Beloved Mr. Dosen

Beloved Mr. Dosen
Bab 55 : Luar Negeri


__ADS_3

Aurora masih berusaha berpikir positif mungkin tiket itu hanya untuk urusan pekerjaan bukan hal lainnya.


Mungkin ada suatu pekerjaan yang sedang mereka lakukan dan itu mengharuskan untuk pergi ke Australia bersama.


Mau bagaimanapun Aurora berusaha untuk berpikir positif selalu saja pikiran negatif yang berhasil membuatnya overthinking dan menaruh curiga itu datang. Sekarang, jika sudah ada bukti seperti ini yang langsung ditemukannya sendiri bukan dari berita gosip atau lainnya, apakah Aurora masih mau percaya atau memilih meragukan lagi ?


Kalau semisal diantara Pak Dikta dan dokter Tasia masih ada hubungan atau masih saling menyimpan rasa, tidak perlu sembunyi seperti ini. Bilang ke Aurora langsung dan jelaskan semuanya. Aurora pasti akan bisa mengerti dan mungkin bisa mengikhlaskan Pak Dikta bersama kebahagiaannya.


Aurora terduduk lesu di sofa ruang tamu. Wajahnya juga terlihat sangat murung. Pikirannya tak bisa terlepas dari tiket pesawat itu. Sang ibunda yang kebetulan sudah selesai membuat kue pun mendatanginya. Tidak ada maksud apapun, ia hanya ingin bertanya ada apa.


"Aurora..." Panggilnya lalu mengambil tempat duduk persis di samping sang putri.


Aurora yang melihat dan tahu keberadaan sang ibunda pun tak ragu langsung memeluk dengan erat. Mungkin sekarang yang dia butuhkan adalah pelukan hangat dari seorang ibu.


"Ada apa sayang ? Kenapa mukanya murung begitu ? Apa ada masalah ?" Tanya sang ibunda yang mencoba mencari tahu permasalahannya.


"Bolehkah Rara bertanya ?"


"Mau tanya apa sayang ?"


"Kalau misalnya Rara cerai sama Mas Dikta, ayah bakal sedih gak ya ?" Tidak tahu apa maksud dari pertanyaannya tapi, ini berhasil membuat sang ibunda terkejut.


"Kalau ditanya seperti itu, pasti jawabannya sedih. Bukan hanya ayah tapi bunda juga." Jawab sang ibunda.


"Memangnya ada apa, Rara ? Kamu tidak berniat untuk cerai dari Nak Dikta kan ?" Tanya sang ibunda was-was.


"Rara gak tahu." Untuk saat ini, Aurora belum bisa memberikan jawaban.


"Aurora sayang..." Sang ibunda mulai ingin berbicara serius dengan putrinya itu.


"Kehidupan rumah tangga itu tidak semudah yang dilihat. Terkadang ada saja masalah yang membuat pikiran untuk berpisah itu muncul. Tapi, Aurora jangan lakukan itu ya ! Kalau memang ada masalah harus dibicarakan baik-baik terlebih dahulu," ibundanya mencoba memberikan Aurora pengertian.


"Kalau bisa menikah itu sekali seumur hidup. Aurora harus coba mempertahankan pernikahan ini apapun yang terjadi." Tambah sang ibunda.


Dengan mudahnya Aurora mengerti semua yang dikatakan oleh sang ibunda namun, untuk mempertahankan ? Aurora tak bisa melakukannya seorang diri. Jika memang dari pihak Pak Dikta tak ingin dipertahankan ya, mau bagaimana lagi.


"Bunda..." Panggil Aurora sembari menatap sang ibunda lekat-lekat.


"Tadi Rara gak sengaja menemukan dua tiket penerbangan ke Australia." Aurora mulai menceritakan masalahnya siapa tahu sang ibunda punya saran.


"Kamu mau liburan ?" Tanya sang ibunda yang masih belum mengerti.


"Tiket itu bukan punya Aurora. Iya, Mas Dikta akan pergi ke Australia tapi bukan sama Rara." Jawab Aurora memberitahu.


"Lalu ? Sama siapa Nak Dikta pergi ?"


"Dokter Tasia, mantannya." Ungkap Aurora tanpa ragu.


"Kamu yakin akan hal itu ?" Tanya sang ibunda yang sebenarnya kurang percaya.


Aurora mengangguk dengan keras. Ia menyakini kalau semuanya itu benar tanpa ada sangkalan sedikitpun.


"Pak Dikta... Maksud Rara, Mas Dikta sama sekali belum kasih tahu soal kepergian ini." Kata Aurora lagi.


Sang ibunda tersenyum lalu membelai lembut rambut milik Aurora.


"Saran Bunda, lebih baik kamu tanyakan hal ini pada Nak Dikta. Jangan berpikiran macam-macam terlebih dahulu ! Bunda yakin pasti ada penjelasan dari semuanya." Tutur sang ibunda memberi saran yang baik untuk putrinya itu.


"Nanti kalau Mas Dikta pulang, Rara pasti akan tanyakan soal ini." Ujarnya.


"Kapan Nak Dikta pulang ?" Tanya sang ibunda.


"Apa akan pulang malam seperti biasanya ?" Tambahnya.


