisi dan kampus ini ?


"Gak semangat banget si lo, Ra !" Ucap Keysha.


"Reaksi lo, datar banget." Imbuhnya.


"Terus gue harus bereaksi seperti apa ?" Tanya Aurora dengan tegas.


"Okay, kalau gitu gue bakal kasih tahu satu hal yang pasti buat lo semangat !" Tutur Keysha sembari mendekatkan kursinya ke arah samping tepat dimana Aurora berada.


"Lo udah tahu belumโ€”" Keysha sengaja menghentikan ucapannya. Ini dilakukan supaya membuat rasa penasaran Aurora keluar.


"Langsung kasih tahu bisa gak sih ? Gak perlu pakai acara berhenti di tengah jalan." Decak kesal Aurora.

__ADS_1


"Tapi kayaknya lo juga gak bakal peduli setelah gue kasih tahu soal ini..." Keysha mulai berbelit-belit.


"Apaan ! Lo jangan bikin gue kesel ya !" Aurora sudah diliputi oleh rasa penasaran yang sangat.


"Dengar-dengar sih, kalau dokter Tasia itu mantannya Pak Dikta." Ungkap Keysha sesuai dengan kabar yang beredar.


"Serius lo ?" Justru yang terkejut disini malah si Gilang. Aurora masih dengan ekspresi datar, terlihat tak terlalu berpengaruh akan hal itu.


"Ini yang kamu bilang bisa membuat Rara bersemangat, By ?" Tanya Arjuna.


"Ya, aku kira si Rara bakal cemburu atau apa gitu." Decak tidak puas Keysha dengan respon Aurora.


"Ra, lo gak cemburu ?" Tanya Keysha hanya ingin memastikan saja.


"Untuk apa gue cemburu ! Kalian kan tahu kalau gue nikah sama Pak Dikta itu tanpa cinta. Kita memang terikat dalam pernikahan tapi, perasaan kamu sama sekali tidak terikat." Kata Aurora berusaha bersikap tenang.


"Jadi, lo beneran gak cemburu ? Atau marah gitu ?" Keysha ingin memastikan lagi.


"Gue sama sekali gak cemburu ! Kalau mereka mau balikan, gue sama sekali gak masalah. Justru gue seneng akhirnya bisa cerai dari Pak Dikta." Aurora mengatakan ini tanpa berpikir sama sekali. Asal ceplos, keluar begitu saja dari mulutnya.


"Temen gue, udah punya cita-cita jadi janda." Goda Gilang.



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, akan lebih baik untuk mengurangi rasa gengsi.


Mau ngomong apa sama mereka ? Aurora ? Pak Dikta ?


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2