Benih Papa Syerkhan

Benih Papa Syerkhan
65 > Jeruk kasturi


__ADS_3

Anggi tahu sang mama hanya diam, saat melihat kedatangan Syifa dan papanya, membuat dia harus mencairkan suasana.


"Duduk Pa, di sini!" Anggi langsung menghampiri sang papa.


"Terima kasih," jawab Syerkhan.


"Sayang, kemarilah kita potong kue bersama," ucap Dila pada Syifa.


Syifa tersenyum dan langsung berjalan dengan perlahan menuju Dila, kemudian mereka memotong kue berdua. Padahal di sana ada Juwita juga Micella.


Namun, Dila hanya mengajak Syifa, karena sejak tadi, dia menginginkan kedatangan gadis itu dan, sekarang yang diharapkan ada bersamanya.


"Tante, selamat ulangtahun," ucap Syifa lembut sambil memberikan kotak kecil berwarna merah.


"Terima kasih sayang, kamu datang juga," ucap Dila lembut.


Wanita paruh baya itu mencium puncak kepala Syifa dan, mengelus-elus perut gadis itu yang sudah membuncit. Sedangkan yang lain, hanya diam tidak bersuara dan, terus menatap ke arah Syifa dan Dila.


"Hei, kenapa semuanya diam? Ayo kita makan kue bersama," ucap Dila lembut.


"Ayo!" teriak semua yang ada di sana dengan serempak.


Mereka semua makan bersama-sama dengan sangat bahagia. Bahkan Dila dan Syerkhan sudah bersikap biasa saja, terlihat tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka.


"Semuanya, maaf ya Anggi harus pergi sebentar karena ada panggilan dari seseorang yang penting," ucap Anggi lembut.


"Pergilah," jawab Syerkhan.


Anggi menganggukan kepalanya, kemudian bergegas pergi menuju balkon dan menerima panggilan dari seseorang yang ingin bekerjasama dengannya.


Sedangkan semua orang, kembali melanjutkan perbincangan mereka, Syifa dan Juwita bertukar cerita tentang kehamilan mereka. Syerkhan dan Michelle membantu Dila menyiapkan makanan untuk para wanita hamil.


"Mas, apa Syifa hamil sama seperti aku dulu? Saat, mengandung Anggi?" tanya Dila sambil memotong buah-buahan.


"Tidak, Syifa ini hamilnya sangat berbeda dari orang, karena dia suka sekali aroma tubuh yang bau dan, masih banyak lagi. Aku sampai heran sekaligus kewalahan," jawab Syerkhan.


Dila tersenyum, karena mendengarnya saja sudah lucu, apa lagi melihat langsung Syifa melakukan semua yang diucapkan oleh Syerkhan tadi.


"Sabar Mas, semua wanita hamil memang berbeda, contohnya Juwita, yang sama sekali tidak merasa apapun, malah Anggi yang seperti wanita hamil," ucap Dila lembut.

__ADS_1


Syerkhan tertawa, karena dia kasihan pada sang anak yang terlihat seperti ibu-ibu hamil pada umumnya, yang suka makan rujak dan lainnya. Sedangkan Juwita, sama sekali tidak merasa apapun.


"Om, Mama, ini sudah selesai!" teriak Micella.


Syerkhan dan Dila langsung menoleh, mereka tersenyum melihat minuman yang dibuat oleh Micella sangat indah, terlihat gadis itu membuat air jeruk kasturi yang sangat menggugah selera.


"Anak mama pandai sekali membuat itu," ucap Dila dengan kagum.


"Tentu saja, karena ini bunda yang mengajarkan," jawab Micella lembut.


Syerkhan langsung membawa air jeruk kasturi ke depan, sedangkan Dila membawa buah-buahan yang dia siapkan tadi juga beberapa cemilan lainya.


"Hei para wanita hamil, kami sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua," ucap Syerkhan lembut.


Pria itu meletakan air jeruk kasturi yang dibuat oleh Micella tadi, ke hadapan Syifa dan Juwita. Keuda wanita hamil itu langsung meminumnya, namun Juwita menyisihkan sebagian untuk Anggi.