"Rara juga gak tahu. Belakangan ini waktu pulang Pak Dikta tak menentu." Jawab Aurora sesuai kenyataan.


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...

__ADS_1


Aurora tak tahu harus berapa lagi menunggu kepulangan Pak Dikta. Pasalnya waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, batang hidung suaminya belum terlihat juga.


Sudah mengirim pesan singkat pun tak ada jawaban bahkan panggilan dari Aurora hanya ada nada sambung. Aurora sangat bingung, kemana perginya kabar dari sang suami. Apakah terlalu sibuk sampai tak bisa menyempatkan diri untuk memberi kabar.


Sampai akhirnya, lima belas menit kemudian, terdengar suara notifikasi pesan masuk pada ponsel Aurora. Iya, gadis itu mendapatkan sebuah pesan singkat dari sang suami. Apakah ini balasan dari pesannya ?


| Mode Chat |


...-----------------------...


...Si Resek โฃ๏ธ...


...-----------------------...


^^^Aurora :^^^


^^^Pak Dikta kapan pulang ?^^^


Pak Dikta :


Maaf, karena baru sempat membalas pesan mu.


Mungkin, saya akan pulang besok pagi.


Kerjaan saya disini belum selesai.


^^^Aurora :^^^


^^^Jadi, Pak Dikta gak bakal pulang ?^^^


Pak Dikta :


Iya...


Saya harap kamu tidak menunggu kepulangan saya.


^^^Aurora :^^^


^^^Apa ada pekerjaan di sana ?^^^


Pak Dikta :


Australia ?


Kamu tahu soal ini ?


^^^Aurora :^^^


^^^Saya gak sengaja menemukan tiket pesawat itu.^^^


^^^Pak Dikta pergi besok ? Sama dokter Tasia ?^^^


Pak Dikta :


Jangan salah paham !


Saya harus ke Australia karena memang ada kerjaan dengan dokter Tasia. Tidak lebih dari itu.


^^^Aurora :^^^


^^^Kalau mau lebih dari itu juga gak apa-apa kok.^^^


Pak Dikta :


Hanya untuk pekerjaan, Rara...


Kamu tidak mempercayai saya ?

__ADS_1


^^^Aurora :^^^


^^^Percaya.^^^


Pak Dikta :


Saya akan pulang besok pagi dan mengambil barang-barang untuk keberangkatan.


...---ooOoo---...


Aurora hanya membaca pesan itu tanpa sebuah jawaban dan entah mengapa Aurora langsung merasa kalau pesan itu dikirim bukan oleh Pak Dikta. Dari caranya mengetik semua pesan itu, seperti ada yang berbeda.


Bukan Pak Dikta yang mengirim atau memang Pak Dikta namun, sudah berubah ? Aurora sama sekali tak tahu itu.


Aurora meletakkan ponselnya sembarangan lalu memilih untuk tetap duduk di kursi yang ada pada balkon.


Ia duduk di sana sambil menatap ke arah langit malam yang berbintang. Kenapa harus seindah ini disaat Aurora sedang merasakan kegundahan dan kekecewaan ? Ya mungkin, karena langit mau sedikit menghibur Aurora.


"Pak Dikta dan dokter Tasia..." Aurora bergumam sendirian.


"Kalau memang kalian mau bersama, silahkan saja."


"Bukankah titik tertinggi dari mencintai seseorang adalah mengikhlaskan ? Kalau memang Pak Dikta bisa bahagia dengan dokter Tasia, aku ikhlas."


Aurora bahkan belum sempat menggenggam Pak Dikta untuk waktu yang lama tapi, sudah harus dipaksakan dengan kata ikhlas.


Ikhlas itu bohong. Mana mungkin manusia mau mengikhlaskan orang yang dicintainya pergi dan bersama orang lain. Ikhlas karena memang keadaan memaksa untuk melakukan itu.


"Kenapa harus jatuh cinta ? Kalau seperti ini, semua perasaan yang pernah Pak Dikta ungkapkan itu hanya suatu kebohongan." Aurora menilai dengan sesukanya.


"Hanya sebuah kata love you... Tidak bisa mengukur seberapa orang itu mencintai kita." Kata Auroraย  yang terdengar pasrah pada keadaan.


"Dokter Tasia memang cantik, gak salah kalau Pak Dikta lebih memilihnya bahkan sampai bisa membawanya ke Australia untuk liburan."



Akun media sosial Author :


Instagram : just.human___


Nb. Kalian bisa kepoin akunnya supaya bisa dapatkan spoiler dikit-dikit dari kelanjutan cerita ini :)


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Seperti biasa sebelum bab ini ditutup, author hanya ingin meminta kalian untuk memberikan like, komentar dan vote, supaya author bisa lebih semangat lagi buat lanjutin cerita ini sampai tamat.


Jadikan cerita ini sebagai favorit supaya kalian tak ketinggalan update terbarunya.


Mari bantu author untuk meramaikan lapak yang selalu sepi ini :v


Terima kasih...


.


.


.


Katanya Pak Dikta mau membahagiakan Aurora ? Tapi kenapa sekarang memilih bersikap seperti ini ? Apa semua perasaan itu hanya sebuah kebohongan belaka ?


Mau ngomong apa sama Aurora ? Atau sama Pak Dikta ? Atau sama tokoh lainnya ?


.


.


.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2