Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
27 > Rumah yang sama


__ADS_3

Syifa menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya, dengan mencampakkan gaun pengantin yang ia kenakan dengan sembarang arah. Kemudian, dia mengenakan handuk kimono yang ada di atas tempat tidurnya.


"Kenapa semua ini terjadi padaku? Aku sangat membenci takdir ini, bisakah aku ikut ayah dan ibu saja!"


Syifa seakan tidak bisa menerima takdirnya yang seperti ini, ia berharap semu hanyalah mimpi. Namun, semua itu sudah terjadi ini bukanlah mimpi, semua adalah kenyataan.


"Aku tidak bisa melihat Anggi menikah dengan wanita lain, aku masih sangat mencintainya apakah aku salah, masih berharap bisa bersama dengannya?" tanya Syifa dalam isak tangisnya.


Gadis itu menangis tersedu-sedu sampai merasa sangat pusing kemudian terjatuh pingsan, tanpa ada yang mengetahui ia di dalam kamar pingsan. Sebab, Syifa mengunci pintu kamarnya.


. . .


Anggi semakin terisak-isak, saat Juwita menasehatinya dengan perkataan, yang sangat sedih.


"Sudahlah jangan kamu nasehati aku lagi, aku tidak bisa mendengarkan ucapan itu, karena semakin teringat kepada Syifa, wanita yang sangat aku cintai," ucap Anggi dalam isak tangisnya.


"Maaf, bukan seperti itu maksudku. Tapi, aku ingin kamu lebih bertenang jangan menangis seperti seorang wanita," ucap Juwita dengan lembut.


Anggi terdiam mendengar ucapan Juwita yang menyebutkan ia seperti seorang wanita dan, ia pun berhenti menangis kemudian menatap wajah sang sahabat.


"Aku tidak terlihat seperti seorang wanita, karena menangis itu wajar, pria juga boleh menangis," sahut Anggi melepaskan pelukannya.


Juwita merasakan jantungnya hampir copot, karena melihat tatapan dari Anggi dan, ia langsung menundukkan pandangannya agar tidak grogi ditatap Anggi seperti itu.


"Iya, laki-laki juga boleh menangis. Tapi, tidak seperti dirimu menangis seperti seorang wanita dan, itu sudah menjadi aib," jawab Juwita.


Anggi terdiam, kemudian tertawa karena Juwita selalu bisa menghiburnya kalau ia sedang bersedih seperti saat ini.


"Kamu adalah sahabat terbaikku, bisa menghibur aku di dalam kesedihanku yang seperti ini. Aku sangat beruntung bisa memilikimu," ucap Anggi dengan lembut membuat Juwita semakin grogi.


Dengan ucapan Anggi yang menyebutkan sangat beruntung bisa memilikinya, karena ucapan itu yang ia harapkan.


'aku senang kalau dia menyebutku sangat beruntung memiliki aku. Tapi, aku lebih senang kalau ia mengatakan itu sebagai rasa cintanya bukan rasa sahabat denganku,' batin Juwita lirih.

__ADS_1


Anggi tersenyum, kemudian mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah Juwita. Sebab, ia ingin mengantarkan gadis itu pulang terlebih dahulu baru dia kembali ke toko.


Namun, saat di tengah perjalanan Anggi merasa sangat pusing, mungkin karena ia terlalu lelah dan, belum pulih betul selepas operasi, sehingga pria itu menghentikan mobilnya.


"Ada apa, kamu sakit?" tanya Juwita dengan sangat cemas.


Anggi menganggukkan kepalanya, kemudian ia memegang kepala yang terasa sangat sakit dan Juwita langsung membantu pria itu.


"Biarkan aku saja yang mengemudikan mobilnya! Karena, aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Juwita dengan lembut dan Anggi hanya menganggukkan kepala.


Sebab, ia juga tidak sanggup lagi untuk mengemudikan mobil. Juwita ke luar dari mobil kemudian membantu Anggi bergeser tempat dan ia mulai melajukan mobil menuju rumahnya.


Karena, ia ingin merawat pria itu di rumahnya tidak di toko. Sebab, di rumah ada ibunya jadi mereka tidak berduaan di dalam.


"Elo bawa gue ke mana sih, gue udah nggak sanggup lagi, mending lo antar aja gue ke toko ntar lo pulang sendiri bawa mobil gue," ucap Anggi dengan lema.


