
"Kalau begitu, Rara pamit dulu. Mau berangkat sekarang." Pamit Aurora setelah menyelesaikan rutinitas makan paginya.
Dengan Cepat Aurora beranjak dari kursinya lalu berjalan menjauh meninggalkan piring kosongnya yang masih ada di meja makan.
"Aurora..." Panggil Pak Dikta tiba-tiba dan berhasil membuat langkah Aurora yang belum jauh itu berhenti.
"Iya ?" Tanyanya sambil menoleh.
"Biar saya yang antar." Ucap Pak Dikta.
"Tidak perlu, saya bisa naik taksi online." Bukan Aurora namanya kalau dia tak menolak ajakan itu.
Belum ada 24 jam menikah dengan Aurora, Pak Dikta sudah mendapatkan banyak penolakan dan itu berhasil membuat Pak Dikta terheran serta merasa aneh.
"Boleh tahu, alasan kamu selalu menolak saya ?" Tanya Pak Dikta yang butuh jawaban.
Aurora belum menjawab apapun, gadis itu melirik sejenak ke arah kedua orang tuanya yang memang sejak tadi mengarahkan pandangannya pada mereka berdua.
"Ayah, Bunda..." Aurora memanggil mereka dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya.
"Rara berangkat dulu ya, sama Pak Dikta." Kata Aurora lalu menggandeng tangan Pak Dikta dan membawa dosen itu menjauh dari kedua orang tuanya.
Sudah berada tepat di teras rumah, Aurora dengan cepat melepaskan gandengan tangannya dari dosen itu. Iya, dirinya merasa enggan kalau harus menggandeng tangan Pak Dikta lebih lama dari ini.
"Pak Dikta dengerin saya, ya..." Aurora mulai terlihat serius.
"Meskipun kita sudah menikah, Pak Dikta gak perlu menjadi sosok suami yang baik karena saya juga gak akan melakukan itu," Aurora berhenti sejenak.
"Saya gak akan pernah jadi istri yang patuh dan baik !" Sambung Aurora memberi penegasan.
"Dan satu lagi..." Masih ada yang ingin dikatakan oleh gadis itu.
"Status suami istri hanya akan ada di rumah bukan di kampus !"
"Saat di kampus, status kita hanya sebagai dosen dan mahasiswi. Kecuali terdesak dan dibutuhkan untuk berpura-pura,"
"Pak Dikta ingat kan alasan saya menerima lamaran dan pernikahan ini ?" Aurora mengingatkan Pak Dikta kembali.
"Iya, saya hanya sebuah pelampiasan yang akan membantumu untuk move on dari mantan pacar kamu." Kata Pak Dikta.
"Jadi, jangan melewati batas !" Tutur Aurora dengan tegas.
Setelah memberi sedikit teguran dan mengingatkan Pak Dikta soal pernikahan ini, Aurora pun melenggang pergi menuju ke arah taksi online yang sudah menunggunya di depan pagar.
Pak Dikta yang masih berdiri di teras rumah hanya bisa menatap kepergian sang istri sambil sesekali menghela nafas berat. Semoga Tuhan masih memberinya kesabaran yang cukup.
...---ooOoo---...
Jarak antara rumah Aurora dengan kampus terbilang cukup dekat, tak membutuhkan banyak waktu untuk diperjalanan, akhirnya taksi online yang ditumpangi oleh Aurora tiba juga tepat di depan pintu gerbang kampus.
Setelah membayar sesuai harga, Aurora pun bergegas turun dari taksi online itu dan disinilah dia sekarang. Padahal dia hanya mengambil libur sekitar seminggu tapi kenapa rasanya seperti sudah lama sekali.
__ADS_1
Aurora pun melangkah masuk lebih dalam lagi ke gedung kampus ini namun, tiba-tiba sebuah panggilan dari suara yang tak asing terdengar.
"Raraaa...." Panggilan itu terdengar sangat semangat.
Aurora langsung mendapatkan sebuah pelukan hangat dan super erat dari Keysha. Pelukan ini membuat Aurora sedikit kesusahan untuk bernafas.
"Rara, gue kangen banget liat lo ada di kampus." Ucapan penuh haru karena kerinduan itu keluar begitu saja dari mulut mungil Keysha.
"Iya,iya..." Aurora menepuk-nepuk punggung temannya itu berharap pelukan ini bisa segera dilepas.
"Gue juga kangen tapi, lo bisa gak lepasin pelukannya dulu... G-gue gak bisa nafas." Pinta Aurora yang langsung dituruti oleh Keysha.
