
Aurora kini telah terlihat duduk santai di atas sofa nan empuk yang ada di ruang tamu dari rumah ini. Rupanya, gadis itu sudah merasa puas dan cukup untuk melihat-lihat rumah milik Pak Dikta.
Tak terlalu lama dibuat menunggu, Pak Dikta akhirnya muncul juga dengan mengenakan pakaian berbeda dari sebelumnya. Kemeja coklat muda ditambah dengan celana panjang warna abu tampak begitu cocok.
"Maaf karena membuatmu menunggu." Kata Pak Dikta yang langsung mendapatkan balasan dari Aurora.
"No problem." Ujar Aurora dengan santai.
"Apa kamu tidak mau berganti pakaian juga ? Di kamar tamu ada pakaian wanita yang cocok untuk kamu kenakan."
"Tidak perlu," tanpa berpikir panjang, Aurora menolak.
"Pakaian saya tidak basah jadi, masih bisa dipakai dengan nyaman." Tambahnya.
Pak Dikta menganggukkan kepala tanda mengerti.
Tidak ingin lebih lama berada di rumah ini, Pak Dikta pun mengajak Aurora kembali untuk mengunjungi toko coklat.
"Kita berangkat sekarang ?" Tanya Pak Dikta yang ingin sebuah persetujuan dari sang istri.
"Ke toko coklat ?"
"Iya..."
Tanpa menunggu Pak Dikta, Aurora berjalan ke arah pintu keluar bermaksud untuk menuju ke mobil SUV yang terparkir dengan rapi di garasi luar rumah ini.
Melihat istrinya jalan mendahului tanpa ada ucapan, Pak Dikta hanya bisa tersenyum sambil terus mengekor di belakangnya.
...---ooOoo---...
Berada kembali dalam satu mobil dengan Pak Dikta, rasanya Aurora sudah mulai terbiasa. Suasana canggung yang selalu menghampiri mereka berdua saat sedang bersama seakan mulai pergi. Tidak ada lagi keheningan dalam mobil.
"Di rumah itu, Pak Dikta tinggal sendiri ?" Tanya Aurora yang memang sudah penasaran akan hal ini sedari tadi.
"Kalau sebelum menikah sih, iya. Cuma ada mbok aja yang bantu jaga rumah." Jawab Pak Dikta.
"Memangnya Pak Dikta gak punya adik atau kakak ?" Aurora bertanya lagi.
"Saya anak tunggal."
Seperti belum menjawab semua rasa penasarannya, Aurora terus bertanya.
"Jadi, sekarang rumah itu kosong ?"
"Iya... Tapi, sementara. Kalau kamu sudah mau diajak pindah, kita akan tinggal bersama di sana." Kata Pak Dikta sembari terus berfokus pada jalanan kota yang tampak ramai lancar.
Aurora terdiam sejenak, gadis itu terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu tapi, apa ?
"Pak Dikta ?" Panggil Aurora yang langsung membuat sang suami menoleh sekilas.
"Iya ? Apa apa, Rara ?"
"Minggu depan sudah jadwalnya untuk ujian, saya mau minta tolong ke Pak Dikta untuk tidak memberikan soal yang bisa mempersulit hidup." Pinta Aurora.
Obrolan yang bisa dibilang memiliki topik random harus terjadi karena untuk menghilangkan keheningan.
__ADS_1
"Soal dari saya akan mudah jika, kamu belajar dengan benar." Kata Pak Dikta yang sepertinya tidak sesuai dengan dugaan Aurora.
"Kalau bapak kasih soal yang susah, saya bakal minta cerai !" Tutur Aurora dengan tegas.
"Saya harus bersikap profesional sebagai seorang dosen." Balas Pak Dikta sembari memberikan senyuman kecil.
Pembicaraan dengan topik random ini pun berakhir ketika mobil yang dikemudikan Pak Dikta telah memasuki tempat parkir dari toko coklat.
Seusai Aurora melepaskan sabuk pengamannya, ia pun membuka pintu mobil lalu bergegas untuk keluar dan melangkah masuk ke toko coklat.
Pak Dikta membawa Aurora bukan ke toko coklat sembarangan. Aurora sangat tahu persis kalau banyak macam coklat serta makanan penutup yang dijual dengan harga tidak ramah di kantong. Harga memang cukup mahal tapi, sebanding dengan kualitas dan rasanya.
Sudah berada di dalam dari toko coklat ini, Aurora mulai melihat-lihat serta memilih beberapa coklat yang benar-benar menarik.
"Pak Dikta ?" Panggil Aurora kepada suami yang sedari tadi berjalan di belakangnya.
