Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
22 > Tinggal di toko


__ADS_3

Setelah sampai di kampung, Syifa langsung bergegas pergi menuju rumah orang tuanya dulu yang ditinggalkan. Sebab, mereka memiliki rumah di kota dan juga ayah Syifa bekerja di kota.


Dengan langkah bergetar, gadis itu berjalan menuju rumah yang sudah tua tidak ada penghuni. Bahkan, tidak diurus lagi.


"Semoga, aku bisa tinggal di sini sampai selamanya, walaupun aku harus menerima omongan orang nantinya karena aku hamil tidak memiliki suami," ucap Syifa dengan lirih


Saat gadis itu akan masuk ke dalam rumah langkahnya terhenti, karena ada seseorang yang memanggilnya.


"Syifa!" panggil seseorang dari belakang dan gadis itu langsung menoleh.


"Kamu siapa? Apa, kamu mengenal aku?" tanya Syifa dengan sangat bingung, karena dia sama sekali tidak mengenal pria yang ada di hadapannya.


"Astaga, kamu lupakan aku ternyata," ucap pria tersebut sambil berdecak pinggang.


Syifa terdiam dan mengingat-ingat kembali siapa pria itu dan dia tersenyum. Sebab, pria itu adalah sahabat masa kecilnya.


"Ternyata kamu tidak melupakan aku," ucap Syifa dengan sangat bergembira.


"Tentu saja tidak, kau yang melupakan aku dan kau ingin tinggal di sini lagi?" tanya Ardan sambil menuju ke rumah tersebut.


Syifa bersedih kemudian menganggukan kepalanya dan, Ardan langsung menarik tangan gadis itu berjalan menuju rumahnya


"Kau tenang saja, selama rumahmu belum dibersihkan, kamu bisa tinggal di rumahku bersama dengan dengan ibuku. Sebab, aku tidak tinggal di rumah," ucap Ardan dengan lembut.


Syifa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sambil terus berjalan mengikuti pria itu sampai di rumah. Mereka langsung masuk ke dalam dan, melihat ibu Ardan tengah membuat tas rajut.


"Ibu, ini Syifa ia akan tinggal di sini, untuk sementara waktu karena rumahnya belum dibereskan," ucap Ardan dengan lembut.


Ibunya Ardan langsung tersenyum, kemudian menghampiri Syifa dan mengelus kepala gadis itu.


"Sudah lama kamu tidak kembali ke kampung ini Nak, di mana kamu tinggal?" tanya ibunya Ardan dengan lembut.


"Syifa tinggal di kota Tante, karena Syifa di sini sudah tidak memiliki siapapun dan, di kota Syifa memiliki kedua orang tua angkat," jawab Syifa dengan lembut.


Ibunya Ardan tersenyum, kemudian membawa gadis itu masuk ke dalam kamar tamu, sedangkan Ardan langsung bergegas pergi. Sebab, dia setiap malam akan menjaga kampung mereka.

__ADS_1


. . .


Keesokan paginya . . .


Hari ini Anggi sudah meminta pulang karena dia tidak ingin lagi berlama-lama di rumah sakit dan para, Dokter mengizinkannya. Sebab, kondisinya sudah mulai membaik.


Pria itu tidak mau pulang ke rumah. Sebab, dia tidak ingin melihat wajah sang ayah lagi dan memilih tinggal di tokonya.


"Ma, bagaimana dengan pernikahan Anggi dan Juwita, apakah Mama merestui kami?" tanya Anggi sambil menatap wajah sang mama.


Dila tersenyum karena jujur dia juga menyukai Juwita. Sebab, gadis itu sangat baik dan sopan padanya.


"Tentu saja. Tapi, jangan sakiti dia karena mama tahu seutuhnya hatimu hanya untuk Syifa," jawab Dila dengan lirih.


Anggi menganggukkan kepala, karena dia memang tidak akan melukai Juwita. Sebab, ia sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya sendiri.


'Aku menikahi Juwita hanya agar papa dan Syifa tidak tahu, bahwa aku sangat sakit akan perbuatan mereka,' batin Anggi lirih.


Dila dan, Anggi bergegas pergi dari sana dengan perlahan, karena Anggi masih merasakan sakit di bagian lengannya.


