
Syerkhan tahu Syifa tidak masuk kerja dan, ia hanya diam. Sebab, semua masalah gadis itu adalah ulahnya.
"Tuan, semua proyek yang ada di kota B, Syifa yang menghendel. Bagaimana dia hari ini tidak masuk?" ucap sekertaris Syerkhan dengan cemas.
Syerkhan hanya tersenyum, karena dia masih memiliki senjata andalan, agar Syifa menyelesaikan semua proyek yang ditangani.
"Sekarang pergilah, aku akan membujuk Syifa," ucap Syerkhan dengan datar.
Sekertarisnya bergegas pergi dari sana dan, Syerkhan langsung pergi. Pria itu ingin menemui Syifa dan membujuk gadis itu kembali ke perusahaannya.
Setelah sampai di rumah Syifa, Syerkhan menelpon gadis itu dan, tidak mendapatkan jawaban, sehingga dia mengirimkan pesan.
Syerkhan: Aku ada di luar, buka pintu! Atau.
Syifa sangat kesal pada Syerkhan, karena pria itu selalu ingin diutamakan tanpa memikirkan perasaannya.
"Sebaiknya aku temui dia, daripada dia membuat ulah," gumam Syifa sambil turun dari ranjangnya.
Gadis itu membuka pintu rumahnya dan, Syerkhan langsung masuk ke dalam sebelum dia persilakan masuk.
'Baru kali ini aku sangat kesal padanya, karena selama ini Om Syerkhan tidak pernah membuatku kesal,' batin Syifa.
Syerkhan tersenyum sambil duduk di sofa, kemudian Syifa duduk di hadapan pria itu dengan wajah sedihnya.
"Sayang, sepertinya kamu dari kemarin menangis terus?" tanya Syerkhan dengan lembut.
Syifa tidak menjawab dan, ia hanya diam sambil mengelap wajahnya mengunakan tisu. Sebab, dari kemarin ia belum mandi karena sangat sedih.
"Sayang." Syerkhan mendekati Syifa dan mencium puncak kepala gadis itu.
"Euum, apa kamu belum mandi?" tanya Syerkhan, karena dia mencium aroma yang tidak sedap pada gadis itu.
"Iya," jawab Syifa dengan cuek.
Syerkhan tersenyum dan duduk di samping Syifa, kemudian memegang tangan gadis itu dengan lembut. Walaupun, dia harus menahan napasnya.
"Aku akan menikahimu," ucap Syerkhan dengan lembut.
Syifa langsung menatap wajah Syerkhan, kemudian menghempaskan tangan pria itu dengan sangat kesal.
"Maksudnya apa?!" tanya Syifa.
"Aku akan bertanggung jawab," jawab Syerkhan dengan cepat.
Syifa menjauh dari pria itu, karena dia takut saat Syerkhan mengatakan ingin menikahinya.
__ADS_1
"Syifa tidak bisa, bukankah Om tahu! Bila, Anggi akan menikahi Syifa?!" tanya Syifa dengan sangat emosi dan air matanya sudah mengalir deras.
Syerkhan tersenyum, kemudian mengingatkan percakapan mereka saat di taman beberapa Minggu lalu. Di mana Anggi dan Dila tidak akan marah bila mereka berdua menikah.
"Tidak! Semua itu, hanya lelucon!" teriak Syifa.
Sebab, impiannya menikah dengan sang kekasih hatinya telah hancur dan musnah seketika, gara-gara satu malam kelam bersama calon mertuanya.
"Jika kamu tidak mau, tidak masalah. Tapi, selesaikan semua proyek yang kamu tangani. Setelah itu, silakan ke luar dari perusahaan, aku tidak akan menahanmu," ucap Syerkhan dengan tegas.
Syifa hanya diam, karena dia berpikir hal yang sama dengan Syerkhan. Sebab, tanggung jawabnya lebih penting daripada keegoisannya.
"Baiklah, setelah semuanya selesai. Syifa akan pergi dari sini untuk selamanya," jawab Syifa.
Syerkhan tersenyum, karena Syifa tidak akan melakukan hal itu. Sebab, ia sangat yakin gadis itu akan hamil satu bulan kedepan.
'Benih ku sangat subur. Sebab, sebelum aku melakukan itu, sudah banyak mengkonsumsi vitamin agar anakku ada di dalam rahimmu,' batin Syerkhan.
"Tapi ingatlah, Syifa tidak akan bersikap seperti biasanya pada Anda, dan keluarga Anda," tambah Syifa.