"Iya ?"
"Berapa banyak yang boleh saya beli ?" Tanya Aurora.
"Seberapa banyak yang kamu mau." Jawab Pak Dikta memberikan izin kepada sang istri untuk memilih coklat yang dimau.
Aurora tersenyum puas. Jujur saja sejak dulu ia sangat ingin mencoba coklat yang dijual dari toko ini. Selama ini, ia hanya melihat review dari internet.
Dari sekian macam coklat yang dijual, Aurora akhirnya menetapkan pilihan. Ia memang ingin mencoba semuanya tapi, itu tak mungkin. Ada sekitar lima macam coklat yang sudah menjadi pilihannya.
"Sudah ? Hanya itu saja ?" Tanya Pak Dikta yang ingin memastikan saja.
Karena istrinya sudah berkata seperti itu, Pak Dikta pun bergegas menuju ke kasir untuk membayar coklat pesanan Aurora.
"Saya bayar pakai ini, ya..." Kata Pak Dikta sembari memberikan kartu kredit miliknya.
Disaat Pak Dikta masih membayar, tanpa di duga mata Aurora mulai terpanah akan kecantikan Maccarones. Apa Aurora juga ingin membungkus itu ?
"Kamu mau ?" Tanya Pak Dikta yang tiba-tiba ada di belakangnya.
Sembari tersenyum, Aurora menolak. Ia merasa tak boleh membeli lebih banyak dari ini.
"Kapan-kapan saja." Tolaknya meskipun sebenarnya ingin.
...🥀🥀🥀...
Kembali ke rumah, bukan berarti bagi seorang Aurora untuk istirahat. Iya, dikarenakan pekan ujian akhir semester sudah mau dekat, Aurora harus memacu dirinya dengan belajar.
Impiannya adalah bisa lulus dari bangku kuliah hanya dalam waktu empat tahun. Itu sudah termasuk waktu tersingkat untuk lulus di program sarjana kedokteran.
Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian, itulah yang dicoba oleh Aurora untuk ditanamkan pada benaknya.
Aurora merasa lelah setelah menghabiskan kurang lebih tiga jam untuk membaca semua buku yang punya halaman super tebal itu. Gadis itu pun memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Tanpa beranjak dari tempatnya, Aurora melakukan sedikit peregangan pada tubuhnya yang dirasa kaku itu lalu, pandangan yang sedari tadi berfokus pada halaman buku pun beralih pada sang suami yang sedang duduk santai di sofa sambil membaca buku novel.
"Pak Dikta ?" Panggil Aurora yang berhasil membuat suaminya menoleh.
__ADS_1
"Iya ?"
"Di mata kuliahnya Pak Dikta, kira-kira materi yang keluar apa aja ya ?" Aurora tetap saja mengambil kesempatan untuk meminta bocoran soal.
"Pelajari saja materi yang pernah saya ajarkan. Saya buat soal tidak jauh-jauh dari sana." Jawab Pak Dikta yang mencoba bersikap profesional sebagai seorang dosen.
"Kasih lebih spesifiknya... Materi yang bapak ajarkan itu banyak." Kata Aurora masih berusaha untuk mendapatkan informasi mengenai soal ujiannya.
Pak Dikta enggan untuk memberitahu, oleh karenanya ia mencoba mengalihkan topik.
"Mau saya bawakan coklat untuk menemani kamu belajar ?" Tanya Pak Dikta sambil menutup bukunya dan tersenyum lebar kepada Aurora.
Dengan wajah dan tatapan datarnya, Aurora meraih sebungkus coklat yang ada di atas meja belajarnya lalu memakannya.
"Coklatnya enak." Kata Aurora lalu memalingkan wajahnya kembali fokus pada buku.
Aurora kira menikah dengan seorang dosen akan bisa mempermudah semua urusannya mengenai kuliah ternyata, tidak sama sekali.
Suaminya itu adalah seorang dosen yang mengutamakan profesionalitas dalam bekerja. Meskipun istri sendiri, ia tak akan memberitahu bocoran soal untuk tugas ataupun mungkin nanti saat Aurora sudah waktunya mengerjakan skripsi, dosen itu tak akan membantunya.
"Seharusnya gue cari suami dosen yang gak mengutamakan profesionalitas." Gumam Aurora dengan muka ditekuk.
Akun media sosial Author :
Instagram : just.human___
Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)
...🥀🥀🥀...
Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.
Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.
Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v
Terima kasih...
.
.
.
Punya suami dosen itu tak se-menyenangkan seperti yang ada dalam bayangan ? Benarkah ?
.
.
.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1