Sebab, sang suami sangat suka minum yang seger seperti ini, apa lagi ada irisan jeruk kasturi di dalamnya.


"Itu untuk siapa, Juwita?" tanya Syerkhan.


"Anggi Pa, karena dia sangat menyukai ini," jawab Juwita lembut.


"Aku datang!" teriak Anggi sambil berlari.


Pria itu langsung mengambil minuman yang disiapkan oleh sang istri, kemudian mencium puncak kepala Juwita dihadapan Syifa, membuat gadis itu diam.


"Terima kasih istriku, karena memberikan ini untukku," ucap Anggi lembut.


Belum sempat Juwita menjawab, Micella langsung protes, karena minuman itu dia yang membuat, bukannya Juwita.


"Enak saja, itu Micella yang membuat dari ajaran Bunda," protes Micella.


"Terima kasih Tuan putriku, karena air buah ini," jawab Anggi lembut.


Pria itu bergegas menghampiri Micella dan, mencium puncak kepala gadis kecil itu dengan lembut, sama seperti Juwita tadi.


"Hanya satu orang yang tidak ada di sini," ucap Syerkhan.


Sontak semua orang baru menyadari, kalau Dilon tidak ada dan, langsung mengingat pria itu pergi ke luar kota untuk satu Minggu kedepan.

__ADS_1


"Sabar Ma, setelah om Dilon pulang, dia langsung menikahi Mama," sahut Anggi lembut.


"Cie!" sorak semua yang ada di sana dengan serempak.


Membuat Dila malu dan, wajahnya pun merona seperti kepiting rebus yang baru masak. Entah mengapa dia merasa seperti muda lagi saat masa remaja, yang baru mengenal cinta.


'Aaahhh, aku malu sekali. Entah mengapa rasa ini sama seperti aku masih SMA dulu,' batin Dila sambil berpikir.


Semua orang yang ada di sana kembali melanjutkan kembali perbincangan dan, makan-makan bersama sampai semuanya lelah.


"Micella, tinggallah di sini, kakak tidak ada teman," ucap Anggi lirih.


Karena sang papa berpamitan pulang, juga Micella dan, gadis itu memilih tinggal, sebab Anggi memintanya tidak pergi.


"Bunda, besok kak Anggi mengantarkan Micella pulang ya," ucap Micella lembut.


"Baik sayang, tapi bunda pulang dulu ya, kamu di sini hanya merepotkan semua orang," jawab Syifa lembut.


Micella menganggukkan kepalanya dan, Syifa pun bergegas pergi dari sana, karena dia sudah lelah ingin beristirahat juga sang suami.


Selama diperjalanan mereka berdua saling diam, karena keduanya canggung sejak di rumah Dila tadi, apa lagi mereka harus bersikap tidak terjadi apapun diantara mereka semua.


'Aku senang, karena tante Dila bisa bahagia bersama pasangannya, sebab aku adalah perusak hubungan mereka, aku seorang plakor,' batin Syifa lirih.


Entah mengapa, saat berdekatan dengan Dila, Syifa selalu menganggap dirinya sebagai seorang plakor. Merebut suami dari wanita yang menjadi mamanya.


"Sayang, sesampainya di rumah, kamu langsung istirahat ya," ucap Syerkhan lembut.


"Iya Om," jawab Syifa cepat.


Syerkhan tersenyum dan mencium puncak kepala Syifa, kemudian kembali fukos mengemudikan mobil menuju rumah.


'Aku senang sekali melihat Dila bahagia, karena aku sudah menghancurkan hati dan perasaannya, saat aku berselingkuh dan, menghamili Syifa. Pasti hal itu, membuatnya sangat trauma,' batin Syerkhan.


Pria itu merasa bersalah pada Dila, namun semua sudah terjadi dan, hanya tinggal penyesalan yang ada padanya.


'Aku berharap, Dila bersama Dilon bisa bersama dan bahagia selalu, karena aku sadar, hanya menyakiti Dila, tidak pernah membuatnya bahagia,' batin Syerkhan lirih.


Sesampainya di rumah, mereka turun dan masuk ke dalam, Syifa langsung bergegas tidur, karena dirinya sangat lelah, sebab sejak tadi pagi tidak ada istirahat.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2