Pelukan yang super erat dan membuat orang kesusahan bernafas itu pun akhirnya lepas. Aurora bisa kembali bernafas lega dan berbicara dengan benar.
"Maaf, maaf... Gue terlalu kangen sekaligus senang." Ini perkataan jujur karena senyum ceria nan semangat tergambar dengan jelas di wajah Keysha.
Aurora akan memaklumi itu karena dirinya juga merasakan hal yang sama, rindu dengan suasana kampus sekaligus teman-temannya.
"Gilang sama Arjuna kemana ? Mereka udah datang belum ?" Tanya Aurora yang juga mencari kedua teman lainnya.
"Oh katanya sih sudah ada di kantin. Biasa masih sarapan." Jawab Keysha memberitahu.
"Mau nyemperin mereka gak ?" Ajak Aurora yang berharap akan disetujui.
"Gue sih mau tapi, harus ketemu sama Pak Dikta dulu." Ucap Keysha yang berhasil membuat Aurora penasaran di pagi hari.
"Pak Dikta ? Kenapa lo mau nemuin tuh dosen pagi-pagi ?" Tanya Aurora.
"Izin ? Mau ngapain ?"
"Tadi pagi adik gue yang kecil jatuh dari sepeda nah, tulangnya itu patah. Jadi, gue harus jagain dia di rumah sakit. Bokap nyokap gue kan harus kerja." Ucap Keysha memberitahu masalahnya.
"Oh gitu... Get well soon ya buat adik lo." Kata Aurora dengan tulus.
"Makasih..." Balas singkat Keysha.
Ketika Aurora ingin berjalan menuju kantin untuk menemui dua teman laki-lakinya, Keysha kembali menghentikan.
"Rara, tunggu..." Ucapnya sembari memegangi lengan Aurora.
"Iya, kenapa Key ?" Tanya Aurora bingung.
"Gue mau tanya sama lo."
"Tanya apaan ?"
"Pak Dikta udah datang belum ? Lo kan istrinya jadi, pasti tahu ?"
"Keknya belum. Tadi, gue gak bareng dia. Kita berangkat sendiri-sendiri." Kata Aurora jujur.
"Lah kenapa ? Bukannya suami istri harusnya berangkat bareng ? Apalagi kalian kan satu tujuan ?" Keysha dibuat bertanya-tanya.
__ADS_1
"Gue gak mau orang-orang kampus tahu soal pernikahan gue."
"Lah kenapa ? Bukannya nikah sama Pak Dikta itu adalah sesuatu yang harus dibanggakan sekaligus dipamerkan ?" Keysha juga tak paham.
"Gue nikah sama Pak Dikta itu tanpa cinta dan terpaksa karena Devin. Iya, gue mau nikah sama dia cuma buat pelampiasan supaya bisa move on sekaligus mau balas dendam sama Devin." Aurora tak ragu untuk memberitahu hal semacam ini kepada Keysha.
"Gila ya, lo !" Keysha yang mendengar pun terkejut. Pantas saja pernikahan diantara keduanya terkesan tiba-tiba.
"Iya, gue emang udah gila," Aurora mengakui itu.
"Tapi, mau gimana lagi ? Gue harus nikah supaya gak sakit hati kalau nanti lihat Devin ada di altar pernikahan sama si Arin." Lanjut Aurora mengatakan kegelisahannya.
"Terus ? Kalau lo udah bisa move on, lo bakal cerai sama Pak Dikta ?" Tanya Keysha lagi.
"Yap ! Gue tahu dengan pasti kalau pernikahan ini gak akan lama, makannya gue mau semua ini dirahasiakan dari publik. Cuma kalian aja, temen-temen yang udah gue anggap dekat, yang boleh tahu soal ini."
"Cuma gara-gara cowok brengsek seperti Devin, lo bisa merelakan kebahagiaan dengan nikahin cowok yang gak pernah lo suka bahkan benci. Gila sekaligus bodoh !" Jujur Keysha.
"I don't have a choice. Gue gak mau terus-terusan patah hati. Rasa cinta gue sama dengan rasa kecewa gue ke Devin." Tukas Aurora lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kantin meninggalkan temannya yang masih berdiri di tempatnya.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kepoin akunnya agar bisa mendapatkan spoiler dari kelanjutan ceritanya.
...🥀🥀🥀...
Ayo dong untuk kalian yang sudah membaca sampai bab ini, jangan lupa untuk menekan tombol like, vote dan komentar.
Jadikan juga sebagai favorit supaya tak ketinggalan dengan kelanjutannya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :)
.
.
.
Mau bilang apa ke Aurora ? Atau Pak Dikta ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1