Syerkhan mengangguk tanda setuju, dan dia bergegas pergi dari rumah Syifa. Sebab, sudah mendapatkan apa yang dia mau.
Sedangkan Syifa, duduk lemas di lantai sambil menangis sejadi-jadinya. Sebab, kehidupannya bener sudah hancur lebur.
Bagaimana tidak hancur, dia di jebak dan kehilangan kehormatan, sehingga tidak ada laki-laki yang akan menikahinya, terkecuali Syerkhan.
. . .
Dila masih memikirkan apa yang diucapkan oleh sang suami, karena hal itu sangat mengganjal di dalam hatinya.
"Tidak mungkin masuk angin, bekas lukanya seperti itu? Sepertinya, itu adalah jejak kepemilikan wanita," ucap Dila sambil mengingat kembali leher sang suami.
Dila berniat bertanya pada Syifa, karena gadis itu ada bersama suaminya di luar kota, sudah pasti tahu apa saja yang dibuat oleh Syerkhan.
"Benar, aku harus menghampiri Syifa. Atau, menelpon dia?" Dila bingung harus menelpon atau mendatangi Syifa.
Sebab, dia takut akan menganggu hari Syifa karena calon menantunya sangat sibuk sebagai seorang Asisten suaminya.
Dila memutuskan untuk menelpon Syifa dan, panggilan tersambung. Namun, gadis itu tidak menjawab panggilannya.
"Ada apa ya? Sebaiknya, aku datang ke rumahnya. Sebab, Anggi bilang Syifa tidak masuk kerja," gumam Dila sambil bersiap-siap.
Setelah selesai bersiap-siap, Dila langsung bergegas pergi menuju rumah Syifa dengan mengendarai mobil sendiri tanpa seorang supir.
Setelah sampai, dia langsung bergegas menuju rumah Syifa dan mengetuk-ngetuk pintu gadis itu.
__ADS_1
"Siapa ya? Tidak mungkin, jika itu om Syerkhan lagi," ucap Syifa dengan penasaran.
Gadis itu masih mengunakan kimono dan langsung membuka pintu. Sebab, ketukan pintu sangat mengganggunya.
Ceklek!
"Sayang!" Dila langsung memeluk Syifa.
Karena, dia sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu yang sangat lama membuka pintu, berpikir Syifa kenapa-kenapa.
"Mari kita masuk, Tante." Syifa melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam.
Dila juga masuk dan mereka duduk di sofa, dan Syifa tidak berganti baju. Sebab, ia takut ada masalah penting yang akan disampaikan oleh Dila.
"Sayang, mama mau bertanya sama kamu. Apakah papa masuk angin saat di luar kota?" tanya Dila.
Dengan terus terang, karena dia sudah tidak sabar mendengar jawaban Syifa dan mengetahui tentang suaminya.
"Masuk angin?" tanya Syifa dengan sangat heran.
Sebab, ia ingat betul bila Syerkhan tidak ada masuk angin selama mereka di luar kota. Namun, pria itu malah masuk ke gua lele.
"Iya, apakah papa masuk angin?" tanya Dila lagi.
"Tidak ada, karena Syifa ingat om Syerkhan sehat," jawab Syifa dengan jujur.
Deg!
Hati Dila langsung berdebar-debar, karena sudah pasti tanda merah itu milik wanita lain yang sudah tidur bersama suaminya.
"Sayang, sebenarnya ... " Dila menceritakan semua pada Syifa, membuat gadis itu terkejut.
Sebab, seingatnya tidak pernah membuat tanda merah di leher Syerkhan dengan jumlah yang sangat banyak.
"Begitulah sayang. Tapi, mama terkejut saat papa bilang kamu yang membuat tanda itu," ucap Dila dengan bersedih.
Syifa langsung terdiam, dan mengingat kembali video panasnya dan ingat memang dia yang membuat tanda merah itu.
"Syifa tidak tahu Tan, karena selama di sana Syifa hanya tidur di kamar. Sebab, tidak enak badan," jawab Syifa.
Dila tersenyum dan, memeluk gadis itu. Namun, matanya melihat ada tanda merah di leher Syifa dengan sangat banyak.
'Tidak mungkin Anggi, karena dia sangat menghargai wanita. Lalu, apakah suamiku dan Syifa, benar-benar melakukan hal itu?' batin Dila dengan sangat cemas.
BERSAMBUNG.
__ADS_1