
Juwita membuka mulut lebar-lebar, saat melihat dua garis merah terang di alat tes kehamilan yang dibeli oleh Syifa tadi, sebab dia tidak ingat kapan terakhir datang bulan.
"Gue, bener-bener hamil?" Juwita berucap dengan nada bergetar.
Bagaimana tidak bergetar, dia sekarang mengandung benih pria yang sangat dia cintai.
'Terima kasih Tuhan, karena memberikan kami harta yang paling berharga,' batin Juwita lirih.
Gadis itu langsung memotret hasil tes kehamilannya dan, mengirimkan pada Dila, agar wanita paruh baya itu senang, akan segera memiliki cucu darinya.
"Semoga mama senang, karena aku dan Anggi akan segera memiliki anak," gumam Juwita sambil berjalan ke luar dari dalam kamar mandi.
. . .
Dila menitihkan air mata, saat melihat Poto yang dikirimkan oleh Juwita, membuat Dilon langsung memeluk wanita itu dengan erat.
"Ada masalah?" tanya Dilon lembut.
"Tidak ada, hanya saja anakku akan segera memiliki seorang anak," jawab Dila lembut.
Dilon tersenyum, sebab dia juga akan menjadi seorang kakek bila menikah dengan Dila. Pria itu pun tertawa membuat wanita itu langsung melepaskan pelukan mereka.
"Apa ada yang lucu?" tanya Dila sambil menatap wajah Dilon.
"Tidak ada, hanya aku lucu karena kamu sudah memiliki cucu, sedangkan aku baru memiliki anak," kekeh Dilon.
Dila tertawa dan, dia langsung diam, sebab mereka belum mempertemukan Anggi dan Micella, karena keduanya belum siap mempertemukan mereka.
"Besok kita pertemukan Anggi dan Micella, sebab mereka harus saling mengenal, karena mereka akan menjadi adik dan kakak," ucap Dila lembut.
"Benar sayang, aku setuju padamu," jawab Dilon lembut.
Mereka berdua saling tersenyum dan, menyusun rencana agar Micella bisa menerima Dila dan Anggi sebagai keluarnya, sebab gadis kecil itu sedikit sulit merima mereka.
. . .
"Sebel!" teriak Micella sambil terus berjalan.
Karena supir papanya belum menjemputnya. Padahal hari ini tidak ada pelajaran, karena semua gugur rapat dadakan.
"Sebel sama papa! Pria itu, selalu saja menomor duakan aku, sedangkan tante itu, selalu nomor satu!" gram Micella sambil terus menangis.
Gadis kecil itu kesal dan, melemparkan botol yang ada di hadapannya dan mengenai seorang pemuda, yang tengah membawa motornya sampai terjatuh.
__ADS_1
"Aaahhh!" jerti pria itu.
Sontak, membuat Micella membuka mulut lebar-lebar saat melihat pria yang ada di hadapannya jatuh.
"Astaga!" Micella berlari dan membantu pria itu dengan doa, agar selamat dan bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
"Hei bocil! Bantu aku!" teriak pemuda itu.
Micella langsung membantu pria bangun dengan sekuat tenaga para warga, karena dia tidak sanggup membantu pria itu sendirian.
"Terima kasih banyak, bapak-bapak," ucap Anggi lemah.
"Sama-sama," jawab para warga dan mereka bergegas pergi.
Ya, Anggi pergi karena ada sedikit masalah di toko bajunya, sebab dia dan sang istri tidak ada di sana, sebab itu dia harus pergi walaupun tubuhnya lemah.
"Hei dik! Mau ke mana?" tanya Anggi pada Micella.
"Pulang. Tapi, papa belum jemput Micella," jawab Micella lirih.
Anggi merasa kasihan pada gadis kecil itu dan, dia pun membawa Micella bersamanya, sebab ia ingin ke toko terlebih dahulu, setelah semua selesai, baru ia akan mengantarkan bocil tersebut.
'Aku seperti familiar sekali dengan wajah Micella. Tapi, di mana ya?' batin Anggi sambil berpikir.
. . .