Dila menghantarkan Anggi menuju toko karena, di sana sudah ada Juwita dan sang anak akan pindah ke toko.


"Loh, kok kamu kemari Anggi? Bukannya kamu harus istirahat di rumah?" tanya Juwita dengan sangat cemas.


"Tidak, aku akan istirahat di sini. Sebab, selamanya aku akan tinggal di sini sampai kita menikah," jawab Anggi dengan lembut.


Juwita tersenyum, karena Anggi mengatakan mereka akan menikah, itu adalah impiannya sejak dulu.


"Baiklah. Tapi, tidak mungkin malam aku di sini, lalu kamu bersama siapa?" jawab Juwita dengan pertanyaan.


Anggi tersenyum, kemudian menceritakan siapa yang akan menemaninya saat malam hari dan, Dila langsung membantu anaknya itu masuk ke dalam ruangan kerja Anggi.


"Mama pulang dulu. Sebab, papa akan kembali malam ini dan, mama harus bersiap-siap, karena kamu tahu bukan papa itu seperti apa," ucap Dila dengan lembut.


Anggi menganggukkan kepalanya, karena dia memang butuh istirahat dan, ia meminta kepada sang mama agar tidak menceritakan keadaannya yang sekarang kepada Syerkhan.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu mama pergi dulu," ucap Dila sambil bergegas pergi dari sana.


Setelah kepergian wanita paruh baya itu, Juwita masuk ke dalam dan memberikan air hangat untuk Anggi.


"Minumlah air ini dulu, setelah itu kamu beristirahat sampai siang aku akan membangunkanmu nanti," ucap Juwita dengan lembut.


"Terima kasih Juwita dan, ingatlah satu minggu lagi kita akan menikah," jawab Anggi dengan sangat lembut.


Juwita tersenyum, kemudian memegang tangan pria itu dengan lembut, karena ia merasa seperti mimpi bisa menikah dengan pujaan hatinya.


"Aku akan menikah denganmu dan, kita akan tinggal bersama di sini, sampai kamu benar-benar bisa melupakan Syifa," ucap Juwita dengan lembut.


Anggi terdiam dan dia melihat raut wajah Juwita yang tidak seperti biasanya bicara kepadanya dan, ia bisa merasakan bahwa gadis itu memiliki perasaan lain kepadanya.


'Apakah Juwita menyukaiku? Tapi, selama ini aku tidak pernah bersikap mesra kepadanya?' batin Anggi sambil berpikir.


Juwita bergegas pergi dari sana, karena pekerjaan yang masih begitu banyak dan dia juga ingin Anggi beristirahat.


. . .


Syifa sudah terbangun di pagi ini, karena dia ingin membereskan rumah, yang sudah sangat lama tidak dihuni. Bahkan, banyak bahan bangunan yang sudah rusak.


"Tante, terima kasih banyak atas tumpangannya malam ini, Syifa akan membersihkan rumah ayah, ibu," ucap Syifa dengan lembut.


"Sama-sama Nak, bila rumah itu belum selesai kamu bisa tinggali sini dulu," ucap ibunya Ardan dengan lembut.


Syifa tersenyum dan mencium tangan wanita paruh baya itu, kemudian bergegas pergi menuju rumahnya.


Rumah Syifa sudah lama tidak ditinggali dan banyak sekali rumput, Bahkan, sudah menjadi pohon yang tumbuh besar di sana. Juga rumah itu sudah tua banyak bangunan yang sudah rusak.


"Aku bisa karena, aku akan tinggal di sini dan membuat rumah ini seperti dulu lagi," ucap Syifa dengan sangat bersungguh-sungguh.


Gadis itu langsung membersihkan rumah dari dalam hingga ke luar dan, ia dibantu juga dengan Ardan. Sebab, pria itu datang hanya untuk membantunya.


"Terima kasih banyak Ardan, karena kamu adalah sahabat yang terbaik mau membantuku," ucap Syifa dengan lembut.

__ADS_1


"Sama-sama, aku akan selalu membantumu sampai rumah ini selesai dan, layak untuk kamu tinggali," jawab Ardan.


BERSAMBUNG.


__ADS_2