"Jangan banyak tanya! Biar gue aja yang ngurus lo, oke!" sahut Juwita dengan kesal.


Sesampainya di rumah Juwita, gadis itu langsung membantu Anggi ke luar dari dalam mobil kemudian masuk ke dalam rumah.


"Ibu tolong! Bu ini teman Juwita sakit, bisakah ibu membantunya?!" tanya Juwita dengan sangat cemas. Sebab, melihat wajah pucat Anggi.


"loh Anggi, kenapa?" tanya ibunya Juwita dengan sangat cemas.


Wanita paruh baya itu langsung menghampiri Anggi, kemudian memegang tangan pria itu dengan lembut.


"Juwita kamu siapkan kompres air hangat, karena Anggi demam tinggi," pinta ibunya Juwita kepada sang anak.


Juwita langsung pergi dari sana, karena ia tidak tahu kenapa Anggi tiba-tiba demam tinggi. Padahal, tadi pria itu baik dan sehat.


'aku rasa Anggi sangat terpukul akan pernikahan Syifa. Jadi, dia sampai demam seperti ini,' batin Juwita lirih.


Anggi tidak bisa melakukan apa-apa lagi sampai membuka kedua matanya pun, ia tidak mampu karena demam dia sangat tinggi.

__ADS_1


"Syifa, kamu tega dan, papa sangat tega, papa sudah tidak sayang lagi kepada Anggi," celoteh Anggi.


Membuat ibunya Juwita terkejut dan ia kembali menaburkan minyak di kepala Anggi, entahlah minyak apa itu yang jelas agar demam Anggi cepat turun.


Setelah Juwita sampai, dia langsung memberikan air hangat kepada sang ibu, kemudian wanita paruh baya itu mulai mengompres Anggi dengan perlahan, dan Anggi sudah tertidur di atas sofa nyenyak.


"Bu, biarkan saja dia tidur di sini, Juwita yang menjaganya. Karena, kasihan dia sangat terpukul akan pernikahan papanya dan wanita yang sangat dia cintai,"ucap Juwita dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Anggi.


"Baik, ibu masuk ke dalam kamar dulu mau istirahat. Kamu jangan lupa temani Anggi selalu, bila demamnya tinggi lagi kamu segera panggil ibu, kita akan membawanya ke Dokter," jawab ibunya Juwita sambil bergegas pergi.


Juwita mengganggukan kepalanya saat melihat kepergian sang ibu, kemudian dia menyelimuti tubuh Anggi sambil menatap wajah pria itu dengan dalam.


'Andai kamu juga mencintaiku, pasti kita akan sangat bahagia saling mencintai, walaupun aku tahu cintamu itu hanya untuk Syifa. Sebab, kalian sudah bersama sejak 12 tahun yang lalu,' batin Juwita lirih.


Gadis itu sangat berharap bisa bersama dengan Anggi, walaupun dia tahu pria itu tidak mencintainya. Tetap akan memperjuangkan cinta sang pujaan hati.


. . .


Syerkhan merasa sangat pusing. Sebab, sudah sejak tadi mengetuk pintu kamar Syifa. Namun, gadis itu tidak membuka pintu untuknya.


"Syifa, ayolah maafkan aku sayang. Bukalah pintunya," ucap Syerkhan dengan lembut. Namun, tidak ada jawaban sama sekali.


Syerkhan lelah dan ia kembali ke sofa, kemudian duduk sambil terus menatap ke arah pintu kamar gadis itu, berharap pintu itu terbuka dan dia langsung berlari masuk ke dalam.


"Kenapa Syifa sejak tadi tidak membuka pintu kamar, jika aku mendobrak pintu itu, maka pasti dia akan sangat marah padaku. Sebaiknya aku diam dan menunggu pintu itu terbuka," ucap Syerkhan dengan pelan.


Pria itu merasa sangat lelah dan pusing kemudian meminjamkan kedua mata dan, tertidur dengan pulas tanpa ia sadari.


Pada saat itu juga, Dila menghampiri sang suami dan menyelimuti tubuh pria itu menggunakan selimut yang di bawa.


'Entah apa yang akan terjadi, yang pasti aku tidak sanggup jika melihat suamiku bersama dengan wanita lain, di dalam rumah yang sama,' batin Dila dengan lirih.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2