Syifa dan Syerkan berpamitan pulang, karena mereka lelah ingin beristirahat, lagi pula Anggi tidak ada di rumah, membuat Syerkan segan ada di sana.
"Kamu tidak apa, di sini sendiri?" tanya Syerkan lembut.
"Tidak apa Papa, karena sebentar lagi Anggi juga kembali," jawab Juwita lembut.
Syerkan tersenyum dan, mereka bergegas pergi dari sana, karena Syifa sudah tidak sabar sampai di rumah dan, memeluk boneka kesukaannya.
"Om, apakah tante Dila marah, karena tadi pagi langsung pergi saat kita sampai?" tanya Syifa lembut.
Sebeb, pertanyaan itu sudah ada di benaknya sejak tadi, namun dia belum mengungkap, karena masih ada Anggi dan Juwita, mana mungkin dia bertanya hal itu di hadapan mereka.
"Entah, kita tidak membuat kesalahan, 'kan?" jawab Syerkan dengan pertanyaan.
Karena seingatnya, mereka tidak membuat kesalahan apapun dan, kenapa Dila marah pada mereka.
"Benar juga, semoga dia tidak marah pada kita," ucap Syifa lembut.
__ADS_1
Syerkan tersenyum dan, mencium puncak kepala Syifa, kemudian pokus mengemudikan mobilnya menuju rumah. Setelah sampai, gadis itu langsung turun tanpa menunggunya.
Padahal, tadi Syerkan ingin sekali mengendong gadis itu masuk ke dalam, namun sang istri sudah pergi meninggalkannya.
"Dasar bocil, dia meninggalkanku sendirian," gumam Syerkan sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Syerkan tersenyum melihat perut buncit Syifa, sebab terlihat jelas, karena gadis itu duduk memeluk boneka kuda poni yang ia belikan beberapa bulan lalu.
Pria itu pun langsung menghampiri sang istri dan, mencium perut yang sudah bergerak-gerak, karena janin Syifa sudah mulai aktif.
"Anak papa sekarang sudah bisa bergerak, mungkin beberapa bulan lagi, kita akan tertawa bersama," ucap Syerkhan lembut.
Syifa tersenyum akan ucapan sang suami, karena masih ada waktu lima bulan lagi, anak mereka lahir, namun Syerkan sudah tidak sabar bertemu dengan anak mereka.
"Om, beby S masih lama bertemu dengan kita," jawab Syifa lembut.
Syerkan langsung bangun dan, menatap wajah sang istri, karena mendengar kata Beby S?
"Siapa beby S?" tanya Syerkhan penasaran.
"Ya, nama anak kita akan dari huruf S, sebab kita Syifa dan Syerkan," kekeh Syifa.
Syerkan langsung mencubit hidung gadis itu, karena sudah membuat lucu dengan menggabungkan nama mereka untuk sang anak yang masih di dalam kandungan.
"Mungkin bila anak kita perempuan, Syifa akan memberikan nama dia, Syifaz Azzarah," jawab Syifa lembut.
Syerkhan tersenyum, karena dia sama sekali tidak memikirkan nama sang anak dan, memiliki nama yang disiapkan oleh Syifa. Hal itu dia lakukan agar sang istri senang.
'Nama anak tidak pernah aku masalahkan, yang terpenting adalah kebahagiaan Syifa,' batin Syerkan.
Syifa tertawa, saat Syerkan menggelitik tubuhnya, sebab dia tidak bisa menahan rasa geli yang diciptakan oleh sang suami.
"Om, sudah! Hentikan!" teriak Syifa.
Syerkan menghentikan langkah dan, membawa tubuh sang istri menuju kamar. Gadis itu hanya diam, sebab dia juga menginginkan hal yang sama.
"Om, jangan lupa matikan lampu saat di dalam nanti," ucap Syifa lembut.
"Kamu ini mesum ya," ucap Syerkhan.
Setelah sampai di dalam kamar, dia meletakan tubuh sang istri, kemudian duduk di bibir ranjang, membuat Syifa kecewa, karena dia pikir mereka akan melakukan hal itu, namun kenyataannya tidak ada.
BERSAMBUNG.
__ADS_1